Nadine
Bahagiaku sederhana, hanya sulit kuekspresikan.
Sepanjang jalan aku memasang wajah kesal paket lengkap dengan cemberut. Katakan saja terlalu berlebihan, tapi aku terbiasa dengan disiplin dan tepat waktu. Biar kata aku pemalas, pengangguran, tapi sangat pantang yang namanya terlambat, dan serampangan. Kalau memang harus terlambat sekalipun, maka kabar itu sangat penting.
Prinsip hidupku itu sederhana, perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Jadi jika orang lain tidak bisa menghargai waktumu, maka dia juga tidak pantas dihargai. Andai aku punya agenda lain hari ini, maka aku tidak akan ada di mobil bersama pria menyebalkan. Uhh… pokoknya kalau sudah bicara soal waktu dan janji, lebih baik jangan main-main. Waktu itu sangat mahal, dan janji adalah hutang. Taruhan hidup jika mengingkari dua hal penting itu.
“Jadi kita akan ke mana?” Raka membuka suara setelah cukup lama keheningan mengekang.
“Terserah.” Moodku sudah rusak sejak dia datang terlambat.
“Baiklah, karena masih jam 11, kita ke Dufan saja ya.”
Tanpa persetujuanku ia mengarahkan mobil menuju taman impian jaya Ancol. Suasana lalu lintas tidak terlalu padat, kebiasaan di hari Sabtu. Penduduk Jakarta biasanya menghabiskan akhir pekan mereka dengan istirahat di rumah, atau liburan ke luar kota. Lagipula tidak ada yang bisa dinikmati di kota metropolitan ini.
Aku masih setia dengan wajah ketatku. Bahkan si Raka semprul ini pun tidak berusaha membujukku. ‘Dasar cowok eenggak peka.’ Hingga kami sampai di parkiran Ancol, hanya ada kediaman diantara kami. Aku keluar dari mobil diikuti Raka yang menyusul dan mengunci mobil.
“Kita langsung ke Dufan saja ya.”
Lagi, tanpa persetujuanku dia sudah melenggang ke arah dunia fantasi. Aku mengekorinya dengan dengusan, sambil menahan kesal. Boro-boro bisa dikatakan kencan, kencan apaan dibiarkan jalan sendiri. Setidaknya berjalan berisisian, ini dia malah menduluani. “Dikira panjang langkah dia sama denganku apa.” Gumamku kesal.
Saking kesalnya aku bahkan tidak memperhatikan dia sudah berada di mana. Jelas saja emosiku sampai ke ubun-ubun, kekesalan dari rumah belum pulih sudah ditambah dengan hilangnya jejak si semprul itu. “Ihhh… k*****t banget sih, kemana coba dia bisa hilang?” Rasanya kepalaku sudah ingin meledak. Cuaca panas, keadaan ramai, dan berisik adalah perpaduan sempurna membuat darah tinggi maksimal.
“Nih..” Aku dikagetkan seseorang yang mengulurkan tiket masuk dufan. Lebih kaget lagi karena ternyata makhluk yang menyodorkannya itu si semprul yang tadi sempat tertelan keramaian. Aku hanya menatapnya dengan tajam.
“Tadi aku ngantri tiket dulu. Maaf ditinggal.” Jelasnya seolah paham dengan maksud tatapanku.
“Mukanya jangan dikusutin gitu kenapa. Sudah jelek makin jelek. Ayokk..” Tanganku melayang karena ditarik tangan besar. Pemiliknya adalah Raka. Karena masih kaget dengan tarikan tiba-tiba, aku hanya bisa memasrahkan diri ditarik-tarik seperti barang.
“Kamu mau main yang mana dulu?”
Aku masih berusaha menormalkan pikiranku yang labil terombang ambing. Sejenak kutatap wajahnya yang menampilkan senyuman, entah kenapa kali ini senyumnya terlihat tulus, tidak seperti biasanya. Aku mengalihkan mata ke sekitar dan serius moodku naik drastis hanya dalam hitungan detik.
“Aku mau naik kora-kora.” Seruku antusias, tak peduli bagaimana Raka kini menatapku.
Dia pasti bingung melihat perubahan ekspresiku yang mendadak. Tapi terserah apapun yang sedang dipikirkannya. Aku hanya ingin fokus menikmati wahana-wahana gokil di depanku hari ini. Tanpa permisi aku berjalan cepat menuju wahana yang ingin kunaiki.
Seusai mengukur tinggi badan, aku dipersilakan mengambil kursi kosong. Tanpa kusadari Raka terus berada tepat di belakangku saat mengantri. Ia juga duduk di sebelahku tanpa banyak bicara.
“WOAAA…..”
“UUUUU…..”
“AAAAA…..”
Suara teriakan berkumandang terdengar dari seantero Dufan. Bagaimana tidak, hampir semua wahana adalah permainan uji adrenalin. Aku bahkan yakin suaraku juga tak kalah kuatnya melepaskan seluruh energi tertahan dalam tubuhku. Hingga putaran terakhir aku belum bisa mengontrol degup jantungku yang terasa hendak melompat. Maklum saja, sudah lama aku tidak menguji kekuatan jantungku dengan permainan ekstrim seperti ini.
Selesai dari satu wahana, kami beralih ke wahana menantang berikutnya. Meski perutku masih merasa kaget dibawa turun naik dengan ketinggian di atas 20 meter tapi aku tidak peduli. Kami menuju roller coaster. Tak ada pembicaraan diantara kami berdua, hanya saling mengikuti kemana langkah kami membawa. Tak ada protes maupun adu mulut seperti waktu-waktu yang selama ini kami habiskan. Seolah kami menjadi diri kami sendiri di tempat ini.
Kami sudah menaiki 3 wahana berturut tanpa istirahat. Rasanya aku masih ingin mencoba wahana lainnya. Di saat aku hendak melangkah, tanganku tertahan, lebih tepatnya di tahan oleh seseorang.
“Istirahat dulu, kamu eenggak lelah?”
Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya. Baru saja aku ingin melepaskan diri, tapi lagi-lagi tanganku digenggam olehnya. Siapa lagi kalau buka Raka. Membuatku kembali mengurungkan hati dan menatapnya penuh tanya.
“Duduk dulu.” Ia menarik tanganku menuju bangku yang tersedia.
Jujur sebenarnya aku juga sudah merasa mual dan pusing. Begitu terduduk, aku menengadahkan kepalaku ke atas. Sialnya perutku bergejolak dengan hebat, hendak mengeluarkan isinya.
“Oaakkk…” Aku memegangi perutku yang tiba-tiba seperti diaduk aduk.
“Kan sudah kukatakan. Bandel.” Tak kusangka Raka malah memijat tengkukku. Meski tidak ada yang keluar dari mulut, tapi rasa asam langsung memenuhi indra pengecap. Parahnya kami tidak membawa minuman.
“Yakin masih mau main lagi?” Raka menatapku miris.
Ahh… hatiku ingin sekali memanfaatkan hari ini untuk menuntaskan hasrat liarku. Tapi perut dan kepalaku tak bisa diajak kompromi. Aku melirik wahana-wahana dengan lapar, namun mempertimbangkan kondisiku rasanya ingin menangis saja.
“Ini pasti karena kamu lapar. Kita makan saja dulu. Nanti kita bisa masuk lagi.” Bujuk Raka.
“Tapi sayang tiketnya beli lagi.” Jiwa pengangguranku sangat tidak berterima menyianyiakan tiket masuk yang harganya mahal itu.
“Aku yang bayar, tidak usah kayak orang yang merugi. Aku tidak mau digantung orangtua kita kalau kamu sampai kenapa-kenapa.”
Raka meraih tanganku, benar-benar telapak tanganku. Aku bahkan bisa merasakan hangat tubuhnya melalui jemariku. Kami keluar dari Dufan dan memilih mencari tempat makan. Di tepi pantai di bawah langit yang bersih membiru, kami duduk beruda saling berhadapan di saung yang tersedia. Pesanan kami datang, nasi ayam penyet dan the lemon.
Aku menatap ogah-ogahan sajian di hadapanku. Bukan aku tidak mensyukuri nikmat rezeki dari Tuhan, tapi memang aku tidak terlalu suka daging ayama. Lebih tepatnya bosan dengan menu yang membawa-bawa nama ayam, ayam penyet, ayam sambal balado, dan semua masakan yang berembel-embel tambahan ayam.
“Itu makanan buat dimakan, bukan dipelototin.”
Aku mencebik mendengar suara arogan Raka. “Siapa juga yang bilang makanan buat ditidurin.” Ketusku kesal. Tak ada balasan apapun dari Raka, ia hanya menikmati makanannya. Begitupun aku yang berjuang untuk meningkatkan nafsu makan, terlebih setelah adegan mual tadi rasanya selera makanku hilang mendadak.
Meski terpaksa, akhirnya aku berhasil menyelesaikan santapan tanpa tersisa, kecuali tulang belulan dan daun pisangnya. Tapi jangan heran jika aku sudah berkutat selama lebih dari 30 menit. Raka bahkan sudah menerorku untuk cepat mengunyah sejak 15 menit makanan tersaji. Wajar saja, dia hanya butuh kurang dari 15 menit untuk menghabiskan santap siang tersebut.
“Kayaknya kalau kamu tanding makan dengan ulat bulu, sudah jelas siapa yang akan kalah.”
“Memang eenggak ada hewan lain ya?”
“Kamu sama ulat, kura-kura, bekicot, itu sebelas duabelas. Lambat.”
Sebelah alisku terangkat, menatap sinis pada Raka yang tak habis-habisnya mengejekku. “Ejek saja terus, sampai puas.”
“Iyalah.”
‘Boleh eenggak sih ini bocah kutenggelamkan ke laut Ancol itu? Emosi gue.’ Ingin hati berkata demikian, tapi cukup tanam dalam hati.
“Kita eenggak perlu masuk lagi ke Dufannya. Kita naik kereta gantung saja.”
“Yah.. kok gitu Ka?” Aku kecewa dengan keputusan sebelah pihak dari Raka.
“Nanti isi perut kamu keluar semua. Aku tidak mau ambil resiko menahan malu kalau sampai kamu muntah di sana.” Ia bergidik seolah olah apa yang dikatakannya barusan sangat mengerikan.
“Tapi kan jarang-jarang ke sini. Sekalian saja sih.” Aku masih berusaha untuk merengek agar tetap diperbolehkan masuk. Rumah hantu saja belum dimasuki, sayang banget.
“Eenggak, kita naik yang di luar Dufan saja. Cari wahana yang tenang.” Raka kemudian bangkit berdiri dan melangkah membayar makanan kami ke penjual.
“Ayo…”
Aku melihat ke belakang tubuhku. Raka memanggil untuk mengikutinya. Bergegas kurapikan posisiku, meraih tas sandang dan mengekori pria semprul itu. Ternyata Raka membawaku ke loket kereta gantung. Ia memesankan 1 box kereta hanya untuk kami berdua. Aku sampai bingung dibuatnya.
“Kenapa hanya kita berdua?” Tanyaku dengan polosnya.
“Biar romantis.” Jawabnya tak kalah santai.
‘Gila ap aini cowok, kesambet seta napa barusan dia?’
“Kenapa lihatnya begitu? Eenggak suka?”
“Santai, eenggak perlu ngegas.” Ketusku.
Tanpa banyak komentar aku masuk ke box kereta. Lalu kotak persegi itu mulai membawa kami melayang. Dari sana aku bisa melihat hamparan taman bermain, garis pantai Ancol yang diisi para wisatawan, serta laut yang membentang biru. Satu kata untuk perasaanku saat ini, terpukau.
Tanpa sadar aku tersenyum menatap pemandangan indah yang terpampang di bawah sana. Sejenak aku melupakan ragam tanda tanya di kepalaku, bahkan aku melupakan ada Raka di kotak itu juga. Ia juga tak bersuara hingga aku terlena dengan kenyamananku sendiri.
“Segitunya, kayak eenggak pernah lihat pemandangan saja.”
Itu anak memang kalau berusara, kata-katanya tidak di saring terlebih dahulu. Langsung mengalir sampai jauh ke jantung, perlahan masuk ke hati dan menggerogotinya. Kalau tidak mengejek, ya meledek. Gitu saja terus sampai waktu yang tak bisa ditentukan.
“Aku sudah lama eenggak jalan-jalan.” Jujur saja aku memang tidak pernah pergi jauh dari jangkauan orangtua. Aku akui memang kakiku liar, tapi itu masih di seputaran kota kelahiranku.
“Padahal tadi pagi wajahnya kayak singa ingin menerkam mangsa. Sekarang kayak kucing lagi dielus-elus.”
“Diam kenapa sih. Ganggu saja.” Sentakku tak terima disamakan dengan hewan. Terhitung sudah kedua kali ia membandingkanku dengan hewan.
“Kayaknya aku tahu cara menjinakkan singa lapar. Tinggal bawa ke tempat hiburan anak-anak atau bawa melihat pemandangan.”
Aku melirik Raka yang duduk di depanku. Ia dengan gaya angkuhnya bersedekap, memandangku dengan tatapan meremehkan.
“Eenggak suka banget lihat orang bahagia.” Aku mendelik kesal melihatnya dengan tampah sombongnya itu. Kami terpaut usia 5 tahun, tapi demi celana squietwart yang tak pernah dipakai, aku tak bisa menghormatinya selayaknya yang lebih tua. Tapi kalau diajak berantem, aku maju paling depan.
Hingga kereta gantung kembali ke pangkalan, tidak banyak pembahasan diantara kami. Aku sibuk menikmati apa yang tersaji sepanjang mata memandang. Raka sibuk menatapku, entah apa yang dipikirkannya dengan melihatku intens. Tidak ada ekspresi apapun yang bisa kuprediksi, lagi pula aku tidak melihatnya secara terang terangan. Sekedar meliriknya sudah cukup, akan tidak baik jika kami saling menubrukkan pandangan, takutnya angin muson barat tiba-tiba berhembus.
Tak cukup sampai di situ, Raka mengajakku mencoba flying fox. Tentu saja aku menerima tawarannya dengan senang hati. Aku benar-benar menikmati hari ini. Ini adalah hari terbaik sepanjang kami bersama selama 5 hari ini. Apa sudah 5 hari? Koreksi jika salah, aku lupa.
Kami baru keluar dari Ancol setelah jam menunjukkan pukul 7 malam. Seusai menghabiskan beberapa jam di flying fox, kami memilih menikmati semburat jingga senja di pantai. Bersama ratusan pengunjung lainnya, kami berdua hanya diam tanpa obrolan. Hanya duduk berdampingan menikmati hari beranjak malam. Kemudian Raka masih mengajakku untuk makan malam di salah satu cafe kekinian. Di sana pun tidak ada pembicaraan penting ataupun genting. Raka tiba-tiba menjadi pendiam, sifat arogan dan sarkasnya untuk sementara lenyap tak berbekas. Berganti dengan diam yang justru membuatku tidak nyaman.
“Terima kasih untuk hari ini.” Ucapku tulus dari lubuk hati yang paling dalam.
Kami sampai di depan rumahku tepat pukul 10 malam. Rasa-rasanya Jakarta Pusat sudah kami lalui, meski hanya di dalam mobil. Ini adalah Sabtu dan malam minggu paling berkesan dalam sejarah aku hidup selama 23 tahun.
“Kamu senang?”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum membalasnya. Terlihat sorot mata yang lebih dewasa dan lembut terpancar. Ini momen langka, dan rasanya aku ingin mengikatnya untuk berlangsung setiap hari. Tapi aku mungkin juga akan rindu saat-saat kami bertengkar.
“Yasudah, kamu masuk, aku langsung pulang saja. Titip salam sama om dan tante ya.”
Lagi-lagi aku hanya mengangguk lalu keluar dari mobil. Raka membuka kaca mobil dan pamit pergi. Mobilnya segera berlalu setelah kusampaikan ‘hati-hati di jalan’. Tubuhku lelah, tapi entah mengapa hatiku terasa ringan serasa ingin terbang. Ternyata Raka versi cool tidak terlalu buruk.
***