Raka
Aku sampai menjelang pukul 11 siang di rumah. Begitu taxi yang membawaku sampai di depan rumah, bergegas kubayar dan segera masuk ke dalam rumah. Tubuhku lelah dan butuh istirahat. Tapi di ruang tamu aku berpapasan dengan Arnold.
“Lo kok di rumah? Enggak ke kantor?” Tanyaku langsung menyerbu. Pasalnya ini masih jam kantor, kenapa bisa bocah itu di rumah dan sedang mengenakan pakaian bebas. Kalau tadinya dia memakai kemeja mungkin aku bisa berpikir dia pulang ke rumah sebentar. Tapi setelannya jeans dan kemeja lengan pendek yang terbuka menampakkan kaos oblong sebagai dalaman.
“Lho, abang sudah balik? Kenapa tidak ngabari?” Tanyanya dengan wajah kaget karena melihatku berdiri di hadapannya.
“Gue tanya kenapa lo enggak ngantor?”
“Hari ini ada fitting baju pengantin. Jadi aku tidak ke kantor. Hari ini juga tidak ada hal-hal yang genting di kantor.” Jelasnya.
Deg..
“Jam berapa?”
“Jam 2 sih, tapi aku mau ngajak Nadine makan siang dulu.”
“Ohh.. ya sudah.”
“Atau karena abang juga sudah balik, abang saja yang fitting.” Tawarnya.
“Gue capek.” Ucapku ketus lalu berlalu ke kamarku.
Sesampainya di kamar kuhempaskan tubuhku ke kasur. Perkataan Arnold terngiang begitu saja. Tiba-tiba aku teringat tujuanku pulang cepat, adalah untuk berbicara dengan Nadine. Tapi baru saja aku melewatkan kesempatan untuk bertemu gadis itu.
Kulirik jam di pergelangan tanganku. Aku masih punya waktu untuk istirahat. Aku memutuskan untuk membuat alarm di pukul 1 siang. Kemudian memilih menutup mata mengistirahatkan tubuhku.
***
Aku terbangun pukul tengah dua siang. Dengan panik aku langsung menuju kamar mandi, saat hendak membuka baju, niatku untuk mandi kuurungkan dan memilih hanya mencuci muka. Aku tidak memiliki banyak waktu. Kulap wajahku dengan tergesa-gesa. Kuambil kunci mobil di laci nakas, lalu memeriksa dompet dan menyambar HP, baru berlari menuruni tangga menuju garasi.
Baru saja aku keluar 50 meter dari gerbang rumah tapi langsung mobil ku rem lagi. “Aku kan tidak tahu butiknya di mana.” Bodoh memang. Tanpa berpikir panjang, kuhubungi Arnold. Karena hanya dia yang akan mengangkat teleponku, sepertinya gadis yang akan kunikahi memblokir kontakku. Namun sialnya teleponku tidak diangkat. Kuputuskan mengirim pesan singkat.
Dimana kalian?
Tapi cukup lama aku menunggu tak ada balasan. Aku semakin tidak sabar. “Ini si Arnold ngapain sih? Balas pesan saja lama.” Hingga bunyi pesan masuk terdengar.
Arnold: Otw butik.
Aku: Shareloc
Hingga 5 menit kemudian, yang kuminta tidak segera dikirimkan. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa kali mengumpat dalam hati. Jika bocah itu di depanku, pasti sudah habis kusembur dengan makian.
Notifikasi pesan muncul di akun sosialku. Sebuah map baru saja di kirimkan oleh Arnold. “Harus kali tunggu kumaki.” Gumamku. Aku pun melajukan mobil ke alamat yang dikirimkan oleh adikku. Sialnya daerah itu cukup jauh dari rumah, karena butiknya memang lebih dekat dari alamat rumah gadis itu.
Butuh waktu hampir 45 menit untuk aku bisa sampai di depan butik. Terlihat mobil Arnold terparkir di sana. Tanpa ba bi bu, aku masuk dan menanyakan pada resepsionis tentang keberadaan adikku. Segera salah satu karyawan di sana mengantarku ke sebuah ruangan yang berukuran 7 x 6 m. Si sana sudah duduk dengan santai adik menyebalkanku. Seusai mengucapkan terima kasih, aku mendekati Arnold yang sibuk dengan gawainya, hingga tak sadar akan keberadaanku.
“Hmm..” Aku berdehem hingga ia mendongak. Seketika dia berdiri menghadapku.
“Abang kok bisa ke sini?”
“Tadi diantar jin.”
“Ha??” Kenapa bisa aku punya adik yang memelihara kebodohan.
“Tadi aku minta kamu shareloc.” Ucapku pasrah.
“Ohh iya.”
“Ya sudah sana.” Usirku.
“Kemana?” Tanyanya polos. Aku menarik nafas dalam menetralkan emosiku yang meningkat menghadapi Arnold.
“Lo ke kantor. Biar gue yang nungguin Nadine.”
Demi mendengar ucapanku, wajahnya seketika menunjukkan ekspresi kaget dengan mata yang membulat.
“Serius?”
“Iya, sudah sana bawel. “
Arnold masih nampak berpikir. “Nanti lo ninggalin dia lagi di sini.” Tuduhnya. Apa aku sejahat itu?
“Yaelah, tidak akan. Aku juga harus bicara sama dia. Kami butuh waktu berdua.” Ucapku pelan menjelaskan maksudku.
“Ohh.. Oke deh. Good luck bro. Tolong dijaga ya.” Pesannya lalu beranjak dari sana. Aku yang akan menikahi Nadine, tapi kenapa dia yang perhatian banget sama anak itu. Hufftt… ada sedikit rasa tidak rela dihatiku.
***
Cukup lama aku duduk menunggu gadis yang sedang berada di ruang ganti. Sembari memeriksa email masuk dari kantor serta memeriksa proposal kerja sama, tak terasa waktu berlalu lewat dari setengah jam. Namun seorang perempuan berpakaian blazer dan rok selutut keluar dari ruangan di mana katanya Nadine berada.
“Lho, maaf mas. Mas yang satu lagi tadi kemana ya?” Katanya dengan raut bingung dan kecarian.
“Oh, itu adik saya. Saya menggantikannya, karena saya yang akan menikah dengan cewek di dalam.”
Senyuman terukir di wajah gadis itu menandakan kelegaan. “Baiklah, mbaknya sudah siap dirias, saya akan buka tirainya ya mas. “ Izinya, dan aku hanya mengangguk.
Perlahan sang perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah pegawai di butik tersebut melangkah ke arah sebuah tirai. Dengan pelan ia membuka tirai panjang yang menutupi sebuah panggung kecil. Bukan hanya itu, ada seseorang yang… jujur itu di luar ekspektasiku.
Aku tak bisa berkata-kata, dan hanya melotot. Aku masih terpukau dengan penampilannya yang menggerakkan tubuhnya memeriksa gaun tersebut. Meski aku belum melihat wajahnya sepenuhnya, tapi sungguh aku terpesona.
“Wow... parah." Hanya kata itu yang terucap tanpa sadar dari bibirku. ‘Gila, ini cewek kok bisa jadi cantik banget?’ Aku masih menatap wajahnya yang diberi make up tipis. Sekalipun terlihat natural, tapi penampilan gadis itu mampu membuatku tidak percaya jika ada kecantikan di tubuh bar-bar itu.
Seketika keterpukauanku ternetralisir melihat raut wajah yang mendadak berubah kecut. Hey, tadi wajahnya sebelum menatapku tersenyum cantik. Cantik? Iya cantik pake banget, enggak bohong. Tapi kenapa sekarang berubah datar seperti biasa?
“Kenapa kamu yang di sini?” Wahh… Untuk ketidaksopanan memang Nadine ini dapat poin lebih. Bukannya menyapa calon suaminya, tapi malah diajukan pertanyaan yang menunjukkan seolah kehadiranku tidak diharapkan. Belum lagi nada suaranya yang ketus dan mengesalkan.
Kutarik nafas dalam, mencoba mengingat tujuan kepulanganku ke Indonesia untuk berbicara dengannya. Aku tidak boleh terbawa emosi, bisa-bisa masalah kami tidak akan selesai. “Memangnya kenapa?”
“Arnold mana?”
“Kamu ditanya malah balik bertanya.”
“Kamu juga kutanya malah balik nanya.”
Mulai lagi deh, ini perempuan apa tiap hari PMS ya?
“Dia kusuruh ke kantor.”
“Kenapa?”
“Karena tugas dia di kantor, bukan di sini.”
Sejenak dia mendengus dan menampilkan senyum sombong. Sepertinya akan ada kemarahan. “Kayaknya seseorang memerintahkannya untuk mengerjakan tugas calon pengantin deh. Jadi wajar dong dia berada di sini untuk fitting baju.” Ucapnya dengan nada menyindir. Sudah kuduga.
“Tapi aku sudah ada di sini, jadi dia tidak dibutuhkan lagi. Dan satu lagi, aku tidak memerintahnya, itu permintaan tolong.” Kuluruskan pemikirannya yang pasti dipenuhi amarah. Tapi kenapa juga aku harus menjelaskannya? Sudahlah, daripada dia salah paham, aku juga yang repot.
“Terserah, ngapain juga kamu di sini? Bukannya urusan kantor kamu itu lebih penting ya?” Lagi-lagi ia menyindir, dengan tangan bersedekap menantang. Lamat-lamat kulihat wajahnya, mimiknya yang membuatku sedikit merasa bersalah. Aku tidak sakit hati mendengar setiap kata sindiran dari mulutnya yang manis itu, upss.. Saatnya mengalah sepertinya.
“Sorry. Aku tahu aku salah. Jadi bisakah kamu berhenti marah? Kamu jelek kalau marah.”
‘Mampus gue, kok bisa itu kalimat terakhir ngikut. Bisa baper anak orang.’ Ingin rasanya kutepok kepalaku, tapi yang kulakukan hanya menutup mata dan menggigit bibir bawahku agar tidak salah tingkah.
Saat kurasa tenang, aku membuka mata dan kulihat ekspresi kesal di wajah Nadine. Hebat ya perempuan yang satu ini, saat aku mengira ucapanku akan membuatnya bersemu, justru wajah datar itu lagi yang terlihat.
“Hmm… “Aku berdehem menghilangkan kecanggungan. “Jadi gimana gaunnya?” Aku coba mengalihkan pembahasan. Sebelum suasana ini benar-benar mencekam. Tapi matanya yang kecil itu masih menatapku tajam. Mungkin kalau ada panah keluar dari sana, dipastikan aku sudah mati tertusuk.
“Mbak, saya sudah bisa fitting?” Kualihkan pembicaraan pada si pegawai butik. Bukan ide yang bagus melanjutkan bahasan pada orang yang lagi emosi.
“Oh.. iya mas bisa. Jadi bagamaimana penampilan mbaknya? Ada yang kurang kira-kira mas?”
Astaga, malah ditanya lagi. Ini si mbak tidak tahu apa saya sedang menghindari membahas hal tersebut. Mau tak mau aku melihat ke arah gadis yang masih memasang tampang juteknya. Melihatnya seperti itu aku ingin tersenyum, dia memang cantik. Kok bisa aku tidak sadar apa yang diucapkan Arnold selama ini ya.
“Cantik.” Kata-kata itu tulus dari hatiku. Untuk pertama kalinya aku seikhlas ini mengucapkan kata-kata itu pada perempuan yang berdiri di sekitarku. Aku bahkan tak pernah mengakui gadis-gadis sebelumnya cantik, atau setidaknya tidak secantik Nadine.
“Mbak, saya sudah bisa ganti baju? Kayaknya tidak ada lagi yang perlu dikomentari.”
Lihat, dia marah padaku tapi ke semua orang berimbas. Dasar cewek temperamen. Kulihat si mbaknya yang masih memasang senyum ramah, kuyakin hatinya dongkol dapat kata-kata ketus dari Nadine.
“Mbak nanti kita coba poto preweddingnya, jadi bajunya masih harus mbak pakai.” Jelasnya.
Mampus, aku terkikik geli mendengarnya. Wajah Nadine sudah merah menahan kesal.
“Mas, silakan ikut saya, kita ke sebelah sana.” Aku arahkan ke salah satu pintu lain di ruangan itu. Di sana sudah menunggu seorang pria yang akan membantuku mengenakan semua pakaian.
Aku keluar dengan bangganya memakai setelan yang bagus. Pilihan si Nadine memang bagus, ukurannya juga pas karena postur tubuhku dan Arnold tidak jauh berbeda. Wajar saja.
Dasar memang kalau bar-bar ya akan tetap bar-bar. Kukira dengan mengenakan baju bagus dan fenimin, maka gadis tomboy sekalipun akan mengubah sikap menjadi ayu. Ahh.. aku lupa jika perempuan yang akan menjadi istriku itu unik, berbeda dari semua perempuan yang pernah kutemui. Meski gaun besarnya yang harusnya dikenakan dengan tingkah anggun, ditubuh gadis bernama Nadine Aurelia hal itu tidak berpengaruh. Cara duduknya masih mengangkat satu kakinya, duduknya tidak tegak tapi menyandarkan kepalanya ke sofa sehingga terlihat setengah berbaring. Tangannya memegang HP dan matanya bahkan tidak beralih hanya untuk melihatku.
“Hmm.”Aku berdehem berharap dia akan memandangku, tapi hanya lirikan sekilas dengan alis yang diangkat sebelah. Perlahan dia menghentikan aktifitasnya dan berdiri.
“Sudahkan? Kita langsung ke studio saja, kakiku pegal pakai sepatu ini.” Dia beranjak dari sofa menuju ke arahku, jangan salah sangka dulu karena memang untuk keluar harus melewatiku. dengan pelan dia melangkah, langkah kakinya nampak jelas sedang diatur agar tidak jatuh. Dia mengangkat sedikit bajunya agar bisa melihat jalan. Pemandangan ini benar-benar lucu, sepertinya tidak sulit memang menyukai gadis ini.
“Kamu mau di situ terus?” Tiba-tiba aku tersadar melihatnya sudah hampir mencapai pintu keluar, sedangkan aku masih terbodoh menatapnya sejak tadi dengan berbagai imajinasi. Tanpa bicara aku turun dari panggung kecil ini melangkah mengikutinya. Kemudian pegawai yang membantu kami tadi mengekor dari belakang.
“Woaa…” Saat akan melewati pintu Nadine oleng. Hampir saja aku menangkapnya dan bayangkan saja adegan sweet di film-film. Lagi-lagi semua drama itu terbantahkan jika berurusan dengan gadis keras di depanku yang sedang menahan bobot tubuhnya dengan menekan pintu. Lebih memukau lagi, dia bahkan mengangkat kakinya yang tadi tidak seimbang untuk memeriksa sepatunya. Aku tercengang, dia bisa menahan tubuh dengan mengenakan gaun besar dan kujamin berat itu dengan satu kaki, tapi mengenakan sepatu heels 12 cm saja oleng. Habis pikir aku.
“Perlu bantuan?” Aku harus berperan menjadi laki-laki bertanggungjawab. Setidaknya harus tetap keren dihadapan orang lain yang melihat kami. Hitung-hitung jaga image, masa aku calon suami tidak perhatian pada calon istrinya.
***