Raka
Makan malam terburuk yang pernah kualami baru saja terjadi. Aku bahkan baru selesai memotong daging pesanan kami, tiba-tiba partner dinnerku malah pergi. Kulempar pisau di tanganku beserta garpu, kuserakkan semua isi meja makan hingga berhamburan, ingin sekali aku melakukannya. Tapi aku hanya diam dan melihat Nadine pergi keluar dengan kata-kata menohok. Kata-katanya benar-benar menyindirku. Apa itu tadi adalah kata yang kuucapkan kepadanya? Tak kusangka diamnya ternyata justru menyimpan apik setiap ucapanku.
Aku termangu menatap kepergiannya hingga hilang. Aku tidak tahu harus bagaimana, belum pernah aku berada di posisi seperti ini. Akh.. harusnya aku mengejarnya. “Shit.” Segera kuhampiri meja kasir untuk membayar menu yang sedikitpun belum berkurang. Dengan sedikit berlari aku mencari keberadaan Nadine di sekitar restoran, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Kuputuskan mengambil mobil, menduga-duga kemungkinan ia keluar ke jalan raya.
Dan benar saja tebakanku, gadis itu berdiri dengan gaya serampangannya di trotoar masih di depan restoran, namun tersembunyi tembok jika dilihat dari dalam. Aku menepikan mobil tepat di depannya, membuka jendela mobil. Menunggu pergerakan gadis itu, tapi melirikku saja tidak. Tangannya sibuk bermain dengan gawainya.
Aku mencoba memanggil namanya, memintanya masuk ke dalam mobil, dan pasti didengarnya. Tapi entah mengapa seolah baru saja dia terkena penyakit tuli mendadak.
Aku kembali mengucapkan katakata kasar. Bukannya marah, dia masih diam dan fokus dengan HP-nya tanpa mempedulikanku.
Kali ini aku mencoba mengancam akan meninggalkan dia sendirian di sana. Berharap membuatnya takut, tapi boro-boro. Berpaling saja tidak.
Tiba-tiba saja dia mendongak dan mengucapkan sesuatu, ternyata dia beranjak setelah menyahut tukang ojek yang parkir di belakang mobilku. Begitu saja pergi meninggalkanku bahkan tidak sedikit pun melirik.
Aku memanggilnya sekali lagi, tapi motor itu tak berhenti. Kuputuskan mengikutinya saja. Pasti dia akan pulang ke rumahnya.
Selama di perjalanan aku kehabisan akal, kenapa anak itu tiba-tiba saja pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia seperti orang yang baru saja diancam akan dibunuh jika buka mulut. Kukira makan malam ini akan membuat kami lebih dekat, setidaknya lebih terbiasa satu dengan yang lain. Ini di luar ekspektasiku, sangat jauh berbeda dengan yang kuharapkan. Sekalipun aku tidak berharap makan malam seromantis pasangan normal, tapi setidaknya tidak ada acara kabur-kaburan dalam agenda yang kurencanakan.
Aku terus mengikuti sepeda motor itu hingga mencapai rumah orangtua Nadine. Ia turun dari ojek tepat di depan gerbang, tanpa membuang waktu aku juga turun dari mobil.
“Din.” Kuraih tangannya yang hendak masuk.
“Kamu kenapa sih?” Ujarku dengan nada kesal. Dia pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun, pria manapun akan bingung.
“Kamu kayak anak kecil tahu nggak? Pergi tanpa bilang-bilang. Kamu merusak makan malam kita.” Kutumpahkan kekesalanku padanya atas apa yang terjadi mala mini.
Tangannya masih di denggamanku, tapi tidak dengan wajahnya yang masih membelakangiku. Aku tidak tahan ditanggapi begini, emosiku sungguh terpancing jika begini. Hingga tangannya kusentak membuatnya menghadapku seketika.
“Kamu bisa nggak menghargai orang? Kalau orang lain lagi bicara itu dilihat.” Suaraku meninggi membentak, tapi matanya masih menatapku tajam. Lampu jalan yang terang membuatku leluasa meneliti eskpresinya yang menyimpan amarah.
“Kenapa aku harus menghargai orang yang tidak bisa menghargaiku?” Aku tertegun, bukan hanya karena kata-katanya yang cukup menantang, tapi ekspresi wajah itu yang jauh lebih menantang dan sinis. “Jawab!!” Dia benar-benar pintar membuat orang lain tersudut. Setiap kata yang diucapkannya begitu santai tapi penuh dengan penekanan.
“Kenapa? Nggak bisa jawab? Mending lo pergi deh. Muak gue lihat muka lu.” Disentakkannya tanganku hingga genggamanku terlepas. Ia lalu menghilang di balik gerbang. Beruntung kesadaranku segera pulih, sehingga aku masih bisa menyusulnya. Persetan dengan mobilku yang masih terparkir di luar.
“Nadine, aku mau bicara sama kamu.” Seruku, namun tak digubrisnya. Ia tetap memacu langkahnya menuju teras rumah. Dengan tidak sabaran aku berlari mengejarnya, dan meraih tangan kanannya.
“Apaan sih?” Gadis itu meronta hendak menarik tangannya, tapi semakin kugenggam lebih erat. Aku tidak tahu mengapa gadis ini selalu membuatku lebih agresif dan sulit berpikir normal.
“Kita perlu bicara.”
“Nggak ada yang perlu dibicarakan.” Kuakui dia sangat lihai mengontrol emosi, nada suaranya kelewat tenang, sedangkan amarahku sudah sampai di ubun-ubun.
“Ada, dan kita harus selesaikan sekarang. Kamu jangan kayak anak kecil lari dari masalah.”
“Iya, aku memang anak kecil, aku bocah yang gaya berpakaiannya mirip pembantu, kampungan, dan nggak selevel sama kamu. Iyakan?” suaranya meninggi membuatku ciut, terlebih mendengar penuturannya. Aku baru ingat, mulut tajamku ini sudah melukainya tanpa kusadari. Padahal kukira itu hanya sindiran sederhana, tak kusangka akan berefek seperti ini.
“Kamu marah?”
“Nggak, aku nggak marah. Aku cuma lagi ngelucu. Ha ha..” Pertanyaan bodoh yang dijawab dengan jawaban bodoh juga.
“Kita harus duduk membahas ini.” Kutarik tangannya ke arah ayunan di taman rumah. Dengan paksa kuminta dirinya duduk. Posisi kami saling berhadapan. Kucoba melihat tepat ke manik matanya, tapi ia justru menatap ke arah lain.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” Setelah hening beberapa saat, kupertimbangkan untuk membuatnya berbicara terlebih dahulu. Dari pengalaman memperhatikan papa dalam mengatasi amarah mama, biasanya mama pasti diminta untuk mengeluarkan uneg-unegnya terlebih dahulu sebelum memperjelas sudut pandangnya.
Aku menunggu beberapa lama, tapi Nadine tak kunjung buka suara. “Nadine, kamu harus bicara agar aku bisa tahu masalahnya di mana.” Percayalah aku tidak pernah merasa perlu mengalah pada perempuan selain mama dan adikku. Bukan perkara mudah menekan emosi dan kesal berhadapan dengan perempuan. Sepertinya mindset ‘laki-laki selalu salah’ juga melekat pada gadis di depanku ini. Ia tetap bungkam dan menjauhkan pandangan.
Frustasi, ya. Sudah kukatakan aku tidak biasa berhadapan dengan perasaan membahas hal dalam konteks hubungan senti mentil begini. Aku mencoba mengulang kembali ingatan tentang setiap kejadian hari ini. Mulai dari aku menjemputnya hingga sesaat sebelum dia pergi dari restoran. Tapi aku tidak tahu salahku di mana hingga ia pantas untuk membuatku merasa bersalah sedemikian rupa.
“Baiklah, terserah menurut kamu aku salah apa. Aku minta maaf. Oke.” Jalan terakhir adalah meminta maaf meski tidak tahu salahku di mana. Mari kita iyakan saja kali ini jika laki-laki tempatnya salah. Uhh.. aku benci pernyataan unvalid itu.
“Kenapa kamu harus minta maaf jika kamu tidak tahu kesalahan kamu?”
Waw… akhirnya dia bicara setelah aku putus harapan. Tahu begini sedari tadi aku minta maaf saja daripada sakit kepala memikirkan salahku di mana.
“Jadi aku harus bagaimana? Aku minta kamu ngomong, kamu nggak mau. Giliran aku minta maaf, salah juga. Jadi aku harus apa? Salah terus deh perasaan.” Kesalku.
“Memang kamu yang salah kok.” Ngototnya keluar, perasaanku sedikit lebih tenang kalau sifat bar-bar-nya itu muncul. Meski baru kenal, tapi satu hal yang ku tahu pasti, sifat asli anak ini memang bar-bar, jadi jika dia sudah mode sifat asli, artinya dia pasti sudah mendingan.
“Iya, salahnya di mana? Jelasin dong.”
“Aku sudah bilang tadi sebelum aku pergi dari restoran itu.”
Aku mencoba mengingat apa yang dikatakannnya, tapi sulit. “Memangnya kamu bilang apa tadi?”
“Ihh.. Sudah nggak nyambung kalau aku replay.”
“Yasudah, jelasin saja salahnya apa? Itu saja kok ribet.” Lama-lama ini cewek ku kekepin sampai pingsan. Kesal gue.
“Kok kamu ngotot?” Yaelah, cari ribut terus deh perasaan.
“Bukan gitu lho. Sebutin saja salahku di mana, kapan, apa?” susah banget ngomong doang. Batinku.
“Kamu benar-benar makhluk tidak peka. Kesalahan kamu sudah jelas, tapi masih tidak sadar. Astaga.”
Pakai sok frustasi lagi dia. Dikiranya aku nggak sakit kepala juga main tebak-tebakan dengannya.
“Jadi salahku apa?” Sabar Raka, sabar.
“Dengarkan baik-baik.” Aku mengangguk pura-pura ngalah. “Kamu itu mengatakan pakaianku kayak pembantu mulai dari rumah. Kamu bilang aku malu-maluin ketika aku sedang memperhatikan desain interior restoran. Kamu juga bilang aku kampungan saat aku nggak bisa motong steak iga. Dan kamu malah pajang wajah santai tanpa merasa bersalah sedikitpun setelah menyakiti perasaan orang lain. Mungkin menurut kamu itu hal biasa yang keluar dari mulut kamu. Aku nggak tahu seberapa sering kamu menjatuhkan harga diri orang lain, tap buat aku itu keterlaluan. Kamu bahkan tidak mencoba memperbaiki sikap kamu sudah mengabaikan aku selama 2 minggu lebih. Tapi kamu malah menambah kekecewaan.”
Aku terdiam, terpaku mendengarkan kalimat terpanjang yang pernah diucapkannya. Kukira kasus kepergianku ke Singapura sudah terbayar dengan kehadiranku di fitting baju. Tapi ternyata gadis ini masih mengingat jelas perlakuanku padanya. Bahkan hal sederhana, hanya sebuah kata-kata bisa begitu membuatnya marah. Kukira dia tipe orang yang akan balik mengejek jika diejek. Satu hal lagi yang kukenali dari pribadinya, dia tidak mudah melupakan kesalahan, tapi lupa namaku.
“Sorry about it. Aku nggak tahu kalau kamu terluka karena kata-kata itu. Aku hanya mengeluarkan apa yang ada di pikiranku tanpa menyaringnya.” Kuakui aku salah, dan memilih menunduk agar terlihat telah menyesal.
“Kamu mungkin terbiasa dengan perempuan feminim yang memakai setelah rapi setiap pergi ke manapun, memakai gaun untuk dinner, pergi ke salon. Tapi setidaknya kamu bisa menghargai orang yang tidak sama dengan mereka. Aku rasa kamu sudah tahu bagaimana penampilanku di awal kita diperkenalkan. Itu gaya asli aku, bukan karena aku ingin membuatmu illfeel agar menolak pernikahan itu. Aku tidak suka pakai gaun, make up, dan segala hal mentel lainnya. Bukan berarti aku nggak bisa mengenakan semua itu dan tampil semaksimal mungkin. Tapi aku mau kamu melihat aku apa adanya, aku ingin kamu kenal aku seperti apa aku biasanya, bukan bagaimana aku yang sok jaga image.”
Pernyataan yang sangat menyentuh. Demi apa, ini kali pertama aku bertemu perempuan yang terang-terangan ingin menampilkan dirinya apa adanya padaku. Ahh.. andai gadis yang kucintai yang mengatakan hal demikian, mungkin aku akan semakin cinta. Tapi ini Nadine, gadis yang dari sisi manapun tidak bisa membuatku tertarik memasukkannya ke dalam hati.
“Maaf untuk itu. Aku memang tidak biasa dengan perempuan bar-bar sepertimu.” Langsung saja dia melototiku. “Maksudku, perempuan pada umumnya akan tampil secantik mungkin di depan calon pasangannya…”
“Iya, kalau itu pasangan normal. Kita kan nggak.” Iya juga.
“Jadi aku dimaafin kan?”
“Tergantung.”
“Apalagi?” Oh my, jangan sampai dia aneh-aneh.
“Tergantung kamu mengulanginya lagi atau tidak. Kalau kamu mengulanginya, aku tidak akan memaafkanmu.”
“Oke, aku janji akan berusaha mengontrol diri. Dan kamu juga harus janji untuk memaklumi.”
“Apa?” Dia pasti tidak berterima.
“Kita harus sama-sama menerima dong, masa aku doang yang menerima kelemahan kamu. Aku juga pengen punya pasangan yang cantik, pandai merias diri biar nggak ngebosanin. Kalau aku menerima kamu yang… jauh dari itu semua, ya kamu juga harus maklum jika suatu hari aku komen.”
Dia merengut menyipitkan matanya yang sudah kecil. Aku hanya menaikkan satu alis. Jika ini adalah ajang negosiasi, maka kami harus sama-sama beruntung. Anggap saja sedang berbisnis.
“Oke. Selama kamu nggak minta aku pakai baju kurang bahan.”
“Ya kalau sudah nikah sah dong.” Upss… keceplosan.
“Kamu nggak lupa perjanjian di awal kita kan?”
Aku mengangguk dan mengangkat dua jari tanda damai, sebelum arahnya makin lari.
***