GAGAL DINNER

2121 Kata
Nadine “Oke, netralkan jangtungmu Lia.” Aku masih berusaha menormalkan degupan di dadaku yang tiba-tiba saja berubah ritme menjadi lomba lari. Bagaimana tidak, tiba-tiba si calon suami datang sore-sore saat aku sedang bersantai mengolah pikiran bersama novel romantis. Lalu tanpa embel-embel apapun memintaku bersiap-siap makan malam dalam jangka waktu 30 menit. Luar biasanya lagi, aku belum mandi. Tapi tenang saja, aku akan memberi persembahan yang sepadan dengan waktu yang diberikannya. Jadi hasilnya adalah, mandi 15 menit, pakai baju 5 menit, make up… tidak ada. Oleskan sedikit liptint supaya sedikit juga lebih manis. Rambut kuncir kuda, dan selesai dalam waktu tepat 25 menit. Aku tergesa meraih handbagku satu-satunya selama aku hidup. Kemudian sedikit berlari ke arah ruang tamu. Menemukan sosok tadi sedang sibuk dengan telepon genggamnya, entah apa yang sedang dikerjakannya tapi wajahnya tampak sangat serius. “Aku siap.” Kubuka suara untuk menyadarkannya. Awalnya ku kira dia akan segera bangkit berdiri dan berjalan ke luar rumah. Tapi yang dilakukannya adalah menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki sebanyak dua kali. “Ada yang salah?” Aku benar-benar polos, maafkan keluguanku yang tidak mengerti arti tatapannya tersebut. “Lo mau makan malam atau mau ke pasar?” Pertanyaan macam ap aitu? “Maksudnya?” Dia menarik nafas dan menatapku horror. “Ganti bajumu. Gue nggak mau makan malam sama lu kalau pakaiannya begini, yang ada gue dikira makan sama pembantu.” “Apaan sih, ini tuh styleku berpakaian. Kamu saja tuh yang lebay, masa style anak kafe gini dibilang gaya pembantu.” Sewotku tak terima dikatakan mirip pembantu. “Nadine, kita itu akan pergi makan malam ke restoran. Apa kata orang kalau lihat gue pakai jas setelan kantor, dan ceweknya pakai jeans dan kaos oblong?” “Yah, kenapa juga harus dengar kata orang? Hidup, hidup aku kok.” “Bandel banget sih kalau dibilangin. Gimana mau jadi istri begini ngototnya.” “Aku memang keras kepala? Kenapa? Nyesal? Yasudah, batalin saja pernikahannya. Toh kita juga sama-sama nggak terima kan sama perjodohannya.” Kekesalan sudah sampai ke ubun-ubunku. Tanganku bertengger di pinggangku. Ini masih perkara pakaian sudah begini, bagamana lagi kalau masalah yang lebih kompleks? Seisi rumah bisa-bisa melayang. Kulihat dia mengusap wajahnya kasar. Apakah dia sedang menahan emosinya? “Oke. Terserah kalau lu nyaman dengan itu. Nanti ue tinggal bilang lu itu adik.” Dia lalu berbalik meninggalkanku yang masih terpaku mendengar ucapannya. “Apa katanya tadi? Adik? Gue juga ogah jadi adik lu.” Kuikuti langkahnya yang sudah lebih dulu menghilang di balik pintu sambil menahan geram. “Pasang seatbeltnya! Lo nggak lupa kan cara pasang seatbelt?” Lagi-lagi kena tegur. Berhubungan sama si kawan ini membuatku seperti anak kecil. Sedikit-sedikit dimarahi, sebenta-sebentar ada saja kesalahanku di matanya. Kupakai sabuk pengamanku dengan kasar. Mood ku benar-benar jatuh. “Muka kondisikan, gue nyuruh pakai seatbelt biar aman. Kening kejedut baru tahu rasa.” “Iya bawel.” “Belajar sopan, gue itu calon suami. Bukan temanmu.” “Kamu belajar sopan dulu, baru aku sopan.” Tiba-tiba saja mobil berhenti mendadak setelah sejak tadi berjalan perlahan keluar dari gerbang rumah. Ditatapnya ke arahku dengan serius. Wah… tanda-tanda akan saudara berikutnya. “Maksudnya gue nggak sopan di mana?” “Tuh, panggilnya lebih sering gue-lu, gue-lu. Sopan sedikit kenapa kalau bicara? Tahu kan Bahasa Indonesia yang baik dan benar?” Seruku berapi-api, mampus deh mau adu mulut lagi aku sudah siap. Diam, hening, serius dia tidak balas apapun. Aku sudah menunggu lebih dari 2 menit. Tapi dia hanya melihatku dengan datar, sesekali aku meliriknya dengan ekor mata, takut kalau ada yang salah dengan ucapanku. “Oke, baiklah. Sorry.” Apa? Dia barusan minta maaf? Gokil ni cowok. Bisa juga minta maaf. Ehh… tapi dia terhitung sudah 2 kali sih minta maaf. Mobil melaju kembali dalam hening tanpa ada yang mau membuka suara, aku ataupun dia menikmati pikiran kami masing-masing, sepertinya begitu sih. Kalau di novel-novel dalam suasana hening kan pasti dikatakan lagi sibuk dengan pemikiran masing-masing. jadi anggaplah kebiusan kami begitu juga, walaupun dalam kenyataannya aku sedang sibuk memikirkan topik pembahasan. Hening begini padahal ada orang lain itu bukan tipeku. Tapi di sebelahku bukan Arnold yang bebas bahas apapun, mulai dari yang tidak penting sampai paling m***m. Orang berjalan di trotoar saja bisa jadi lelucon kocak. Dulu hingga sekarang. ‘Tapi kan ni cowok bukan Arnold. Heran deh, mereka sedarah, oke. Mukanya mirip, oke. Tapi sifatnya bertolak belakang banget. Adiknya kocak, abangnya tembok.’ Mobil ternyata sudah sampai di tujuan kami, sepanjang perjalanan aku hanya sibuk menilai dan merutuki sifat menyebalkan pria yang kini sudah keluar dari mobil. Aku ikut keluar, jangan harap dia akan membukakan pintu untukku. Aku juga tidak berharap, tapi setidaknya dia berusaha sedikit romantis. Aku melihat sebuah restoran bernuansa elegan di hadapanku. Dari luar kita bisa melihat orang-orang yang sedang makan di dalam. Ada beberapa pasangan, ada yang bersama anak-anak, ada juga yang sendiri. Mungkin dia jomblo. Restorannya luas dengan dinding kaca tembus pandang, sehinggal menampilkan pemandangan di dalam ruangan yang diterangi lampu-lampu gantung mewah. “Heh.. kamu mau berdiri di situ terus?” Sebuah suara menyadarkanku dari keterpukauan. “Ayo..” Aku segera mengambil langkah menyusulnya yang ternyata sudah beberapa meter dari tempatku mematung tadi. Dua orang pegawai sudah berdiri di pintu dan siap menyambut kami. Jadi merasa seperti putri dan pangeran dari kerajaan antah berantah. Satu kata untuk restoran bergaya klasik ini, keren. Bahkan interiornya lebih indah dari yang kuperkirakan saat menatapnya dari luar. Pertama kalinya aku memasuki restoran model begini, biasanya juga di warkop atau kafe-kafe kantong mahasiswa yang harga menunya di bawah 50 ribu-an sudah paket komplit. Kalau restoran ini, pasti harga satu potong steak di sini minimal 10 kali lipat dari burger deluxe McD. “Kamu jangan malu-maluin deh.” Entah sejak kapan dia mengaitkan tangannya di tanganku dan menarikku ke salah satu meja di sudut ruangan sebelah kanan. Meja tersebut tepat menghadap dinding kaca, sehingga pandangan taman dan air mancur di luar resto langsung menyihirku untuk tersenyum. Aku duduk berhadap-hadapan dengan calon suamiku. Mataku masih setia menatap permainan lampu taman yang jarang bisa kusaksikan, berhubung aku bukan anak malam. Biasanya keluar malam hanya jika makan bersama dengan keluarga, bahkan saudara laki-lakiku masih hidup kami lebih sering jalan-jalan di terang hari. “Kamu pesan apa?” “Ha??” Ia menunjuk buku menu di depanku yang sudah terbuka sejak tadi menggunkan sorot matanya. “Ohh..” Aku meneliti satu per satu menu yang aku tidak tahu itu berbahasa apa. Aku hanya mengerti yang berbahas Inggris, sisanya sepertinya bahasa Spanyol atau Prancis, aku juga tidak tahu. “Ini Bahasa apaan sih? Nggak ngerti.” Ujarku jujur. “Kamu mau olahan ikan? Daging? Atau mie?” Dia mengajukan penawaran. “Samain aja deh.” Putusku pasrah. Setidaknya dia tak mungkin memesan makanan yang tidak layak makan. “Nanti selera kita beda.” “Setidaknya layak makan, apapun itu nggak ppa.” Ujarku santai. “Entah apa yang dia ucapkan pada pelayan, hingga pelayan tersebut kembali menarik buku menu di depan kami dan berlalu. “Tadi mesan apa?” “Iga panggang dan kepiting.” “Ohh..” Kebersamaan kami berdua sepertinya tidak jauh-jauh dari kata ‘diam’. Dimanapun, kapanpun, kami lebih sering diam. Kalaupun bicara pasti UUDM, ujung-ujungnya adu mulut. Aku menyibukkan diri menatap taman, namun ada sedikit tidak nyaman di hatiku jika diam diam begini terus. “Ngomong-ngomong, aku mau minta maaf.” Akhirnya setelah mengumpulkan niat terdorong desakan dari dalam d**a. “Kenapa?” “Ehh… gini.” Aku semakin gugup mengatakan hal yang ingin kuujarkan. Ini adalah hal konyol yang sialnya melekat erat di kehidupanku. Dia masih melihatku dengan saksama, membuat perasaanku menjadi tidak tenang. “Aku lupa nama lengkapmu.” Suaraku keluar begitu pelan, bahkan aku sangsi dia mendengarnya, karena di telingkau saja begitu halus. “Apa?” Aku hanya nyengir tanpa rasa berdosa, lain dengan jantungku yang sudah dag dig dug. “Namaku saja kamu tidak tahu?” Nada suaranya meninggi, sarat dengan kekecewaan. “Bukan tidak tahu, tapi… lupa.” Cicitku ragu-ragu. “Baiklah nona Nadine Aurelia. Perkenalkan nama saya Raka. Raka Satya Praja. Ingat itu baik-baik.” Setiap katanya penuh dengan tekanan. “Oke bang Raka.” Aku berusaha menampilkan senyum paling tulus. Entah itu akan menggugahnya atau tidak. Kalau di kaca semakin tulus senyumku, semakin jelek hasilnya. “Bagaimana bisa kamu bahkan tidak tahu namaku?” “Bukan tidak tahu lho, hanya lupa.” “Sama saja.” “Beda itu.” Beginilah, diam-diam terus, sekali bicara pasti adu keras. “Tapi..” “Permisi, makanannya sudah siap.” Hampir saja dia membalas lagi, beruntung pramusaji hadir menengahi keributan kami. Pramusaji meletakkan dua piring berisi daging yang tulang rusuknya terlihat. Masing-masing berada di hadapan kami. Kemudian satu nampan berisi seekor kepiting besar. Kalau dari warnanya seperti di masak asam manis gitu, atau pakai saos tomat kurang tahu. Disediakan juga air putih dua gelas, dan wine. Bukan, tunggu itu bukan wine, warna merahnya berbeda dan ini lebih kental. Begitu gelas berisi liquid merah itu diletakkan, aku segera membauinya. “Ini jus buah naga?” Tebakku. “Iya.” Raka menjawabnya santai sambil menganggukan kepalanya. “Wow.. ku kira kita makan malam romantis ala cerita di novel atau film romansa. Menu beratnya cocok sih, tapi kenapa minumannya malah jus? Ganti dong, ini merusak banget.” Rengekku pada Raka. Segelas jus buah naga benar-benar merusak imajinasiku tentang dinner romantis. “Yaelah… minum itu aja. Kamu belum cukup umur.” “Apaan, ehh umurku sudah 23 tahun. Buat anak saja sudah bisa.” “Uhukk..” Raka tersedak saat sedang meminum jusnya. Pandangan matanya menatap tajam ke arahku, membuatku seketika ciut. “Bisa nggak bar-barnya kurangi? Kamu lihat tempat dan situasi kalau mau bertingkah. Jangan membuatku menyesal mengajakmu ke sini.” Seettt.. seperti ada sesuatu yang tersayat tapi tidak terlihat. Bibirku terkatup, mulutku kaku, hidungku memanas. Air ludahku rasanya sulit untuk tertelan. Diam menjadi pilihanku, dan memilih menyibukkan diri berusaha memotong iga di depanku yang membuatku semakin kesal karena sulit sekali di potong. Aku sudah mengerahkan tenaga untuk mengiris bagian iga tersebut tapi tidak tahu kenapa justru daging tersebut semakin alot. Tidak mungkin daging ikut-ikutan ngajak berantem. Sebuah tangan mendarat menggengam tanganku yang memegang pisau. Aku tahu itu tangan siapa, tapi aku enggan melihat ke arahnya. Kepalaku menunduk dengan sesak di d**a yang ingin kutumpahkan. Kemudian dia menarik piringku, membuat garpu dan pisauku menggantung diudara. Masih dalam genggamanku, tenang saja. “Motong ini saja tidak bisa. Gimana sih. Kamu kayak orang kampung tahu nggak.” ‘Lagi. Ucapkan sesuatu yang menyakitkan sekali lagi, maka aku akan pergi.’ Batinku kesal. Sejak tadi salivaku semakin menyakiti tenggorokanku ketika hendak kutelan. Dadaku sesak ingin segear melepaskan sesuatu. “Aku benar-benar seperti lagi jalan sama pembantu.” ‘Oke fine.’ Aku meletakkan garpu dan pisau yang tadi masih kupegang di atas meja. Pelan, tak ada lemparan atau hempasan kasar. Aku tak ingin semakin direndahkan oleh pria tidak berperasaan di depanku. Kulipat kembali serbet makan dalam hening. Raka masih sibuk memotong daging iga di piringku, setelah sebelumnya menyayat hatiku. Aku berdiri tanpa bicara lalu mengambil tas tanganku dari ujung meja. Saat itu ia melihatku, pandangannya menyimpan kebingungan, yang kubalas dengan wajah datar. “Maaf, kamu tidak pantas makan malam dengan orang yang mirip pembantu. Permisi tuan Raka, silakan nikmati makan malam Anda.” Sekuat tenaga kutekan suaraku agar tidak bergetar, menahan sesak dan sakit di dadaku. Tanpa menoleh aku pergi meninggalkan restoran tersebut. Pegawai yang menjaga pintu tersenyum membukakan pintu. Dia tidak sadar apa ika wajahku sudah kusut, masih senyum. Aku menapaki jalan hingga mencapai jalan raya. Ternyata kawasan restoran ini tidak dilalui angkot. Jadi kuputuskan untuk memesan transportasi online. Di saat seperti ini memang angkutan online adalah solusi terbaik. Beberapa menit aku menunggu di luar pagar restoran sambil membalas pesan dari driver. Sebuah mobil yang sudah kukenali berhenti di depanku, tapi aku tak hendak melihatnya. Aku pura-pura mengotak atik gawai agar tak seperti orang bodoh berdiri di pinggir jalan. “Nadine, masuk.” Itu suara Raka. Dia bahkan hanya memanggilku dari dalam mobil. “Nadine, kau tidak tuli bukan?” ‘Aku tidak tuli, tapi pura-pura tuli.’ Jawabku dalam hati. “Nadine, masuk atau aku akan meninggalkanmu di sini.” Ancamnya, dan dia kira aku takut? Ofcourse no. “Mbak Nadine?” Suara lain terdengar lebih ramah memanggil, dan itu dia yang kutunggu sejak tadi. “Iya bang.” Aku berjalan ke arah sepeda motor yang berhenti di belakang mobil Raka. Tanpa menoleh pada pria di dalam mobil itu aku berjalan lurus melewatinya, hingga motor abang ojek membawaku pergi. “Nadine..” Raka berteriak memanggil, tapi aku tidak peduli. Dia perlu mengenal sifatku lebih jauh. Aku tidak suka caranya menjatuhkan harga diriku di depan umum. Menghinaku seolah aku benar-benar makhluk paling bodoh dan tidak pantas bersanding dengannya. Dia belum kenal Nadine Aurelia seperti apa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN