NGAMBEK

2147 Kata
Raka Bagi kalian yang perempuan, tolong pahami kami sebagai laki-laki dengan tingkat kemesuman yang lebih tinggi dari kelas perempuan. Jadi apabila jalan sama cowok, lebih baik jauh-jauh dari nuansa s*****l, itu bisa berbahaya untuk diri kalian sendiri. Kami sebagai pria, belum tentu bisa mengontrol diri, ya maksudnya tidak semua laki-laki bisa mengendalikan hasratnya jika sudah sampai bangun. Maka pikirkan baik-baik saat berduaan dengan pria, apapun tindak tanduk dan segala sesuatu yang kalian nikmati, sangat dimohonkan jangan memicu hormon. Jangan sampai kalian seperti calon istriku yang ampun polosnya. Otaknya memang m***m, tapi tidak bisa melihat situasi dan kondisi dia sedang bersama siapa. Bisa-bisanya nonton film dengan rating dewasa alias 21+, kepalaku hampir pecah selama penayangan film. Beruntung aku masih mampu menguasai lapangan sehingga dia aman sampai ke rumah. Seusai memastikan dia keluar pintu mobil, aku memacu kendaraanku, karena aku butuh pendinginan. *** Sepanjang malam aku sulit untuk tidur perkara efek dari menonton film di bioskop tersebut. Salahkan otakku yang terlalu v****r, tapi itu adalah sebuah realita dimana aku kesulitan untuk menghapus beberapa informasi yang cukup menarik. Aku bukan pria polos yang tidak pernah menonton blue film, tapi itu hanya sekedar ingin tahu. Aku tidak pernah membuatnya menjadi suatu kebutuhan. Itu bahkan sudah sangat lama sejak terakhir kali aku menonton hal m***m seperti itu, semalam adalah pengalaman baru menonton dengan anak gadis orang. Hasil dari begadang adalah aku terbangun pukul 10 pagi, dengan kantung mata dan tubuh yang lesu. Aku memang workaholic, tapi jam istirahatku tetap teratur biasanya. Hari ini rencananya ingin pergi bersama Nadine satu hari full. Sepertinya akan batal, paling setengah hari. Kuperiksa gawaiku di atas nakas, beberapa panggilan dari Nadine. Aku tidak bisa menutupi senyumku mengingat anak itu pernah memblokir kontakku, sekarang dia yang menghubungiku lebih dahulu, lagi. Bisa kubayangkan wajahnya pasti sudah cemberut dengan bibir seperti bebek memberengut. Ahhh.. dia pasti lucu dengan tampang bebek. Pagi-pagi sarapan menghayal tidak masalah bukan. Kutekan tombol panggil untuk nomor Nadine, butuh beberapa lama hingga nada hubung tersambung. “Sudah di mana?” “Dimana-mana ucap salam dulu, bukan ngegas.” “Hmm.. Next time, jadi kamu sudah di mana?” “Aku…” “Jangan bilang baru bangun.” Belum juga selesai bicara sudah disosor duluan. “Memang.” Jawabku tanpa rasa bersalah. “Astaga naga….. Parah ya, ini kan sudah jam 10. Dari tadi aku teleponin enggak diangkat kirain sudah di jalan. Dan kamu malah bilang baru bangun? Niat enggak sih ngajak jalan?” Mulai kambuh cerewetnya, watak asli Nadine itu sebenarnya bawel mirip emak-emak lagi marahin anaknya karena main hujan. Salah aku juga sih bangun kesiangan. Perkara film kurang filter semalam ini. Besok-besok tidak akan kuizinkan Nadine yang pilih film. “Iya ini bentar lagi gerak.” “Apaan bentar lagi gerak, baru bangun, kamu masih harus sarapan, belum lagi mandi. Bacot banget sih. Sudahlah, malas nungguin kamu. Tahu gini aku tidur saja tadi.” Tut.. Gadis itu sungguh mengakhiri panggilan secara sepihak. “Arghhh.. Bisa mati muda aku punya istri kayak dia.” Sungguh geram menghadapi Nadine, dia benar-benar penggambaran perempuan bar-bar sejati. Tanpa menunggu lebih lama, aku bergegas mandi. “Lhoo Ka, mau ke mana sudah rapi?” “Ehh mam, ini mau jalan sama Nadine.” Aku menuruni anak tangga perlahan menuju mama yang ada di meja makan. “Makan dulu.” “Enggak usah ma, dia sudah merepet. Nanti bisa berabe berhadapan sama dia, singa saja kalah galak.” “Huss.. kamu itu ngomongin calon istri kok begitu.” Aku hanya mengendikkan bahu menjawab komentar mama. Kuraih kopi s**u yang sudah tersedia di meja. Ahh, sedingin hubunganku dengan Nadine. Kelamaan bangun ya begitulah resikonya, kopi pun sudah tak lagi hangat. “Arnold mana mam?” “Masih di luar sama papa. Tadi sih izin olahraga, tapi belum pulang-pulang juga.” “Ohh.. yasudah, Raka pamit ya mam.” Aku meraih tangan mamaku untuk menciumnya. “Hati-hati, jaga Nadine baik-baik.” Hanya senyum yang bisa kupersembahkan untuk menjawab permintaan mama. Bagiku itu masih teramat sulit untuk kujanjikan. Meski aku sudah ikhlas lahir batin untuk menerima gadis itu, tapi aku tidak bisa memastikan jika suatu hari keputusan ini tidak akan berubah. Mulutku tak ingin mengucapkan janji yang bisa saja akan kuingkari. Aku meraih kunci mobil dari lemari lalu melajukan mobil ke rumah Nadine Aurelia. Tak butuh waktu lama karena jalanan belum terlalu macet. Hari Sabtu itu car free day, jadi beberapa ruas jalan di tutup khususnya yang jalan protokol. Karena ini masih jam 10.30, kebanyakan penduduk Jakarta masih banyak yang duduk santai di rumah, sehingga jalanan belum begitu padat. Begitu sampai di depan gerbang rumah Nadine yang terbilang mewah, kubunyikan klakson, dan seorang satpam segera membuka gerbang. “Nadinenya ada pak?” Tanyaku basa-basi pada sang satpam. Sekedar intermezzo agar tampak ramah. Aku sudah tahu juga Nadine pasti di rumah. “Di dalam tuan.” Pintu rumah tampak terbuka, dan langsung saja aku melangkah masuk selayaknya ke rumah sendiri. “Haloo… Tante, om..” Aku jadi seperti Arnold kalau ke rumah ini, harus berteriak. “Ehh nak Raka. Ayo sini masuk.” Suara tersebut berasal dari pintu samping rumah yang mengarah ke kolam renang. Tante Rani mendekat ke arahku. “Halo tante.” Aku mencium tangannya sebagaimana sopan santun. “Mau cari Lia ya?” “Iya tan.” “Lianya di kamar, dari tadi dia sudah nunggu kamu, tapi karena tidak datang-datang dia malah ke kamar lagi.” Sudah kuduga, apa dia beneran tidur lagi? “Iya tan. Om di mana tan?” “Lagi di kolam. Kamu temui Nadine saja sana.” Tante Rani mengarahkanku ke kamar Nadine. “Dibujuk saja ya, Nadine paling tidak suka orang yang tidak disiplin. Tapi kalau kamu baik-baik ngomongnya, dia cepat luluh kok.” Mendengar penjelasan tante Rani tentang putri sematawayangnya, aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian beliau meninggalkanku sendiri di ruang tamu. Ini adalah pengalaman pertamaku mengunjungi rumah orang, dan langsung di suruh ke kamar anak gadis. Ada sedikit sungkan, bagaimanapun kurang etis rasanya laki-laki sembarangan ke kamar perempuan yang bukan saudara sedarahnya. “Harus ya aku ke kamarnya?” Gumamku terbodoh. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi daripada jadi patung hidup di ruang tamu, lebih baik mencoba peruntungan memasuki kamar Nadine. “Semoga enggak di semprot baygon aku.” Dengan tekad bulat kulangkahkan kaki ke kamar berdaun pintu coklat itu. Meski penuh keraguan, tetap kuupayakan mengetuk pintu tersebut dengan kuat. Meski sudah 3 kali ku ketuk, tak ada sahutan dari dalam. Ingin memanggil nama tapi lidahku terasa kelu. Hingga ketukan ke 6 tiba-tiba pintu itu terbuka, membuat tanganku masih melayang di udara. “Ngapain?” Ketus, itulah kesan pertama yang kuperoleh. Kesan kedua adalah penampilan acak-acakan. Kesan ketiga adalah tatapan mata yang seolah ingin memakanku bulat-bulat. Nadine dalam mode kesal, kode bahaya. “Kamu beneran sudah siap-siap dari tadi? Kenapa masih muka bantal gitu?” Jujur saja penampilan gadis di depanku di luar ekspektasi. “Menurut lo??” Nadine masih mengeluarkan nada ketus, sambil berbalik meninggalkanku berdiri di ambang pintu. Gadis itu malah kembali rebahan di kasur yang cukup besar untuk dua orang. Aku hanya berani sampai di sini, tidak untuk melangkahi garis pintu. Tapi berurusan dengan gadis abnormal seperti Nadine tidak bisa juga sejauh jarak pintu ke kasurnya. “Siap-siap lagi gih, aku tunggu.” Seruku masih dari pintu. “Malas, pergi saja sendiri. Kelamaan, keburu aku malas gerak.” Dia masih betah berbaring tengkurap menghadap ke arah lain, membelakangiku. Aku kehabisan akal, aku bingung bagaimana menarik perhatian gadis kelewat tomboy itu. Seandainya ada Arnold, pasti bukan hal sulit meraih atensi Nadine. Diakan selalu heboh saat bersama orang lain kecuali aku. “Din, maaf. Aku memang ketiduran tadi, lupa buat alarm. Masa baru sekali ini saja terlambat sudah ngambek.” Harus bisa membujuk, meski ini bukan kapasitasku. Aku terbiasa tidak peduli dan mengabaikan siapapun yang tidak ingin berurusan denganku. Nadine adalah orang pertama yang sangat sangat sangat menguji ketahanan emosionalku. Nadine masih belum bergeming. “Din, ayolah. Hari ini kamu mau apa saja akan aku turuti.” Biasanya perempuan akan langsung semangat kalau diberi iming-iming. Namun sepertinya aku lupa dengan siapa aku berhadapan. “Din?” Tak ada sahutan. Dengan rasa penasaran yang sudah memuncak, tak ada lagi batasan-batasan. Persetan dengan garis batas kesopanan. Aku melangkah masuk ke dalam kamar, dengan tetap membiarkan pintu terbuka lebar. Aku berdiri tepat di arah wajah Nadine, dan kalian tahu apa yang terjadi? Nadine tidur. Sejak tadi aku bicara sendiri. “Si aduh, malah tidur. DIN…” Sengaja kuanikkan oktaf suaraku, tapi hasilnya nihil. Gadis itu masih tenang di alam mimpi. “Ini cewek bangke banget deh. Dinnn.. Nadine..” Masih sama saja. Dengan sedikit takut aku mendekati tubuhnya dan menggoyangkan bahunya. “Din bangun..” Sebentar ia menggeliat dan membuka matanya dengan malas. “Apaan sih? Ganggu saja, aku masih ngantuk.” Lalu kembali memejamkan matanya. “Wahh.. parah ini cewek. Aku bela-belain enggak sarapan supaya cepat ke sini. Dia malah molor.” Tanpa diduga Nadine bangun dan terduduk di kasur. Matanya mengarah tajam padaku. “Aku sudah prepare dari jam 8 tadi. Aku sudah menghubungi kamu lebih dari 20 kali, dan kamu baru bangun jam 10. Kamu kira enggak bosan nunggu 2 jam? Aku baru membuat kamu nunggu 10 menit kamu sudah bersungut-sungut nyalahin aku. Emang yang ngajak jalan siapa?” Nadine berbicara berapi-api, kalau di film kartun wajahnya harusnya sudah merah menahan emosi. “Ya maaf…” “Maaf tidak bisa mengembalikan waktuku yang terbuang itu.” Dia bersidekap melipat tangan di depan d**a dengan wajah yang sudah menahan kesal. “Jadi gimana dong?” “Mana aku tahu, pikir saja sendiri.” “Kita enggak jadi keluar?” Bukannya menjawab, ia hanya mengendikkan bahu. Alamat harus dibujuk rayu. “Enggak usah marah terus dong, makin jelek nanti.” Niat hati mengembalikan suasana agar lebih lucu. “Bodo amat.” Dijawab dengan sangat menjengkelkan. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sama sekali. Efek bingung memikirkan bagaimana merajut kembali hati gadis tomboy super galak yang sedang putus ini. “Lho, kenapa belum berangkat?” Dan akhirnya penyelamat datang. Suara tante Rani ibarat oasis di padang gurun, sangat membantu sekali kala persediaan air kesabaran dan kreativitasku habis dalam rangka membujuk anak gadisnya. Aku menatap tante Rani yang berdiri di ambang pintu, begitupun Nadine yang langsung buru-buru mendudukkan diri. “Nadinenya enggak mau tan.” Aduku, sedikit berharap beliau bisa membujuk putrinya. “Lia..” Dalam hati aku terkekeh mendengar nada mengancam dari tante Rani. “Males lho ma, dia itu terlambat hampir 3 jam. Lia sudah enggak niat lagi pergi kemanapun.” Nadine tak kalah ketus mengadukan diriku. “Sudahlah, nak Rakanya sudah jauh-jauh datang. Kamu itu kekanakan sekali. Mama enggak mau dengar komentarmu lagi. Nak Raka sama tante ke ruang tamu, biarkan Lia beres beres dulu.” Aku mengembangkan senyum mengejek pada Nadine, yang dibalas tatapan sinis olehnya. Lalu kuikuti langkah tante Rani keluar dari kamar menuju ruang tamu. Di sana sudah duduk om Suryo sambil menonton televisi. “Halo om.” Aku menyalam tangan beliau sekilas sebelum mendudukkan diri di sofa tepat di sebelah om Suryo. “Kenapa dengan Lia?” Tanyanya entah pada siapa. Pasalnya ada aku dan tante Rani juga. “Biasalah pa, anak bontotmu ngambek karena Raka datang terlambat.” Jelas tante Rani ambil suara. “Nak Raka jangan heran melihat Lia begitu ya. Dia memang paling tidak suka orang yang terlambat. Tante kamu saja dimarahinya kalau lama.” Info terbaru terkait Nadine Aurelia, ia adalah gadis disiplin. “Iya om, lain waktu saya tidak akan terlambat,” terlalu lama. Aku tidak bisa berjanji tidak akan terlambat, tapi setidaknya aku akan mencoba lebih tepat waktu. Toleransi beberapa menit mungkin bisa didiskusikan nanti dengan Nadine. “Kamu harus sabar menghadapi tingkahnya ya. Dia itu sebenarnya manja dan perhatian, tapi terselubung di balik sikap angkuh dan cueknya. Om heran dia bisa dapat sifat dinginnya itu dari mana.” “Kayaknya dari neneknya. Dulu mami juga jutek sama mama, tapi aslinya baik. Jadi nak Raka hanya perlu stok sabar yang banyak.” Aku hanya tersenyum sembari meringis dalam hati. Tanpa kami sadari Nadine sudah berdiri tak jauh dari sofa. Ia masih memberi tatapan menusuk, seolah ingin menghujam jantungku detik itu juga. Susah memang berurusan sama singa betina, salah sedikit main terkam. “Om, tante, kalau begitu kami pamit dulu ya.” Aku meraih tangan mama dan papa Nadine. Pikirku Nadine juga akan melakukan hal yang sama, tapi tidak sama sekali. “Ma, pa, Lia pamit ya. Bye..” Hanya itu yang diucapkan gadis itu sebelum lebih dulu berjalan ke luar rumah. Aku sempat terperangah di posisiku melihat sikapnya yang menurutku kurang sopan. “Sudahlah nak Raka. Di rumah ini memang tidak terbiasa mencium tangan. Jadi tak perlu heran. Kalian pergi saja, nanti dia bertingkah lagi.” Setelah pamit, aku menyusul Nadine yang sudah berdiri di samping mobilku. Begitu terdengar bunyi bip pertanda pintu terbuka, gadis itu langsung masuk ke kursi depan. Aku hanya bisa menggeleng menyaksikan keanehan sikapnya yang di luar ekspektasiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN