MENERIMA BUKAN BERARTI CINTA

1393 Kata
Raka Tiga hari menjelang pernikahan kami, aku dan Nadine benar-benar dipingit. Kami tidak bisa bertemu sama sekali. Jangan kira aku sudah merindukannya, sama sekali tidak. Hanya saja rencana kami untuk saling mengenal menjadi terkendala. Maka mau tidak mau kami harus saling menerima setelah resmi menikah besok. Iya, besok kami akan melangsungkan pemberkatan nikah sekaligus resepsinya. “Woy bang.” “Berisik banget sih lu.” Aku sedang sibuk memeriksa pekerjaan kantor, dan si curut pengganggu yang sialnya adikku datang ke ruang kerja. “Yaelah yang besok mau nikah masih sibuk saja kerja. Istirahat woy, besok jadi raja sehari.” “Sok nasehatin, kayak lu sudah pernah nikah saja.” Ketusku, sembari tetap membaca data yang dikirimkan oleh sekretarisku. “Gue itu kalau soal teori sudah fasih. Tinggal praktek saja.” “Bangga banget baru tahu teori saja.” “Wess… iyalah. Daripada lu kagak tahu apa-apa.” “Besok siap gue selesai nikah, gue ajarin gimana prakteknya.” “HAHAHAHA..” Lah si Bambang malah ketawa. “s***p lu.” “Emang setelah nikah, kalian enggak malam pertama?” “Kagak.” Ow ow… keceplosan. “Bacot amat lu.” Aku harus menjaga mulutku agar tidak keceplosan lagi. Bisa berabe kalau sampai si curut itu sadar jika pernikahan besok hanya sekedar kesepakatan. “Ehh bang, perasaan lu gimana besok mau nikah?” “Memangnya harus gimana?” Aku berusaha membagi pikiranku antara menyeleksi berkas dengan mendengarkan ocehan adikku seputar pernikahan. “Iya, biasanya calon pengantin itu katanya deg-degan. Nah lu sendiri gimana?” “Biasa saja. Lu kebanyakan nonton video tak berguna sih di youtube itu.” “Apaan, itu valid kali. Kayaknya perasaan lu saja yang bermasalah. Bisa besok mau nikah hari ini masih ngerjain tugas kantor. Sempat ketahuan mama, habis lu bang.” “Ya lu jangan ember bocor jugalah.” Kami hening sejenak. Aku dengan berkas-berkasku, dan Arnold dengan pikirannya. Saat ini aku sedang tidak ingin merepotkan diri menebak apa isi kepalanya. Biarkan saja dia berpikir sendiri. “Bang.” “Hmm..” “Kira-kira besok Nadine secantik apa ya?” Pertanyaan itu menohok ingatanku, memutar ulang rekam jejak ketika kami fitting baju. Aku bahkan tak bisa menafikkan diri jika Nadine jauh lebih cantik dari ekspektasiku. Tanpa sadar aku tersenyum dan melupakan layar laptopku. “Ehhh si bangsul, ditanya malah senyam senyum sendiri.” “Hmm.. Lihat saja besok. Biar kejutan.” “Halah.. sok mau buat kejutan.” Aku kembali fokus pada data-data dan berkas di depanku. Membiarkan Arnold sibuk dengan tebakannya. Aku tak ingin mengakui jika Nadine akan terlihat cantik dengan gaun pilihannya. Tunggu saja sampai besok. “Bang?” “Apa sih Nol? Berisik banget. Mendingan lu keluar kalau hanya merusuh.” Aku sudah tidak bisa sabar menghadapi manusia yang suka sekali cari perhatian itu. “Gue mau nanya.” “Dari tadi lu sudah nanya.” “Lu sudah cinta sama Nadine belum?” Bughh… Seolah sesuatu baru saja menghantam hatiku. Rasanya sedikit sesak mendengar Arnold menanyakan hal itu. Aku tidak bisa mengatakan aku mencintai Nadine, karena memang aku tidak memiliki perasaan itu. Tapi jika aku mengakui kenyataannya, bisa jadi Arnold murka dan masalahnya mungkin bisa lebih besar dari yang bisa kuprediksi. Sungguh aku gamang hendak mengatakan apa. “Gue sudah tahu, cinta memang tak bisa hadir secepat itu. Apalagi kalian bahkan belum sebulan kenal.” Suara Arnold begitu miris mengiris egoku. Ia begitu paham tanpa aku jelaskan, membuatku merasa dia jauh lebih dewasa dari diriku yang 5 tahun lebih tua. Apa aku masih pantas dipanggil abang, ketika menghitung jam, perempuan yang dicintai adikmu akan menjadi istrimu. Dan paling menyedihkannya, aku menikahinya tanpa perasaan tulus. “Sorry.” Pada akhirnya hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Arnold mengharap banyak agar aku bisa mengasihi Nadine dengan sepenuh hati. Tapi semua itu belum bisa kutunaikan. Aku benar-benar tertekan dengan semua ini. “Enggak apa-apa bang, Nadine cewek kuat dan tangguh. Nanti juga kalian akan terbiasa. Kata orang cinta hadir karena terbiasa. Selama abang bisa membuat dia nyaman, dia pasti bisa bahagia. Nadine itu tipe perempuan yang mudah baper, mudah menyayangi orang yang membuat dia nyaman.” “Gue usahain.” “Okelah, gue mau cabut dulu. Mau cek hotel. Mana tahu entar bisa gue pasangin cctv di kamar pengantinnya. Kan lumayan bisa nonton live streaming malam pertama. “ “Ehh b*****t lu.” Aku otomatis berteriak mendengar ucapan Arnold yang tidak berakhlak. Ingin melempar sesuatu tapi rasanya sayang sekali barang-barangku berantakan. Jadi kubiarkan saja dia ke luar ruangan sambil terkekeh. Memang tidak ada sopan-sopannya adik yang sebiji itu. Meski sedikit terganggu dengan pembahasan singkat kami, aku masih mencoba fokus menyelesakan berkas yang sudah sempat kupegang. Bicara tentang perasaanku, aku benar-benar tidak merasakan debaran apapun. Kira-kira Nadine gimana ya? Jadi penasaran. Sudah 3 hari aku dan Nadine tidak saling berkomunikasi. Kami benar-benar dilarang bertemu, jadi aku memutuskan untuk tidak menghubunginya juga. Toh selama ini aku menghubunginya kalau hendak mengajaknya jalan atau berkunjung ke rumahnya. Jadi berhubung kami dilarang bertemu, maka komunikasi juga berhenti. Tapi sekarang sepertinya aku ingin menghubunginya. Aku penasaran apa yang dia rasakan beberapa jam menjelang menikah. “Nanti akan kuhubungi.” Aku kembali berkutat dengan laporan perusahaan, agar segera selesai. Butuh waktu 2 jam hingga benar-benar selesai. Aku baru saja mengirimkannya ke sekretarisku. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kuraih gawai dan mencari kontak Nadine. Tak butuh waktu lama bunyi nada sambung terdengar, namun tak kunjung dijawab. Aku mencoba hingga 3 kali tapi hasilnya tetap nihil. “Ini anak kemana sih?” Aku geram sendiri memikirkan panggilanku yang tak terjawab. Kan terasa seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Ehhh… canda. Aku mencoba peruntungan sekali lagi. Terdengar nada sambung tapi masih belum diangkat. Hingga ketika emosiku sudah naik, suara kasak kusuk terdengar menandakan panggilan sudah diangkat. “Hmmm???” “Kok suara kamu gitu sih?” Aku kesal mendengarnya hanya berdehem menjawab panggilanku. “Ini siapa?” Suaranya terdengar serak, dan dia tidak tahu siapa yang meneleponnya. “Kamu lagi ngapain sih Din? Baru bangun?” “Hnggg… Eh.. iya Ka? Kenapa?” “Kamu baru bangun?” “Iya, menyiapkan pasokan energi untuk besok.” What??? “Astaga… Dasar memang kamu malas.” “Aduhh.. kamu ngapain sih nelpon kalau cuma mau ngomel? Tutup saja ya.” “Ehhh tunggu..” mau matiin saja. Dasar enggak ada sopan, harusnya kamu itu nikah sama Arnold biar mirip bar-barnya. “Apa?” “Aku mau bertanya.” Ini sedikit menegangkan. Bagaimana bisa aku kepikiran untuk menanyakan perasaan Nadine. Dia bisa-bisa terbawa perasaan, dikira nanti aku suka sama dia lagi. Aku mulai meragu untuk bertanya. “Apaan woyy? Ngantuk aku masih nih.” “Gimana perasaan kamu saat ini?” Akhirnya terucap juga. “Hah??? Maskudnya?” Ini perempuan bodoh atau t***l sih? Heran aku bisa dijodohkan dengan perempuan telat mikir kayak begini. Buat emosi tiap saat. “Apa yang kamu rasakan saat ini? Besok kita nikah.” Mau tidak mau aku mengulang kalimat tanyaku. “Ohh.. aku ngantuk.” “Kok ngantuk sih? Makudku kamu enggak deg-degan buat besok?” Mulai kesal guys. “Ohh… memangnya kenapa aku harus deg-degan? Biasa saja tuh. Sudah deh, aku ngantuk mau tidur. Kamu juga istirahat biar besok eenggak tepar seharian.” Tut.. Sambungan dimatikan sebelah pihak. Memang gadis bar-bar ini tidak bisa menghormati yang lebih tua darinya. Setidaknya kalau dia tidak bisa menghargaiku sebagai calon suaminya karena dia tidak cinta, setidaknya dia menghormatiku sebagai yang lebih tua dari segi usia. Aku makin ragu bagaimana nanti nasib rumah tangga kami. “Ihh… kesal gue. Dasar cewek enggak jelas. Bagaimaan ceritanya si Arnold suka sama perempuan model begini sih?” Tapi dia sama sekali tidak merasa apapun. Artinya dia juga tidak memiliki perasaan apa-apa terkait pernikahan ini. “Huhh..” Setidaknya aku tidak perlu merasa bersalah. “Awas saja kalau nanti rumahku mirip kapal pecah setelah nikah sama dia. Kerjaannya molor terus.” Tapi lucu juga kasus kami. Orang lain biasanya dijodohkan akan membuat keduanya bertengkar, tidak damai. Atau salah satunya cinta yang satunya terpaksa. Kami? Dua manusia yang berusaha menerima kenyataan dengan lapang d**a, tanpa perlu membenci apapun atau siapapun. “Tuhan, aku hanya ingin yang terbaik ke depannya. Semoga pernikahan ini jalan terbaik.” Aku memilih untuk meninggalkan ruang kerjaku. Sepertinya mandi akan membuat kepala lebih dingin dan segar. Hari ini aku ingin menikmati masa terakhir lajangku. Terserah dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Nadine juga tidak terlalu buruk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN