SELAYAKNYA CALON PASANGAN

1559 Kata
Nadine Wahh… sungguh tak kupercaya jika orang yang sejak awal menghindariku justru berdiri di depanku menatapku dengan pandangan lelaki nakal. Dasar cowok memang, paling tidak bisa lihat badan cewek terbuka sedikit saja. Dia bahkan memujiku cantik, kalian percaya? Kurasa dia salah makan ketika di Singapura, atau kepalanya terantuk dinding sehingga berubah sok perhatian begitu. Tidak mungkin tiba-tiba malaikat Gabriel datang merasukinya, kalau iblis mungkin aku percaya. Jika dikiranya aku akan luluh hanya karena dia mengucapkan kata-kata gombal tak berfaedah, maka akan kutunjukkan jika anak sastra tidak mempan dengan hal-hal bacotan itu. Kami bahkan belajar dan mengungkapkan hal yang lebih romantis dari sekedar memuji perempuan cantik. Aku bukan perempuan yang suka bertingkah jual mahal, tidak sama sekali. Tapi memang kata-kata manis yang biasa diucapkan para kelinci berwujud laki-laki tidak memiliki pengaruh padaku. Terhitung sudah dua kali dia mengatakan aku cantik, tapi baru hari ini aku melihat mata dan mulutnya sejalan. Seusai drama adu mulut singkat, ia segera berganti pakaian karena ternyata kami harus poto prewedding. Aduhh.. males banget poto sama kunyuk itu. Lagian kok bisa bertepatan dia datang hari ini? Pasti ada udang di balik batu. Jika harus kuungkapkan isi hatiku ini. Aku tidak ingin berbohong jika kegantengannya bertambah dengan setelan jas silver dan kemeja putih, serta celana kain berwarna senada dengan jasnya. Walaupun demikian, semua itu tidak akan membuatku mengatakan jika dia ganteng. Hal itu adalah ucapan yang akan kukatakan saat aku sedang dalam mood yang bagus, dan saat ini moodku sedang rusak. Aku benar-benar memasang mode cuek sepanjang kegiatan fitting baju. Karen a memang sudah terbakar emosi, aku bahkan sampai tidak bisa menjaga keseimbangan saat berjalan dengan heels 12 cm. Lagan, aku tidak terbiasa mengenakan sepat uber-heels, ini malah 12 cm lagi. Cari mati memang, hanya demi tampil cantik. Setidaknya usahaku tidak sia-sia membuat si bang-sat di belakangku terpukau. Yuhuuu… “Butuh bantuan?” Dia mendekat dan hendak menyentuh tubuhku. Tapi segera aku menolak dan memperbaiki posisi tubuhku setelah memeriksa sepatuku yang mahal. Beruntung heelsnya tidak patah atau talinya putus. Entah sudah berapa kali aku pernah merusak sepatu heels. Mama suka sekali membeli sepatu imut itu, tanpa tahu putri sematawayangnya ini tidak pandai berjalan ala model untuk menyesuaikan keseimbangan. “Mbak, studionya di mana?” Aku kembali berbalik badan, dan hampir bertubrukan dengan tubuh tinggi itu. “Ishh.. jalan tuh nggak usah mepet bisa nggak sih?” Protesku, dan dia hanya mengangkat alis. Tak lama, mbak pegawai butik mengarahkan kami ke ruangan yang diatur khusus untuk studi poto. Awalnya aku ingin berpoto di alam bebas, seminimal di hamparan padang savana Belitung jika tidak bisa di gunung Prau di jam sunrise. Tapi berhubung calon mempelai priaku yang ganteng dan pengen kutendang ini tidak punya waktu, dan juga pastinya akan menolak mentah-mentah tanpa pikir panjang. Alhasil di sinilah kami, ruangan 7 x 8 meter dengan berbagai kertas background yang diposisikan di satu sisi. Lalu ada berbagai peralatan di salah satu sudut, ada kursi, meja, bunga dan banyak lagi. Butik ini memang khusus untuk persiapan para pasangan yang hendak menikah. Apalah aku yang harus rela mengubur sebagian konsep pernikahan impianku yang sudah kurancang dua minggu lalu. “Untuk take pertama, mbak dan masnya posisi berdiri ya. Silakan ke sebelah backgroundnya.” Sang fotografer mengarahkan kami ke posisi paling sesuai. Tanpa diminta dua kali aku berjalan sambil mengendalikan pakaian yang sedikit menyusahkan, belum lagi sepatu yang salah sedikit bisa membuat kakiku masuk rumah sakit. Demikian juga si kawan yang sampai hari ini namanya lupa. Serius aku benar-benar tidak ingat namanya. Kami berdiri bersisian, aku mengeluarkan ekspresi biasaku. Sekilas aku menatap lelaki yang berdiri di sampingku, tangan kanannya sudah dimasukkan ke saku celana, tangan kirinya menggenggam sisi jasnya. Jangan lupakan ekspresi dingin di wajahnya tampak sempurna dengan stylenya. Kayaknya kalau jadi model dia benar-benar cocok, cool banget asli. Aku akui ini laki ganteng, tapi masih gantengan Arnold sih. “Kenapa lihat-lihat? Belum pernah lihat cowok ganteng?” Mampus deh, ketahuan lagi liat dia. “Gantengan juga Arnold kemana-mana.” Ketusku. Tentu saja aku mengucapkannya tanpa rasa bersalah. Dimana lagi ada calon istri yang memuji lelaki lain lebih ganteng dari calon suaminya sendiri? Kurasa hanya aku, kecuali memang calon suaminya jelek banget. Hanya dengusan kecil yang terdengar di telingaku darinya, karena memang aku sudah melihat ke arah fotografer yang berada tegak lurus di hadapan kami. “Maaf, boleh lebih dekat lagi? Coba gayanya lebih romantis.” Si tukang poto mulai menuntut lebih. Bukannya aku tidak tahu bagaimana biasanya poto prewedding. Masalahnya adalah, tidak lucu aku lebih dulu mendekati cowok kurang asem di sebelahku. Gengsi dong, ihhh.. Kutatap dia berniat menyuarakan isi kepalaku melalui tatapan mata. Tapi sepertinya dia tidak bisa membaca isi kepalaku, gimana dia nanti bisa membaca isi hatiku? Ahh.. sudahlah. Dengan membuang semua segan dan sungkan serta memutus urat malu setelah menimbun rasa kesal di d**a, aku menarik menggemgam tangan kirinya. Berterimakasihlah pada heels 12 cm ku karena telah membuat tinggi badan kami hampir sama. Dengan begitu tanganku lebih mudah meraih lehernya. Perlu kalian ketahui, begitu tanganku melingkar di lehernya, dia langsung memundurkan wajahnya. Ingin rasanya menertawakan raut kagetnya, persis ketika seseorang tiba-tiba refleks menangkap sesuatu. “Bener dong berdirinya. “ Seruku kesal. Dikira aku bau apa sampai dia menjauhkan wajahnya. Akhirnya ia menormalkan gestur tubuhnya. Kuberanikan menatap matanya, tapi dia seolah menghindar. “Bisa nggak matanya nggak usah gerak-gerak? Tinggal lihat mataku saja susah benar deh.” Dia yang cowok, tapi kenapa malah dia yang tidak berani menatap mataku. Butuh waktu hingga 2 menit berlalu hingga ia bisa menatap mataku. Kurasakan tangannya sedikit basah, ‘dia gerogi, ya ampun.’ “Oke, begitu bagus.” Seru si tukang poto. Jadilah satu take demikian. Berikutnya, lagi-lagi aku yang mengambil alih mengatur gayanya. Tidak tahu setan jenis apa yang merasuki pria itu hingga tanpa berkomentar apapun mengikuti perintahku. Dia meletakkan tangannya di pinggangku dengan kaku, serius dia bahkan mengepalkan tangannya terlebih dahulu. Berulang kali kuperhatikan ia menelan ludahnya sendiri, entah karena gugup atau hal lain yang lebih s*****l. Masa bodoh, itulah yang terbersit dipikiranku. Aku hanya ingin poto pra pernikahan kami terlihat lebih normal layaknya pasangan yang saling mencintai. Kami juga mengambil sesi posisi duduk untuk beberapa pengambilan gambar. Kemudian posisi berjauh-jauhan. Entah sudah berapa banyak pose, yang pasti kakiku sudah pegal dan meminta istirahat. “Oke, kita ambil satu pose lagi ya. Ini harus lebih dekat, skinshipnya harus terlihat natural.” Lagi-lagi fotografer meminta kami untuk melakukan pose mesra. Hanya dengan mendengar itu, mimik si kawan langsung berubah tegang. “Frustasi amat.” Aku bingung kenapa dia benar-benar tidak nyaman berdekatan denganku. Apa aku terlalu buruk rupa? Tapi tadi dia bilang aku cantik. Dasar pria tidak jelas. “Jangan menghakimiku jika kamu tidak pernah berada di posisiku.” Ucapnya dengan penuh penekanan. Tersirat kekesalan di sana. “Lho, kita sama-sama berpoto kok, bagaimana ceritanya aku tidak berada di posisi yang sama?” Balasku bingung. Aku tidak tahu apa isi kepalanya. “Aku bahkan tidak pernah sedekat ini dengan perempuan.” Begitu lirih kalimatnya, hingga aku saja hampir kesulitan mendengarnya. Aku membulatkan mulut dan menatapnya melotot. “Parah, 28 tahun guys? Serius nggak pernah dekat dengan perempuan?” Aku terkikik mendengarnya. Walaupun aku jomblo seumur hidup, tapi kalau hanya berdekatan, gandingan tangan dengan lelaki bukan hal yang aneh bagiku. Karena memang aku cenderung mudah dekat dengan cowok, dan meskipun wujudku tomboy tapi tidak jarang ada masanya aku ingin jadi manja. “Lucu?” Keluar aura permusuhannya. “Sedikit. Sulit saja dipercaya selama 28 tahun kamu tidak pernah skinship dengan perempuan.” “Hmm..” Pikirku daripada membuat moodnya semakin rusak, lebih baik mempercepat proses prewedding ini. Maka tanpa aba-aba aku menarik tubuhnya dan mendekatkan tubuhku padanya, hingga sontak kedua tangannya berada di pinggangku. Hidung kami hanya sejarak dua buku jari, aku bisa melihat dengan jelas manik matanya yang berwarna coklat tua, alisnya yang tebal dan terlihat hampir menyatu. “Iya, bagus. Pertahankan posisinya.” Suara sang fotografer bagai dengung nyamuk di telingaku. Fokusku hanya terpusat pada mata yang menyorot tajam itu. Setelah semua pose mesra yang kami lakukan sejak tadi, baru sekali ini matanya diam dan tidak lari-lari menatap yang lain. Aku tidak bisa merasakan nafasnya, sepertinya dia sedang menahan nafas. Tapi aku tidak peduli, karena aku ingin lebih lama begini. Satu kata untuk posisi ini, nyaman. Jika ditanya bagaimana detak jantungku, biasa saja. Tidak ada deg-degan seperti habis lari marathon. Atau saat akan ujian meja hijau. Aku hanya merasa tenang, tak ada beban. Rasanya semua kekesalan yang kujadikan pondasi selama sesi pemotretan agar tidak gerogi hilang begitu saja. Tangan besar yang sedang memeluk pinggangku terasa begitu nyaman, hingga rasanya aku kesulitan mengendalikan diriku agar tidak benar-benar memeluk pria itu. “Oke.” Hingga seruan si fotografer membuyarkan atensiku. Aku tersenyum dan mendorong tubuhnya, karena posisi tanganku yang sejak tadi berada di dadanya. Aku lupa menyampaikan, jika sejak tadi dia memang menahan nafas. Dan tanganku rasanya seperti sedang dipijat dengan sensai pacu jantungnya yang bertalu-talu. Aku tidak menyangka bisa menemukan laki-laki yang gerogi melakukan skinship seperti itu. Biasanya laki-laki justru kegatelan ingin dekat-dekat dengan perempuan. “Baiklah, besok file potonya akan kami kirimkan ke kontak mbaknya. Silakan dipilih agar kami bisa mencetaknya.” “Oke.” Seruku dengan riang. Bukan tanpa alasan, tapi si kawan masih belum sepenuhnya sadar dari lamunannya. Dia seperti orang yang baru saja ditimpa masalah yang sangat berat, seperti kehilangan kekasih tercinta, lesu tanpa binar di matanya. Padahal baru saja aku merasa nyaman menatap bola mata itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN