MALAM PERTAMA

1661 Kata
Mohon bagian ini tidak dianggap serius.  Raka “Ngapain sih? Aku masih harus ngobrol sama teman-temanku.” Aku sungguh kesal dengan Nadine yang seenak jidat menarik tanganku ke kamar. Padahal tadi aku masih asyik berbincang dengan teman lama yang sudah jauh-jauh datang ke acara pernikahanku. “Buka.” Nadine memberikan punggungnya kepadaku, dan aku menatapnya tak mengerti. Aku masih terpaku tak paham dengan apa yang diinginkan gadis yang baru saja menyandang gelar istri. Tiba-tiba terbersit dalam kepalaku tentang hal yang iya-iya. Apa dia benar-benar berharap aku melakukannya sekarang? Apa dia sungguh tidak tahu jika aku sangat lelah. “Ihhh cepat dong, gerah nih.” Nadine bergerak tidak nyaman dan aku justru mulai gerogi. Astaga, meski aku pria normal tapi aku sungguh tidak siap. Tanganku sedikit gemetar menyingkirkan rambut Nadine yang terurai. Ia segera menariknya ke depan dan menampakkan kulit leher yang putih bersih. Jangan salahkan aku jika tiba tiba tergiur. Tahan Raka, tahan. Berulang kali aku menekankan kata ‘tahan’ dalam otakku. Kuraih sleting baju lalu menariknya ke bawah. Demi kebaikan bersama, aku akhirnya menutup mata, tak ingin menyiksa diri sendiri nantinya. “Oke, sudah. Terima kasih.” Perkataan Nadine menghentikan gerakan tanganku dan tak perlu kulihat pun bisa kutebak dia sudah beranjak ke kamar mandi. “Gila, sesak nafas gue.” Tanpa sengaja sepertinya tadi aku menahan nafas saking gugupnya. Berhubung sudah di kamar, akhirnya aku memilih untuk beristirahat saja. Kulepas jas yang masih menempel di tubuhku. Kulemparkan begitu saja ke kursi yang ada, disusul dengan dasi. Kubuka 2 kancing teratas kemeja dan merebahkan tubuh di kasur yang bertabur dengan kembang mawar merah. “Kampungan banget sih pakai bunga-bungaan begini. Bukannya romantis, ini sih mengganggu. Kan enggak lucu kalau nempel di mana-mana.” Aku memungut bunga yang menempel di kulitku, sangat mengganggu. Masih begini saja sudah lengket, bagaimana kalau nanti keringat? Sejenak kupejamkan mata, menikmati rileksasi singkat setelah menjadi raja sehari. Baru kali ini aku sadar menjadi raja itu ada tidak enaknya. Seperti tadi, berdiri sepanjang hari menyambut tamu, pasang senyum sampai rasanya pipiku sudah melebar dan pegal. Belum lagi seharian mengenakan jas yang pengapnya luar biasa. Kulitku jadinya tidak bisa bernafas, alhasil hasil ekskresinya terbuang dan tertinggal di sana. Dari arah kamar mandi, terdengar jelas bunyi air bercampur suara perempuan bernyanyi. Mengingat kejadian barusan, tubuhku sedikit bergidik membayangkan tubuh Nadine di kamar mandi tanpa pakaian sehelai pun. Aku bukan lelaki naif yang tidak pernah menonton film p***o, tapi tetap saja bawaannya justru geli. Mungkin pengaruh tidak ada rasa sama sekali pada perempuan yang sekarang sedang mandi itu. Perlahan mataku terbuai, menutup dan semakin tak bisa ditahan. Suara Nadine yang sebenarnya lumayan merdu mampu menenangkan. Hingga tiba-tiba suaranya berteriak dan merusak ekspektasi untuk tidur nenyak. “Shhhh.. mengganggu saja sih.” Aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal karena geram. “KA… AMBILKAN HANDUK…” “Aelah, di kamar mandi ada handuk, ngapain pakai dari luar sih.” Aku benar-benar tak berniat untuk beranjak dari posisiku sekarang, rebahan. “KAA… BURUAN.” “DI SITUKAN ADA HANDUK… “ Aku balik berteriak. “ENGGAK MAU, AKU MAU PAKAI HANDUKKU. BURUAN AMBIL DI KOPER. PALING ATAS.” Mau tidak mau aku beranjak dengan sangat malas menuju koper yang dimaksud. Mataku menyapu seisi ruangan dan menemukan benda yang kucari di bawah meja. Kuambil handuk yang dimaksud, ada dua handuk. Entah mana yang diinginkan gadis itu. “Ck, nyusahin aja sih. Baru beberapa menit jadi istri.” Aku bingung mana yang harus kuambil. “MANA, LAMA BANGET.” Teriak terus, enggak putus apa itu pita usara teriak mulu. “Ini yang mana? Handuknya ada 2.” Jawabku sedikit kuat, terserah dia dengar atau tidak. “WARNA PUTIH.” Sesuai dengan arahan, kuambil handuk putih dan melangkah ke arah kamar mandi. “Ini, di luar.” Aku bersandar di tembok samping pintu kamar mandi sambil memegang handuk yang terulur tepat di depan kamar mandi. Klik.. Satu tangan terjulur meraihnya, mata tanpa sengaja melihatnya. Lengan itu putih dan masih terlihat basah. Butiran butiran air yang menempel membuat tangan itu tampak …. seksi. Padahal bukan hal baru aku melihat tangan Nadine, selama ini dia juga bukan perempuan yang mengenakan baju tertutup. Tapi melihat tangan itu basah dan pastinya tidak ditempeli baju hingga lengan atasnya, membuat hatiku berdesir. Shit.. Aku mengalihkan pandangan secepat mungkin dan mencari hal lain untuk dipikirkan. Bisa gila aku kalau terus membayangkan Nadine. Ini salahnya, kenapa tadi dia menyuruhku menarik sleting gaunnya. Aku beranjak keluar dari kamar hendak mencari sesuatu yang bisa menjadi kesibukan. Berlama-lama di kamar ini bisa membuat kepalaku pecah. “AKU KELUAR SEBENTAR.” Teriakku berpesan pada Nadine. Entah dia menjawab atau tidak, aku tak tahu karena pintu kamar sudah kututup rapat. Kulangkahkan kaki ke arah ujung lorong hotel. Di setiap ujung lorong terdapat ruang untuk melihat pemandangan dari balik kaca. Aku memutuskan menatap hamparan rumah-rumah warga yang tak bisa dikatakan rapi. Sebenarnya aku ingin turun ke bawah, tapi kupikirkan lagi jika pasti tamu undangan masih di sana. Sebaiknya aku menghabiskan waktu beberapa saat sambil menunggu Nadine selesai dengan urusannya di kamar. Sejenak pikiranku melayang membayangkan kembali awal terjadinya hubungan ini. Ikatan yang dipaksakan, tanpa ada rasa dari kami berdua. Jujur saja aku belum tahu apa yang harus kulakukan setelah ini. Bagaimana aku harus memperlakukan Nadine? Kedekatan kami selama seminggu terakhir tidak terlalu banyak memberi pengaruh. “Sepertinya aku harus bicara dengannya. Huhh… Ini tidak akan berlalu dengan mudah.” Mataku tertuju pada rumah-rumah yang ada di bawah sana. Beberapa deret ruko, rumah yang terlihat mewah milik orang kaya, juga rumah-rumah sederhana khas masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Rumahku tidak akan terlihat dari sini, karena lumayan jauh. Bagaimana nasib rumah tangga ini kelak? Jika saja ini hanya sebuah bangunan yang bisa dibongkar untuk dibangun kembali mungkin tidak perlu terlalu dipusingkan. Tapi ini jauh dari itu. Tuhan, bagaimana kami bisa menjalani semua ini nanti? Bagaimana hubungan suami istri bisa terjadi saat kami sama-sama tidak saling menginginkan. Cukup lama aku termenung menatap nanar pada bangunan yang berada jauh dari jangkauan itu. Terlalu banyak pertanyaan yang bercokol di benakku, tentang masa depan. Pada akhirnya aku hanya menyerah pada apa yang nanti diberikan keadaan. Bukankah kalau sudah jodoh maka akan tetap berjodoh? Kuputuskan kembali ke kamar. Kulihat pemandangan yang tidak seharusnya aku saksikan, atau mungkin belum saatnya. Oh sial, ini sudah 2 – 0 untukku. Nadine masih asyik menari-nari di depan kaca dengan handuk menutupi bagaian tengah tubuhnya. Gadis itu sungguh tidak menghargai diriku. Tapi tunggu, dia bahkan tidak sadar aku sedang memperhatikannya. Ck, bagaimana kalau tadi orang lain yang masuk? “Ngapain di pintu kayak mau maling? Enggak mandi? Aku sudah siap, sana mandi!” Sepertinya dugaanku salah. Kini matanya menatapku seperti seorang ibu yang akan memarahi putranya karena tidak pulang untuk mandi sore. Penuh ancaman dan sedikit membuatku kikuk sendiri. Aku berusaha menormalkan detak jantungku yang sedikit di luar kendali, dan dia malah dengan santai berjongkok membongkar kopernya. Astaga, itu paha tersingkap, kenapa enggak sekalian saja handuknya dibuka. Aku menarik nafas dalam dan menghindari pemandangan yang sangat rugi jika dilewatkan. Tapi aku tidak ingin menjadi laki-laki b******k dengan menikmati sesuatu yang tidak seharusnya. Tapi, bukannya kami sudah resmi suami istri? Harusnya bisa dong, bahkan lebih pun. Tak mau semakin jauh berpikir aku masuk ke kamar mandi. Melepaskan seluruh pakaian dan hendak membasuh tubuh gerahku dengan kesegaran air shower. Tapi urung begitu lagi-lagi suara teriakan mengembalikanku pada kenyataan, “Aku kok bisa punya istri dengan suara semenggelegar harimau?” “KA, BUKA DULU. INI HANDUKNYA. JANGAN PAKAI HANDUK DI SANA, ENGGAK STERIL.” "Dia punya penyakut paranoid pada kebersihan apa?" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Sungguh ini belum ada 1 hari kami menjadi suami istri, tapi repotnya melebihi pasutri beranak 5. Mau tidak mau untuk menghindari teriakan yang lebih kuat lagi, aku memunculkan kepalaku di sela-sela pintu yang terbuka. Tampak Nadine sudah berpakaian lengkap sedang menyerahkan handuk berwarna hijau toska. Itu bukan handuknya tadi, artinya kami berbeda handuk. Itu bagus. Tanpa pikir panjang aku menariknya dan melanjutkan acara mandiku. Entah sudah berapa lama aku di kamar mandi, yang kutahu jari kakiku mulai keriput karena terlalu lama bersentuhan dengan air. Rasanya cuaca Jakarta semakin panas saja, sehingga berada di bawah guyuran air laksana menemukan oase di gurun pasir, versi alaynya. Sebenarnya ini akibat pemandangan sebelum mandi yang tak kunjung beranjak dari kepalaku. Ayolah, aku pria normal yang ibarat kucing ditawari ikan asin pasti tidak akan menolak. Meski sedikit enggan keluar tanpa pakaian, akhirnya aku mengumpulkan tekad untuk lepas dari kecanggungan ini. Bagaimanapun kami sudah menikah, dan saling melihat itu hal yang biasa. Lebih tidak masuk akal jika dia kusuruh mengambil pakaianku lengkap dengan kolor di dalam koperku. Itu akan lebih canggung lagi. Pemandangan pertama yang kulihat adalah seorang gadis dengan rambut terurai setengah berbaring di kasur. Ia tampak asyik mengoperasikan gawainya. Jangan lupakan ekspresinya yang serius seolah ia sedang melaksanakan ujian sidang meja hijau. Tapi dia tampak lebih dewasa dengan raut wajah serius begitu. Pikiranku kacau, kenapa juga aku harus memperhatikan Nadine? Mari kita ambil baju saja. Baru saja aku hendak meraih koperku yang bertepatan berada di sebelah koper milik Nadine. Sebuah suara sekali lagi menggagalkan kegiatanku. Suara siapa lagi selain suara nyonya Praja yang baru, alias Nadine Aurelia. “Itu baju kamu di atas ranjang, pakai itu saja sudah kusiapkan. Tapi ganti bajunya di kamar mandi, jangan di sini.” Aku menatap setelan baju tidur yang disebutkan Nadine. Kuraih dan kuperhatikan dengan cara saksama. Kulirik sekilas pakaian Nadine, dan itu bermotif sama dan warnanya sama. Apa-apaan ini? “Ini bukan bajuku.” Protesku tak terima dengan pakaian yang aku tidak tahu asal usulnya darimana. Belum lagi kembaran dengan Nadine. Astaga, ini sungguh kampungan sekali. “Itu pemberian mama kamu, dipakai saja. Nanti mama kecewa kalau kamu enggak pakai.” Tanpa melihatku sedikit pun ia mengaturku seolah aku ini anaknya. Aku mendengus kesal menatap baju tidur di tanganku. ”Demi mama” batinku mengikhlaskan. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengenakan setelan kemeja tidur dengan celana panjang berbahan satin itu. Jangan lupa celana dalam yang pasti diambil Nadine dari koperku. Dia benar-benar seperti istri sungguhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN