MENIKAH

1632 Kata
Nadine Bayangkan saja bagaimana pernikaha yang sering kalian saksikan di drama-drama Korea. Tidak jauh berbeda dengan pernikahan kami, mungkin hanya di orang-orangnya. Tidak mungkin orang Korea yang berada di sini, sedangkan yang menikah aku. Convention Hall diubah sedemikian rupa, intinya bayangkan saja pernikahan ala Korea. Oke. Aku sebenarnya masih berada di ruang make up. Meski mbak-mbak saloonnya sudah selesai mendandaniku sejak 1 jam lalu, tapi aku masih dikurung di ruangan ini. Adapun yang masuk hanya orangtuaku, dan calon mertuaku. Sehhh.. calon mertua. Akhirnya enggak batal. Lama-lama tanpa teman juga membosankan ternyata. Padahal biasanya diriku juga menyendiri di kamar, tapi entah mengapa kali ini aku merasa kesepian. Mama dan mama mertua hanya datang melihat tadi, lalu pergi lagi menyambut tamu katanya. Sudah sejak tadi gawaiku kuotak atik, tapi justru membuatku semakin jenuh. Ingin keluar, belum diizinkan. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka menampilkan sosok mama dan papaku. Terlihat jelas ada semburat sedih di sana, mama bahkan seperti akan meneteskan air mata sebentar lagi. Sedangkan ayah terlihat tersenyum begitu tulus dan berwibawa. Cinta pertamaku terlihat sangat tampan dengan balutan jas mahal. Mereka sangat cocok bersanding memang, mama cantik dengan pakaian apapun, serta tubuhnya yang terawat membuatnya awet muda. Mama memelukku, ia mengelus punggungku begitu lembut seolah memberiku semangat. Kemudian perempuan yang menjadi saksi hidup bobroknya aku itu duduk di sebelahku. Tak lupa tanganku yang digenggamnya sejak tadi. “Mama bahagia hari ini. Melihat putri mama terlihat sangat cantik. Mama bahagia karena sebentar lagi mama tidak perlu lagi mencemaskan putri bungsu mama.” Lirihnya begitu tenang. “Selama ini aku nyusahin ya ma?” Entah mengapa kau justru mengambil makna negatif dari penuturan mama. Tiba-tiba saja hatiku menjadi melankolis dan sensitif, padahal bukan lagi datang bulan. “Kamu sangat menyusahkan bahkan.” “Ihh mama.” Aku merajuk kesal saat mama membenarkan perkataanku. Padahalkan aku ingin mama bilang aku putrinya yang paling cantik, baik, dan penurut, meski tidak pernah bisa menabung. “Mama dan papa bahagia karena akhirnya ada satu orang lagi yang akan menjaga kamu sayang, yang akan mendampingi kamu. Bahkan ia yang akan menjadikanmu prioritasnya.” ‘Aelahhh ma, belum tahu saja itu sifat menantu mama bagaimana. Maafin Lia ya ma, Lia eenggak bisa mengutarakan semua kong kali kong diantara kami berdua.’ Hatiku terluka mengakui jika semua ini tak lebih dari sebuah kesepakatan sandiwara. Tapi aku tak kuasa harus menyampaikannya pada kedua orangtuaku. Mereka akan mengira kami mempermankan perniakan suci ini. Akhh.. sebenarnya kami memang sudah merencanakan m*****i pernikahan ini. Toh kami sepakat akan bercerai suatu hari. ‘MAAF’. “Sudahlah ma, acaranya akan segera dimulai. Kita harus bersiap.” Papa menginterupsi acara sedu-sendu kami. “Ayo nak, kita temui mempelaimu.” Papa mengarahkan tangannya yang langsung kusambut. Aku menggandeng pria yang menjadi orang pertama di dunia ini tempatku berlabuh. Sosok yang tidak akan pernah terganti, biar kata si k*****t Raka itu jadi suamiku sekalipun. Bahkan sekalipun ada ayah ayah lain yang ingin menjadikanku anaknya, tetap tidak akan pernah bisa menggantikan papaku. Bahkan paling tidak masuk akalnya, semisal aku bukan anak kandung, aku hanya akan menganggap papa yang kugandeng sekarang sebagai pria yang membuatku ada di dunia ini. My first love. Dengan perlahan aku melangkah mengikuti langkah papa yang sudah dipendekkannya. Maaf-maaf saja, tapi sepatu heels masih belum bersahabat dengan kakiku. Bukan aku tidak bisa mengenakan sepatu tinggi, tapi kakiku lebih cepat pegal. Maklumlah, tidak terbiasa. Belum lagi gaun kepanjangan yang terkesan mengepel lantai harus diangakt sedikit. Salah langkah, bisa mencium lantai bibirku. Sampailah kami di depan sebuah pintu coklat. Bisa ditebak, jika dibuka maka akan nampak orang-orang di dalam sana yang akan menyambutku. Jadi seolah artis mendadak. Ada mama di sebelah kananku berjalan lebih anggun daripada aku. Pintu itu terbuka menampakkan ruangan luas yang sudah dipenuhi hiasan berwarna emas dan putih. Mataku langsung terpatri pada sosok menyebalkan yang akan menjadi suamiku di tengah ruangan bersama seorang pendeta. Melihat kedatangan kami, ia datang mendekati hingga kami bertemu di tengah jalan. Perlahan tapi pasti, ayah melepas gandengannya dan menyerahkan tanganku pada Raka. Andai aku tidak sadar jika semua ini adalah kontrak kerja, pasti hatiku sudah melayang ke angkasa melihat senyum Raka. Kami memang aktor yang hebat, sudah bisa masuk layar lebar. Aku bahkan sangsi ada yang menebak isi hati kami berdua. Tahu apa yang paling menegangkan? Sial tiba-tiba saja jantungku berdetak tidak normal. Tanganku berkeringat dan kakiku mulai gemetaran. Pemberkatan nikah akan segera diucapkan, di depanku Raka sudah berdiri dengan begitu gagah, jangan lupakan ekspresinya yang terlihat ikhlas. Memang dasar aktor kawakan. Selama pengucapan janji nikah, aku takut akan luruh. Suaraku terdengar bergetar, bahkan sangat jelas di telingaku. Betisku mulai pegal, dan nafasku sedikit sesak karena detak jantungku yang bertalu-talu. Apa Raka merasakan apa yang kurasakan saat ini? Ternyata bukan hanya pengucapan janji yang buat spot jantung. Aku melupakan bagian cium kening. ‘Astaga Lia, mampuslah.’ Demi pangeran kodok, seumur hidup yang pernah mencium aku itu hanya papa aku. Rasaya tak ikhlas dicium Raka, aku bahkan tidak cinta padanya. Cup Sudahlah, itu harus terjadi. Suka atau tidak, mau atau tidak, tak bisa lagi dielakkan. Semoga jidatku tidak bau jigong. Serius itu aku tidak tutup mata, Raka sendiri yang melangkah mendekat dan meraih kepalaku. Beruntung dia lebih tinggi dariku, sial untukku. Tibalah acara paling melelahkan dan sebenarnya jika boleh meminta, tak perlu ada resepsi. Tapi apa daya, sebagai pihak yang tidak berkepentingan meskipun jadi subjek utama, aku harus mengelus d**a. Jadi, aku sudah mengganti sepatu tinggiku dengan sendal yang lebih nyaman. Terserah aura cantiknya hilang, sepatunya tidak akan terlihat dibalik gaun selantai ini juga. Hingga pukul 1 siang, tamu masih terus berdatangan. Bersyukur sekali dapat master ceremonynya peka, jadi kami diizinkan istirahat untuk makan. Sempat tidak diperbolehkan, auto kuguncang gedung ini pake teriakan. Mana tahu kalau diteriakkan dengan sepenuh hati bisa seperti di film Kungfu Hustle, suaranya menerbangkan orang. Arnold datang membawakan sepiring makanan beserta sepasang sendok. Aku dengan hati yang gembira menerimanya dari tangan pria tersebut. Jangan harap aku memikirkan pria yang sudah resmi menyandang gelar suamiku. Aku hanya ingin mengisi perutku yang sudah meronta minta diisi. “Ehh.. tunggu.” Baru saja ingin kusuapkan ke mulut, malah ditahan Arnold. “Apaan sih? Lapar nih.” Keluhku sambil menatap sinis pada adik iparku itu. “Kalian makan berdua.” Serunya polos. “HAH??? Maksud lo sepiring berdua gitu?” Aku tidak terima, ini namanya memaksa kami untuk bersikap romantis. “Ehh Bambang, ini makanan yang kau bawa juga sedikit. Enggak cukup dibagi dua.” Alih-alih menentang, aku memilih beralasan lain. “Cukup-cukupkan. Oke, gue mau makan. Berterimakasihlah karena aku masih mengingat kalian.” Mulutku masih ingin berkomentar tapi manusianya sudah kabur menjauh. Aku menatap sedih kea rah piring yang kupegang sejak tadi. Lalu beralih pada pria di sebelahku. Aku memasang wajah memelas yang dibalasnya dengan datar. “Biar aku ambilkan untukku sendiri, makan saja.” “Eit.. enggak perlu.” Kutahan tangan Raka sebelum mengacaukan suasana. Kalau sampai dia mengambil makanan sendiri, apa kata orang nanti. Mereka bisa-bisa mencibir kenapa aku sudah makan, sedang dia masih mengantri mengambil makanan. Bagaimanapun kami masih harus menjaga citra pasangan saling mencintai. Ini adalah bukti dari, ‘sekali berbohong maka akan diikuti kebohongan-kebohongan lainnya.”’ Tapi sudah terlanjur basah, mari kita mandi sekalian. “Kita makan sepiring berdua saja.” Ucapku dengan lesu sambil menatap nasi dan kawan-kawannya di piring. “Itu enggak cukup buat kita berdua.” “Cukupkan, kita harus belajar berbagi mulai sekarang.” Seruku sambil berusaha mengusahakan aura ceria. Kutatap wajah Raka yang menaikkan satu alisnya. Aku hanya memasang senyum sok polos. Aku sebenarnya sedikit malu mengucapkan kata-kata barusan. Bisa salah paham anak orang. “Yasudah sini aku suapin.” Raka meraih piring dari tanganku. Aku yang masih kaget mendengar penuturannya tak bisa mempertahankan piring di tanganku. Bayangkan seorang makhluk seperti Raka menawarkan diri untuk menyuapi? Apa dia baper karena ucapanku tadi? “Buka mulut.” Aku masih diam menatap tingkah Raka yang menyodorkan sendok. “Buruan, nanti diduluani lalat.” Tanpa perintah kedua, aku membuka mulut dan menerima suapan pertama. Tak lama ia juga menyendokkan makanan ke mulutnya. Aku masih sibuk dengan kunyahan dan kepalaku yang penuh tanda tanya. “Kamu enggak jijik gitu?” Raka menggeleng pelan, karena mulutnya masih penuh dengan makanan. Ia terlihat santai mengunyah tanpa merasa geli karena sendok bekas dari mulutku. Ahh… Raka memang masih terlalu penuh misteri bagiku. “Aaa..” Ia kembali menyodorkan sendok, dan aku menerimanya dengan perasaan yang tak menentu. “Kamu baru saja bilang kita harus membiasakan diri untuk berbagi. Jadi kita mulai dari sini. “ ‘Ini anak kesambet dari mana bisa bijak begini? Apa jangan-jangan dia merencanakan sesuatu? Dasar laki-laki, sama saja otaknya. Awas saja kalau dia minta sesuatu nanti. Habis dia kubuat.’ Kepalaku sibuk menebak apa niat terselubung Raka dengan bersikap romantis dan baik hati. Bahkan sekalipun kami sedang di panggung menghadap ke arah tamu undangan, tatap saja dia tidak perlu bertingkah demikian. Pasti ada udang di balik bakwan. Seusai makan, kami kembali disibukkan dengan memberi salam kepada tamu-tamu undangan. Teman-teman sejawat dan juga rekan-rekan kerja. Jangan tanya teman siapa, pastinya bukan temanku karena aku kategori manusia minim pergaulan. Temanku hanya 3 dan itu sudah sejak pagi berada di ruangan ini. Jadi untuk siang hingga sore adalah kenalan Raka, baik teman-temannya yang rata-rata laki-laki, bawahannya di kantor, hingga rekan bisnisnya. Pukul 7 kurang 15 menit acara hampir rampung. Kami dipersilakan meninggalkan ballroom, dan tentunya kuterima dengan bahagia sekali. Kakiku pegal berdiri terus, dan tubuhku sudah lelah mengenakan gaun yang berat dan ribet. Segera saja aku menarik tangan Raka untuk ke kamar pengantin kami. Jangan kira aku melakukannya karena kegiatan setelah pernikah. Big no. tapi karena si Raka semprul alias suamiku itu masih betah ngobrol dengan teman-temannya. Aku butuh istirahat dan butuh dia untuk membantuku sampai ke kamar. Tidak mungkin aku ajak Arnold, sedangkan orangtua masih asyik berbincang dengan rekan bisnis mereka. Jadi mau tidak mau aku harus menarik paksa suamiku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN