HARI PERTAMA PASUTRI

1575 Kata
Raka Rasanya tidurku sangat nyenyak tadi malam, aku bahkan tidak ingat apa aku bermimpi atau tidak. Seperti ada beban berat di punggungku yang telah diangkat. Tubuhku terasa benar-benar bersemangat, tidak ada drama mengumpulkan nyawa seperti biasanya. Mataku seketika menatap ke sebelah begitu teringat jika hari ini aku bukan lagi seorang single. Namun sosok yang semalam ada di sana tidak ada. “Apa dia kabur?” Aku mengendikkan bahu tanda aku tidak peduli, benar-benar tidak peduli kemana gadis itu. Kakiku melangkah ke arah jendela kaca, tirainya sudah terbuka sebelum aku terbangun, pasti Nadine yang melakukannya. Kupandang sejenak hamparan rumah-rumah dan gedung-gedung tinggi. Bukan pemandangan alam hijau atau pantai biru yang akan terlihat, karena memang kami masih di hotel di tengah kota metropolitan. Tempat di mana bisnis dibangun. Tiba-tiba saat sedang asyik melihat jalanan dengan kendaraan yang tampak kecil berlalu Lalang, seseorang masuk ke kamar. Prediksiku tentang Nadine kabur, kutarik kembali. Nyatanya gadis itu kini sedang menenteng satu plastik putih yang aku tidak tahu isinya. Wajahnya tidak menampakkan ekspresi marah, jengkel, kesal, sedih, ataupun bahagia. Tapi entah mengapa aku justru tidak suka melihat ekspresi datarnya itu. “Aku membeli beberapa roti untuk sarapan.” “Hotel menyediakan sarapan.” Ucapku memberitahu. “Iya, dan aku terlalu lapar untuk menunggu mereka selesai menghidangkannya. Makanya aku ke minimarket membeli ini.” Ia mengangkat kantong plastic sedikit ke atas, menunjukkannya padaku. Aku hanya menatapnya malas. Semangat pagiku seolah tersedot oleh auranya, tanpa meninggalkan apapun kecuali kekesalan. Aku membiarkannya sibuk membongkar belanjaannya, memilih membersihkan diri sebelum meninggalkan hotel. *** Saat aku keluar dari kamar mandi, lagi-lagi aku tidak menemukan Nadine di dalam kamar. Gadis itu sepertinya suka sekali menghilang tanpa pemberitahuan. Belum sejam sejak kepergiannya tanpa pamit, kini dia beranjak entah kemana. Sepertinya beberapa etika sopan santun harus kutekankan padanya. Daripada pusing memikirkan perempuan dewasa yang tidak tahu etika, aku mengambil pakaianku yang berada di dalam tas ranselku. Kemudian kembali ke kamar mandi untuk mengenakannya, aku tidak berani berganti pakaian di dalam kamar, khawatir jikalau Nadine tiba-tiba nongol. Sangat tidak lucu jika terjadi suasana canggung seperti itu, ya walaupun semalam dia biasa saja melihatku hanya melilitkan handuk di pinggang. Aku baru saja selesai merapikan pakaian dan pakaian kotor, saat Nadine memasuki kamar dengan mengenakan bathrobe dan handuk yang membungkus kepalanya. Dugaanku dia baru saja menghabiskan waktu berenang di kolam hotel. Aku mengalihkan pandanganku yang sesaat jatuh pada paha mulusnya. Hingga suara pintu kamar mandi terdengar tertutup. Lihat, dia bahkan tidak mengucapkan apa-apa padaku. “Tapi tunggu, apa dia hanya mengenakan pakaian dalam? Dia baru saja berenang. Jangan katakana dia berenang hanya dengan ….. s**t, beraninya dia, aku bahkan belum melihat tubuhnya dan dia berani pamer pada laki-laki di bawah sana?” Suami mana yang tidak akan geram membayangkan tubuh istrinya jadi tontonan gratis laki-laki di kolam renang. Apalagi hotel ini sudah berstandar internasional, yang pasti banyak bule. Dan bule pasti lebih memilih berenang di pagi hari sembari berjemur, daripada mandi di kamar mandi hotel. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku ingin meledak sanking emosinya. “Sepertinya dia harus ditegur sebelum dia berani bertindak lebih gila lagi.” *** Karena tidak sabarnya aku, berulang kali jam di tanganku kulirik. Sudah lebih dari 10 menit dia di kamar mandi dan belum keluar juga. Rasanya kenapa sangat lama jika kita harus menunggu? Bahkan aku tidak tahu harus melakukan aktivitas apapun sembari menanti Nadine keluar dari kamar mandi. Setelah jarum jam menunjukkan waktu 15 menit sejak ia masuk ke ruangan mandi itu, barulah sekarang Nadine keluar, dengan handuk…. HANDUK. Dia hanya mengenakan handuk hijaunya semalam, yang bahkan hanya menutupi setengah pahanya. Sungguh di kepalaku sedang terjadi perang, antara harus memaki penampilan Nadine yang membuatku tergoda, atau menarik gadis itu sekalian ke atas kasur. Semoga Tuhan mengampuni mataku yang telah ternodai ini. “Hmmm..” Pada akhirnya aku hanya bisa berdehem untuk menghilangkan pergolakan batinku. Dan dengan polosnya dia menatapku dengan alis dinaikkan. “Kenapa kau menatapku begitu? Ada yang salah denganku?” Demi celana dalam spongebob, gadis di depanku sangat-sangat tidak peka pada keadaan. “Apa kau ingin menggodaku dengan setelanmu?” Dia melirik sekilas tubuhnya yang terbalut handuk. “Memangnya kenapa? Apa kau tergoda? Biasa sajalah.” Woahh.. dengan santainya dia menyuruhku ‘Biasa sajalah!?’ Bahkan dengan tidak merasa bersalahnya dia berjongkok mengambil bajunya dari koper. Kalian tahu apa yang terjadi? Handuknya otomatis semakin tersingkap, dan tolong jangan salahkan aku yang tidak bisa berhenti menikmati gerak geriknya. Bisa kupastikan aku tidak akan kuat menahan diri untuk tidak menyentuhnya jika setiap hari disuguhi pemandangan begini. Aku pria normal, tandai itu. Demi menjaga apa yang harus dijaga, aku mengambil langkah ke luar kamar. Hampir saja aku meraih gagang pintu. Suara perempuan menggagalkan rencanaku untuk melarikan diri dari kamar yang membuat tegang ini. “Kau hendak kemana?” “Keluar.” “Iya kemana?” “Aku akan memesan makan di restoran.” Ucapku asal, sekadar untuk menyelamatkan diri. Aku masih tetap membelakanginya, tak berani jika harus melihat setelannya yang sangat mengganggu batinku yang lemah. “Oke, aku ingin makan ayam-ayaman, tolong pesankan beserta nasi.” “Hm.” Kubuka pintu kamar, disusul pintu lain yang terdengar tertutup. Dengan ragu kubalikkan tubuhku, dan benar saja gadis bar bar itu sudah hilang di balik pintu kamar mandi. Tanpa terasa aku melepaskan nafas berat yang tertahan sejak tadi. Gadis itu benar-benar bisa membuatku hampir gila. *** Satu hal yang harus kuakui membuatku salut pada perempuan yang kini sudah menjadi istri sah ku. Dia memiliki manajemen waktu yang sangat baik. Perempuan lain mungkin akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdandan. Tapi lihatlah wanitaku, dia berjalan dengan santai tanpa polesan make up di wajahnya. Penampilannya sungguh alami dengan hanya mengenakan kaos oblong, celana jeans yang tidak terlalu ngetat, serta sepatu kets. Sekalipun itu juga merupakan kelemahannya, tapi aku tidak bisa membantah jika ada lelaki di luar sana yang mengatakan jika dia cantik tanpa bubuk kecantikan tambahan. Setidaknya aku cukup beruntung mendapatkan pendamping yang cantik sejak lahir. Aku tidak perlu khawatir bagaimana rupa keturunan kami. “Hmmm.. seolah kami akan punya anak saja. Kurasa dia akan menendangku terlebih dahulu sebelum aku menyentuhnya.” Langkahnya semakin dekat, fokus menatap ke arahku. Dia bahkan abai dengan mata beberapa bule yang menatapnya memuji. Ahh.. sekarang aku tahu kenapa seorang suami bisa sangat protektif dengan pasangannya. Bahkan aku saja yang tidak mencintai Nadine, bisa risih jika gadis itu ditatap sedemikian rupa. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?” Ternyata manusia yang sejak tadi kuperhatikan sudah duduk di depanku. Bagaimana dia bisa tiba-tiba ada di sana tanpa kusadari? “Sejak kapan kau duduk di sana?” “Sejak tadi. Ah.. kau melamun. Kukira kau terpukau dengan penampilanku, ternyata jiwamu sedang berkelanan tadi.’ “Ck, bisa tidak kau berbicara sopan? Aku suamimu. Jika kau lupa.” “Terima kasih sudah mengingatkan, tapi aku tidak lupa. Hanya saja, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jadi aku akan menganggapmu teman, sejak awal kita memang sepakat untuk berteman bukan?” “Huhhh… terserah.” Memilih mengalah lebih baik. Seorang pelayan datang membawakan pesanan kami. Meski ini tidak bisa dikatakan menu sarapan. Siapa yang sarapan dengan nasi dan lauk berat seperti daging ayam? Belum lagi tambahan sayur capcay pesanan sang nyonya. Pesananku sendiri hanya semangkuk bubur ayam. “Kau yakin bisa menghabiskan itu semua? Ini masih pagi, perutmu mungkin nanti bisa keram jika memaksa makan berat seperti itu.” Tegurku saat Nadine meminum air putihnya. “Tenang saja, aku justru tidak biasa sarapan dengan bubur. Itu tidak mengenyangkan, dan aku bukan mereka yang bisa memakan roti untuk mengganjal perut.” Ia sedikit mendelik pada beberapa bule yang duduk di sekitar kami. Mereka memang sedang menikmati roti dan segelah s**u hangat dan juga the. “Awas kalau tidak kau habiskan.” Ancamku. Aku paling tidak suka orang yang suka membuang makanan. “Kau terlalu bawel sayang, sebaiknya makan buburmu sebelum itu menjadi air.” Dia menatap buburku, dan aku malah mengikuti tatapannya ke arah mangkuk yang sejak tadi belum kusentuh. Nadine begitu lahap memakan nasinya menggunakan tangan. Sesekali ia mencubit daging ayam yang dicelupkan ke sambal. Tentu saja sayurnya tidak lupa sudah pindah ke piring nasinya. Aku takjub dengan perempuan di depanku ini. Terakhir kami makan malam bersama, dia tidak separah ini. Apa semua orang akan berubah setelah menikah? Tak butuh waktu lama, sekitar 15 menit, kami sudah menyelesaikan sarapan. Biar Nadine makan dengan gaya sederhana ala kampung, tapi dia makan cukup lama. Kurasa dia mengunyah makanannya hingga menjadi bubur sebelum ditelannya. Aku tidak pernah memperhatikan orang lain makan, tapi melihat raut wajahnya yang sangat menikmati, begitu menarik perhatianku. Siapapun yang tidak mengenal Nadine Aurelia, pasti akan berpikir jika gadis itu adalah manusia manja, centil dan sombong. Tapi setelah beberapa jam menjadi suami istri, dtambah beberapa hari pengenalan kami, dia jauh dari kata itu. Siapa yang akan mengatakan perempuan berpenampilan santai dan sedang makan menggunakan tangan kosong di depanku ini sombong? Dia hanya keras kepala sekeras batu. “Kenapa kau selalu menatapku?” “Cara makanmu lucu, dan terlalu lama. Jangan terlalu mentel. Kita masih punya banyak urusan.” Aku tak mungkin mengakui jika aku menikmati pemandangan saat dia begitu terhanyut dengan makanannya. Bisa-bisa telinganya naik sampai ke atap gedung. Nadine hanya mengangkat bahunya dan kembali menikmati sisa sarapannya. Aku tersenyum memperhatikan sikapnya yang teramat santai dan tidak pernah terlalu ambil pusing pada apapun. Ah.. sejak awal dia memang tidak pernah terlalu mempermasalahkan apapun. Tapi entah mengapa itu justru lebih menakutkan. Lebih baik dia teriak atau marah-marah bukan? Orang yang terlalu santai sangat mengerikan ketika kesabarannya diuji melewati batas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN