Raka
Aku tidak tahu jika akan seperti ini rasanya dalam posisi sangat-sangat dekat dengan perempuan. Aku tidak mengatakan karena perempuan itu adalah Nadine, tapi ini benar-benar tidak baik untuk jantung dan sesuatu yang membuatku sesak. Ritme detak jantungku rasanya seolah aku baru saja menyelesaikan lomba lari 400 meter bolak balik, tidak karuan. Belum lagi sesuatu yang terasa tidak nyaman saat bersentuhan begitu intim dengannya, rasanya ingin aku segera mandi air dingin.
Seumur hidupku baru dua kali aku bersentuhan sedekat ini dengan perempuan. Pertama adalah adikku yang tentu saja tidak memiliki pengaruh apapun dengan getaran jantungku, terlebih dengan system hormonal. Kedua adalah dengan gadis yang tadi mendekat secara tiba-tiba bahkan tanpa aba-aba untuk sekedar membuatku siap saat tubuhnya menempel sempurna padaku.
Beruntung gerak refleksku cukup bagus menahan bobot tubuhnya yang memang tidak terlalu berat. Tapi untuk pertama kalinya aku tak bisa memalingkan pandanganku dari sorot matanya yang menggoda. Tatapannya seolah mengurung atensiku untuk terus melihat kedua bola mata jernih yang memikat tersebut. Itu seperti magnet berkutub utara dan aku adalah magnet kutub selatan. Tanpa sadar aku bahkan menahan nafas sejak wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Nafasnya teratur menyentuh kulit wajahku.
Tidak ada penolakan dari tubuhku, otakku mendadak kehilangan jaringan sehingga tidak tahu harus memikirkan apapun. Teduh, satu kata menggambarkan ketenangan dari binar mata itu. Aku tidak pernah sadar jika sorot mata yang biasanya menghunus itu bisa seterang saat ini. Tak ingin rasanya waktu berlalu, aku mungkin sanggup menahan nafas lebih lama lagi asal sembari menatap bola mata kecil itu.
Tapi apa hendak dikata, ibarat ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, tubuhku terdorong tiba-tiba sama seperti saat ia menarik jas ku tiba-tiba. Hilang sudah kesempatan menatap matanya lebih lama. Dunia kembali pada kondisinya semula, dingin membekukan. Bukan tubuhku yang menggigil, tapi aura Nadine jika berurusan denganku mampu membekukan hatiku, hingga benar-benar tidak bisa luluh padanya.
Aku masih terdiam ketika sang fotografer menyampaikan beberapa hal yang tidak jelas kudengar. Kepalaku masih sibuk mencerna peristiwa beberapa menit yang lalu. Seperti bermimpi di siang bolong, tidak akan menjadi nyata. Tangannya berada di dadaku, tanganku di pinggangnya, tatapan berbalas yang membawaku pada imajinasi tentang hubungan yang sewajarnya. Otakku benar-benar sudah mabuk.
“Hey..” Seseorang menyentuh lenganku, dan tak lain adalah Nadine.
“Ha?? Kenapa?”
“Ganti baju ayok.”
“Barengan?”
“Ya iyalah, kamu mau ganti tahun depan?”
Setelah mengeluarkan seruan-seruan ketusnya, yang turut membawaku ke alam sadar, jika ternyata gadis itu tetaplah bar-bar. Ahh… rasanya perempuan yang tadi kupeluk bukan dia. Pasti tadi itu ada makhluk astral penghuni butik ini yang merasukinya hingga bisa semanis itu. Namun tak urung kuikuti juga langkahnya menuju ruang ganti yang tadi kami tinggalkan. Aku mengekorinya kemana dia pergi, hingga sampai di ruang ganti.
“Ehhh… ngapain di sini?” Hingga suaranya kembali menegurku.
“Ganti baju.” Kataku polos.
“Iyakk.. si bambang. Kamu tuh ganti bajunya bukan di sini, di sebelah sana.” Nadine mendorong tubuhku keluar ruangan dan menunjukkan satu pintu yang terbuka di sisi lain.
Seketika nyawaku seolah kembali setelah berkelana sejenak. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Di belakangku sudah berdiri Nadine sambil bersedakap menatapku nyalang. Dengan kikuk aku melangkah ke ruangan tempat pertama kali aku berganti pakaian. ‘Aduhh.. isi kepalaku tercemar deh kan. Perkaran skinship si cewek bar-bar tadi.’ Garukan kepalaku semakin kencang, sedikit frustasi mengingat kecanggungan tak terkendali saat bersamanya. Nanti pasti dia berpikir yang aneh-aneh. ‘Pakai masuk ke ruangan ganti perempuan segala lagi. Bodoh banget si Ka.’ Gerutuku merutuki kebodohan yang mendadak hingga bagai nyamuk penghisap darah, menghisap kewarasan yang selama ini selalu kupertahankan.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika kami keluar dari butik. Sekarang tidak ada lagi gadis feminism yang 1 jam lalu menatapku. Kini hanya ada gadis bar-bar yang rambutnya dikuncir kuda, dan mengenakan pakaian yang… ah sudahlah. Aku bahkan heran apakah perempuan itu bukan jadi-jadian. Bagaimana tidak kukatakan demikian, makeup yang tadi dikenakannya juga ikut terhapus tanpa jejak. Pakaiannya kaos oblong berwarna putih yang kebesaran, serta celana kain abu-abu, dan tak lupa sepatu kets senada.
“Kita pulang.”
Mendengar hal itu aku menatapnya heran. Aku menunggunya berganti pakaian selama setengah jam. Belum lagi selama menunggunya perutku sudah bergerilya minta makan, dan aku baru ingat jika sejak siang perutku belum diisi demi mengejar jadwal fitting.
“No, aku lapar, kita makan dulu.” Putusku tanpa tedeng aling-aling.
Ia tampak melirik jam di pergelangan tangannya. “Ini masih pukul 5, makan apa jam segini?”
“Makan siang.” Ketusku sambil berjalan mendahului untuk keluar butik. Sambil menunggu keribetan perempuan itu tadi, aku juga sudah menyelesaikan masalah adiministrasi dan segala macamnya.
“Tapi ini tuh sore, mana ada makan siang lagi.” Gadis itu kembali bersuara sambil berjalan dengan cepat berusaha mengimbangi langkahku yang memang jauh lebih panjang darinya.
Aku menarik nafas panjang lalu berhenti. Kini ia berada tepat di sebelahku dalam diam. Kuarahkan tubuhku menghadapnya dan menatap intens dirinya. Satu hal yang kusadari, ternyata tingginya hanya sepundakku.
“Aku lapar dan aku ingin makan. Terserah ini jam berapa dan makan apapun namanya aku tidak peduli yang aku inginkan adalah makan. Paham?” Entah pengaruh lapar atau memang emosiku tersulut menghadapi perempuan yang mendadak sok polos itu, yang jelas aku bicara tanpa tanda baca. “Kau boleh ikut, atau silakan pulang sendiri jika tak ingin.” Lanjutku lalu kembali meneruskan langkah menuju mobil.
Sampai akhirnya aku tersadar jika Nadine tidak mengikutiku. Ia malah terlihat berdiri di pinggir jalan dan mengotak atik gawainya. ‘Astaga, ini cewek ribet banget deh.’ Rutukku, lalu berjalan ke arahnya.
“Kamu ngapain di sini? Mobilnya di sana.” Aku menunjuk ke arah mobil tanpa mengalihkan wajahku dari pandangannya.
“Ngapain aku naik mobil kamu? Aku mau pulang kok.” Lagi-lagi nada ketus yang keluar dari mulutnya yang kecil itu.
“Yaudah, kan sambil.” Debatku tak kalah kesal.
Kini dia bertolak pinggang dan menatapku menantang. “Ehh tuan nggak jelas. Tadi kamu yang bilang kalau kamu itu lapar. Dan kalau aku tdak ikut, maka aku pulang sendiri. Jadi ini aku lagi nunggu kendaraan buat pulang.” Setiap kata diucapkan penuh penekanan, ciri khas orang kalau sudah kesal.
“Aku nggak bilang gitu tadi.” Benar saja aku tidak ingat pernah memintanya pulang sendiri. Tujuanku saja ingin bicara dengannya, bagaimana mungkin aku memintanya pergi setelah aku merendahkan ego untuk kembali dari Singapura.
“Masih muda tapi sudah pikun. Jelas-jelas tadi kamu bilang gini, ‘Aku lapar dan aku ingin makan. Kau boleh ikut, atau silakan pulang sendiri jika tak ingin.’” Dia menirukan gayaku bicara yang tidak mirip sama sekali, justru bibirnya ketika menirukan mirip ikan kakak tua.
Aku sudah berusaha mengingat kapan aku mengucapkannya, tapi tak kunjung kutemukan di sudut memori mana hal itu terlintas. “Yaudahlah, sekarang kamu ikut aku, temani aku makan. Setelah itu ada hal yang ingin kusampaikan.” Lelah berdebat dengan gadis yang tak akan mau kalah, maka aku menarik tangannya agar ikut. Semua terjadi begitu saja dengan refleks tanpa pemikiran panjang. Aku sadar setelah akan membuka pintu mobil dan melihat tanganku menggenggam pergelangan tangannya.
“Masuk.” Demi menjada image, maka suaraku kuupayakan seketus mungkin. Baru 3 jam bersama gadis absurd itu, otakku seolah kehilangan sebagian kemampuannya untuk berpikir. Apakah setelah menikah nanti aku malah jadi orang gila? Oh no.
***
“Jadi apa yang ingin kamu sampaikan?” Baru saja aku menenggak air putih untuk mengantarkan makanan yang sudah kukonsumsi hingga ke tempatnya kemudian.
“Nggak sabaran banget sih. Baru juga siap makan.” Protesku.
“Lama. Kamu saja makan lama banget.”
“Makan itu harus dinikmati.” Nah lho, sejak kapan aku repot menjelaskan hal-hal tidak penting? Ahh.. sejak awal bertemu gadis absurd di hadapanku.
“Kamu itu cowok, harusnya makannya cepat.”
“Hubungannya apa? Memangnya kalau laki-laki tidak boleh makan lama, lambat? Makan teratur dengan kunyahan yang tepat itu saran dokter untuk kesehatan, bukan karena gender.”
Kulihat ia memutar bola matanya dan menelan ludah. “Iya, bawel. Sok sehat.”
“Kayaknya yang bawel itu kamu deh. Protes mulu. Lagian aku itu harus sehat, mimpi aku masih panjang, dan banyak orang yang menggantungkan hidupnya padaku. Jadi aku harus menjaga Kesehatan.”
“Kita di sini mau bahas kesehatan atau apaan sih?” Sungutnya.
Aku kembali ke mode serius. Aku meminta pelayan untuk menyingkirkan piring kotor dari hadapan kami. Tak butuh waktu lama, aku kembali fokus menatap wajah menyebalkan di hadapanku. Entah kenapa emosiku berubah-ubah jika berdekatan dengannya.
“Aku ingin membahas tentang kita.”
“Kita? Kamu saja kali, aku nggak.” Ucapnya dengan nada melucu.
“Aku serius, dan tidak sedang ingin melucu.” Aku tidak tahu apa keputusanku sudah tepat atau tidak. Tapi ini demi kebaikan bersama. Aku telah memikirkannya matang-matang, mempertimbangkan hal positif yang akan kuperoleh dan sisi negative yang mau tidak mau harus kuhadapi.
“Iya apa?” Jawabnya masih dengan nada ketus. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan nada itu.
“Kita akan menikah.”
“Lah, memang kita akan menikah kok.” Kukira dia akan terkejut dengan keputusanku, tapi justru aku yang heran dengan ekspresi santainya. Kelewat santai malahan.
“Kita akan menjalani pernikahan selayaknya pasangan lain.” Lanjutku. Beberapa hal perlu diperjelas dalam hubungan kami yang bahkan tidak bisa dikatakan normal. Pasangan macam apa yang masih bertemu dua kali, ketiga kali hari ini dan minggu depan sudah akan menikah?
“Maksudnya?”
“Yahh… sebagaimana pasangan lainnya. Kita juga akan menjalani hubungan pernikahan yang sama.” Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Kepalaku tidak bisa berpikir dengan baik jika sudah berurusan dengan gadis ini.
“Bahkan untuk anak?”
Aku terdiam sejenak. Aku tidak memikirkan sejauh itu. Dikepalaku hanya ada kerja sama bisnis antara perusahaanku dan perusahaan ayah mertuaku kelak. Aku bahkan tidak membayangkan hubungan suami istri dalam artian hubungan fisik diantara kami.
“Itu..”
***