Dasar licik!
Dia tahu aku sedang merencanakan sesuatu. Mataku berkeliling memastikan bahwa aku akan menemukan jalan keluar yang pas. Aku terus mengarang skenario dalam otakku. Tali yang mengikat tanganku sepertinya hampir putus. Aku menggeseknya dengan lapisan tajam di kursi yang kududuki.
“Apa yang kau lakukan pada Maryamah, Hamid!” bentakku. “Jangan berani kau sentuh temanku!”
Ia hanya meringis.
Ia dengan sengaja memainkan kepala Maryamah. Ke belakang dan ke depan, berulang kali. entah apa yang sedang Hamid pikirkan. Maryamah pasti merasakan sakit pada lehernya ketika bangun nanti. Aku tak tahu apa penyebab Maryamah tertidur begitu lama, tapi ini sudah lebih dari tiga puluh menit ia tertidur. Aku memanggil namanya berkali-kali namun tak ada respon apapun.
“Kau hanya membuang-buang waktumu saja, Mirah. Obat yang kami suntikkan ke temanmu itu akan membuatnya tidur lebih lama. Sama seperti yang kami lakukan pada temanmu yang lain.”
Aku mengernyitkan dahi. Siapa lagi yang sudah disuntik dengan obat itu?
“Obat apa itu, Mid? Obat apa!” teriakku lantang.
“Semakin kau berteriak seperti itu, semakin aku ingin menyakitimu, Mirah..Apa kau pikir aku tak berani?”
Entah darimana asal pisau yang kini digenggamnya, ia berlagak sebagai pemain sulap sekarang. Apa dia pikir dengan bermain pisau seperti itu, aku akan diam saja?
Tentu tidak. Mungkin aku sedikit takut dengan senjata tajam.
“Hentikan semua ini!” bentakku.
“Hahahaha! Silahkan berteriak sesukamu. Tak akan ada yang mendengarmu dari sini.”
Cuaca Hongkong saat ini sungguh menyebalkan. Kakiku dingin luar biasa, dan makhluk hidup ang bermain pisau ini juga membuatku resah. Ia berjalan mondar-mandir, membuatku semakin gelisah. Ia memasukkan pisau itu ke dalam sarungnya, kemudian melepaskannya, lalu memasukkannya lagi. Ia berjalan mondar-mandir seperti sedang menunggu telepon genggamnya berbunyi, sementara aku menunggunya lengah.
Aku berencana melarikan diri melalui pintu yang tadi digunakan dua laki-laki yang membawa Maryamah masuk. Aku memang tak ingat apapun sampai aku duduk di kursi ini, tapi aku yakin akan ada jalan keluar lain. Sayangnya, harus segera kuurungkan rencana itu aku melihat Hamid berdiri hanya beberapa meter saja dari pintu itu. kemungkinan besar Ia menyergapku dan menangkapku lagi. Kemudian ia akan menyeretku kembali ke kursi. Tidak,. Itu bukan rencana yang bagus.
Jendela yang ada di tengah-tengah ruangan ini ada tepat di belakangku. Hanya berjarak sekitar dua sampai tiga meter saja. Nanti setelah beberapa langkah saja, kalau aku beruntung, aku akan bisa melarikan diri. Tentu saja ini diluar masalah tentang Maryamah. Ia masih tergolek tidak berdaya terikat di kursi itu.
Kalau aku harus menunggunya sadar, Hamid akan segera tahu rencanaku.dan itu tentu saja bukan rencana bagus. Kalau aku tidak segera, Hamid akan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya lagi.
“Mir, mirah...Mir...”
Aku menengok ke samping untuk memastikan bahwa suara itu adalah suara Maryamah. Ia tersadar dari tidur cantiknya, syukurlah. Wajahnya memucat, tapi matanya terbuka untuk melihatku.
“Apa itu kau, Mirah?”
“Iya, Maryamah,. Ini aku... “
“Baguslah. Mir, aku dapat kabar..”
“Berbicaralah dengan bebisik, supaya laki-laki itu tidak mendengar suaramu. Bisa gawat kalau sampai ia tahu kau sudah bangun.” Ia mengangguk pelan dan membenarkan posisi duduknya, dan berkata, “Kepalaku pusing sekali. Rasanya seperti berada di kumpulan lebah di rumah lebah.”
Aku ingin sedikit tertawa tentang rumah lebah, tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat. Aku akan menyimpannya untuk bahan candaan di waktu yang tepat suatu hari nanti. Maryamah kini meringis kesakitan. Tampaknya efek yang dihasilkan suntikan itu baru muncul sekarang.
“Terang saja, mungkin itu karena obat yang disuntik itu.”
“Tenang bagaimana! Kepalaku hampir pecah, Mirah.”
Kami saling memandang dan kulihat wajahnya semakin pucat.
“Suntikan apa, Mirah? Apakah laki-laki itu yang menyuntikkanya? Apa kau baik-baik saja?” desak Maryamah.
“Wah, Maryamah sang penolong sudah bangun dari tidur lamanya.. Baguslah, kita akan segera berangkat.” Ia mengagetkan kami.
“Dimana aku? Siapa kau!” tanya Maryamah. Karena tangannya sedang diikat, ia tak bisa memegang kepala dan bagian dari rasa sakitnya itu. Suntikan itu.. Obat itu pasti juga mengalir dalam pembuluh darahku. Awal aku membuka mata, aku juga merasa pusing. Lalu semua sakitnya berkurang bertahap.
“Mungkin kau harus bertanya pada teman tersayangmu itu, Sumirah.” ucap Hamid.
Dalam hati aku yakin aku bisa menyelamatkan daiir dari manusia keji ini. Aku teringat semua hal yang Ci Lien katakan, Hamid adalah anggota mafia yang disegani. Ci Lien memperingatkanaku untuk tidak bertindak sembarangan. Tian Di Hui adalah mafia yang cukup lama melanglang buana di Hongkong.
Tadi ketika ia bertelepon, samar-samar kudengar Hamid menyebutkan kata ‘truk’ dan ‘perjalanan’. Dugaanku kami akan dibawa dengan truk menuju ke suatu tempat.
“Mirah, kita akan pergi ke suatu tempat. Kamu akan menyukai pemandangannya.”
Ia mendekati Maryamah dan berusaha menutup mulutnya menggunakan lakban hitam. Maryamah hanya bisa meronta dan berjuang menghindari tangan Hamid. Namun Hamid berhasil meraih kepala Maryamah dan menahannya agar tidak banyak bergerak.
“Inilah kenapa aku tidak suka pada temanmu. Terlalu banyak bicara.”
“Jangan kau berani menyentuhnya, Hamid! JANGAN KAU BERANI!” teriakku.
“Jangan kau melakukan hal sia-sia seperti dua teman-temanmu yang lain, Mirah. Mereka banyak bicara dan melakukan sesuatu pada organisasi kami.”
“Apa kau yang membuat Mbak Eka terbunuh, Hamid?”
“Kau akan tahu setelah ini.”
Tepat saat Hamid menyelesaikan kalimaTnya, dua orang laki-laki tadi datang dan berjalan kearahku. Mereka melepaskan ikatan yang melingkar di tangaku dengan kasar. Salah satu dari mereka memegang lengan dan menyeretku ke luar ruangan.
Aku tak ingin meninggalkan Maryamah. Aku tak tahu apa yang akan Hamid lakukan pada Hamid. Ia bisa saja membuatnya terbunuh.
“Mirah, Sumirah. Kau dimana? Mirah?” teriak Maryamah mencariku. Ia tak bisa melihatku.
“Maryamaah...” aku berteriak sekencang mungkin.
Plak!
Tamparan yang mendarat di pipi kiriku kudapat dari laki-laki satunya. Ia melotot padaku sambil mengancam akan membunuhku kalau aku bicara omong kosong. Lenganku sakit karena mereka menekannya terlalukeras. Aku berusaha untuk tenang walaupun sulit sekali untuk dilakukan. Aku keluar dari ruangan dengan pintu hiaju pekat. Dalam perjalanan, dengan bantuan lampu yang cukup terang aku melihat dua ruangan yang memiliki pintu berwarna merah dan satu pintu kecil berwarna hitam.
Bangunan ini adalah sebuah gudang tak terpakai. Bau bir yang sudah basi dan embok yang lembab memenuhi ruangan. Banyak perabotan yang berantakan. Aku hampir saja menabrak salah satu kardus yang diletakkan bergelatakan di lantai. Hamid mengikuti langkah kami. Ia dengan tatapan tajam terus memandang kami di depan.
Ia memerintahkan dua laki-laki tadi untuk memasukkanku ke dalam truk yang terpakir beberapa meter di depan gudang. Kupikir Hamida akan membiarkanku berada di dalam truk itu sendiri, tapi tidak. Ia mengambil langkah pasti mengikutiku masuk ke dalam truk itu.
Ia duduk tepat di depanku. Memandangku dengan sorot mata yang menyipit. Tapi aku tak gentar, Mid. Tak akan kubiarkan ketakutan ini bertahan lebih lama. Aku balsa menatapnya lekat.
“Aku pernah dengar tentang bagaimana mafia bekerja, Hamid. Dan aku tak percaya kau ada di dalamnya kini.”
Ia memberikan setengah senyumnya. Dari mana ku dapatkan keberanian untuk ngobrol santai dengan orang yang memegang sebuah pisau ditangannya, ya Tuhan..
Aku mulai membayangkan Hamid akan menekan pisau itu tepa di perutku dan memutar ususku keluar. Ia menusukku semakin dalam agar aku makin tersiksa. Lalu ia akan menginjak perutku hingga ginjal dan lambungku hancur. Dan Hamid tertawa melihat darahku keluar begitu saja dari tubuhku.
Ketika ia menggerakkan kakinya, saat iulah aku bersyukur bahwa itu hanya imajinasiku saja.
“Dan ya, tentang masa lalu kita.. aku hampir tidak bisa mengingat apapun..” ucapku. “Maukah kau membantuku mengingatnya?”
“Apa kau sungguh ingin mengetahuinya, Sumirah?”
Aku mengangguk pelan.
“Sepertinya dugaan tentang efek suntikan itu benar. Sejak kapan kau merasakan ini semua, Mirah?”
“Aku tak mengerti.” Beberapa kali aku memang sedikit pusing mengingat, tapi ini masih normal. Apa yang Hamid tanyakan mengejutkanku.
“Apa yang disuntikkan padamu-lah yang membuatmu lupa tenang hal-hal yang terjadi di masa lalumu. Itupun kalau percaya padaku.”ucapnya dengan nada mengejek. Aku tak punya pilihan lain selain mempercayainya.
“Mirah, apa kau ingat kalau kita pernah berada di belakang gedung baru yang ada di sebelah kampung kita?”
“Apa kau ingat kau menamparku setelah semua yang kulakukan padamu saat kau terpuruk karena ulah Mbak Sumini?”
“Mirah, apa kau ingat bahwa kita pernah berlarian di pantai ketika kau marah karena Emak memarahimu atas kesalahan Mbak Sumini dan Wasis?”
“Apa kau ingat betapa ibuku suka memasakkanmu sop ayam, sayur kesukaanmu?”
“Apa kau ingat kalau kita....”
Kalimatnya berhenti. Ia menatapku curiga.
"Kalau kita.....?"