Aku tahu Hamid sedang berbohong.
Ci Lien tak mungkin begitu. Ia bukan teman seperti itu.
Tibe-tiba saja bayangan kakek tua itu melintas. Ia adalah lelaki yang kutemui ketika perjalanan menuju t*i Po. Aku menolong kakek itu untuk mencari tempat duduk, dan ketika berpapasan lagi, ia memintaku membantunya berjalan hingga ia menemukan mobil yang akan menjemputnya. Kami bahkan tak berbicara banyak. Ia lelaki lemah yang berdiri saja sulit, bagaimana bisa ia menyuntikku.
Aku memang merasa seperti tertusuk jarum di lengan kananku, tapi itu terjadi ketika aku sedang duduk di kereta, bukan ketika aku bersama kakek tua itu.
Aku tidak akan percaya begitu saja pada Hamid. Ia mungkin saja memperdayaku demi meraih tujuannya. Apapun itu. Ia tahu bahwa aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang ini. Aku tidak boleh terkecoh.
Sebaliknya, aku harus bisa memutar otakku agar bisa membuatnya terkecoh dan melepaskanku. Aku mencoba melepaskan tali
“Aku ingin pergi memanggil teman-temanku, Sumirah...”
“Silahkan saja, aku toh tak bisa lari dari sini.” jawabku ketus.
“Hahahaa.. tidak, tidak....aku masih ingin mengobrol denganmu.”
“Hamid, lepaskan aku.. Kita bisa bicara tanpa harus seperti ini, bukan? Kau bisa saja melepaskan ikatan ini, kan?”
“Benarkah begitu, Mirah?
“Iya, Hamid. Kumohon lepaskan ikatan tali ini.” Ia kemudian perlahan menghampiriku. Langkahnya mendekatiku adalah langkah awal aku bisa lari dari sini dan aku yakin ia akan membukakan ikatan tali ini.
Iya, Hamid. Kemarilah.. Lalu aku akan menendangmu untuk apa yang kau lakukan padaku.
Ia terus berjalan mendekatiku. Setelah itu dia menempelkan tangannya ke pundakku lalu denga sigap merangkulku. Ia kemudian berbisik.. “Kau pikir aku percaya tipu dayamu, Sumirah? Hahaha!”
Ia memutar-mutar tubuhnya dengan bahagia.
Tawa bahagianya menggema di gedung ini.
“Kau bukan orang baik, Hamid. Kau orang yang jahat! Dan yang harus kau tahu adalah kau tak akan bisa menyakitiku. Kau dengar, Hamid? Kau tak akan bisa menyakitiku!”
“Hey, Sumirah.. Sejak kapan kau menjadi lucu dan menggemaskan seperti ini?”
Ia kembali merangkulku dan mengatakan bahwa ia bisa saja melakukan sesuatu yang buruk padaku jika aku terus bicara omong kosong. Semakin aku meneriakinya, ia justru semakin menikmatinya.
“Aku adalah salah satu anggota mafia hebat di Hongkong ini, Sumirah. Aku sudah melihat lebih dari seribu orang sepertimu. Jangan meremehkan aku!” Ia mencengkeram kerah bajuku dan sejurus kemudian melepaskannya lagi dengan sangat kasar. Aku merasakan sakit di pergelangan tangan karena tali yang diikatnya tadi, sekarang kau juga harus merasakan pusing di kepala bagian samping karena hempasan tangannya.
Aku memejamkan mata sejenak berharap rasa pusing itu memudar, namun sia-sia.
Yang kulihat sekarang adalah pintu keluar itu. Aku harus melewati Hamid jika ingin segera keluar dan menemukan Ci Lien Hua. Walaupun aku sedikit khawatir, tapi rasanya Ci Lien lebih menguasai keadaan daripada aku. Ia pasti selamat dan sedang mencari cara agar bisa menyelamatkanku.
“Hamid, sejak kapan kau jadi mafia seperti ini?” tanyaku pelan.”Apa ini yang memang kau inginkan? Apa kau ingin Bapak Ibumu malu?
“Jangan mengada-ada, Sumirahku sayang... Orangtuaku pasti bangga melihatku ditakuti orang seperti sekarang. Lagipula apa pedulimu! Apa pedulimu, Mirah!”
Ia benar-benar kurang waras.
“Tepat saat kau mengacuhkanku. Tepat saat itulah aku tahu aku akan mengejarmu sampai dapat.” jawabnya singkat. Ia mengambil sebataang rokok dan mulai menyalakannya. “Namun ya, mungkin dengan cara seperti ini akhirnya kita harus bertemu Sumirah. Aku membutuhkanmu agar dia tidak membunuhku.”tambahnya.
“Dia, siapa?”
“Dia yang mengiginkan sesuatu dari tubuhmu!” Ia mengusap kepalaku dan menariknya kencang kebelakang.
Ajaibnya, rasa pusing yang kurasakan mendadak hilang.
“Apa yang kau katakan, Mid? Aku tak mungkin mengacuhkanmu.” jelasku.”Kumohon percayalah... Aku tidak berbohong dan kau tak tahu apa yang kau maksud dengan mengacuhkan.”
“Apa kau bercanda?” Ia keheranan melihatku bertanya hal yang sama berulang kali.
Hamid memandangku seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan. Aku tak ingat apapun tentangnya selain kecelakaan yang merenggut kakinya dahulu. Ketika ia mengatakan bahwa aku yang mengacuhkannya, aku memang mengingta beberapa kejadian, tapi tak pernah aku tahu kejadian apa yang membuatnya menajdi seperti ini sekarang.
“Tolong katakan saja apa salahku... Jangan biarkan aku menebak sesuatu yang aku tak ingat sama sekali seperti ini. Atau kalau tidak....” desakku. Aku sedikit mengancamnya karena rasa penasaranku semakin memuncak.
“Mid, aku tidak bertemu denganmu lagi setelah kami melihat ketika kau pergi ke rumah Pak Saeful untuk mengambil kardus, Mid. Aku tak pernah melihatmu lagi setelah itu. Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Dengar baik-baik, Sumirah.. aku tak ingin memberitahu apa-apa setelah ini.. Tapi yang pasti, aku akan melakukan apa yang ingin ku lakukan sejak dulu padamu..” Ia mengatakannya dengan setengah berbisik. Ia memegang pundakku dan menekannya agak keras. Bau minuman keras tercium sangat pekat. Sejak dulu, aku tak pernah suka bau ini.
Kring.. Kring..
Bagus!
Pergi dan angkat telepon itu, batinku.
Ia bergegas mengangkat telepon dan berbicara bahasa kanton yang tak bisa aku pahami. Walapunpun aku sudah lama bekerja di Hongkong, tapi aku hanya tahu sedikit tenang bahasa kanton.Mungking kemampuan bahasa Hongkonglah yang membuatku nyaman berada di negara ini.
“Kita akan kedatangan tamu spesial untukmu, Mirah.” ucapnya sambil tersenyum tanpa arti
Sepertinya ini bukan hal yang bagus. Tatapan matanya mengisyaratkan ada sesuatu yang jahat yang sedang ia rencanakan.
Ketika ia sibuk bertelepon, aku mengamatinya perlahan. Semua yang ada di tubuhnya, wajahnya, cara berjalannya.. Baju, celana panjang, bahkan sepatu dan gelang yang ada ditangannya. Tiba-tiba saja bayangan tentang Hamid kecil memenuhi pikiranku. Dulu sebelum kecelakaan naas itu, Hamid sering bermain di rumah kami. Walaupun Hamid seumuran denganku, ia lebih dekat dengan Wasis. Ia suka sekali menikmati es setrup di kamar Wasis. Bahkan pernah suatu kali ketika ia pergi bermain bersama Wasis tanpa berpamitan pada Bu Kardi dan Pak Kardi, kami menemukan kedua anak itu meringkuk tidur di atas temoat tidur Wasis. Mereka dulu sangat dekat. Hamid tidak mempunyai saudara kandung. Ia anak tunggal, jadilah orangtuanya sangat memanjakannya. Ia menganggap Wasis sebagai teman dekatnya. Bermain bersama, berangkat sekolah bersama, menjahiliku pun juga mereka lakukan juga bersama-sama.
. Sepanjang aku mengenalnya, ia adalah seorang yang baik hati dan mulia hatinya. Tapi kini... cerita yang kudapat tentang Hamid dari Ci Lien Hua sangat mengerikan. Aku berharap Hamid kecil yang dulu kukenal masih ada dalam hatinya.
Hamid kini berdiri dengan kakinya sendiri. Ia berdiri tegak dan berjalan kesana kemari dengan kakinya sendiri. Badannya terlihat sedikit kurus, mungkin karena ia juga bertumbuh tinggi. Wajah yang kulihat memiliki rahang yang tegas dan sorot mata yang tajam.
“Bagaimana kau bisa sampai ke Hongkong, Hamid?”
Ia menutup teleponnya dan menengok ke arahku.
“Apa? Apa katamu tadi?” Rupanya suaraku terlalu lirih hingga ia tak bisa mendengar kalimatku.
“Untuk apa kau ke Hongkong? Bagaimana kau bisa kau ada disini?”
“Apa yang kau katakan? Aku mengikutimu... Aku selalu mengikutimu.” jelasnya. Sorot matanya berkata kalau ia memang jujur Bagaiamana bisa ia mengikutiku hingga kesini...
“Aku berangkat ke Hongkong karenamu, Mirah. Aku melihatmu memasuki truk yang membawamu pergi dari kota kita. Kau menuju kota lain.”
“Hah? Apa kau waras? —, Kau--”
Kalimatku terhenti karena ada telepon yang masuk ke telepon genggamnya. Ia bergegas menerima panggilan itu dan mulai berbicara..
“Sepertinya kau harus membawanya masuk.. “
Masuk? Siapa yang akan masuk?
Dia tak membiarkanku menunggu lama, gema gedung ini mengisyaratkan ada langkah kaki yang medekat. Seseorang menggerakkan pegangan pintu. Aku melihat dua laki-laki itu masuk ke ruangan. Mereka memapah seseorang lain yang ditutup kepalanya. Entah itu lai-laki atau perempuan, namun ia memakai gelang yang sama denganku. Gelang yang kubeli di stasiun sesaat setelah aku bertemu dengan Maryamah.
Maryamah... Ya Tuhan, kenapa aku lupa memberitahu Maryamah apa yang terjadi. Tapi tak apa, memang seharusnya ia berada di tempat yang nyaman beserta majikannya. Biarlah, aku akan menceritakan semuanya nanti ketika kami berdua bertemu. Maryamah sedang menyelidiki kematian Mbak Eka, aku tidak boleh menggangunya.
Aku melihat Hamid. Mulutnya melengkung membentuk senyuman. Sudah kuduga ada rencana jahat yang sedang ia rencanakan.
Satu dari laki-laki tadi mengambil kursi dan menempatkannya di sampingku. Aku mulai gusar. Ia dengan kasar membawa orang dengan penutup kepala tadi duduk dan mengikat tangannya kebelakang. Persis sepertiku.
Orang dengan penutup kepala itu lunglai seperti sudah tak bernyawa. Namun ketika salah satu laki-laki tadi mendongakkan kepalanya, ia masih bernafas. Syukurlah ia masih hidup. Sesaat kemudian aku tahu ia adalah seorang perempuan.
“Agar kau tak kaget, Mirah. Aku ingin kau tak merasa sendirian.”
Dari tatapan Hamid padaku, rasanya ini akan menjadi malam yang panjang. Seseorang yang sedang ditutupi kepalanya ini pasti seseorang yang kukenal. Apakah Ci Lien?
Gawat!
Kalau memang benar Ci Lien, maka aku hanya punya sedikit kemungkinan akan selamat dari Hamid. Aku terpaksa harus mengandalkan diriku sendiri agar bisa keluar dari sini.
“Kau akan sangat menyukai kejutan dariu, Mirah.”
“Cuih, aku bahkan tak ingin mendengarmu bicara omong kosong!”
“Apa katamu?!” Plak!
Ia menampar pipi kananku. Kemudian menampar pipi kiriku secara bergantian. Ia menjadi merah. Pembuluh darah nampak jelas di lehernya.
“Aku sudah mengatakannya, Mid. Kau tak akan bisa menyakitiku!” aku berusaha menyeka darah yang keluar dari sudut bibirku dengan bahu.
“Jangan memancingku, Mirah.”katanya sambil merogoh kantong dan menemukan korek untuk rokoknya. Ia kemudain berkata,” Buka penutup kepalanya agar Sumirah tahu apa yang sedang dihadapinya.”
Laki-laki yang memakai baju hijau botol membuka penutup kepala perempuan itu dengan kasar.
Ya Tuhan.
Itu Maryamah.. Ia terkulai lemah.
“Bagaimana? Kau suka kejutan dariku?”tanya Hamid. Ia memberi isyarat dua laki-laki tadi untuk pergi keluar ruangan. Setelah keduanya pergi, Hamid mendekati wajah Maryamah. Ia mengusap rambut Maryamah berulang kali sambil melihatku. Ia sedang mengancamku.
“Bayangkan saja Mirah, betapa bosku akan senang mendapati ada dua wanita cantik yang siap untuk dijual.”
“Dijual, katamu? Lepaskan kami, Hamid! Atau aku yang akan membuatmu tak bernyawa!”
“Kau, Sumirah? Dengan badan kecil seperti itu? Usap dulu darah yang ada di bibirmu itu.”