Chapter 16

1240 Kata
“Hai, Sum…Apa kabar?” Suara itu terdengar dekat dengan telingaku. Seperti nya Ia memang ada persis di sebelahku. Aku ingin melihat suara siapakah itu, namun mataku rasanya lengket. Tidak bisa dibuka. Badanku juga terasa berat. Penutup mata ini juga terikat sangat erat. Aku mencoba membuka mataku sekali lagi berharap cahaya menerangi penglihatanku. “Sum, aku tahu kau sudah sadar.” “Siapa kamu?”tanyaku. a “Bagaimana kau bisa lupa suaraku, Sumirah? Seorang putri penjual tempe yang terkenal?” Aku terdiam. Suara ini suara laki-laki itu. “Ayolah, Mirah.. apa kau tak sudi melihat wajah Hamid-mu ini?” “Hamidku? Apakah kau benar Hamid?,” tanyaku.”Kau bukan Hamidku yang dulu. Kau sudah berubah. Aku tak lagi mengenalmu.” “Dengarkan aku, Sumirah. Kau tak lagi dapat menghinaku sekarang.” Ia membuka tutup mataku dan kulihat wajah itu lagi sekarang. Wajah yang hampir tidak bisa kukenali sebagai Hamid, kawan lamaku. Ia bukan lagi Hamid. Dengan kasar ia mmbuka tali yang mengikat kedua tanganku dan mulai menekan keras tangan kananku. Aku berteriak kencang berusaha melepaskan tangannya, namun percuma. Tanagnnay lbih besar dan tenaganya lebih kuat. “Lihat aku baik-baik, Sumirah!! Lihat wajahku!” Aku memalingkan wajahku. Aku tak ingin melihatnya. Aku takut. “Lihat wajah yang dulu kau hina, Sumirah!” Hamid memegang kepalaku dan mengarahkannya langusng ke wajahnya. Ia memaksaku membuka mata dan melihat tepat kea rah matanya. “Apa yang kau katakan, Hamid? Aku tak pernah menghinamu.” “Hahaha! Kau tak bisa melakukannya padaku. Kau tak mungkin melupakannya!” Aku melihatnya berputar sambil tertawa riang seperti orang yang baru saja menang lotere dua miliyar. Aku tak bisa memahami apa yang diinginkan Hamid ini. “Oiya, Sum.. Apa kau ingat tentang kakiku? Apa kau ingat aku pernah menangis hebat di pasar dan meminta maaf pada Bapakmu? Apa kau ingat itu, Sum?!” “Jangan kau berani memanggil nama Bapakku, Hamid... atau aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku!” “Bagaimana mungkin aku berani memanggil nama bapakmu, Sumiraah sayang...” katanya seraya menyentuh tanganku. “Jangan sentuh aku!” teriakku. “Sumirah, banyak sekali yang harus kita bicarakan.. Tenang saja, kita masih punya banyak waku hingga waktumu tiba.” “Apa maksudmu? Hah? Apa maksudmu?” “Tunggu saja... Oiya temanmu yang berlarian denganmu sudah meninggalkanmu. Ia ketakutan melihat aku dan teman-temanku menggendongmu.” Ci Lien... Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya.. Yang kuingat hanya kami berlarian sepanjang jalan menghindari truk yang mengejar kami. Entah bagaimana truk it ubisa tahu keberadaan kami. “Sum,dengar. Kalau nanti kita berhasil melewati rute ini dengan selamat, maka setelahnya tak akan ada satupun dari mafia Hongkong yang berani menyentuh aau bahkan memandangmu.”kata Ci Lien di kamar gelap itu. Kami bahkan sudah bersembunyi di kamar dan berhasil melarikan diri dari kamar gelap itu. Kami mengendap melewati rute yang sempit dan bau. Kami sengaja menghindari ransportasi umum karena Ci Lien mendengar kabar bahwa Hamid dan teman-temannya ini sudah mengepung beberapa wilayah di t*i Po untuk menangkapku. Ada satu hal yang tidak kupahami selama ini. Apa yang sedang dicari orang-orang itu? Apa yang mereka cari dari aku? Kenapa aku? Sampai kemaren aku hanya orang kampung yang meghabiskan waktunya untuk bekerja di Hongkong. Mana pernah aku membayangkan bahwa kehidupanku bisa berubah drastis seperti ini. Dipikranku hanya kerja, kerja dan kerja. Tapi kini, sekarang ini, aku harus berlarian kesana kemari menghindari mafia yang Aku ingat Ci Lien berkata bahwa rute menuju kantornya memang dibuat seperti itu untuk menghindari persaingan antar mafia di Hongkong. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah dibuatnya menangis karena melihat telinga kanan Ci Lien hampir putus terkena tebasan samurai milik salah satu musuhnya. Telinganya benar-benar hampir terputus. Yang ajaib adalah walau kesakitan, ia bahkan bisa bersenda gurau menertawakan telinga kanannya itu seperti itu karena ia sudah jarang meminum minuman keras. “Aku akan memastikan kau aman disini, Sumirah..” kata Hamid sambil berjalan menuju pintu. Ada sisi dari Hamid yang kukenal. “Hamid...” panggilku pelan. Ia berhenti dan menoleh kearahku. Tubuh dan perawakannya memang Hamid. Namun semakin aku melihatnya, semakin sulit aku mengingat apa yang terjadi di masa lalu kami. Tatapan riang yang tadi kulihat berubah. Ia terlihat sedih. “Kenapa? Apa kau sudah menyadari kesalahanmu?” tanya Hamid. Kesalahan apa yang ku perbuat hingga kau jadi seperti ini... “Kenapa, Mid? Kenapa?” tanyaku. “Kau selalu mengatakan kalau aku bersalah. Apa salahku? Katakan saja apa salahku....” Ia terdiam. Ia berdiri memaku memandangku.. “Hamid....,” kataku pelan. “Kumohon maafkan aku. Aku tak ingat tentang apapun yang terjadi diantara kita. Aku.. Aku tak ingat apa yang telah kuperbuat.” Awalnya kupikir Ia akan berteriak mengeluarkan semua amarahnya dan memulai penyiksaannya terhadapku. Tapi tidak. Ia tidak berteriak. Pun Ia tidak menyiksaku. Ia berjalan kearahku. Langkahnya pasti, namun dengan sedikit cara berjalan yang aneh. Ada sesuatu yang mengganjal pada kakinya. Ketika mendekatiku, aku bisa mendengar nafasnya yang berat. Bau rokok khas yang menyengat juga tercium dari bajunya. Ia merapatkan lagi tali yang tadi ia lepas. Ia mengikatnya lebih kencang. Kemudian dengan hati-hati ia menutup mulutku dengan lakban. “Sum, apa kau ingin tahu sebuah rahasia?” tanyanya. Aku tidak bisa menjawabnya, lakban yang menutup mulutku sesak. “Pada saat pertama kali aku melihatmu di pelabuhan sore itu, aku tahu aku akan bertemu denganmu lagi suatu saat nanti. “ Aku mendongak untuk melihat wajahnya. “Apa kau tahu kenapa kau kucari selama ini? Kau memiliki sesuatu yang kuincar, Sum” katanya. Suaranya tak bergetar sedikitpun, datar dan menakutkan. Aku terus menggeliat dan menggerakkan kedua tanganku berharap tali ini bisa lepas karena gerakanku. Namun ternyata Hamid mengikatnya dengan kencang. Hamid menertawakanku lagi. ia tertawa terbahak melihat usahaku yang sia-sia. “Sum, kau masih Sumirah yang sama. Perempuan yang gigih. Kau tahu aku mengagumimu sejak kecil, bukan?” “Ingatkan kau, Sum, pada waktu di pelabuhan saat itu? Ketika kau membantu seorang kakek yang sedang kesulitan berdiri. Kau membantunya berdiri dan menemaninya berjalan menuju mobilnya? Apa kau ingat apa yang ia berikan sebagai imbalannya?” Bagaimana Hamid tahu hal itu? Seingatku aku hanya berjalan sendirian. Ia terus mengatakan bahwa apa yang diberikan kakek itu padaku adalah hal yang ia cari. Aku ingat aku pernah menolong seorang kakek ketika sampai di pelabuhan untuk pertama kalinya, tapi aku tidak ingat apapun tentang hadiah dari si kakek itu Ia mengulang pertanyaannya sedang aku terus menggeleng. Aku berusaha mengatakan bahwa kau tidak ingat apapun dan tidak tahu apapun. Ia terlihat kesal. Walaupun suaraku tidak terdengar jelas, tapi aku yakin ia mendengar teriakanku. Lalu dengan bahasa Kanton yang fasih, ia mengatakan kalau ia akan kembali lagi besok pagi. Aku terus berteriak. Aku menendang kursi yang sedang kududuki dnegan kedua kakiku. Aku bahkan menggigit lakban ini agar segera lepas,. Tentu saja, usahaku sia-sia. “Oiya, satu lagi, Sum. Kalau aku boleh memberitahumu sedikit saja, apa kau ingat kalau kakek itu juga bertemu denganmu beberapa hari setelah itu?” Bualan apa lagi ini, batinku.. “Mungkin kau tak ingat, tapi aku bisa jamin kalau sekarang pihak kepolisan menyelidikimu dan melakukan test urine padamu, pasti akan ditemukan sedikit narkotika pada darahmu.” “Iya, Sumirah yang baik hai. Selama bertahun-tahun yang kau tahu hanya menjadi pembanu di negara orang bukan? It usemua salah, Sum. Kau punya n*****a dalam tubuhmu. Dan apakah kau tahu, kalau temanmu itu.. Siapa namanya? Ci Lien itu.. Ia tahu ada sesuatu yang mahal sedang mengalir di dalam darahmu sekarang, itu sebabnya ia menjadi temanmu.” Aku menatap mata Hamid lekat-lekat. Sejak kapan ia jadi sebodoh ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN