Chapter 15

1379 Kata
Kali ini apalagi yang akan dilakukan Mbak Sumini. Ia tak hanya membuat punggungku sakit, tapi juga dimarahi Bapak. Aku sudah mengingatkannya tentang hal ini. Tapi tak pernah ia dengarkan dengan baik. Ia tetap saja melakukan apapun yang ia suka. Mbak Sumini yang sekarang sangat berbeda dari sebelumnya. Ia sangat berbeda sejak mulai dekat dengan Ustadz Idrun. Ia pernah beberapa kali bercerita tentang perlakuan Ustadz Idrun terhadapnya. Sekarang, ketika Bapak melihat kami dengan tatapan seperti ini, Mbak Sumini bahkan tidak bisa memberi pembelaan apapun. Bukankah bagaimana pun juga, aku juga ikut terseret masalah ini. Ada rasa kesal mendidih di otakku. Bapak melontarkan banyak pertanyaan yang aku tidak tahu jawabannya. Beberapa bahkan terdengar asing. Aku, Sumini dan Wasis tak berdaya menjawab satupun pertanyaan Bapak. Baru kali ini Bapak terlihat marah sekali. Tapi mengapa Bapak sebegitu marahnay padahal kami hanya melakukan sediit kesalahan? Ketika kami bolos sholat pun rasanya tak seperti ini raut wajah yang Bapak perlihatkan. Emak? Emak sedang duduk di kursi di samping tempat Bapak berdiri. Emak rupanya sedang serius berdoa supaya hati Bapak tenang dan bisa memaafkan kami. Ia menatap kami secara bergantian. Begitulah pemandangan ketika kami, dengan sengaja atau tidak sengaja, membuat ulah. Walaupun kadang Bapak akan dengan mudah memaafkan kami, namun tampaknya kali ini suasana hati Bapak tak bisa kami rayu. "Maafkan kami, Pak." ucap Sumini pelan. Suaranya menyatu dengan suara nafas Bapak yang kembang-kempis karena marah. Enak saja ia bilang 'kami'.. Ini ulahnya. Aku dan Wasis adalah korban kejahilannya. "Kenapa, Sum? Bukankah Bapak sudah bilang untuk berperilaku baik? Bukankah kamu harusnya menjaga nama baik Bapak?" tanya Bapak. Beliau sedang sangat marah namun berusaha untuk melembutkan suaranya. "Pak, maafkan Sumini, Pak.. Pak, maafkan Sumi, Pak.” Aku menoleh ke arah Bapak, Emak dan Sumini secara bergantian. Perasaanku mengatakan bahwa ini bukan karena Mbak Sumini mengajak kami membolos mengaji tadi sore atau bukan juga karena aku dengan sengaja memukul Nurul. Ini pasti tentang ulah Mbak Sumini yang lainnya. Seperti memahami apa yang dipikirkan Bapak, sedetik kemudian Mbak Sumini menjatuhkan diri dan mulai menangis. Aku dan Wasis yang awalnya terdiam kemudian saling pandang untuk beberapa saat. “Sumirah, Wasis.. masuk kamar dulu.” ucap Emak memecah situasi yang terjadi. “Tapi, Mak....aku--- ” ucap Wasis pelan. “Masuk kamar kalian masing-masing.” tambah Emak datar. Tatapan maut Emak sungguh memang menakutkan. Ketika hendak memutar langkah kaki, tiba-tiba saja Wasis berbisik mengatakan bahwa ia akan ikut ke kamarku. Ia takut sendirian. Aku sedikit terkekeh, aku tahu alasan mengapa ia ikut adalah karena ia ingin tahu apa yang sedang terjadi. Aku menarik lengan bajunya dan mengajaknya ke kamar. Samar-samar kudengar Bapak dan Emak juga tengah menangis, “Mbak Mir, aku kepingin lihat keluar, Mbak.” ucap Wasis. “Apa kau ingin Bapak membuatmu menangis seperti Mbak Sumini, Sis?. Giliran aku yang bertanya. Ia jusru melengos kesal dan duduk di tempat tidur. Kira-kira apa yang dilakukan Mbak Sumini? “Mbak ayo kita buka sedikit pintunya, Mbak.. Aku penasaran.” “Jangan, Sis.” “Tapi, Mbak....Apa Mbak Sumirah tidak penasaran?” “Aku penasaran, Sis. Tapi—“ “Tapi kenapa, Mbak?” “Sis, tadi ketika mengajakmu membolos mengaji, Mbak Sumini bilang alasannya atau tidak?” “Enggak tuh, Mbak.. Mbak Sumini sempat pergi sebentar untuk memberi kabar temannya juga.” “Lalu?” “Yah, sekitar lima belas menit setelahnya lalu Mbak Sumini sama Mbak Mirah datang tadi.” Kalau benar memang demikian, berati memang benar Mbak Sumini dan Ustadz Idrun pergi berdua ketika menghampiriku. Aku memang merasa ada yang ganjil ketika melihat mereka datang secara bergantian ke arahku. Terlalu kebetulan, terkesan seperti direncanakan. Ustadz Idrun adalah seorang ustadz yang paling disegani di kota kami. Istrinya sangat cantik dan anak-anaknya juga menggemaskan. Isrinya bekerja sebagai guru TK, sementara anak-anakya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia dan keluarganya selalu terliha harmonis. Mereka sering bepergian bersama dan sering memperlihatkan kemesraan pada orang sekitar. Pasangan yang serasi, kalau kata orang kampung kami. Walau hanya berjarak sekitar lima kilometer dari rumah kami, tapi Ustadz Idrun sering datang dan bermain dengan anak-anak yang mengaji. “Mbak, Ustadz Idrun ‘kan sudah mempunyai istri, Mbak...” ucap Wasis pelan. Ia mengatakannya sambil menunduk. Aku yakin ia tahu apa yang sedang aku pikirkan. “Sis, jangan beritahu siapapun ya. Jangan sampai orang lain dengar. Atau kalau tidak, kita tunggu saja Mbak Sumini memberitahu kita sendiri.” kataku. “Tapi hari itu yang melihat bukan hanya Wasis, Mbak. Tapi Emak juga.” “Meliha apa? Melihat Apa, Sis? Kamu dan Emak melihat apa?” desakku. Ini pasti maslah besar. Wasis tiba-tiba menangis. Bedanya, hanya suaranya yang terdengar menangis. Tak ada air mata yang menetes. Wasis, adikku.... Badannya memang besar, tapi hatinya lembut sekali. Mbak Vina Panduwinata pasti bangga. Ia bercerita bahwa setelah Bu Saeful bercerita pada Emak kalau Mbak Sumini dibonceng oleh Ustadz Idrun, Emak segera bergegas mengambil keranjang belanja dan meminta Wasis untuk mengantarnya ke pasar. Pada awalnya, Wasis menolak karena harus mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Namun, ia merasa ada yang tidak biasa pada nada suara Emak. Emak benar-benar memelas dan meminta Wasis mengantarkanya. Wasis menurut dan mengantarkan Emak ke pasar. Rute yang diambil juga rute yang umumnya digunakan orang yang akan pergi ke pasar. Namun di perempatan sebelum pasar,. Emak meminta Wasis untuk berbelok arah ke arah sekolah Mbak Sumini. Ketika ditanya, Emak hanya menggeleng dan memberi isyarat untuk tidak banyak bertanya. Wasis tentu saja menurut. Setelah hampir setengah jam, Emak meminta berhenti di bagian belakang sekolah untuk mengintip sesuatu. Emak berjalan mengendap dan pelan sekali. “Aku penasaran sekali kenapa Emak seperti itu, Mbak. Jadi aku berjalan juga di belakang Emak. Tapi apa yang kami lihat setelahnya adalah yang paling parah, Mbak.” “Memang apa yang kamu dan Emak lihat, Sis?” tanyaku tak sabar. “Mbak Sumini--- dipukuli oleh istri Ustadz Idrun, Mbak.” Air matanya kini menetes. Wasis sedang menangis. Air mataku pun akhirnya tak terbendung. Kami menangis di dalam kamar sementara di luar kamar, terdengar tangisan dari Emak. “Mbak Sumini dipukuli namun ia diam saja, Mbak. Ia bahkan tak menggerakkan tangannya untuk melindungi badan dan wajahya.” Itu sebabnya mata kanannya memar tempo hari. Kami semua berpikir kalau ia pasti telah bertengkar dengan teman-temannya. Ketika Bapak bertanya apa yan terjadi, Mbak Sumini sambil tersenyum hanya menjelaskan kalau ia dan teman-temannya sedang bermain karate-karatean lalu tidak sengaja salah satu temannya menonjok mata kanannya. Bayangkan, seorang gadis berusia enam belas tahun pulang dalam keadaan babak belur dan mengatakan bahwa ia baru saja bermain karate-karatean. Siapa yang akan percaya cerita bodoh seperti itu?! Mbak Sumini membual. Bapak dan Emak tahu itu. Sepertinya dari situlah Bapak dan Emak tidak percaya apa yang dikatakan Mbak Sumini. Mbak Sumini tahu apa yang ia lakukan memang salah. Itu sebabnya kini ia bersimpuh di kaki Emak dan Bapak dan memohon agar dimaafkan. Setelah berpelukan dengan Wasis dan mengusap air mata, kami memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kami sedikit demi sedikit agar tidak ketahuan oleh Bapak, Emak dan Mbak Sumini. Sayup-sayup terdengar Emak mengatakan kalau ia harus menahan perasaan malu karena tidak bisa mendidik anak perempuannya dengan baik hingga terjadi kejadian seperti ini. “Bapak harus bagaimana, Sumi?”katanya sambil menunduk. “Istri Ustadz Idrun memukulimu karena ia adalah istrinya. Dan kau adalah—“ Bapak dengan sengaja tidak meneruskan kalimatnay setelah melihat Mbak Sumini menangis makin keras. “Bapak, Sumini mencintai Mas Idrun, Pak...”ucap Mbak Sumini pelan. “Tapi keluarga kecilnya juga mencintai Idrun, Sum. “ Emak bahkan tak menambahkan kata ‘pak’ atau ‘ustadz’. “Sumini sayang Mas Idrun, Pak.” “Tapi kami disini juga mencintaimu, nak.” Kaliamt Bapak benar-benar membuatku menangis lagi. Bapak sedang tersakiti dan marah, namun masih bisa mengatakan hal selembut itu. “Apa kau ingin pergi ke Kediri, Sumi? Ada teman Emak yang mempunyai pondok pesantren yang bagus disana.” suara Emak seperti menghipnotis kami semua. Tak ada yang bersuara. Mbak Sumini yang terkejut mendengar ucapan Emak segera berlari ke arah luar rumah. Entah apa yang dipikirkan Mbak Sumini, Ustadz Idrun memang memiliki kharisma yang bisa meluluhkan hati semua orang, belum pula tutur kata yang lembut itu. Aku yakin ia banyak disukai oleh semua santrinya. Tapi dari caranya memperlakukan Mbak Sumini, sepertinya aku salah. Ia bukan laki-laki yang baik. Ia bahkan berhubungan dengan Mbak Sumini saat masih ia menjadi suami orang. Itu jahat, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN