DATING

2210 Kata
Nadine Di sinilah kami sekarang berada, sebuah pusat perbelanjaan terkenal di kota metropolitan. Sebuah tempat yang hampir tidak pernah sepi setiap harinya. Setelah saling menyerahkan pilihan, maka jadwal pertama kami adalah makan malam. Sebenarnya ini belum malam, tapi tidak apalah. Jadi, kemarin aku meminta Raka untuk ngedate, alias kencan, alias jalan bareng. Namun berhubung beliau adalah orang yang sangat sibuk di kantonya, di sore hari yang mendung inilah kami berakhir. Meskipun hubungan kami bukan sepasang kekasih, tapi tidak ada salahnya mencoba menguji rasa. Apakah hati ini akan bertahan dengan kerasnya, atau luluh tanpa syarat. “Kita makan di mana?” Tanya Raka setelah kami sampai di lobi mall. “Terserah.” “Kalau ditanya itu jangan jawabannya terserah. Nanti aku bawa ke satu restoran kamu marah.” “enggak, yaudah sih ke mana saja hayuk, asal jangan ke hotel saja.” Ditatapnya aku dengan mata meloto. “Otak kamu itu tertukar sama Arnold ya?” “Kenapa?” Tanyaku polos, bingung maksud dari pertanyaanny. “Kamu itu dari kemarin m***m mulu. Padahal kamu itu perempuan.” “Lho, salahnya di mana aku bicara demikian?” “enggak ada. Jadi mau ke mana ini?” “Aku kan bilang seterah alias terserah.” “Kamu suka es krim enggak?” “Suka.” “Yaudah kita ke Fountain aja.” “Ok.” Kami pun menelusuri mall mencari tempat makan yang satu itu. Tapi memang dasar aku bukan anak yang suka kelayapan ke mall, jadi aku sama sekali tidak tahu menahu tata letak setiap gerai di gedung ini. “Ini gedung luas banget sih, cape lama-lama nyariinnya. Ke tempat lain sajalah, dicariin dari tadi juga enggak dapat.” Seruku putus asa setelah hampir 15 menit kami berjalan berkeliling tapi tidak kunjung menemukan restoran yang terkenal dengan ice creamnya tersebut. “Mau ke mana lagi?” Aku mengedarkan pandangan dan menemukan satu restoran bernuansa klasik. Ada gambar ikan di logonya. Aku menarik tangan Raka begitu saja ke arah restoran tersebut. Tanpa basa basi, kami duduk di salah satu meja. Salah seorang pramusaji datang dengan buku menu. “Aku pesan cumi asam manis plus nasi, kemudian capcai, dan minumnya lemon tea hangat.” Aku paling tidak bisa melihat seafood, pasti cumi jadi sasaran. Entah mengapa hewan tak avertebrata itu sangat enak di lidah jika sudah dimasak “Kamu cuma pesan itu?” “Iya.” “Yakin?” “Iya.” Tegasku pada Raka yang seolah tak percaya jika aku memesan menu tersebut. “Aku pesan beef black paper yang deluxe dengan nasi, kemudian minumnya matcha.” “Baik, pesanannya akan segera diantarkan, mohon menunggu.” Lalu pramusaji tersebut berpaling. “Oke.” “Hari ini kegiatanmu apa saja?” Raka memulai perbincangan diantara kami. “Enggak ada, aku kan pengangguran.” Jawabku enteng, karena memang aku tidak bekerja. “Di rumah kamu ngapain saja?” “Enggak ngapa-ngapain? Emang aku harus apa saat sudah ada si mbak?” Seruku to the point. “Kamu enggak ada kegiatan apa gitu mengisi waktu kosong?” Selidiknya lagi. Tapi apa yang hendak kujawab karena semua memang nothing. “Rebahan sampai sakit pinggang, buka medsos sampai bosan, dan baca buku sampai muak.” “Wow.. sangat tidak berguna sekali.” Sarkasnya. “Iya begitulah.” Ketusku sambil mengedikkan bahu. “Kamu benar-benar bisa mengurus rumah? Aku tidak mau rumahku jadi sarang nyamuk apalagi sampai seperti rumah kemalingan.” “Santai kali bro, rumahmu aman ditanganku. Selama bulanan aman. Tapi kita memang punya rumah sendiri?” Selidikku penasaran. Pasalnya aku benar-benar tidak tahu pria yang akan menjadi suamiku ini memiliki apa saja. “Iyalah, aku sudah mempersiapkan rumah untuk keluarga kecilku suatu hari nanti. Tapi ya nasib berkata lain. Daripada aku ambil resiko harus tidur sekamar denganmu di rumah mama, lebih baik rumah itu ternodai dengan kehadiranmu.” “Heh, sembarangan. Gimana mau bangun cinta begini, kalau mulut kamu selalu kasar begitu.” Hampir saja kami adu mulut kembali jika saja pramusaji tidak datang dengan pesanan kami. “Silakan dinikmati makanannya.” “Terima kasih.” Jawabku santun sambil melempar senyum. Setelah pramusaji tersebut berlalu, kudapati Raka menatapku dengan raut yang tak bisa kuprediksi. “Kenapa?” “Kamu kenapa bisa ramah banget sama orang lain, tapi giliran denganku kamu itu cuek, bar-bar, enggak sopan lagi.” “Ohh… Harusnya kamu senang dong.” “Senang apaan, emosi iya. Aku itu lebih tua 5 tahun dari kamu tapi kamu bahkan tidak memanggilku selayaknya.” “Pertama, kalau aku tidak sopan padamu artinya aku nyaman sama kamu. Aku dekat sama kamu. Kedekatan itu cenderung membuatku santai berhadapan dengan orang lain. Kedua, masalah panggilan. Di awal aku manggil kamu abang, tapi rasanya itu risih banget. Aku tidak biasa memanggil orang lain selain abang kandungku dengan sebutan abang.” Itu jawaban tulus dari dasar hatiku, bukan alasan cari aman saja. “Tapi setidaknya kamu itu sopan.” “Buat apa sopan kalau munafik? Menurut aku, lebih baik aku asal ceplas ceplos tapi jujur dari hati.” “Jadi maksud kamu, sikap kamu sama aku itu selama memang diri kamu yang sebenarnya?” “Iyalah, memang Arnold enggak pernah cerita tentang aku?” Raka hanya mengendikkan bahunya, dan beralih fokus pada makanannya. Hampir saja mulutnya menyentuh makanan tersebut. Beruntung dengan kecepatan super ala aku, bisa menghentikannya. “Berdoa dulu kali.” Dibalas dengan tatapan bingung. “Turunin sendoknya, berdoa dulu. Aku yang pimpin.” Mau tidak mau dia menjatuhkan kembali isi sendoknya. Dengan raut kesal menutup mata dan melipat tangan. “Mari makan…” Seruku girang melihat makanan di hadapanku setelah kami siap berdoa. “Kami makan dalam hening, karena memang terbawa kebiasaan di rumah harus fokus pada makanan. Katanya biar enggak keselek dan makanannya bisa jadi berkat untuk tubuh.” *** “Habis ini kita ke mana?” Tanyaku. Kami baru saja menyelesaikan makan malam paling tidak romantis. Berhubung perut langsingku sudah kenyang, aku tidak peduli lagi dengan destinasi berikutnya. “Terserah.” Ini laki lama-lama mirip gaya perempuan, terserah. “Nampak banget enggak pernah punya pacar.” Seketika Raka langsung menatapku sinis, seolah mengatakan bahwa kami tidak jauh berbeda. “Kamu mau nonton?” Tawarnya kemudian. “Boleh, kita nonton yang fantasi saja ya. Ayokk.” Kutarik tangannya layaknya sedang memegang anak kecil yang takut hilang. Hingga kami sampai di bioskop, di lantai paling atas gedung ini, aku melepas peganganku dan menunjuk satu film atraksi. “Aku mau nonton film itu.” Raka memperhatikan film itu beberapa saat, lalu mengernyitkan dahi. “Yakin mau nonton film itu?” tanyanya kemudian, seolah sedang ragu untuk menonton film tersebut. “Iyalah, itu pasti keren.” Seruku antusias. “Itu film dewasa, mending nonton yang Indonesia aja, atau kartun.” Dia sedikit meringin menjelaskan genre film tersebut. “Aku mau itu, emang kenapa rupanya? Aku juga sudah dewasa.” Jangan harap bisa menolak permintaanku. Film itu memang terlihat cukup menarik dari iklannya. “Yang lain aja deh.” Masih saja Raka berusaha membujukku untuk ganti film. Entah apa yang dia takutkan. “Kamu takut lihat pertumpahan darah?” Dia menggeleng. “Takut lihat yang bunuh bunuhan?” “Bunuh-bunuhan sama pertumpahan darah beda genre filmny apa? Aku bukan takut itu.” “Lah jadi kamu takut apa?” Aku masih penasaran dengan alasannya tidak ingin menonton film itu. Wajahnya terlihat khawatir ketika aku ngotot ingin menonton film tersebut. “Kasih tahu, jangan diam saja.” Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam kepalaku. “Ohh.. atau kamu takut tegang ya?” Ucapku sedikit memelankan suara, sembari menampilkan senyum mengejek. “Ehh mulut.” Tegurnya tak terima, dengan ekspresi sok galak. Dia memang galak sih, tapi itu tidak berlaku untukku. “Jadi kenapa enggak mau nonton itu. Sudah sana belikan tiketnya. Aku mau nonton itu pokoknya.” Dengan wajah pasrah dan memelas, Raka beranjak ke antrian pembelian tiket. “Akum au popcorn juga ya.” Tambahku saat gilirannya tiba. Malam itu bioskop memang tidak terlalu ramai. Waktu tunggu sekitar 15 menit hingga ruangan tempat film akan ditayangkan bisa dimasuki. Selama itu kami berdua sibuk dengan gawai masing-masing. Ia dengan wajah seriusnya, dan aku dengan ketawaku sambil melirik pria itu sesekali, takut kalau tiba-tiba dia hilang tak bersalam. “Kamu yakin mau nonton ini?” Sekali lagi Raka berusaha menggoyahkan keinginanku. “Bawel, ayok masuk.” Tak kuasa mendengar upaya bujuk rayunya, kutarik tangannya hingga ke nomor kursi di tiket kami. Biarlah orang berkata apa, karena beberapa pasangan sedang meneliti kami berdua yang tampak seperti menampilkan adegan paksa memaksa. Sepanjang film diputar, aku tetap serius menonton meski sesekali menutup mata melihat adegan dewasa di film tersebut. Ini beneran tanpa sensor, sebenarnya kupingku sudah panas menyadari di sebelahku ada laki-laki yang sekalipun tidak normal tetap saja berbahaya. Pernah dengarkan Singa yang jinak tetap memiliki jiwa pemangsa ganas. Kira-kira demikianlah yang kukhawatirkan, sedikit banyak aku menyesal tidak mengikuti ucapannya tadi. Saat kepalaku menunduk menghindari pemandangan yang wow… tak sengaja kulihat tangan Raka mengepal di sandaran tangan, kakinya juga bergetar. Kulirik ke arah wajahnya tapi tak begitu jelas, karena aku takut-takut melihatnya. Ohh.. my, aku bukan perempuan polos yang tidak tahu cowok di sebelahku sedang merasakan apa. Bodohnya aku bermain api, padahal tadi sudah diperingatkan. Pada akhirnya fokusku pecah, antara adegan dewasa dan pria di sebelahku. Aku sudah tidak lagi menikmati film yang ditayangkan sebab kepalaku sudah dipenuhi rasa cemas. Berdasarkan novel-novel yang k****a, ketika cowok dalam mode tegang, hal tersebut akan membuat mereka tidak nyaman dan sakit. Mungkin seperti itulah yang dirasakan Raka saat ini. Sebenarnya yang kutakutkan bukan masalah dia sakit, tapi bagaimana nanti dia mengobati rasa sakitnya itu. Aku tidak mau ambil resiko untuk hal yang tidak seharusnya. Aku bahkan hampir lupa jika film sudah selesai dan lampu kembali menyala. Kulihat Raka menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil menarik nafas dalam. ‘mati gue… bodo banget sih Lia.’ Rutukku membatin. “Kamu masih mau di sini?” “Hah??” Tubuh Raka menjulang tinggi. Aku bahkan tidak sadar jika ia sudah siap untuk keluar bioskop. “Kamu enggak apa-apa kan?” Mulutku rasanya sangat gatal ingin mengetahui kondisi dia saat ini. “Memangnya kenapa?” “Ng….enggak apa-apa sih, tapi tadi kamu kayak narik nafas gitu, trus selama nonton tangan kamu terkepal. Kamu enggak punya phobiakan?” Bukan itu yang ingin kutanyakan, tapi urat maluku masih utuh untuk tidak membangunkan macan tidur. Tanpa kuduga Raka menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Otomatis aku memundurkan wajah, bahaya kalau terlalu dekat. Bisa saja terjadi hal-hal yang tidak bisa dikendalikan oleh logika. “Kenapa kamu penasaran begitu? Kamu sengaja ngajak nonton film ini? Mau tahu reaksi aku gimana?” Bisikan raka tepat di sebelah telingaku membuatku merinding. Merinding karena telingaku geli dan rasanya jadi gatal ingin di garuk. Sedangkan ekspresi dia hanya datar sambil menaikkan satu alisnya. “Maksud..nya?” Aku paham betul apa konteks bisikannya itu, tapi saat ini pura-pura bodoh akan jadi pilihanku. “Hmm… Lain kali kita nonton berdua saja di rumah kalau filmnya begitu.” Ucapnya sambil melangkahi kakiku dan berjalan mendahului keluar bioskop. Aku segera berlari menyusulnya dengan popcorn yang setengah saja tidak habis. Waktuku terbuang memikirkan kondisi manusia dingin es Antartika itu. “Ehh.. maksud kamu apaan sih?” Tuntutku lagi setelah aku mampu menyejajarkan langkah. Maklumi saja kepalaku yang langsung semangat kalau bahas-bahas s**********n. Tapi jangan salah, aku tidak pernah dan tidak berniat untuk praktek sebelum menikah. Ini pengaruh kebanyakan baca novel 21+. Langkah Raka berhenti, wajahnya menatapku intens dan muncul senyum licik. Itu senyum nakal banget. Dia menarik tanganku dan bergegas menuju lift yang beruntungnya buat dia lagi terbuka dan dalam posisi kosong. Jantungku mulai dag dig dug tak karuan, takut, bingung, dan khawatir tingkat mie level 15. Raka menekan tombol lift menuju basement ke tempat parkir. Hanya perlu 2 menit untuk sampai di bagian gedung yang secara umum sepi, suram, gelap, dan menyeramkan. Berhubung hari juga sudah malam menambah kesan was-was. Makin tambah parno karena tangan si kawan tidak lepas-lepas, dan sialnya aku terlalu gerogi untuk melepaskan diri, pegangannya terlalu kuat. Raka memasukkanku secara kasar ke dalam mobil, lalu ia memutar untuk mengambil kursi supir. Begitu masuk, dengan garangnya ia menatap mataku. Tampak jelas amarah dan tatapan intimidasi, untuk kali ini aku kicep alias takut. “Kamu tahu enggak bahayanya nonton film dewasa begitu dengan lawan jenis? HAH???” Ini bukan kali pertama Raka membentakku, pertama kali suaranya meninggi ketika makan malam bersama di rumahku tepatnya saat ngobrol di taman rumah. “Kita itu sudah sama-sama dewasa Nadine, harusnya kamu itu berpikir sebelum menonton sesuatu yang kontennya begitu. Aku sudah ingatkan kamu di awal. Tapi kamu bandel kalau dibilangin, lagi kamu tanya aku kenapa? Kamu mau aku perkosa sekarang?” Aku secara otomatis merapatkan tubuhku ke sudut kursi, melihatnya takut-takut. Wajah Raka benar-benar merah seperti udang goreng. Belum lagi ancamannya yang di luar prediksiku. Aku tidak menduga dia bisa semarah ini. “s**t, lo enggak tahu yang laki-laki alami dengan menonton itu.” ‘Gue tahu kok, tapi emang sadarnya saja terlambat.’ Batinku menjawab Raka. “Sorry.” Cicitku pelan sambil menunduk memainkan tanganku. “Lain kali lo ngajak gue nonton film konten dewasa begitu, jangan salahin gue kalo kita berakhir di hotel.” Tanpa menunggu jawabanku Raka menstarter mobil dan melaju di jalan raya. Kami diselimuti sepi sepanjang jalan, bahkan tidak suara radio pun yang mengisi dinginnya suasana. Perkara adegan ranjang sialan di film itu, yang naasnya terlalu v****r. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN