Nadine
“Lapar nih, kita enggak jadi makan malam?” Rengekku setelah aku mengungkapkan semua kekesalanku padanya.
Aku tidak tahu apa ini pengaruh dia yang lebih dewasa, atau dia memang pandai merebut hati orang. Tapi melihatnya tetap terkontrol ketika memintaku untuk menjelaskan kesalahannya, ketika dia meminta maaf, hatiku langsung saja lulu. Walaupun sebenarnya aku bukan tipe orang yang tahan marah lama-lama, apalagi orang yang bersalah sudah mengakui kesalahannya. Bagiku itu sudah cukup membuktikan jika dia layak untuk dimaafkan untuk kesalahannya itu.
“Tadi yang kabur siapa?”
“Aku.” Akuku tanpa takut. Kalau diam au menyalahkanku karena lari dari restoran, maka jangan harap dia akan baik-baik saja.
“Kenapa sekarang malah bertanya makan malam lagi?”
“Lho, aku lapar, belum makan malam. Jelas dong aku bertanya. Kalau kamu enggak mau makan juga yasudah. Aku suruh si mbak masak saja.” Aku sudah bangkit hendak keluar dari ayunan besi ini, tapi tanganku ditahan olehnya.
“Mau makan di mana?”
“Enggak jadi, aku males. Awas.” Tanganku kutarik, dan memintanya menggeser kakinya yang menghalangiku untuk turun. Tapi memang dasar bandel.
“Kalau aku enggak mau?” Tantangnya. Wah.. dia belum kenal denganku.
Aku mengangkat satu alis menatapnya tajam. Sedang dia bersidekap menatapku balik dengan senyum mengejek. Tanpa aba-aba aku menendang lututnya sekuat tenaga hingga dia jatuh tertidur di kursi ayunan setelah keseimbangannya kugoyahkan. Tanpa buang waktu aku keluar dari kungkungan ayunan itu.
“Makanya jangan macam-macam samaku.”
“Bar-bar banget sih jadi perempuan. Sakit tahu kepala gue.”
“Ehh.. mulut.”
Dia meringis kesakitan sambil memegang kepalanya. Aku jadi tidak tega melihatnya, terlebih kepalanya terantuk cukup keras ke besi sandaran kursi sebelum jatuh lag ke tempat duduknya.
“Baru segitu saja sudah kesakitan.” Ejekku
“Ini beneran sakit, coba sini kamu yang kugituin.”
“Ogah.”
Dia masih memijat kepalanya sambil meringis, belum langi kakinya yang terbentur tadi sekaligus ku tendang. Aku kesal sendiri pada diriku yang tidak bisa melihat orang terluka. Jiwa kemanusiaanku benar-benar patut diacungi jempol kalau soal empati dan simpati.
“Perlu ke dokter enggak?” Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, semakin kuejek semakin aku merasa bersalah.
“enggak usah.” Jawabnya ketus. Mode marah ini.
“Kalau gitu kita makan. Aku yang traktir. Ayok.” Kutarik tangannya yang masih terduduk di kursi ayunan.
“Kita mau ke mana?”
“Ke simpang, di sana ada tukang bakso enak.”
Kami melewati gerbang, di sana masih terparkir mobil Raka.
“Kunci mobil kamu mana?” Kuarahkan tanganku kepadanya. Dia segera merogoh saku celananya dan menyerahkan kunci kepadaku.
“Nih.”
Setelah kunci mobil di tanganku, kuserahkan kunci itu ke penjaga rumah.
“Pak, mobil itu masukin saja ya ke dalam. Kami mau makan dulu.”
“Siap non.” Angguk si bapak satpam.
“Lho, kenapa dikasih ke satpam. Kita naik apa ke tukang baksonya?”
“Jalan kakilah, menurut situ?”
“Astaga, naik mobil saja sih, kirain kamu mau bawa mobilnya. Tahu gitu enggak perlu ku kasih.” Protesnya.
“Aku enggak bisa bawa mobil, dan lagian enggak jauh kok. Dari sini saja nampak tuh.” Tunjukku pada pedagan bakso kaki lima yang memang hanya 200 meter dari rumah.
“Ck.. aku yang bawa.” Dia hampir meminta kunci ke satpam, tapi dengan sigap tangannya kutarik dan berjalan cepat menghindari rumah.
“Din.”
“enggak usah pakai mobil, manja banget sih. Dekat gitu.” Dia akhirnya diam. Lebih tepatnya pasrah. Tanganku masih setia mengenggam pergelangan tangannya. Jadi seperti bawa anak kecil kalau begini. Belum terniat melepaskannya sih, takutnya dia kabur.
“Kok gue berasa kayak bocah yang lagi ditarik emaknya karena bandel ya?” Raka terlihat memandangi tanganku yang bertengger di pergelangannya.
“Iya memang.” Jawabku cuek tapi tak juga melepaskan peganganku.
“Gue enggak bakal kabur kali Din, mending lepasi, malu-maluin tahu enggak sih.”
Kakiku berhenti mencerna ucapannya barusan. Kuarahkan pandanganku padanya dan menatapnya kesal. “Tadi kamu sudah janji.”
“Iya, iya.. enggak ada kata malu-maluin lagi. Tapi lepasin dulu ini.” Tunjuknya pada tanganku. Terpaksa aku melepaskannya, dan melanjutkan langkahku masih dengna raut kesal.
“enggak usah ngambek deh, nanti malah kita enggak jadi makan lagi.” Dia malah berganti mengacak rambutku, lalu berjalan di sisiku. Aku hanya mendelik kesal dan merapikan rambutku yang sedikit berantakan. Dengan posisi kami, orang-orang pasti akan berpikir kami adalah pasangan serasi. Huhh..
Kami sampai di pangkalan mang Bakso Asoy. Namanya memang begitu, katanya biar menarik pelanggan. Tapi rasanya enak meski ini dagangan kaki lima. Jadi bukan hanya namanya, tapi rasanya memang asoy alias nikmat. Apalagi kalau makannya pas lagi gerimis gitu, dingin dingin, lebih asoy lagi.
“Yakin kita makan di sini?” Raka menatap sekeliling, sedikit mengernyit terlihat tidak suka.
“Sudah sih santai saja. Di sini baksonya enak.” Kembali kurah tangannya dan mengajaknya di kursi kosong. “Mang, bakso komplit 2 ya.” Seruku pada si tukang jualan.
“Siap neng.” Balasnya.
“Ck.. mending makan di rumah saja tadi.” Masih saja dia mengeluh.
“enggak usah manja.” Tegasku yang akhirnya membuat dia diam saja, lalu sibuk menatap gawainya.
“Ini neng.” Akhirnya bakso yang kami tunggu sejak tadi sudah disajikan.
Kuraih segala tambahan bumbu seperti saos, kecap, cuka, dan merica. “Ini, kalau kurang tambahin saja bumbunya.” Kusodorkan padanya semua jenis bumbu itu.
“Kamu enggak?” Tanyanya, mungkin melihat aku tidak menambahkan apapun pada baksoku.
Aku menggeleng, “Aku sudah pas kok. enggak bisa makan pedas juga.” Jelasku.
Dia nampak kebingungan hendak menambahkan apa pada baksonya. “Cicip saja dulu. Gimana kamu mau tahu makanannya kurang apa kalau enggak dirasakan.” Nasehatku.
Cowok di hadapanku ini memang luar biasa, sewaktu waktu dia bisa tidak terkendali, egois, dan menyebalkan. Tapi sekarang dia bisa begitu patuh. Dia langsung mengikuti arahanku dan menambahkan saos, serta kecap manis. Kemudian dicicipnya ulang.
“Gimana? Enakkan?”
“Hmm.. lumayanlah.” Dasar sombong, masih saja itu mulut enggak bisa memuji hasil orang lain.
Kami makan dalam diam, sesekali aku meliriknya yang makan dengan cukup lahap. Katanya tadi sih lumayan saja, tapi habis juga. Makannya lebih cepat dari aku lagi.
“Cepat banget makannya?”
“Kamu saja yang lama.” Balasnya setelah membersihkan sisi bibirnya dengan tisu.
“Makan itu harus dinikmati, biar kenyangnya pas.” Elakku memberi alasan.
“Alasan saja, bilang saja jaga image depan orang.”
Dia benar-benar piawai merusak suasana hati orang. Andai saja bisa kusiramkan sisa kuah bakso ke mukanya, biar dia keperihan.
“Gitu saja langsung ngambek, jangan terlalu gampang ngambek. Kalau sedikit-dikit kamu marah, kamu lebih cocok jadi bocah SMA yang mentel. enggak sejurus dengan tampilan kamu yang tomboy.”
Aku hanya bisa diam menelan salivaku sendiri. Lebih baik diam saja dan menikmati sisa bakso.
“Ehh.. kamu beneran sudah fiks dengan pernikahan kita?” Sontak aku menatapnya, kenapa juga dia mempertanyakan hal itu setelah sejauh ini melakukan persiapan.
“Menurutmu untuk apa aku mengurus semua perintilan pernikahan ini kalau pada akhirnya menolak?” Tanyaku balik, namun dengan tujuan menyatakan jika aku siap menikah dengannya.
“Kenapa?”
Apa? Kenapa? Apanya yang kenapa?
“Karena aku harus menghormati keinginan ortuku.” Jawabku santai.
“Selain itu? Orangtuamu juga pasti akan lebih memilih kebahagiaanmu jika kamu menolak. Apalagi kamu anak mereka satu-satunya sekarang.” Sungguh aku malas harus menjelaskan isi kepalaku kepada orang lain. Kenapa mereka harus penasaran dengan alasan kenapa aku ingin menikah, toh itu tidak penting.
“Karena aku butuh orang untuk membiayai hidupku. Dengan menikah denganmu maka secara otomatis aku tidak perlu bekerja mencari uang. Kamu akan memberiku nafkah. Sesederhana itu. Toh juga aku akan mencari suami suatu hari nanti, kenapa aku harus menolak pilihan orangtuaku yang sudah jelas kaya, keluarganya baik, dan aku juga yakin kamu baik meskipun selalu membuat jengkel.” Terkuak sudah motivasi utamaku menerima perjodohan ini. Terserah apapun tanggapannya, aku sudah tidak peduli.
“Kamu seperti perempuan putus asa sampai harus mengorbankan hati kamu hanya untuk uang.”
Aku melipat tanganku di atas meja, lalu menatapnya dengan senyuman. Dia akan terkejut dengan apa yang sebentar lagi kukatakan.
“Katakan saja aku putus asa karena orangtuaku sama sekali tidak mau membantuku mendapatkan pekerjaan. Padahal orangtuaku memiliki perusahaan cukup besar. Silakan kalau kamu berpikir aku hanya akan memanfaatkanmu. Tapi jangan lupakan kalau kamu juga mendapat keuntungan besar dengan menikahiku. Kamu tidak perlu lagi susah-susah mengajukan proposal kerja sama dengan papa, karena toh perusahaan itu kelak akan diberikan padaku yang akan dikelola olehmu. Cukup adilkan? Jangan kira aku tidak tahu kalau kamu mengajukan kerja sama dengan perusahaan papa.”
Mampus, dia tidak akan bisa merendahku seenaknya. Aku bukan gadis polos yang isi kepalanya hal-hal lurus. Walaupun papa tidak memberikanku mandat untuk mengurus perusahaan, tapi aku sering memperhatikan pekerjaan papa, juga berkas-berkasnya. Mungkin Tuhan memang sengaja menunjukkan proposal kerja sama yang diajukan perusahaan Raka pada papa.
“Jadi saudara Raka? Apa Anda masih berpikir saya seputus asa itu? Kita sebenarnya saling membutuhkan secara tidak langsung.” Ucapku bangga. Poin tambahannya aku berhasil membuatnya mingkem.
“Kamu menang.” Ungkapnya.
“Hahahah…” Serius, dia ngalah secepat itu? So funny. “Kamu lucu ya. Baru segitu saja sudah ngaku kalah. Santai saja kali, aku juga tidak akan ikut campur urusan bisnis kamu sama papa, selama kamu juga tidak membuatku menderita.”
Aku menatap manik matanya yang turut menatapku. Sekilas aku mengenang tragedy pemotretan saat tubuh kami begitu dekat. Ini kedua kalinya aku melihat sorot matanya yang dalam, tanpa raut egois dan kesombongan yang dipamerkannya setiap saat.
“Mungkin enggak sih kita bisa menjadi pasangan suami istri normal suatu hari nanti? Sekarang saja kita enggak ada normal-normalnya.” Tuturnya tanpa melepaskan pandangannya dariku.
“Why not. Kalau aku baca di novel..”
“Jangan samakan. Itu dunia imajinasi, kita dunia nyata.” Potongnya. Belum juga aku siap bicara.
“Ya.. cerita di novel itu juga terinspirasi dari kisah nyata. Dan kalau dari analisisku, cerita-cerita tersebut masuk akal jika terjadi. Kalau kata orang nih, ala bisa karena biasa, cinta akan datang setelah terbiasa, jadi jalani saja dulu, waktu akan menjawab semua.”
“Korban novel.”
“Bukan begitu, tapi kemungkinannya besar sih.”
“Besar apaan, kamu sadar enggak sih kita itu selalu berantem setiap jumpa. Kalau enggak bertengkar pasti diam terus kayak lagi sariawan.”
“Nah itu tahu, tinggal diubah sedikit sedikit kan. Kata orang nih ya, yang sering berantem itu lebih dirindukan.”
“Memangnya kamu pernah rindu samaku?”
“enggak.” Jawabku polos. Jujur lebih baik.
“Nah itu saja kamu secara langsung membuktikan kalau kata orang itu tidak benar.”
“Ehh.. Bambang, kita itu baru ketemu 4 kali, apa yang mau dirindukan?” Sakit kali si kawan. Kami jelas jelas terhitung 4 kali bertemu, 2 kali saat makan malam keluarga lalu dia hilang selama 2 minggu. Apa yang bisa dirindukan dari kesempatan yang justru membuatku kesal setengah mampus dengannya. Lalu kemarin dia datang dan hari ini, rentang wakutnya bahkan tidak ada 24 jam. Bagaimana ceritanya bisa ada rindu.
Kami beradu argumen di tengah tatapan konsumen bakso. Aku baru menyadarinya setelah tanpa sadar menatap ke balik punggung Raka. Beberapa pengunjung menatap kami yang langsung membuatku tak ingin berdebat lagi.
“Kita balik saja yuk. Ntar di rumah bahas lagi. Bayar gih.” Aku segera bangkit dari duduk dan melangkah keluar tenda. Membiarkan Raka yang masih bingung mengeluarkan uangnya untuk membayar.