Raka
“Ehhh Din?”
“Hmm..?” Kambuh lagi penyakit kutub perempuan di sampingku.
“Kira-kira apa yang akan terjadi dengan hubungan kita di masa depan?” Aku masih bertanya-tanya akan bagaimana kelanjutan kisah kami ke depan. Hubungan suami istri tanpa cinta, tanpa kontak fisik, yang justru membuat kami akan terlihat seperti saudara laki-laki dan adiknya.
“Lah mana saya tahu, saya kan bukan peramal.”
“Ya, setidaknya kamu mungkin bisa memprediksi. Pakai ilmu novel-novel kamu itu.”
“Tadi aku bilang, kamu enggak suka. Sekarang malah penasaran. Kamu maunya apa sih sebenarnya?” Ketusnya.
“Kamu jangan ngajak perang terus kenapa? Jawab itu saja susah banget.”
“Kok ngotot sih? Aku kan malas memberi tahu kalau situnya enggak mau tahu, mending dikasih tempe.”
“Kamu lagi melucu?”
“Enggak. Aku hanya bicara tahu dan tempe.”
‘Huh.. jelas jelas dia mau melucu. Tapi malah jadi garing.’
“Aku rasa pernikahan kita nanti tidak akan bertahan lama.” Aku mencoba menebak akhir hubungan ini. Pasalnya kami benar-benar tidak cocok.
“Jalani saja dulu, gendangnya cuma duakan, terus atau putus.”
“Kayak lagu Judika saja.”
“Intinya gitu deh. Kita sudah sejauh ini, kita juga saling membutuhkan, khususnya demi orangtua kita masing-masing. Meski kita tak akan berjalan seperti suami istri pada umumnya, setidaknya kita sudah berusaha yang terbaik. Kalau nanti di tengah jalan kita jatuh hati, kita lanjutkan pernikahan ini. Tapi jika memang nanti kita menemukan orang lain, kita akan membicarakan teknis mengakhirinya.”
“Tumben lu bijak?”
“Kamu saja yang belum kenal aku.”
Jujur saja, dua hari bersama gadis ini membuatku melihat hal-hal yang tak pernah kuduga. Misalnya, sebenarnya dia cantik kalau saja merawat diri. Dia dingin dan cuek tapi baik, pemarah tapi mudah luluh. Dan sekarang dia berkata selayaknya seorang penasehat kerajaan, bijak.
200 meter yang kami tempuh dengan berjalan santai di trotoar tak terasa sudah berujung di depan gerbang rumah Nadine. Ada banyak hal yang tiba-tiba saja menyeruak dalam pikiranku membuatku penasaran untuk mengulik kehidupan gadis tomboy itu. Arnold benar, dia tidak seburuk yang terlihat. Justru aku heran masih ada perempuan sepolos dia, dalam artian tidak terkontaminasi dengan hedonism dan kehidupan luar yang gemerlap. Sejauh yang kupahami, perempuan-perempuan tomboy justru kadang lebih liar daripada perempuan feminism, tapi perempuan yang berjarak 5 cm dariku justru jauh dari itu semua.
“Kamu mau langsung pulang?”
“Aku masih ingin ngobrol denganmu.”
“Masuk saja kalau gitu, di luar banyak nyamuk.”
Kami memutuskan duduk di ruang tamu. Si mbak diminta untuk menyediakan cemilan dan minuman.
“Kamu enggak kenyang-kenyang apa dari tadi? Baru makan bakso.” Keluhku pada Nadine. Bagamana tidak, dia malah minta cemilan padahal kami baru makan. Dia benar-benar beda, perempuan lain mungkin akan berhenti ngemil di malam hari untuk menjaga bentuk tubuh.
“Belum.” Jawabnya santai sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Aku mengambil tempat berhadapan dengannya dengan meja sebagai pembatas.
“Enggak takut gemuk?” Pancingku mencoba melihat reaksinya.
“Enggaklah, ngapain? Orangtuaku mencari uang susah-susah biar anaknya bisa makan, sejak kecil dikasih gizi seimbang, 4 sehat karena aku tidak suka minum s**u jadi enggak 5 sempurna. Terus setelah dewasa aku malah diet? Kurang kerjaan banget itu. Lagian aku justru pengen gendut, bosan kurus terus.” Sesantai itu.
“Huh.. nanti setelah gemuk malah minta kurus.” Ejekku.
“Ya gemuknya jangan sampai kayak pemain sumo juga kali, itu sih keterlaluan.”
“Ini Li makanannya sama minumnya.”
Pembantu datang dengan toples toples makanan ringan. Ditambah dengan 2 gelas minuman yang isinya seperti s**u coklat.
“Kamu katanya enggak suka susu.” Tunjukku pada gelas berisi cairan coklat.
“Ini cappuccino, masih ada kopinya.”
“Ohh..” Aku meraih satu gelas dan mendekatkannya ke arahku. Sedang Nadine sudah berpindah tempat ke lantai lalu membuka tutup toples itu sebelum mencomotinya satu per satu.
“Din, kamu pernah punya pacar?” Ini mungkin terdengar seperti pertanyaan seseorang yang sedang ingin pendekatan dengan calon gebetannya. Tapi tidak dengan maksud dan tujuanku.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Males.”
“Ya tapi setidaknya kamu pasti punya alasan konkret dong.”
“Lah abang sendiri kenapa enggak pernah punya pacar?”
‘Ini perempuan tahu dari mana aku tidak pernah punya pacar?’
“Aku sibuk mengukir prestasi.”
“Ohh..” Mulutnya penuh dengan makanan. Ia terlihat nyaman dengan kelakuannya yang mungkin akan membuat laki-laki lain illfeel. Kenapa aku tidak? Karena aku melihatnya sebagai teman. Ya setidaknya itu adalah tahap agar aku tidak membencinya.
“Jadi kenapa kamu tidak punya pacar?” Aku masih sangat penasaran kenapa Nadine selama 23 tahun tidak sekalipun memiliki kekasih, ya selain Arnold yang memang cinta mati dengannya, mengapa pria lain tidak ada yang berani menjalin hubungan dengannya.
“Aku mau mencari sosok seperti abang aku.”
“Abang?” Satu lagi info yang aku tidak tahu, ternyata dia punya saudara lelaki. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?
“Iya. Tapi dia sudah meninggal 4 tahun lalu.”
“Sorry.” Lirihku pelan, merasa tidak enak mengungkit kisah sedih.
“Selow, aku sudah tidak sedih kok.” Nadine masih ayik menikmati cemilannya sembari sesekali menyeruput minumannya. Aku bahkan tidak ditawari, dasar pelit.
“Jadi kamu belum menemukannya?”
Dia mengangguk dengan ekspresi santai.
“Kalau nanti kamu menemukannya, setelah kita menikah. Kamu akan menikah dengannya?”
Aku tidak merencanakan pertanyaan itu, semua terjadi begitu saja tanpa pertimbangan.
“Mungkin. Tapi tenang saja, aku tidak akan selingkuh. Aku akan meminta cerai jika aku menemukan orang yang kucintai suatu hari nanti.”
“Kalau nanti hal yang sama terjadi padaku? Kamu akan terima jika kita bercerai?” Tanyaku dengan suara pelan, meski dugaan terbesarku dia akan menerima, tapi tetap saja sedikit risih membahas perceraian saat pernikahan saja belum terjadi.
“Iyalah, jika kamu memang menemukan perempuan lain, bilang saja sebelum aku yang menggugat cerai. Aku benci perselingkuhan, jadi silakan terbuka padaku. Kita bisa membahasnya dengan cara kekeluargaan.” Kata-katanya memang terdengar santai, tapi penuh dengan penekanan. Terlebih di bagian ‘Aku benci perselingkuhan.’
“Bagaimana jika kita belum menemukan orang yang kita cintai hingga beberapa tahun ke depan. Tapi orangtua kita meminta cucu?”
Aku menggigit bibirku dengan perasaan tak tentu. Salahkan otak kelelakianku yang terkadang lebih cepat tanggap pada hal-hal intim dalam hubungan suami istri. Tapi ayolah itu juga perlu dibahas karena tujuan dari menikah adalah menghasilkan keturunan.
Nadine menghentikan kunyahannya, ia terlihat berpikir. “Aku juga tidak tahu. Mungkin kita adopsi saja.” Tuturnya meragu.
“Aku yakin keluarga kita tidak akan menerimanya.”
“Jadi maksudmu? Kita harus membuat baby kita sendiri?” Ekspresinya yang tampak jijik sekaligus geli saat megnkonfirmasi sungguh membuatku ingin terkekeh.
“Tidak ada pilihan lain.”
“No. Gila aja kita buat anak tanpa ada perasaan. Kasihan anaknya dong nanti melihat orangtuanya yang kayak kita.” Jelas sekali ada penolakan yang terselubung dari emosi Nadine.
“Enggak mungkin jugalah aku akan mengabaikan anakku sendiri.”
“Tapi tetap saja, aku enggak mau. Never making love without love.” Tegasnya. Maka sudah dapat dipastikan, kami akan menjadi pasangan suami istri rasa jomblo.
“Kamu yang bertanggungjawab jika orangtua kita menuntut.”
“Kan aku sudah bilang kemarin, kita katakana saja aku tidak siap punya anak. Selesai masalah.”
“Tapi kita butuh regenerasi.”
“Maka kita harus saling mencintai dulu.”
“Apa?”
“Iya, kamu cinta samaku, dan aku cinta samamu. Selama itu tidak terjadi, maka tidak ada anak diantara kita. Tutup negosiasi, otak kamu pasti mikir m***m abis itu.”
Aku hanya bisa menelan ludah. Susah beradu argument dengan Nadine. Dia selalu bisa membuatku bungkam dan mengalah. Beda halnya dengan gadis itu yang masih santai menikmati kue-kue kering di atas meja.
“Kita bisa mencoba PDKT sebelum pernikahan.” Celetuknya tiba-tiba, yang membuatku tak bisa tak menoleh ke arahnya.
“Maksudmu?”
“Kita akan melakukan pendekatan, jadi ketika kita nikah, tidak akan terlalu canggung. Anggap saja kita sedang mencoba saling mengenal satu sama lain. Jadi, kamu tidak menghindariku, dan aku juga tidak akan menghindarimu. Kita akan saling terbuka dengan kepribadian masing-masing, mencoba menerima, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi.”
“Apa kamu sedang berpikir bahwa kita harus melakukan hal-hal yang orang lain lakukan saat pacaran?”
“Ya, kenapa tidak? Setidaknya kita harus mencoba menghadirkan cinta, kalau tidak berhasil ya setidaknya kita sudah usaha.”
Jika dipikir-pikir, tidak ada salahnya. Tidak akan ada yang dirugikan, toh kami memang akan menikah.
“Oke.”
Wajahnya seketika berbinar-binar yang justru menimbulkan tanda tanya di benakku.
“Besok kita jalan-jalan kalau begitu.”
“Apa? enggak bisalah, aku kerja besok.”
“Yaelah, masa kerjaan kamu lebih penting daripada pacar kamu.” Protesnya.
“Jelaslah, lagian kamu itu bukan pacarku, aku enggak pernah nembak kamu.”
“Iya, iya, iya tuan Raka yang terhormat. Tapi aku ingatkan ya, kita harus membiasakan diri bersama, biar ada kedekatan batin gitu. Pernikahan kita tinggal 8 hari lagi. Jadi kenapa kita tidak memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk saling mendekatkan diri?” Aku merasa jijik dengan ekspresinya yang sok seksi itu.
“Kenapa enggak sekalian kita tidur bareng biar lebih dekat?” Niat hati hanya ingin sarkas, jangan langsung berpikir negatif.
“Boleh sih, tapi nanti terjadi hal-hal yang diinginkan. Aku tidak mau dapat gossip menikah karena sudah ditiduri duluan.”
‘Kenapa jadi dia yang lebih m***m ya?’
Kulemparkan bantal sofa yang ada di belakangku ke wajahnya. “Ngawur.” Lalu aku bergegas bangkit berdiri sebelum malam semakin larut. “Aku pulang saja, sudah malam juga.
“Ehh.. jangan lupa besok habis kamu kerja kita jalan-jalan.”
Aku memutar mataku jengah, meninggalkannya di ruang tamu. Benar-benar calon istri tidak tahu sopan, masa calon suaminya pulang tidak diantar sampai ke pintu rumah. “Sabar Raka, semoga rumah gue nanti enggak jadi kapal pecah karena dia.” Gumamku pelan.
“Hati-hati ya.” Sebelum aku menutup pintu mobil seutuhnya, kulihat dia berdiri di teras rumah sembari melambaikan tangan, lengkap dengan senyum. Mau tidak mau aku tersenyum di balik kemudi, menekan klakson pertanda pamit.
Hari ini kami melangkah cukup jauh untuk saling mengenal satu sama lain. Walaupun dia sepertinya tidak terlalu penasaran dengan diriku. Apa hanya aku yang penasaran dengannya? Tapi siapa yang tahu, gadis itu penuh dengan kejutan.
***