KESEPAKATAN

1391 Kata
Nadine Begitu Raka keluar dari kamar mandi setelah berpakaian, aku tak membuang buang kesempatan. Ini adalah malam paling sakral diantara kami. Bukan karena ini malam pertama, jadi sedikit menarik bagi pasangan pengantin baru. Sama sekali tidak, justru ini dalam rangka lainnya. “Kita perlu bicara.” Sergahku saat dia masih asyik di depan cermin mengeringkan rambutnya. Kurasa juga dia sedang asyik meneliti penampilannya dengan baju tidur kembar kami. Ini ulah mama mertuaku. “Raka, ini penting.” Kembali aku mencoba menarik atensinya dan akhirnya dia mengalihkan pandangannya padaku. Ekspresinya bahkan sedatar lantai keramik kamar ini. “Beberapa hal perlu kita luruskan dan sepakati.” Tembakku langsung. Aku tidak suka bertele-tele. “Kau ingin mengajukan perjanjian? Apa menurutku ini sebuah acara syuting film? Dimana kameranya?” Aku tidak yakin Raka tidak paham apa yang kumaksud dengan kesepakatan. Tapi gelagatnya yang seolah sungguh-sungguh menganggap ada kamera tersembunyi membuatku kesal sendiri. Bagaimana mungkin dia meneliti sudut ruangan untuk mencari kamera. Dia benar-benar mencari benda yang tak mungkin ada di kamar pengantin baru. Suamiku gila. “Berhentilah melakukan hal bodoh Raka. Aku tidak sekurangkerjaan itu untuk melakukan prank. Lagipula tidak ada untungnya bagiku.” Perlahan ia menghentikan kegiatannya dan mendekat padaku. Tepat berada di depanku namun masih berdiri, ia menatapku dalam. Tangannya diletakkan di pinggangnya. Raut wajahnya seolah hendak menyampaikan, “Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?” “Kita harus membuat kesepakatan diantara kita.” “Untuk apa?” Tanyanya polos. “Untuk menjamin masa depan pernikahan ini akan berakhir bagaimana.” “Memangnya ada apa dengan pernikahan ini?" Aku mengernyitakn dahiku dan menatapnya heran. Apa tadi dia kejeduk di kamar mandi hingga kehilangan daya ingatnya? Atau di kamar ini ada makhluk lain yang merasukinya hingga Raka menjadi pribadi yang berbeda? Jelas pria yang sedang kuhadapi saat ini berbeda dengan Raka yang selama beberapa minggu ini mengitari hari-hariku. “Apa kau baru saja hilang ingatan? Atau kau merasa sesuatu memasuki tubuhmu?” Tanyaku pelan dengan penuh keraguan. Takut jika nanti dia sungguh kerasukan setan, dan setannya tersinggung dengan apa yang kusampaikan, kan bisa berabe. “Aku baik-baik saja Nadine. Sekarang jelaskan maksud dari ucapanmu apa? Kenapa kita harus mengadakan kesepakatan?” “Kita sudah pernah membahas ini sebelum menikah.” “Kapan?” Dahi Raka membentuk lipatan karena mencoba mengingat sesuatu yang aku sendiri juga jadi ragu. “Lupakan saja, sekarang kita buat kesepakatan.” Baiklah, tidak penting masalah pernah atau tidak hal ini dibahas, kurasa itu juga hanya halusinasiku karena kebanyakan membaca novel dengan alur cerita begitu. “Duduk di sini.” Aku menepuk bagian kasur yang kosong di sebelahku. Dan dengan begitu penurutnya Raka melakukan yang kuperintah. “Jadi apa kesepakatan kita?” Aku suka cowok yang tidak banyak basa basi. ”Itu yang sekarang akan kita pikirkan.” “Kukira kau sudah merancangnya dan aku hanya perlu menerima atau menolak. Biasanya di film-film begitu bukan?” Tembaknya langsung, wah… aku benar-benar mendapatkan lawan yang seimbang. “Dan kita bukan sedang syuting film.” Tegasku mengingatkan, kalau-kalau dia berhalusinasi. “Jadi apa yang kamu inginkan?” Raut wajahnya kini berubah menjadi serius. Seketika aku justru kikuk dibuatnya. “Pertama, kita sekamar. Mencegah jika sewaktu-waktu keluarga kita datang berkunjung dan kita tidak ada persiapan. Kedua, tidak ada skinship tanpa kesepakatan. Aku tidak suka disentuh sentuh, jadi jangan berpikir jika kita seranjang kau bisa macam-macam.” “Aku juga tidak tertarik denganmu.” Sontak aku terhenyak dan menatapnya tajam. Bahkan sekalipun aku tidak ingin menjalin hubungan suami istri dengannya, tapi tetap saja ucapannya barusan membuat harga diriku sedikit tersentil. Dia mengatakan aku tidak menarik, ohhh my. “Kuharap kau tidak berubah pikiran ke depannya.” Sinisku, sungguh raut wajahnya yang santai itu menambah luka harga diriku. Suami kurang diajar. Dia bahkan hanya mengangkat bahunya. “Jadi apa kesepakatan ketiga?” “Kita bebas menemukan cinta sejati kita. Jika suatu saat salah satu dari kita menemukan pasangan lain yang cocok, maka bisa mengajukan permintaan cerai.” “Oke.” “Keempat, kamu tetap yang memberiku nafkah.” Tampak dia memutar bola matanya. Sayangnya mau tidak mau dia harus menurutinya. “Baiklah, kelima kau harus memastikan aku tidak melihat rumahku berantakan, makanan sudah harus ada saat aku pulang. Dan tidak ada pembantu.” Di kalimat terakhir, dia benar-benar menekankannya. Tebakanku, aku menikah untuk beralih profesi dari pengangguran jadi pembantu. “Oke deal.” “Deal. Itu saja?” “Dariku iya.” “Baiklah, kalau begitu sekarang bisa kita tidur?” Aku mengangguk, dan dia segera memperbaiki posisinya hingga berbaring. Aku hanya menatapnya yang tidur telentang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut hingga d**a. Aku sungguh tidak percaya jika sekarang aku sudah resmi menjadi istri seseorang. Mengingat semua ini ingin rasanya aku memukul kepalaku. Kujambak rambutku untuk menciptakan rasa sakit lain, mengalihkan stres mengenang pernikahan dan membayangkan masa depan kami berdua. Aku sama sekali tidak menyesal, tapi bukan ini pernikahan yang kuimpikan. Aku bahkan sudah berandai-andai untuk menikahi seorang lelaki yang kucinta, serta mencintaiku juga. Seorang pria kaya yang akan membuatku hanya perlu ongkang-ongkang kaki bagai ratu di rumahnya. Mendapatkan perhatian dan peluk cium setiap hari. Semua sirna hanya dengan melihat wajah Raka di sebelahku. Tapi bagaimanapun aku berharap, tak ada yang bisa diubah lagi. Saatnya adalah menerima dengan ikhlas lalu menjalaninya hingga kami bisa mengakhiri pernikahan ini suatu hari dengan cara baik-baik. Kurebahkan tubuhku dengan posisi telentang. Kutatap langit-langit kamar hotel, tubuhku lelah, tapi mata ini rasanya enggan untuk terpejam. “Kenapa belum tidur?” Suara Raka membuatku mengalihkan atensi pada pria itu. Ia juga menatap langit-langit. “Entahlah, mataku tak ingin terpejam.” “Karena kau tidak memejamkannya.” “Untuk apa aku memejamkannya jika ia bahkan tak ingin nyenyak?” “Sama. Aku juga tak bisa tidur.” “Kau mengkhawatirkan sesuatu?” Tanyaku pelan, entah mengapa aku ingin menanyakan hal tersebut. Tiba-tiba saja terlintas dibenakku. “Ya.” Suaranya pelan namun tidak ada nada ragu, hanya saja tatapannya masih melihat ke atas. “Apa?” Aku sudah memiringkan tubuhku menghadapnya. “Aku tidak menikah hingga usia ini, bukan karena aku tidak bisa menemukan perempuan yang bisa kucintai.” Sejenak ia terdiam, ingin kutanya kenapa, tapi segera ia melanjutkan ucapannya. “Aku takut salah memilih pendamping. Kau tahu, terlalu banyak pernikahan berujung perceraian, anak-anak yang terlantar lalu kehilangan pendirian karena tak pernah merasakan kehidupan keluarga yang sesungguhnya. Aku takut membangun rumah tangga yang pada akhirnya hancur.” Anehnya Raka tertawa, tawa kecut yang seolah hendak mengejek. “Tapi kini kita terjebak disebuah rumah tangga yang bahkan sudah kita pastikan akan hancur.” Perlahan tapi pasti suaranya melemah dengan pandangan yang masih kosong menatap langit-langit. Boleh aku mengakui satu hal? Aku terluka dengan pengakuannya. Membayangkannya saja sudah sesesak ini, bagaimana lagi untuk menjalaninya? Dan malam ini aku mengenali satu sisi lain dari Raka, ia memiliki pemikiran yang dewasa. “Setidaknya kita tidak akan membuat kehancuran anak, karena tidak akan ada mereka diantara kita.” Bukan, bukan itu yang ingin kuutarakan untuk menghiburnya. Tapi aku juga tak bisa mengendalikan mulutku untuk mengungkapkan itu. “Iya, kau benar. Bukankah rumah tangga kita terasa lucu? Kurasa hanya kita yang menikah dan membina rumah tangga tanpa menginginkan anak. Jujur saja, aku ingin memiliki keturunan, melihat anakku lahir dan membesarkannya. Memberikan seluruh kasih sayang padanya, bersama seorang perempuan yang akan mendampingiku selamanya.” Sorot mata Raka tampak penuh harap, yang justru membuatku merasa bersalah. “Dan untuk mewujudkan itu, maka kita harus bercerai sebelum aku terlalu tua untuk bisa memiliki anak. Bukankah begitu?” Ia memiringkan kepalanya untuk menatapku. Sebuah senyum kecil terlihat jelas ada di pipinya. Sedangkan aku hanya menatapnya bergeming, tak tahu hendak membalas apa. Seluruh perkataannya membuat kepalaku kehilangan kemampuan berpikir, dan hatiku seperti ditekan oleh beban berat tak kasat mata. “Tidurlah, biarpun besok masih libur, tetapi kita harus berkemas untuk pindahan.” Setelah mengucapkan itu, Raka mengubah posisinya menjadi memunggungiku. Meninggalkanku di posisi yang sama, menatap punggung lebar yang kutahu sedang menyembunyikan luka. Menyisakanku dengan rasa bersalah yang merayap bersama kegelapan malam. Cukup lama mataku masih menatap Raka dari belakang. Isi kepalaku bercabang, antara bersyukur jika pria itu tak ingin bersamaku lebih lama, atau justru menangisi takdir yang menggiring luka tak kasat mata ke hati kami masing-masing. Jika di novel-novel pasangan seperti kami perlahan akan jatuh cinta seiringi berjalannya waktu, aku justru sanksi jika hal itu akan terjadi diantara kami. Jadi kuputuskan untuk membawa semua ke alam mimpi, semoga besok otakku bisa berpikir lebih kreatif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN