RUMAH BARU

1624 Kata
Nadine Entah mengapa pagi ini aku sangat lapar, hingga sepiring nasi dengan porsi jumbo, ditambah ayam goreng sambal terasi, serta sayur capcay ludes begitu saja. Lain halnya dengan pria yang sudah resmi menjadi suamiku yang hanya memesan semangkuk bubur ayam. Sepertinya porsi makan kami sudah terbalik, apa karena kami semalam tidur bersama untuk pertama kalinya membuat jiwa kami tertukar? Tapi tidak mungkin juga, aku masih memiliki tubuhku yang langsing meski banyak sangat banyak. Dan tentu saja beberapa tonjolan yang tak perlu kupertontonkan pada dunia melalui baju super ketat. Sialnya, sejak aku muncul di restoran ini hingga makananku tersisa sedikit lagi, pria di depanku terlalu sering mencuri pandang padaku. Tak ingin membuatnya malu atau merusak suasana, aku memilih mengabaikannya dan menikmati sarapanku. Bertanya padanya juga hanya sia-sia, dia tidak akan mengakui isi hatinya semudah aku mendapat tatapannya. “Selesai ini kita merapikan barang lalu ke rumahmu. Kita akan mengangkat barang-barangmu untuk pindahan.” Dia membuka suara. “Barangmu?” “Sudah kupindahkan sejak minggu lalu.” Jawabnya acuh tak acuh. Aku hanya mengangguk mengiyakan arahannya. Kututup sarapanku dengan segelas air minum tambahan yang tadi kupesan dari pelayan. Perutku rasanya sangat kenyang. Kudapati tatapan aneh dari Raka. “Kenapa?” Ia menggeleng. “Tidak. Aku hanya khawatir kau akan sakit perut sebentar lagi.” “Kau terlalu perhatian.” Jawabku dengan sedikit mendramatisir. Dan wajahnya seketika terlihat jijik. Aku terkekeh melihat caranya melihatku. “Kenapa kau tertawa?” “Kau lucu. Jadi pengen kucium deh.” Seruku sedikit menggodanya. Raka itu lucu, saat laki-laki lebih sering menggoda perempuan, kami justru terbalik. Dia akan salah tingkah kalau aku menggodanya. Lihat saja sekarang dia sudah menggaruk wajahnya dan menatap sembarangan. Itu kenapa menggodanya menjadi kegiatan menyenangkan. “Aku hanya bercanda sayang, ayo kita segera bergegas. Aku tidak sabar ingin melihat rumah baru kita.” Aku berdiri dari berjalan meninggalkan Raka. Tak ingin ambil pusing, karena kupastikan dia sedang berusaha menormalkan suasana hatinya. Pria galak itu benar-benar tidak memiliki pengalaman dengan perempuan. Malangnya dia bertemu denganku. *** “Wow..” Satu kata yang bisa kuungkapkan untuk pemandangan yang ada di hadapanku. Tentu saja aku takjub dan terpukau melihat bangunan menawan yang sampai detik ini masih kuragukan jika itu benar-benar milik suamiku. “Apa kau akan berdiri di sana sepanjang hari?” Sebuah suara tegas pria mengembalikan kesadaranku, tapi tak mampu memindahkan pandanganku. “Ini benar-benar indah.” “Ck, kau bisa melihatnya nanti. Sekarang bantu aku membereskan barang-barangmu ini.” Kurasa jika Raka tidak menarik pergelangan tanganku menuju rumah, aku bisa berdiri di halaman menikmati rumah baru kami. “Darimana kamu bisa mendapatkan rumah sebagus ini?” Cecarku pada pria yang masih saja menggeret tanganku tak sabaran. “Ini bahkan tidak semewah itu tapi tanggapanmu berlebihan.” Suaranya hampir seperti gumaman, tapi telingaku yang memang jeli mampu untuk mendengarnya. “Kau bilang ini tidak mewah? Wah.. matamu benar-benar rusak kawan. Ini sempurna untukku memulai hidup baru.” Seruku kegirangan, hingga ia sejenak menghentikan langkah dan menatapku tidak percaya. “Ini kopermu, susun di lemari. Aku akan mengambil beberapa barang lain.” Raka mendorong tubuhku ke sebuah kamar, lalu bergegas meninggalkanku. Sejenak kupandangi ruangan itu. Cukup besar, kuperkirakan luasnya hampir 6 x 7 meter. Ada kasur besar yang bisa memuat 4 orang di tengah ruangan, diapit dua lemari kecil yang juga bisa berfungsi menjadi meja. Tepat di ujung kasur berhadapan langsung dengan lemari 6 pintu yang menutup semua dinding. Di sebelahnya ada sebuah pintu lain seperti kamar mandi. Begitu kita masuk kamar, kita akan disuguhkan pemandangan menghadap kaca dengan besi anti maling bermotif cantik. Suamiku itu bukan seorang ahli interior, tapi penataan kamar yang sederhana dan warna hijau toska pada dinding sangat nyaman. Rasanya aku tidak sabar untuk merebahakn diri di kasur lebar itu. “Astaga…. Kapan kau akan merapikan pakaianmu Nadine?” Hingga suara pria menyebalkan itu muncul lagi. Dia selalu muncul di saat yang tidak tepat. Menghancurkan semua imajinasi dan kesenanganku. Aku langsung saja memutar badan dan mencebikkan bibir begitu mendaratkan tatapan tajam ke mata bulatnya itu. Aku menghentakkan kakiku sedikit kesal dengan responnya yang hanya menaikkan alis saat kutatap. Dengan niat setengah hati aku membuka lemari berwarna putih gading. Terpampanglah bagian-bagian kosong yang akan dihuni oleh bajuku yang tak seberapa. Pakaian Raka juga terlihat tidak banyak, hanya beberapa kemeja yang terlipat rapi dan jas menggantung. Semua tampak tertata dengan baik, membuatku mau tak mau tersenyum senang, setidaknya dia bukan pria yang akan merepotkan seperti adiknya yang acak-acakan. “Kau sudah selesai?” Raka muncul dari pintu dengan wajah yang kelihatan kelelahan. “Hampir.” Aku hanya melihatnya sebentar lalu kembali pada kegiatanku menata pakaian. Jika berurusan dengan tata menata, aku bisa menghabiskan waktu cukup lama. Aku tidak suka sesuatu yang berantakan atau berada tidak pada tempatnya. Baju tiga koperku bahkan harus tersusun rapi sesuai jenisnya dan fungsinya. Begitu selesai, aku menatap takjub dengan hasil karyaku. Kumasukkan koperku ke bagian lemari yang kosong. Sekali lagi aku memastikan tidak ada yang salah posisi. Setelahnya pintu lemari kututup dengan hati-hati, seolah takut jika pemilik rumah ngamuk karena tindakanku. Begitu aku berbalik badan, tubuh Raka sudah terlentang di atas kasur dengan mata terpejam. “Ck, dia bahkan kelelahan hanya mengangkat barang segitu. Lemah.” Aku meninggalkannya dan melangkah ke luar ruangan. Aku berkeliling ke setiap sudut rumah, mulai dari ruang keluarga yang luas dan hanya di huni satu sofa panjang serta meja menghadap langsung ke TV 62 inc, posisinya tepat berhadapan dengan 3 pintu kamar. Lalu ke arah depan terdapat ruang tamu ukuran 3 x 3 yang memang sengaja dipisahkan dinding. Di belakang terdapat dapur dengan meja bar yang berfungsi sebagai meja makan. Kemudian dua pintu bersebelahan yang salah satunya adalah kamar mandi. Aku beranjak membuka pintu yang tepat di sebelah kulkas dua pintu. Seketika aku disuguhkan halaman belakang beralas rumput hijau yang belum tertutup sempurna. Tampak jelas jika tumbuhan itu baru ditanam belum lama. Di bawah atap sudah ada jemuran dan dua kursi kayu beserta meja kecil. Aku bahkan bisa membayangkan sepasang suami istri minum the sambil mengobrol santai. Padahal di teras depan juga sudah terdapat kursi dan meja yang mirip. Raka, yang sekalipun terlihat cuek, sangar, galak, dan bukan suamiable banget, tapi menyimpan sisi m**i. Pasti perempuan yang mendapatkannya akan sangat beruntung. Tapi sebelum perempuan itu hadir, aku yang akan menikmati semua hasil kerja kerasnya selama ini terlebih dahulu. Aku hanya bisa tersenyum menikmati kepemilikan Raka. Puas melihat taman belakang dan dapur yang masih kosong aku pindah ke arah pintu samping yang tembus langsung ke ruang keluarga. Meski dari jendela kaca aku bisa jelas melihat apa yang ada di balik pintu itu, tapi tetap saja tanganku gatal ingin membuka pintu kayu tersebut. Pemandangan hijau menyejukkan mata kembali menghiasi sekeliling rumah. Hanya saja hanya ada rumput jepang, tanpa tanaman berbunga atau pot lainnya. Bagian terakhit yang harus diperiksa adalah bagian depan. Sebenarnya aku sudah melewatinya tadi, tapi tak sempat benar-benar memperhatikannya karena segera diseret Raka. Teras rumah ini sekitar 2 meter ke depan dengan 3 kursi kayu dan meja bundar. Halamannya sekitar 5 meter ke arah gerbang. Di sebelah kiri ada parkiran, karena mobil Raka sekarang sudah berada di sana. Jika di belakang dan di samping rumah hanya ditanami rumput, kalau di halaman depan juga terdapat beberapa batuan yang disusun membentuk jalan sejarak ban mobil. Sepertinya sengaja agar rerumputan tidak rusak. Sisanya hanya alas rumput hijau yang akan segera kutimpa dengan beragam pot. Secara keseluruhan, desain rumah dan interiornya sangat bagus. Sekeliling rumah yang kosong semakin membuatku bahagia. Aku bisamembayangkan kehidupanku yang hanya akan di rumah saja nanti tidak akan semembosankan dugaanku. Setidaknya aku punya media melampiaskan kreativitasku. Raka perlu mendapat pujian dan acungan jempol untuk rumah ini. Entah darimana pria batu itu bisa memikirkan jenis rumah minimalis yang asri. Mulai besok aku harus merancang taman impianku. Ah.. aku sungguh tidak sabar menunggu waktu berlalu. Akan sangat menyenangkan berkreasi dengan rumahku sendiri. “Ehh.. ini rumah Raka, Raka suamiku. Maka secara otomatis ini juga rumahku.” Aku sungguh sangat bahagia membayangkannya. “Aku akan memastikan halaman ini akan segera berpenghuni. Uh… aku harus mengajak Raka ke tukang bunga. Tidak, tidak. Mungkin lebih baik aku merancang posisinya. Yeay..” Aku hampir saja berteriak kegirangan dengan seluruh ide di kepalaku, hingga suara si batu muncul. “Kau kenapa?” Dasar suami tidak punya etika, selalu saja mengganggu saat istrinya sedang senang. Aku mendelik tidak suka pada Raka yang sudah duduk santai sambil mengangkat satu kakinya ke kaki yang lain. Dia terlihat meregangkan setengah tubuhnya dengan mengangkat tangan ke atas. Dasar suami aneh, bagaimana mungkin dia peregangan dengan posisi duduk begitu. Dasar malas. Hampir saja aku mengejeknya, tapi seketika terlintas ide bagus untuk memanfaatkan situasi. Langsung saja senyum termanis kupasang seikhlas mungkin. “Ka, besok masih cuti?” Aku menampilkan gaya paling langka dalam hidupku, yakni sok imut. Kalau dalam mode biasa, amit amit deh. “Iya, kenapa memang?” Matanya tampak memicing menatapku curiga. Giliran begini saja dia peka. “Kenapa cutinya lama sih?” “Buset deh ini bocah. Bukannya senang malah ngomel. Namanya juga cuti nikah, seminimal seminggu. Baru juga nikah 2 hari sudah bosan saja.” Suaranya sedikit terdengar kesal dengan aksen Betawi yang justru membuat ucapannya lucu. “Yah bukan gitu juga. Besok temani aku keliling ya.” Niatnya tadi ingin basa-basi dulu. Tapi karena memang aku tidak bisa berformalitas, lebih baik mengungkapkan isi hati secara langsung. “Mau ngapain? Kamu juga orang Jakarta, jangan bertingkah kayak orang baru.” Susah memang ngomong sama batu, pantas saja si Raka ini harus dijodohkan biar dapat istri. Siapa juga perempuan yang betah berhadapan dengannya. Selain kepala batu, sifatnya luar biasa menyebalkan. “Oke, kalau gitu besok pastikan ATM-ku terisi. Aku mau belanja penghuni taman sekaligus beberapa perlengkapan rumah.” Setelah mengucapkan itu aku masuk ke dalam rumah. Bukan karena kesal dengan jawaban Raka tadi, tapi memang ingin ke kamar mandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN