Chapter 17

1214 Kata
“Sumirah, dengarkan Emak ya nak.... Kalau sesuatu terjadi pada Mbak Sumini-mu, kau yang harus menjaga adikmu, Wasis ya nak...” ucap Emak suatu sore di mushola kecil rumah kami. Suara Emak seperti sedang menahan tangisan. Akhir-akhir ini banyak hal yang membua Emak sedih sekali. Raport merah Wasis dan kisah cinta Sumini memang mengiris hati. Namun kesehatan Emaklah yang semakin mengkhawatirkan. Emak semakin kurus hingga beerapa saudara kami dkampung sebelah datang silih bergani ingin menjenguk. Beberapa langganan Emak di pasar juga mengeluhkan tentang tempe yang mereka beli. Ada yang bilang kurang pas, ada yang bilang tidak enak dan lain-lain. Aku adalah anak perempuan kedua di keluarga ini namun hatiku tak sekuat Emak atau Mbak Sumini ketika menghadapi masalah. Kadang di pagi hari, aku yang bergantian melakukan pekerjaan Emak, sorenya Wasis yang membantu. Syukurlah Wasis tak banyak mengeluh tentang apa yang sedang terjadi di keluarga kecil kami ini. Ia lebih banyak diam. Ia mengatakan padaku kalau ia tak ingin tahu apa-apa tentang masalah Mbak Sumini. Mungkin ia juga merasakan luka yang kurasakan. Luka yang kini Mbak Sumini berikan pada kami masih menganga lebar. Rasa malu bertemu teman-teman dan tetangga, rasa kecewa karena telah dibohongi dan rasa sayang yang kami punya untuk Mbak Sumini melebur menjadi satu. Semakin sakit ketika tahu keadaan Mbak Sumini saat ini. Ia hanya berdiam diri di kamarnya. Ia tak makan apapun sejak hari dimana Bapak menangis untuknya. Hanya air putih yang selalu ia habiskan setiap kali kami mengirimkan makanan dan minuman ke kamar. Wasis sering mengajaknya bicara di kamar. Ia bercerita tentang segala hal yang terjadi di luar kamar kecil itu. Kelincinya yang tiba-tiba mati, rasa saki di punggung Emak hingga raport merah yang baru saja ia terima. Ia juga berceria kalau sekarang Bapak tak marah lagi karena raport merahnya. Bapak hanya mengangguk tanpa bersuara. Kami selalu menghormati dan menyayangi Mbak Sumini. Perintah apapun yang keluar dari mulutnya selalu kami patuhi karena memang itulah yang selalu diajarkan Emak dan Bapak. Orang tua kami tak ingin kami kehilangan arah ketika nanti mereka tiada. Walaupun tentu saja kami tak bisa membiarkann itu terjadi. “Apa yang Emak katakan?” “Tolong, nduk...” “Tidak, Mak.. Mbak Sumini adalah mbakku. Harusnya ia yang menjagaku dan Wasis. Ia harus menjaga kami, Mak.. harusnya ia menjaga kita semua.” Ucapku seraya menagis. Akhirnya tuntas sudah, air mata kami jatuh tanpa aba-aba. “Mak, bolehkah Mirah bertanya, Mak?” tanyaku. Emak mengangguk pelan. “Bagaimana bisa kita menyakiti orang yang menyayangi kita, Mak? Atau sebaliknya, menyayangi seseorang yang menyakiti kita? Kenapa Mbak Sumini bisa seperti itu?” tanyaku. “Sumirah sayang, anakku.... Kita tidak bisa mengatur apa yang sudah diatur Tuhan, nak.. itu semua tidak bisa kia atur sendiri.” “Mak, kenapa Emak sangat memikirkan Mbak Sumini, Mak? Emak jadi sering sakit seperti ini karena Mbak Sumini, Mak...” Tangisku pecah seketika. Amarah dan kecewa yang kusimpan erat akhirnya keluar juga. Aku menangis sambil memeluk Emak. Badan Emak yang kini kurus benar-benar membuat emosiku tidak terbendung. “Mak, bisakah Emak menceritakan pada Mirah aapa yang sebenarnya terjadi? Mirah gak ingin menebak-nebak lagi “ “Nanti hati Mbakmu semakin sakit, nduk...” Hati Emaklah yang sakit. “Tapi Mirah berhak tahu, Mak..” Setelah kudesak, Emak menarik nafas panjang dan mulai melepas rukuh. Ia memutar badannya dan mendekat padaku. Emak bercerita bahwa dua hari sebelum itu wakil kepala sekolah Mbak Sumini datang dan mengadu kalau Mbak Sumini sudah hampir seminggu tidak masuk sekolah dan tidak mengirimkan surat ijin sakit seperti biasanya. Ketika emak bercerita, tiba-tiba saja aku inga bahwa memang seminggu kemaren Mbak Sumini tidak ingin berangkat bersama-sama ke sekolah. Ia juga tak menyebutkan alasannya. “Pokoknya nanti kita jajan sama-sama ya. Kalian berangkat dulu saja.” ucap Mbak Sumini santai. Ia lalu berjalan dengan bersenandung. Tak pernah aku pahami kenapa ia melakukannya untuk Ustadz Idrun. Awalnya Wasis dan Aku berpikir bahwa mungkin ada alat tulis atau buku yang ketinggalan. Tapi kemudian ketika Mbak Sumini melakukannya lagi di keesokan harinya, dengan keheranan kami akhirnya memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu. Dan karena beberapa hari seetelahnya kami masih melihatnya keika pulang sekolah, kami berpikir tidak ada masalah yang berarti. Emak lalu berceriTa bahwa wakil kepala sekolah tadi sudah menemukan alasan mengapa Mbak Sumini melakukan perbuatan itu. “Emak diberitahu bahwa Mbak Sumini sering membolos karena ia pergi kerumah Ustadz Idrun. Entah apa yang dilakukannya disana.” “Ya Tuhan... Mbak Sumini...” “Emak sengaja tidak memberitahu Bapak kalian tentang ini. Emak takut sekali nak..Tapi ternyata, Bapak bahkan sudah memperingatkan Ustadz Idrun terlebih dahulu. Emak tidak bisa berbuat apa-apa. Istri Pak Idrun juga sudah tahu dan ia pernah memukul mbakmu itu di depan mata Emak.” “Memperingatkan Ustadz Idrun bagaimana maksudnya, Mak?” “Agar ia menjauhi mbakmu, melepasnya dan lekas bertaubat agar tak lagi melakukan perbuatan tak baik seperti ini. Ternyata Ustadz Idrun mengatakan bahwa Suminilah yang menyatakan cinta lebih dulu.” Emak meneteskan air matanya lagi. Kali ini Emak memutuskan untuk tidak mengusapnya. Ia membiarkannya jatuh. Hati Emak terluka begitu dalam. “Ketika istri Ustadz Idrun memukuli Sumini, Emak bersama Wasis pun menangis. Ternyata benar perkataan Bu Saeful bahwa Sumini dan Ustadz Idrun sering berboncengan kemana-mana berdua.“ “Emak hanya bisa menangis ketiika tahu bahwa Bapak juga mengetahui berita itu, Mirah. Bapak menahan malunya, menahan emosinya hingga tak ada satupun dari kita yang menyadarinya.” “Mak.. “ Tiba-tiba terdengar suara lain di mushola. Ia adalah Mbak Sumini. Memakai baju yang sama selama empat hari, ia berdiri sambil memegang kelambu mushola. Sepertinya ia mendengar obrolan kami dari tadi. Kulihat matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Tubuhnya juga semakin kurus. Bagaimana tidak, hanya air putih yang mengalir di tenggorokannya. “Mak, maafkan Sumini, mak...” dengan tangkas ia mengangkat tangan kanan Emak dan mengarahkannya ke pipinya. Ia pun kini menangis. “Mak, Sumini cinta Ustadz Idrun, Mak...” “ Apa yang kami katakan, nduk? Idrun itu sudah mempunyai istri,Nak.” Memang benar kata Slamet tempo hari, cinta itu perusak otak nomor satu. Tak ada yang bisa keluar dari pengaruhnya jika sudah masuk ke dalamnya. Ia mewanti-wanti agar kami, aku dan dirinya sendiri, agar tak terlalu mencintai seseorang. Bisa berbahaya. “Ingat, Sumirah. Jatuh cinta membuat otak kita rusak. Jangan ya?” Aku mengangguk pasti. Siapa juga yang ingin jatuh cinta? Aku lebih suka bermain layangan bersama Nurul. Ya ini, seperti Mbak Sumini sekarang ini. Dimana asiknya mencintai suami orang lain? “Nduk, cah ayu.. Ustadz Idrun sudah punya istri. Jangan kau rusak kebahagiaan orang lain nduk.. “ tangis Emak . Mbak Sumini kemudian bercerita bahwa Ustadz Idrun akan menceraikan istrinya demi Sumini dan berjanji akan hidup bahagia selamanya dengann Mbak Sumini. Emak hanya menghela nafas panjang. “Emak melarangmu melakukannya, Sumini. Pasti Bapakmu juga akan marah dan kecewa, Nak. Sekeras apapun kami berusaha menghentikanmu, rasanya kalimat kami tak akan pernah kau dengar. Dan harus kau tahu, Sumini...setiap hal yang kita lakukan selalu mempunyai pertanggungjawabannya.”ucap Emak dengan nada tegas. Emak menagtap mata Mbak Sumini lekat-lekat. Aku tahu dalam hati Emak berharap anak perempuan pertamanya itu akan luluh dan menuruti kemauannya. Emak berharap Mbak Sumini melanjutkan hidupnya sebaik mungkin. Kenyataan memang pahit. Setelah hari itu pun, ia memilih untuk menjadi gadis pendiam kalau ditanya tentang peristiwa itu. Walaupun pada akhirnya, suatu hari nanti, kami harus merelakannya menikah dengan lelaki pujaannya itu..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN