Chapter 19

1179 Kata
“Pak, bapak.. Wasis mau salim....Bapak dimana sih, Mak? Wasis panggil dari tadi tapi tidak ada sahutan..” teriak Wasis. “Bapak lagi sholat, Sis.” jawab Emak. Kami sedang memilih kedelai yang nanti malam akan digiling. “Berhentilah berteriak, Sis.” ucap Mbak Sumini. Aku melihat Emak tersenyum setelah sekian lama. Mungkin karena malam itu Mbak Sumini ikut sembahyang bersama kami dan kini sedang duduk tepat di hadapannya. Ini adalah yang pertama kali setelah beberapa bulan lalu. “Lagipula kenapa kau berteriak seperti itu? Bukankah masih jam setengah tujuh?” tanyaku kesal. Aku terganggu dengan suaranya yang cempreng memenuhi ruang tengah kami. Dari kami bertiga, hanya Wasislah yang memiliki suara secempreng itu. Percuma saja ia mengidolakan suara bagus milik Mbak Vina Panduwinata-nya itu. Suara Mbak Sumini biasa saja. Suaraku sendiri adalah yang paling merdu. Tak ingin mmenyombongkan diir, namun banyak orang yang terkesima dengan suaraku. Ketika aku menirukan suara penyiar dari radio, Bapak sering mengatakan kalau suaraku sebagus suara penyiar itu. Jadilah pujian Bapak itu membuatku melayang. “Hari ini Ustadz Saleh ingin memberitahu hal penting untuk kami, Mbak Mirah. Jadi Wasis tak ingin terlambat.” Wasis membalas pertanyaanku sambil tersenyum. “Mungkin Ustadz Saleh hanya ingin memintamu dan teman-temanmu itu membersihkan masjid di depan gang, Sis.” ucap Mbak Sumini sambil tertawa. Wasis memasang wajah manyun dan kesal. “Enak saja.. tidak mungkin Ustadz Saleh berbohong.” ujar Wasis. Tetap dengan mulut manyun. “Hal penting apa itu, Sis?” celetuk Bapak tiba-tiba sambil menepuk pundak Emak. Ternyata Bapak mendengar teriakan Wasis dari mushola kecil rumah kami. Emak yang terkejut melayangkan pukulan di lengan Bapak. Bapak berpura-pura kesakitan dan kami semua tertawa. Itulah saat dimana aku menyadari sesuatu, kami saling merindukan setelah berbulan-bulan saling mendiamkan dir dengan perasaan masing-masing. Peristiwa yang kami alami dalam peristiwa Mbak Sumini kemaren adalahwaktu paling berat untuk kami. Hari-hari yang kulewati menjadi sangat menyebalkan. Kami bertiga bahkan dilarang Emak membantu membuat tempe di dapur. Jadilah kegiatan kami hanya berputar pada kamar dan ruang tengah. Mbak Sumini selalu di kamar. Dari pulang sekolah hingga keesokan paginya, ia hanya keluar kamar ketika ke kamar mandi dan saat makan saja. Meskipun aku dan Wasis sering meneriaki dan mengajaknya berjamaah, ia lebih sering sembahyang sendiri di kamar. Sedangkan Wasis selalu merebut tempat dudukku di runag tengah. Memang tak nyaman, akhirnya aku duduk di dekat tanaman-tanaman Emak yang kini jarang dibersihkan. “Wasis juga nggak tahu, Pak. Mungkin kejutan, Pak. Hehe.. Wasis suka kalau diberi kejutan, Pak.” “ Ya sudah, berangkat saja. Jangan pulang terlalu malam ya nanti, Nak.” “ Baik, Bapak.” ujar Wasis sambil memegang tangan Bapak. Ia bergegas berganti pakaian dan langsung berangkat setelah itu. Meninggalkan Aku, Mbak Sumini, Bapak dan Emak. Entah mengapa, tanpa diaba-aba, aku dan Mbak Sumini berdiri dan menuju ke kamar kami. “Mbak, nanti bantu aku mengerjakan pekerjaan rumah ya.” pintaku pada Mbak Sumini ketika kami sama-sama berada di kamar. Ini juga untuk pertama kalinya. Beberapa bulan ini aku kesulitan mengerjakan matematikaku sendiri. Penjelasan Bu Guru terlalu memusingkan. Aku juga tak ada teman yang bisa kutanya. “Iya.” jawab Mbak Sumini. Singkat dan padat. Mbak Sumini mahir tentang matemiatika. Ia bahkan mendapatkan nilai sempurna untuk ulangan caturwulan. Bahkan di ruamh kecil kami ini, kalau tentang hitung-menghitung, ia juaranya. Ia kemudian mengambil tempat pensil hijau dari tas sekolah hijau kesayangannya. Itu adalah pemberian dari Emak ketika ia berulang tahun ke sepuluh tahun. Ia berjalan perlahan menuju ruang tengah lalu duduk di kursi. Sudah kebiasaan kami untuk belajar bersama di ruang tengah. Bapak dan Emak mengajarkan ini agar kami terbiasa bersama. Ditengah-tengah penjelasaanya tentang matematika, Wasis pulang dan membawa sedikit kue dalam baskom kecil. Ada nagasari dan jemblem kesukaan Emak dan Bapak. “Bapak, apa boleh Wasis ke Jakarta?” ucap Wasis tiba-tiba “Ngapain ke Jakarta, Sis? Jauh lho.” ucapku. “Ada pengajian akbar di Jakarta, Mbak. Dan Ustadz Saleh mengajak kami semua untuk ikut.” “Mbak Sumirah boleh ikut ndak , Sis? “Jangan, Mbak. Yang boleh berangkat adalah kami yang laki-laki. Kata Ustadz Saleh tugas prempuan hanya dirumah dan mendoakan agar pengajian kami berhasil.” “Tapi Mbak ingin ikut juga.” “Kapan berangkatnya, Sis?” “Dua hari lagi, Mak. Boleh tidak, Mak?” “Tapi nanti kamu dua hari tidak pergi ke sekolah, Sis. Apa tidak apa-apa, Mak?” tanya Mbak Sumini pada Emak. Emak memandang Wasis dengan tatapan yang sulit diartikan. “Emak tak ingin kamu bolos sekolah, Sis.” “Tapi, Mak. Wasis ingin berangkat, Mak. Kami nanti naik bisa atau kereta, Mak. Dan Ustadz Saleh yang membiayai perjalanan kami nanti, Mak.” Aku melihat wajah Wasis yang tegang. Hatinya pasti sedang gelisah. Dalam keluarga kami, semua keputusan ada di tangan Emak. Bapak yang melihat percakapan kami hanya tersenyum simpul tapi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Bapak tahu bahwa akan sia-sia kalimat yang ia keluarkan kalau Emak tidak menyetujuinya. “Emak khawatir, Nak.. “ “Wasis kan berangkat bersama Ustadz Saleh, Mak. Jadi Emak ndak usah khawatir.” “Sis, Emak hanya bisa berdoa kamu berangkat dan pulang dengan selamat.”ucap Emak sendu. Tak ada yang berani membalas perkataan Emak. Kami tahu Emak sedang mengingat peristiwa terakhir yang terjadi. “ Di daerah mana, Sis?” “Di Tanjung Priok, Pak.” “Baiklah, nanti Emak yang menemui Ustadz Saleh untuk tanya-tanya perjalananmu ya, Sis.” ucap Emak sambil membereskan bungkus nagasari. Aku dan Mbak Sumini terheran-heran mengapa Emak dengan mudah memberi ijin pada Wasis. Aku ingat betul bagaimana raut wajah sedih Emak ketika dulu Wasis sempat hilang karena main layangan. “Jadi, apa Wasis boleh berangkat?” “Iya...” Suara Emak terdengar sedih. Aku memoleh ke arah Bapak untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Keesokan paginya, kami berangkat bersama-sama ke sekolah. Walaupun berbeda sekolah, aku melihat Wasis dan teman-teman mengajinya berkumpul di depan gerbang. Aku sempat menyapa Wasis dan ia membalasku dengan tatapan mengejek. Dasar adik tidak tahu disayang! Nurul menungguku di warung sekolah dan perutku juga meronta-ronta. Mendoan dan nasi goreng pasti enak dimakan siang-siang.. “Lama sekali sih, Mirah!” “Iya, iya.. Maaf. Tadi Wasis ada di gerbang, dan aku mampir untuk menyapa.” “Ya sudah kita langsung makan saja.” Nurul sibuk melahap mendoan tempe dan melewatkan bagian terpenting dari makan mendoan. Petis! Mana mungkin makan mendoan tanpa petis. Petis Tulungagung sangat enak. Dibuat dair rebusan udang atau ikan tengiri yang dimasak hingga kental seperti saus. Tambahan gula dan rempah membuat petis memiliki aroma yang khas. Kebanyakan orang menikmati mendoan atau tahu campur. “Oiya, Mir.. tadi aku lihat Mbak Sumini keluar sekolah lewat gerbang belakang. Kira-kira kemana ya Mbak Sumini, Mir?” tanya Nurul sambil melahap mendoan tempe. Ia Aku terdiam karena tak bisa menjawab pertanyaannya. Pertanyaan ini lagi, pertanyaan ini lagi... “Aku nggak tahu, Rul. Mungkin ia pergi bersama teman-temannya.” “Oh, tapi tadi Mbak Sumini sendirian, Mir. Kemaren siang aku juga melihat Mbak Sumini begitu juga.” “Sudahlah, biar saja Mbak Sumini itu.” ucapku singkat. Nurul mengangguk pelan. Kami menikmati mendoan terakhir di mulut kami dan beranjak pergi ke kelas untuk melanjutkan belajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN