Chapter 21

1409 Kata
Aku ingat hari itu adalah hari Senin ketika Wasis berangkat ke Jakarta bersama eman-temannya. Sehari sebelumnya, Ustadz Saleh memberitahu Wasis tentang apa saja yang dibawa dan lama perjalanannya. Cukup dua baju putih, sarung, alat mandi dan alat makan. “Sis, jangan berbuat yang tidak baik disana ya, Sis.” pesan Emak. Beberapa baju yang akan dibawa Wasis sudah disetrika dan ditata rapi oleh Emak sehari sebelumnya. Tak pula dibubuhi dengan parfum yang wanginya semerbak. Aku yakin pasti semua orang di bisa akan merasakan mual luar biasa nanti. “Jangan-jangan mau mencari Mbak Vina-mu yang dulu itu.” ujar Mbak Sumini dengan nada mengejek. “Semoga Mbak Vina mau ketemu aku ya mbak.” Mbak Sumini dan aku tertawa terbaka-bahak mendengar ucapan Wasis. Seorang penyanyi yang terkenal luar biasa seperti Vina Panduwinata tentu akan sangat sibuk menyanyi kesana kemari. Bagaimana mungkin ia akan menemui adik bungsu kami yang ganteng tidak jelekpun tidak. Tapi demi menenangkannya, kami berdua serempak mengamini harapan hidup seorang Wasis. Bisa ditebak, ia tersipu malu. Semua barang sudah dimasukkan ke dalam tas. Emak juga membugkuskan kacang pedas dan amplang [edasa sebagai bekal diperjalanan. Botol air minum berwarna merah hati juga sudah disematkan di pinggir tasnya. “Nanti setelah sampai Jakarta, kabari kami ya, Sis. Nanti minta tolong pada Ustadz Saleh agar memberimu uang untuk menelepon Pak Saeful saja.” “Iya, Pak... Tenang saja..” “Biar Bapak dan Emak tidak mengkhawatirkanmu, Sis.” ucap Mbak Sumini. Wasis hanya membalas dengan anggukan pasti. Kami berempat mengantar Wasis ke terminal bis dan mendapati bahwa semua yang ikut dalam pengajian akbar ini memang sangat banyak jumlahnya. Setelah kami hitung bersama, ada enam belas bis berangkat dari Tulungagung. Nanti semua orang akan berkumpul di monumen nasiona aau monas, kata Wasis. Menurut Ustadz Saleh, Wasis dan teman-temannya nanti akan di tempakan di sisi sebelah kanan Monumen Nasional yang berdekatan dengan pemukiman warga, itulah mengapa nanti Wasis dan teman-temannya akan mempunyai tempat inap di Jakarta nani. Bapak mengiyakan saja karena Bapak tahu Ustadz Saleh adalah orang yang bertanggungjawab dan baik hati. Ketika memandang bis yang ditumpangi Wasis berangkat, barulah Emak menunjukkan emosi yang tadi sempat ditahannya. “Sumi, adikmu itu belum pernah pergi jauh lho. Nanti kalau ada apa-apa di Jakarta, bagaimana ia bisa pulang ya?” “Mak, tenang saja. Ada Ustadz Saleh, Mak. Pasti nanti Wasis dijaga.” “Iya, Mak. Lagipula Wasis kan tidak pergi sendirian. Ia berangkat bersama teman-temannya. Mereka akan berangkat dan pulang bersama-sama, Mak.” Emak menoleh ke arahku seraya berkata, “Wasis tadi apa sudah makan, Mirah?” “Sudah, Mak. Wasis makan hampir dua kali lipat jatah makannya hari ini.” ujarku. Emak yang mendengarkan mulai menghela nafas panjang. “Ayo pulang, Mak.” ajak Bapak sambil menggandeng lengan Emak. Aku dan Mbak Sumini mengikuti langkah mereka. Terkadang, perhatian Emak untuk Wasis membuatku iri. Tidak semua keinginan Wasis memang terpenuhi, namun banyak hal yang sebenarnya aku inginkan malah menadi hal yang Wasis dapatkan denagan mudah. Seperti sekarang ini, ia dengan mudah mendapatkan ijin dari Bapak dan Emak, namun tak ada ijin untukku dan Mbak Sumini kalau melakukan hal yang sama. Nanti di Jakarta, pasti ia hanya main-main saja selama pengajian akbar itu. Ia dan teman-temannya pasti bermsin di rumput Monas yang hiaju nan bersih itu, setidaknya itu yang kulihat dari buku pelajaran milik Bu Guru tempo hari. “Wasis pasti sekarang sedang tak enak hatinya, Mirah.” ucap Mbak Sumini tiba-tiba. “Kenapa begitu, Mbak?” “Ya karena sedang jauh dari Emak dan Bapak.” Deg. Aku terhenyak dengan apa yang dikatakan Mbak Sumini. Mbak Sumini benar, aku lah yang harusnya bersyukur karena Emak dan Bapak ada disampingku. Bersama kami. Nanti malam Wasis akan kebingungan karena tak akan ada yang menganta ke kamar mandi. Ia akan meminta tolong pada teman-temannya atau Ustadz Saleh dan ia pasti akan sangat malu. Haha! Kami terus berjalan menyusuri sawah yang terbentang luas di desa kami. Emak dan Bapak asyik mengobrol sedangkan Mbak Sumini dan aku hanya berjalan sambil diam. Kami melihat pemandangan indah di kanan kiri kami. Banyak petani yang sedang beristirahat dan kemudian menyapa Bapak dan Emak secara bergantian. Sore yang kami lewati terasa sepi karena suara cempreng anak laki-laki satu-satunya terdampar di Jakarta. Belum juga kami sampai rumah ketika menyadari bahwa ada seseorang di teras rumah kami. Ia adalah Ning Putri, istri dari Ustadz Saleh yang sedang duduk menunggu kami di teras rumah. Begitu melihat ada Nng Putri, Mbak Sumini memegang erat lenganku dan bersembuyi di balik bajuku. Aku tahu apa yang ia rasakan. Kami berjalan menuju dalam rumah melalui pintu samping dengan sengaja. Aku tak kuat melihat aura penuh kebencian Ning Putri pada Mbak Sumini. Oh, tidak! Aku langsung melihat ke arah Mbak Sumini untuk menebak raut wajahnya. Ia hanya sedang menggigit bibirnya. Aku tidak tahu apa yang kini Mbak Sumini rasakan saat ini. Hanya ia sendirilah yang tahu. Ning adalah sebutan untuk anak perempuan keturunan Kiai. Kalau ia laki-laki, maka sebuannya adalah ‘Gus’. Ning dan Gus biasanya adalah orang-orang yang juga ikut disegani di mata masyarakat. Ning selalu berpakaian dan bersikap baik dan santun, begitupun dengan Gus. Mereka biasanya wangi dan bersih. Aku bahkan bisa mencium wangi manis Ning Putri dari beberapa meter. Dan ya, aroma pertikaian yang juga sangat pekat mengelilingi tubuhnya. Setelah mengucapkan salam dan dipersilahkan duduk, Ning Putri menempati kursi sebelah kiri dan Bapak duduk di sebelah kanannya. “Ada apa ini, Ning? Kok tiba-tiba datang kemari tanpa pemberitahuan.” “Sebelumnya saya bererimakasih telah diterima dan diperlakukan dengan baik oleh Bapak dan Emak.” “Tidak apa-apa Ning. Sudah kewajiban kita memperlakukan tamu dengan baik dan layak.” “Nggih, Bapak.” Ning Putri tersenyum simpul. Entah ada apa dengan orang-orang dewasa ini. Walaupun aku tahu betul bahwa Mbak Sumini melakukan kesalahan dengan pergi bersama Ustadz Saleh, namun kedatangan Ning Putri datang ke rumah ini semakin membuat aku penasaran dengan kenyaatan bahwa Ustadz Idrun-lah yang salah. Bukan Mbak Sumini. Aku sedikit merasa beruntung dengan tidak pergi lewat pintu depan, rasanya akan sulit mendengar percakapan mereka sejelas ini. Wasis pasti juga akan menemaniku disini kalau saja ia tidak berangkat ke Jakarta. “Silahkan diminum, Ning” ucap Emak pada Ning Putri. Ia menyeruput teh manis yang kusuguhkan. Aku lihat Mbak Sumini sudah kabur duluan dan pergi ke kamar begitu memasuki pekarangan rumah. Mata Ning Putri tak berhenti menatap Mbak Sumini sejengkal pun, bahkan dari jarak yang lumayan jauh. “Bapak, boleh saya bertanya tentang sesuatu?” “Silahkan, Ning.” kata Bapak datar. Tanpa ekspresi berarti. Aku tahu Bapak sedang meredam emosinya sendiri. “Bapak, apa pendapat Bapak tenang orang yang mencuri kelapa di kebun milik orang lain?” “Mencuri? Tentu saja itu tidak terpuji, Ning.” ucap Bapak. “Lalu, Apakah saya boleh menghukum orang yang melakukannya, Bapak?” Apa maksud Ning Putri datang kemari, batinku. “Apa maksud Ning Putri datang kemari, Ning?”tanya Bapak “Saya ingin bertanya tentang pencuri itu, Pak.” “Ning, abah dan umi Ning Putri jauh lebih mampu untuk mengajarkan tentang itu semua, Ning. Kau bisa langsung bertanya pada abah dan umi-mu kalau kau ingin jawaban yang shahih. Aku hanyalah rakyat biasa, Ning.” “Pak, Kalau begitu saya akan menghukum pencuri itu, ya Pak.” jelasnya. Ia kembali meneguk teh manisnya. Kali ini ia bahkan mengedipkan mata seolah menikmati permainannya sendiri. Bapak dan Emak seperti tahu maksud dari kedatangan Ning Putri kerumah kami. Emak tak berhenti memberi sorot mata tajam pada Ning Putri. “Tidak, Bapak. Tidak. Saya tak akan bergurau lagi. Saya kesini untuk mengajarkan pada salah satu anak perempuan Bapak untuk pergi meninggalkan suami saya.“ Emak terkesiap. Mereka bertukar pandang. Seperti memamahi arti tatapan Emak, ia berkata, “Iya, Mak. Saya tidak bisa menyerahkan suami saya pada orang lain. Tentu Emak tak ingin anak Bapak ketahuan menjadi seorang pencuri, kan?” Kalau biasanya Emak akan sedikit ganas kalau berhadapan dengan orang yan tak mengerti tentang soal santun seperti ini. Mungkin sudah puluhan rencana tersusun rapi di otaknya sekarang. Namun syukurlah Emak kami sangat hebat. Saat itu, Emak berdiri dari tempat duduknya dan berkata, “Lebih baik kau urusi saja suami Salehmu iu, Ning. Laki-laki yang menggoda putrikulah yang harusnya dihukum. Bukankah kau adalah seorang yang berpendidikan. Harusnya kau tahu kalau anakku masih kecil untuk terlibat hal seperti ini denganmu. Silahkan tinggalkan rumah kami.” Ning Putri memandang Emak. “Baiklah kalau begitu, Mak. Kita lihat saja nanti ya, Mak. Saya mohon pamit.” Ning Putri pergi meninggalkan rumah kami. Meninggalkan Emak yang kini menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN