Raka Untuk pertama kalinya setelah 5 bulan lebih usia pernikahan kami, aku menyaksikan perempuan yang terlihat kokoh, tomboy, sadis, galak, cerewet itu menangis. Kemarahannya adalah makanan sehari-hariku, justru tanpa itu rasanya sehari begitu hambar. terbukti kemarin hingga pagi tadi dia mendiamkanku, membuat kepalaku sakit dan perasaanku uri ng-uringan. Tapi melihat air matanya terurai, lebih menyayat. Rasanya seperti aku telah membunuh sesuatu yang berharga baginya, hingga ia tampak rapuh dan aku jadi tersangka utama. Seumur hidupku, perempuan yang pernah kuhadapi saat menangis hanyalah adik perempuanku. Bahkan ketika aku memiliki kekasih, aku tak pernah berurusan dengan air mata mereka. Tapi hari ini pada waktu yang tak terduga aku harus menyaksikan istriku menangis, dan aku justru

