Nadine
“Tidak boleh ada.” Segera kupotong ucapannya. Aku tidak ingin ada kata-kata yang akan merugikanku keluar dari mulutnya.
Aku tidak suka sikap orang yang ragu-ragu, jadi kuputuskan jika aku yang akan mengambil bagian ini. Seumur hidup aku tidak menjalin status pacaran atau hubungan spesial melewati batas sahabat dengan pria manapun. Lalu tiba-tiba hadir sosok manusia yang diumumkan sebagai calon suamiku. Sialnya aku harus menikah beberapa hari lagi.
Aku tidak tahu kenapa lelaki plin plan di depanku memutuskan tidak menolak perjodohan ini sejak awal. Ketika dia melakukan pelarian ke Singapura dengan alasan pekerjaan kukira itu adalah jalannya membatalkan apa yang sudah dikonsep. Tapi kami di sini duduk berdua, untuk membahas hubungan kami ke depannya. Intinya tidak ada yang benar-benar sesuai keinginan di sini. Aku juga tidak ingin bertanya udang jenis apa yang ada dibalik batu keputusannya mengajakku membahas hal-hal mengenai hubungan rumah tangga kami ke depannya. Ini seperti kisah-kisah di novel-novel yang k****a, aka nada pihak pertama dan kedua. Pihak kedua pasti kaum tertindas yang selalu di perempuan.
Jika dia kira dia bisa mengatur kehidupanku bahkan setelah menyandang status sebagai suami, akan kutunjukkan itu tidak akan berlaku pada Nadine Aurelia. Apa gunanya aku sekolah tinggi-tinggi kalau toh mau saja dibodohi perkara patriarki unfaedah itu. Tidak akan kubiarkan.
“Maksudmu?” Ahh.. dia masih bertanya apa yang sudah jelas kuutarakan.
“Aku tidak ingin ada kontak fisik diantara kita. Kita beda kamar.” Putusku sepihak.
“Lho… kenapa demikian?”
Dasar cowok, jelas-jelas dia tidak memiliki perasaan cinta kepadaku, tapi kalau sudah bahas kontak fisik saja langsung on.
“Bagaimana mungkin kita menjalani biduk rumah tangga normal selayaknya pasangan yang merencanakan pernikahan sebagai akhir masa pacaran mereka, sedangkan kita saja dijodohkan dengan akhir keterpaksaan? Aku tidak mau ada kontak fisik.”
“Kalau orangtua kita meminta cucu bagaimana?”
Aku tersenyum kecil, ‘itu bukan masalah yang sulit diatasi sebenarnya’ batinku. “Katakan saja kita belum program. Aku akan bilang aku tidak siap. Bereskan? Itu adalah jawaban terjujur dan tidak akan ada yang disudutkan.” Paparku dengan semangat, ini terasa mudah diatasi.
Sejenak dia diam seperti membuat pertimbangan. “Oke. Bagaimana dengan nafkah?”
Yuhuu… kita sampai juga ternyata ke topik paling kutunggu. “Aku akan bertanggungjawab dengan urusan rumah. Kamu yang mencari uang.”
Ia memicingkan mata menatapku curiga, “Memang kamu bisa ngurus rumah?”
“Hahaha… Tenang saja, kamu tidak perlu mengeluarkan uangmu untuk biaya pembantu. Selama uang belanja aman.” Aku harus memastikan dia percaya, negosiasi memang sangat dibutuhkan. Kami seperti bukan sedang membahas rumah tangga, tapi lebih cocok seperti bisnis mengatasnamakan status pernikahan.
“Baiklah, aku sepakat. Semua berjalan seperti layaknya, tanpa kontak fisik.”
“Satu lagi yang kuinginkan.” Sekalipun ini bukanlah pernikahan atas dasar suka sama suka, tapi bagiku pernikahan tetaplah suatu hubungan yang sakral karena melibatkan nama Tuhan. Aku tak ingin menodainya. “Tidak ada perselingkuhan. Aku lebih suka kamu menceraikanku terlebih dahulu sebelum menjalin hubungan dengan perempuan lain.”
Kalian mungkin penasaran kenapa aku segamblang ini membahas hal-hal tabu. Sebanyak apapun kesalahan orang-orang di sekitarku, akan mudah memaafkannya selain kebohongan dan pengkhianatan. Terlebih mengingat di dalam agamaku perselingkuhan adalah sebuah perzinahan yang haram hukumnya. Sekalipun perceraian juga larangan keras pada dasarnya.
“Hahh?” Dia memamerkan senyum sinis mengejek. “Semoga kamu tidak menjilat ludahmu sendiri.”
Aku menyesap cappuccino dingin yang esnya sudah mencair sejak tadi. Berbicara dengan makhluk tidak jelas seperti pria ini memang perlu suhu dingin. Jika tidak, emosi akan meledak-ledak. “Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa yang paling kubenci, sekalipun itu terpaksa.” Tegasku dengan nada datar.
“Baiklah. Setuju. Akan lebih baik jika kamu jatuh cinta padaku saja.”
“Uhukkk.” Sial, dia mengatakan hal tidak masuk akal saat aku sedang minum.
“Apa tebakanku benar? Ahh.. jangan jangan lo sudah tertarik denganku?” Ingin rasanya kusiramkan air es ke wajahnya yang menyeringai seram itu. Untung air di gelasku sudah tandas, alam benar-benar berpihak padanya.
“PD banget. Kalau aku jatuh cinta padamu, kamu pasti adalah pria terhebat yang bisa membuat itu terjadi.”
“Kayak lo nggak pernah jatuh cinta sama orang.”
“Memang tidak pernah. Aku biasa jatuh cinta pada pemandangan dari atas gunung.”
“Ckck… absurd banget sih lo.” Ejeknya.
“Daripada situ, bersentuhan sedikit saja langsung gerogi.”
Kelemahanya benar-benar lucu untuk kategori lelaki normal. Tapi biarlah, aku jadi punya alasan untuk mengejeknya jika dia berani mempermalukanku.
“Lo nggak bakal tahu rasanya jadi cowok bersentuhan fisik dengan perempuan.” Kata-katanya penuh penekanan tapi diutarakan dengan nada rendah, sembari mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Turn on? Itusih otakmu saja yang terlalu berpikiran dangkal. Makanya jangan terlalu kolot dan tertutup bergaul dengan perempuan. Jadi terbiasa berdekatan dengan lawan jenis, kalau terbiasa dekat, tidak akan berlebihan reaksi hormonnya. Percaya deh padaku.”
“Sok tahu, memangnya kamu pernah jadi laki-laki?”
“Nggak sih, tapi aku biasa membaca novel mature. Kontennya tidak jauh berbedalah dengan hal-hal berbau 18 tahun ke atas. Lagipula itu juga ada dibuku kesehatan reproduksi. Kita bahkan bisa menemukan hal-hal seperti itu di website kesehatan.”
Kulihat kepalanya yang geleng-geleng tak percaya. Sedangkan aku hanya nyengir mendapati ekspresinya yang demikian. Pasti ia tak menyangka jika aku bukan hanya bar-bar tapi lebih jauh dari itu. ‘Masih banyak rahasiaku yang belum kamu ketahui my bro.’
“Sudah-sudah, ngomong sama kamu melantur kemana-mana.”
“Ihh.. apaan, gitu aja malu. Biasa saja kali. Kita juga perlu edukasi seks, hari gini anak anak saja sudah diajari.”
“Itu makanya banyak kasus hamil di luar nikah.”
“Justru yang hamil di luar nikah itu tidak terdidik. Kan g****k banget sih bisa hamil, jelas-jelas di SMP saja sudah dipelajari kalau berhubungan intim itu proses buat bayi. Giliran sudah hamil, anaknya dibuang. b**o kan? Padahal banyak keluarga yang bahkan berusaha sampai titik darah penghabisan hanya untuk memiliki anak kandung.”
“Kamu ngomongnya kok makin melantur sih? Kita lagi bahas soal status rumah tangga kita ke depan, kamu malah bahas yang nggak nggak.” Dia mendengus tidak suka. Aku memang sulit mengontrol diri jika sudah membahas seksualitas. Itu pembahasan paling menarik dari semua kajian biologi.
“Kalau tidak suka, kenapa ditanggapi dari tadi?”
“Kalian itu perempuan suka aneh, nanti tidak ditanggapi kalian bilang kami pria yang sombong, cuek, dingin, tidak perhatian. Kami lagi yang salah.”
“HAHAAHH….” Serius itu yang barusan bicara makhluk paling tidak jelas, yang selama 3 kali perjumpaan terhitung hari ini selalu bersikap acuh. “Kamu sedang membicarakan dirimu sendiri. Jangan kira karena hari ini kamu ikut fitting, kamu bisa melupakan 2 Minggu pengabaian yang kamu lakukan.” Salah sendiri mengingatkanku pada kesalahan-kesalahannya.
Dia terlihat menutup mata dan menarik nafas perlahan. Ciri-ciri orang sedang menahan emosi, sudah beberapa kali hari ini dia melakukannya, sampai aku hapal ekspresi wajahnya. “Aku minta maaf untuk itu. Jadi berhentilah membahasnya.”
“Tahu nggak, biasanya cowok kalau sudah minta maaf, itu artinya dia mulai ada rasa sama perempuan itu.”
Ia mengernyitkan dahinya, nampak tidak berterima dengan apa yang baru saja kusampaikan. “Siapa yang bilang begitu?”
“Novel.”
“Itu bohong.”
“Tapi kayaknya nggak deh.”
“Bohong.”
“Tapi segitu banyak novel yang mengatakan demikian secara tidak langsung. Sedangkan kamu hanya sendiri.”
“Novel itu hanya imajinasi, aku real di depan kamu.”
Berdebat dengannya sedikit menyenangkan, jadi mari kita perlama sebentar lagi. Anggap saja ini balas dendam karena sudah membuatku seperti perempuan tidak diinginkan selama 2 minggu ini.
“Tapi novel itu adalah cerminan dari kisah kehidupan nyata dari. Semua cerita itu sedikit banyak terinsipirasi dari kenyataan.”
“Seberapa persen? Itu hanya setitik kisah yang dikasih bumbu supaya menarik dibaca orang kurang kerjaan seperti kamu.”
“Hmm.. aku akui aku masih pengangguran. Tapi aku anak sastra yang belajar tentang kepenulisan. Jadi pendapatku lebih valid dengan apa yang sedang kita bahas.” Kutunjukkan senyum manisku, atau lebih tepatnya senyum mengejek yang mampu membuat raut wajahnya semakin kesal.
“Terserah. Jika tidak ada lagi yang penting, kita pulang saja.”
“Hmm… Kamu kok yang sejak awal mengajak bicara. Kenapa jadi aku yang kamu tanya? Aneh.”
Wajahnyanya tidak memerah, tapi terpampang jelas mimic ingin menerkam di sana. Dia berdiri dengan tiba-tiba hingga kursinya terdorong ke belakang sedikit kuat. Melihat itu bukan membuatku takut, tapi justru tersenyum manis, semakin menantang. Itu belum seberapa dari kekesalan yang kurasakan karena pernikahan tak diinginkan ini. Hingga akhirnya ia beranjak.
“Ehh.. mau ke mana? Ini belum dibayar.” Aku mulai panik, jangan bilang dia akan meninggalkanku untuk membayar makanan yang mahal-mahal ini. Bisa bangkrut dompetku yang tipis itu.
“Aku ingin ke toilet. Tunggu saja di situ.” Ucapnya datar masih dengan raut kesal.
“Oke.” Bisikku tanpa suara, hanya memperjelas bentuk bibir, dan mengangkat jariku membentuk huruf o.
Sembari menunggu kembalinya pria absurd itu, aku mengotak atik gawaiku. Melihat isi media social yang tidak ada perubahan sejak pagi. Hanya ada pesan dari Arnold sejak pukul tengah 3 tadi. Ia menyampaikan jika harus ke kantor, sekaligus mengabari jika digantikan oleh abangnya. Ternyata sejak fitting baju aku tidak membuka HP barang sebentar. “Tumben”. Pasalnya, aku sudah menjadi makhluk bumi yang sulit lepas dari gawai sejak jadi pengangguran. Belum pernah sejarahnya aku tidak membuka i********: atau watsapp dalam jangka waktu satu jam. Sedangkan sudah terhitung hampir 5 jam sejak terakhir aku mengoperasikannya.
Tak berapa lama, laki-laki itu sudah berdiri di hadapanku. “Ayok pulang.”
“Ini sudah dibayar?” Tanyaku kembali.
“Belum, kamu mau membayarnya?” Jawabnya santai.
“Serius Bambang?”
“Yasudah kalau tidak mau pulang. Kamu di sini saja, mungkin mereka juga butuh tukang cuci piring di dapur.” Lalu dia beranjak meninggalkanku yang masih duduk.
Hatiku sedikit tidak tenang. Takut jika lelaki sedikit kurang otak se-ons itu sunggu-sungguh belum membayar pesanan kami. Kuputuskan menuju kasir terlebih dahulu. Tidak lucu jika nanti kami dicegat di pos satpam lalu berurusan dengan polisi hanya karena kabur tanpa membayar makanan. Bukan headline yang menarik.
“Maaf mbak, pesanan untuk meja nomor 21 sudah dibayar?” Tanyaku sesopan mungkin.
“Sudah mbak.” Dengan senyum tak kalah sopan si mbak kasir memjawabku.
Seketika aku bernafas lega, tapi juga diiringi kesal. “Dia ngerjain gue.” Gumamku.
“Kamu tadi bilang pesanannya belum dibayar.” Segera kucecar dirinya begitu aku sampai di dalam mobil. Kukira tadi dia meninggalkanku karena lama keluar menyusul. Ternyata dia hanya duduk sambil berdiam diri di dalam mobil, masih di parkiran resto.
Dialihkannya pandangannya yang sedari tadi ke balik kaca di sebelahnya menjadi ke arahku. “Makanya kalau kuajak pulang kamu ikut saja. Tak mungkin gue ajak pulang kalau belum kuatasi. Jadi cewek kok nggak cerdas.” Kok malah dia yang balik marah?
“Kamu saja tuh otaknya kurang setengah ons.” Aku tak ingin kalah dengan mulutnya yang pedas.
“Sussah ngomong sama perempuan absurd kayak kamu. Pakai seatbeltnya, kalau jidat kamu nyium dashboard bukan tanggung jawabku.” Sesuai perintah aku melaksanakannya. Lalu suasana mobil hening hingga sampai di rumahku. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tak berlama-lama setelah aku turun dari mobil, ia bergegas menginjak gas dan hanya membunyikan klakson.
“Dasar nggak punya sopan. Calon mantu apaan begitu, bukannya masuk dulu salim camernya.” Rutukku mengikuti kepergian mobilnya yang menghilang di balik pagar.
***