Raka
Seusai mengantarkan Nadine ke rumahnya semalam, aku merenung semalam suntuk di hotel. Aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, karena pasti pikiranku akan terintimidasi oleh bayang-bayang mama, papa, dan Arnold. Jika kalian kira pertimbanganku sangat sederhana, kalian salah. Kita hanya tidak bertukar posisi, kuharap semesta tidak akan menghakimiku dengan putusan final yang kupilih. Semoga dunia juga mendukung apapun yang terjadi ke depannya.
Pukul 6 pagi aku sudah check out dari hotel dan kembali ke rumah. Hanya sekedar untuk mandi dan mengganti pakaian. Hari ini aku akan kembali ngantor, pekerjaan pasti sudah menumpuk setelah kutinggal 17 hari. Aku juga sudah merindukan ruangan pribadiku, rasa-rasanya sudah begitu lama aku pergi meninggalkannya.
Tin tin…
Penjaga segera membuka pintu gerbang begitu memastikan kedatanganku. Kuparkirkan mobil hanya sampai di depan rumah, karena nanti juga akan kubawa kembali.
“Mobilnya mau dicuci den?” Pak Sugi, supir keluarga datang menghampiriku.
“Nggak usah pak, nanti mau dipakai lagi.”
“Baik den.”
Setelahnya aku masuk ke dalam rumah. Tenang saja, pintu sudah terbuka karena bu Arta selalu belanja pukul 5 pagi ke pasar. “Aku pulang.” Ucapku lemas sekedar menyampaikan pada pintu rumah bahwa salah satu penghuninya sudah kembali.
“Raka? Kamu pagi sekali pulangnya?” Ternyata mamaku sudah berada di ruang makan.
“Raka mau ngantor ma. Ke atas dulu ya, gerah mau mandi.” Pamitku sambil mencium tangan perempuan yang melahirkanku itu.
“Kamu semalam tidur di mana?”
“Hotel ma.” Hampir saja aku beranjak, tapi tanganku dipegang oleh mama.
“Tunggu, kamu ke hotel? Sama siapa? Bukannya kamu kemarin pergi dengan Nadine? Arnold bilang begitu.”
“Iya, tapi semalam aku ngantar dia pulang kok mam. Habis itu aku ke hotel.” Aku kembali ingin melangkah melanjutkan perjalan yang tertunda. Tapi lagi-lagi mama tidak melepaskan genggamannya.
“Kenapa ma?”
“Kamu ngapain di hotel?” Lihatlah ekspresi curiga mamaku ini, ia seperti sedang menginterogasi bocah 15 tahun yang ketahuan kabur dari sekolah. “Kamu tidak macam-macam kan?”
“Ya ampun ma, Raka cuma tidur, sendiri, tanpa siapa-siapa.” Jelasku dengan nada malas. Ayolah, keluargaku ini sedikit kolot, anaknya sudah besar tapi kalau keluar malam hingga subuh pasti langsung seperti sedang menangkap maling diperlakukan.
“Kalau kamu cuma tidur sendiri, ngapain ke hotel? Kenapa tidak pulang?”
“Aku butuh sendiri ma, aku cuma berpikir. Sudahlah, Raka kurang tidur, mau langsung ke kamar tidur 30 menit lagi. Mama jangan buang waktu Raka dulu ah..” Aku langsung melarikan diri agar tidak dapat ditangkap oleh ibuku lagi.
“OH IYA MA, NANTI BANGUNI JAM 7 YA..” Seruku dari lantai dua.
Setelah itu aku masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku yang rasanya seperti ulat bulu tanpa tulang belakang. Kepalaku yang memang masih terasa berat butuh bertemu bantal. Jadi mari kita istirahat sejenak.
***
“Ifa, tolong nanti mulai pukul 5 sore kosongkan semua jadwal jika ada.”
“Baik pak.”
“Dan tolong semua berkas yang perlu tanda tangan saya segera antarkan ke ruangan.”
“Baik pak.”
Aku memasuki ruangan 8 x 6 meter yang berisi kursi kebesaranku. Di ruangan inilah aku menghabiskan seluruh waktuku dengan kerja, kerja, dan lembur bagai kuda. Sejak aku membangun usahaku sendiri, aku lebih banyak berada di kantor dibanding di rumah. Rumah bagiku hanya untuk tempat tidur, itupun karena mama selalu cerewet memintaku untuk tetap tinggal di sana. Padahal sudah sejak lama aku ingin membeli sebuah apartemen, terpaksa kualihkan pada property lain.
Sudah ada 2 tumpuk berkas yang menyambutku di meja. Belum lagi terhitung berkas yang dikirim melalui surat elektronik. “Baiklah, ini akan menjadi hari yang sibuk.” Gumamku menyemangati diriku sendiri. Padahal tadi subuh aku mengirim pesan pada Nadine untuk bertemu pukul 5 sore nanti. Mau tidak mau aku harus balapan dengan semua tugas-tugas direktur ini.
“Mari mulai.” Kuraih satu bundelan kertas bertuliskan proposal permintaan kerja sama dari salah satu agency modelling. “Hmm.. kayaknya kau pesan kopi dulu.” Segera kuhubungi petugas pantry untuk mengantarkan satu gelas capucino tanpa tambahan s**u. Sembari menunggu k****a setiap berkas.
Tok tok tok
“Masuk.”
Seorang petugas pantry datang dengan segelas capucino pesananku. “Bawa ke mari.” Diletakkannya tepat di pinggir meja yang sudah kukosongkan khusus. “Terima kasih, kamu boleh kembali.”
“Baik pak, permisi.” Bunyi pintu tertutup menjadi penanda jika sosok itu sudah keluar, tanpa perlu aku melihat untuk memastikan.
Maka eksekusi dimulai. Jika kalian pikir menjadi seorang direktur atau CEO adalah sebuah jabatan yang enak, bisa ongkang-ongkang kaki, maka kukatakan jika pikiran kalian salah besar. Bayangkan saya ada berapa puluh, ratus, bahkan ribu karyawan yang digantungkan pada pundak seorang direktur perusahaan. Jika seorang pimpinan hanya duduk diam dan melihat-lihat, maka perusahaan tersebut akan segera collapse dan gulung tikar kembali ke rumah. Menjadi seorang pebisnis adalah pekerjaan yang menguras otak dan jiwa. Tega atau tidak, harus berani ambil resiko dan tindakan.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengurus berkas-berkas yang rasanya tidak habis-habis. Gelas kopiku tak terasa sudah ada 3 dalam keadaan kosong. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Setengah jam lagi jam istirahat, tapi sepertinya aku harus siap tidak beranjak dari kuris panas yang sedang kududuki. Ada target yang harus kucapai hari ini sebelum pukul 5 sore.
“Ifa, tolong atur rapat dengan para pengiklan lusa. Kalau bisa pukul 10 pagi.” Aku baru menyelesaikan berkas proposal dari para pihak advertisement yang mengajukan kerja sama untuk mengiklankan produk perusahaanku. Sebelum aku khilaf, segera kuminta sekretarisku untuk mengatur waktu presentasi mereka, tentu saja aku mengatakannya melalui intercom yang langsung terhubung ke meja perempuan itu.
“Baik pak. Akan saya periksa jadwal bapak.”
“Oh iya, satu lagi. Tolong nanti jam tengah 5 kamu ingatkan saya untuk pulang.”
“Baik pak.”
Setelah itu intercom kumatikan dan lanjut mengerjakan berkas-berkas berikutnya, yaitu proposal design terbaru dari divisi pengembangan produk. Pemeriksaannya sebenarnya tidak terlalu detail, karena nanti juga akan dipresentasekan lagi oleh mereka. Jadi aku hanya perlu memeriksa penggunaan dananya dan kemenarikan konsep produk.
Aku baru selesai di pukul 4 sore. “Akhirnya kelar.” Setelah seharian hanya duduk membolak-balik kertas serta laptop, akhirnya aku bisa peregangan. Kuperiksa layar gawaiku, di sana sudah terpampang notifikasi panggilan tak terjawab dari mama sebanyak 3 kali. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, itu hanya absensi rutin di siang hari.
Kemudian kuperiksa aplikasi watsapp, pesan yang ku kirim sejak subuh masih ceklis satu abu-abu pada Nadine. Jika begini, artinya anak itu tidak tahu jika kami bertemu sore ini. “Astaga, dia bahkan belum menonaktifkan blokirannya.” Gerutuku gemas.
Kuputuskan untuk menghubungi Arnold, karena hanya bocah itu yang cukup dekat dengan Nadine. Satu kali, dua kali, hingga panggilan ke tiga tidak ada jawaban alias tidak diangkat. Hanya ada suara operator yang tidak bosa mengucapkan ,”nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.”
“Ini si curut ke mana sih.” Emosiku mulai naik. Sudah Lelah seharian kejar target, eh malah targetnya tidak terlihat, kan jadi sia-sia.
Jam terus berlalu, sudah lewat 20 menit, kubereskan semua peralatan kerjaku yang masih berantakan. Kuraih jas yang tersampir di kursi lalu beranjak meninggalkan ruangan. Begitu kubuka pintu, hampir saja aku terlonjak kaget karena sekretarisku juga ternyata hendak membuak pintu. Beruntung dia tidak jatuh karena hilang keseimbangan.
“Maaf pak, saya hendak mengingatkan.” Jelasnya sopan.
“Iya, saya mau pergi. Berkas sudah saya selesaikan di meja. Segera atur rapat untuk setiap hal proposal. Lebih baik dahulukan dengan kerja sama dengan agensi modelling dan iklan.”
“Baik pak. Akan segera saya atur jadwalnya.”
“Oke, saya pergi.”
Sedikit terburu buru aku memacu kendaraanku di lalu lintas yang mulai ramai. Jam kantor memang sudah mulai selesai, sehingga tak heran jika tiba-tiba jalan raya banjir kendaraan. Inilah yang aku tidak suka dengan kota metropolitan, aku benar-benar tidak sabaran jika harus menunggu lama.
Akhirnya dengan menempuh jarak yang lumayan selama kurang lebih 40 menit, aku sampai di depan sebuah rumah minimalis yang hanya satu lantai. Dilihat dari luar, rumah ini sederhana sama seperti kediaman orang-orang yang umumnya seorang pegawai negeri sipil atau karyawan bank. Bahkan jika kalian masuk pun, kalian tidak akan mengira jika pemilik rumah ini adalah salah satu pengusaha yang berhasil mencapai mancanegara. Bahkan perusahaan calon mertuaku ini bisa dikatakan lebih besar dari perusahaan papa. Hanya saja produksi produk yang berbeda.
Setelah dipersilakan masuk oleh satpam yang sudah pernah melihatku datang, aku segera memarkirkan mobil dan menuju pintu rumah yang tidak tertutup. “Permisi, halooo.. om, tante.” Panggilku dari luar. Aku belum berani main masuk, itu namanya tidak sopan.
Seorang wanita muncul, yang kuketahui ia adalah salah satu ART di rumah ini. “Mas calonnya dek Lia ya?” Tebaknya, dan tepat sekali.
“Iya mbak, Nadinenya ada?”
“Ada mas, ke belakang saja. Lianya lagi baca santai di taman belakang. Mari saya antar.”
Kami masuk dan tembus hingga ke belakang rumah yang baru aku tahu ternyata terdapat sebuah taman bunga yang tidak terlalu luas tapi sangat tertata cantik. “Itu Lianya. Saya tinggal ya mas.” Setelah kulihat orang yang kucari, aku menuju ke arahnya. Dia tampak serius membaca sebuah buku tebal sambil sesekali mencomot kentang goreng di atas meja.
Hampir 5 menit aku berdiri di belakangnya, tapi ia tak kunjung sadar. Matanya masih fokus tertuju ke deretan tulisan di buku. Sekaligus multi tasking mengambil kentang goreng dan memindahkannya ke mulutnya. Dengan ide jahil, aku menarik piring kentang dari pelan pelan. Saat hendak mengambil kentang lagi, tangannya kecarian.
“Lah.. kentangnya mana?”
“Nih.” Kusodorkan piring berisi kentang goreng itu kembali.
“Ehh.. abang kok di sini?”
“Malah nanya lagi. Gue ngirim pesan sama lu dari subuh. Tapi malah kena blokir.” Aku bicara dengan nada sedikit tinggi.
“Ohh.. kirain itu nomor yang tidak aktif, soalnya pernah kukirimi pesan tapi nggak balas-balas, jadi ku blok saja.” Dengan santainya dia menyampaikan sindirannya tepat ke gawang egoku. Kali ini pun dia berhasil mengalahkanku.
“Yasudah sana siap-siap, kita makan malam.”
Ditutupnya buku tebal yang kalau kutebak pasti novel. “Males akh. Ngasih pemberitahuan kok dadakan.” Tangannya kini bersidekap sambil menyamankan tubuhnya dengan menutup mata.
“Kalau kamu tidak blokir kontakku, kamu sudah akan dapat pesan dari jam 3 pagi tadi.”
“Kalau abang balas pesanku dulu, pasti itu nomor nggak akan ke blok.”
Aku menarik nafas dalam. Berurusan dengan anak ini memang menguras emosi. Jadi harus ekstra sabar. Tapi otakku benar-benar tidak tahu harus bagaiamana memperlakukan dia.
“Gue mau ngajak loe kencan Nadine.”
Secara tiba-tiba dia berbalik dan menatap ke arahku. “Serius?”
“Iya.”
“kencan?”
“Hmmm..”
“Kita?”
“Iya ya ampun. Kamu belum tuli kan?”
“Hahahaa….. hahaha…”
“Lah dia malah tertawa. Nggak ada yang lucu Nadine.” Sergahku kesal.
“Kamu lucu lho bang. Datang-datang ngajak keluar, trus kencan. Ahh.. dari kemarin juga sudah aneh sih. Kesambet apaan sih?” Matanya mulai meneliti wajahku sambil sesekali menelengkan kepalanya.
“Sudah deh, mending kamu segera siap-siap. Anggap saja ini proses perkenalan kita.”
“Hmm..” Nadine mengangguk anggukkan kepalanya, tapi jelas wajahnya masih seperti orang ingin mengejek. “Oke. Bawa bajunya nggak?”
“Baju apaan?”
“Yah.. si aduh. Kalau di novel-novel tuh, jika ada lelaki yang datang ngajak kenca, terlebih kelas ekonomi kaya kayak abang, itu bawa kotak kado isinya baju bagus sama sepatu.”
“Bua tapa?”
“Buat disumbangin ke panti asuhan, mana tahu situ kebanyakan duit. Ya jelaslah buat cewek yang diajak kencan. Nggak peka banget sih jadi cowok, nggak ada romantisnya sama sekali. Pantes nggak punya pacar.”
“Ehh mulutnya, macam lu punya pacar aja.”
“Aku emang nggak pernah pacaran, tapi langsung punya calon suami.”
“Hmm.. calonnya aku Nadine Aurelia.”
“Nah karena itu, makanya aku minta baju dari abang.” Ia tetap ngotot dengan tradisi lawak dari novel yang dibacanya.
“Dasar korban novel. Gue tunggu 30 menit di ruang tamu. Segera.”
Aku beranjak dari hadapannya kembali ke ruang tamu. Tak peduli dengan teriakan pembelaan dan penolakannya. Sekalipun dia marah, aku jamin dia akan menemuiku nanti. Itu akan cukup membuktikan seberapa royalnya gadis itu pada permintaan.
***