Chapter 22

1256 Kata
Tidak mungkin aku pernah mengatakan itu pada Hamid. Apalagi ketika kau masih berumur belasan tahun seperti itu. “ Haha, dan kau tak percaya itu, Mirah?” “ Jangan membual.” ucapku datar dan singkat. Apa hebatnya bercanda tentang perasaan? Kenapa dia pikir bisa membohongiku. Beberapa memori tentang bermain petak umpet terlintas begitu saja, namun tidak dengan kejadian yang ia sebutkan tadi. “ Aku tak akan pernah berani membual tentang perasaanku, Mirah. Kau pernah bilang bahwa perasaan kita itu mahal harganya.” “ Mid, sekali lagi aku ingin bertanya. Apa yang membawamu ke Hongkong?” “ Mungkin kau ingin bertanya hal yang lain saja, aku bosan dengan pertanyaan yang itu.” “Lalu jawab aku, mengapa kau bergabung dengan mafia ini?” “Karena aku ingin bertahan hidup. Aku hanya--” Ia tak menyelesaikan kalimatnya dan kini menatap ke luar jendela seolah jawaban dari pertanyaanku sedang tergantung disana. Kadang tanpa sengaja aku melihat Hamid sebagai teman masa kecilku yang nakal dan jahil, namun saat ini aku melihatnya sebagai laki-laki yang terluka batinnya. Mempunyai luka batin yang belum sembuh adalah luka seumur hidup, setidaknya itu yang k****a di buku Cece. Entah luka apa yang sedang berkecamuk di mata laki-laki ini. Yang pasti, tanganku terikat dan ini karenanya. Tadi ketika truk yang kami tumpangi melewati jalan berbatu dan hampir tak bisa bergerak maju, sebenarnya aku mengharap Hamid akan sedikit lengah atau lupa kalau aku ada di hadapannya. Ia rupanya telah mempersiapkans segala hal di pikirannya. Seolah ia sudah tahu berapa sentimeter aku akan berpindah kalau itu terjadi. “Apa kau tahu, Mir, bahwa ketakutan terbesarku adalah tak bisa pulangke Indonesia dan bertemu Bapak Ibuku?” “Uang yang kau dapatkan harusnya cukup untuk membawamu pulang.” “Tidak, aku tidak menginginkannya.” “Bagaimana bisa? Kau hidup bertahun-tahun disini..” “Bagaimana kau tahu?” “Ayolah, Mid. Aku bisa melihatnya dari sudut matamu.” “Kalau kau memang bisa menebak apa yang ada di pikiranmu, coba tebak apa yang bisa kulakukan dengan pisau ini di tubuhmu?” Aku terkejut melihatnya memainkan pisau itu lagi. Hampir saja ia menancapkannya ke paha kiriku. Laki-laki ini memang menyeramkan. Setelah puas bermain pisau, kini ia mengambil ancang-ancang untuk menengok sisi luar dari truk ini. “Mirah, perjalanan truk ini masih lama..”ucapnya. Aku terheran-heran dengan perubahan suasana hatinya. Tiba-tiba ia begitu hangat, namun berubah menjadi dingin di menit berikutnya. Kalau tadi ia memainkan pisau sambil tersenyum menyeringai kearahku, sekarang ia duduk manis dengan tangan terkatup layaknya murid sekolah dasar di hari pertama sekolah. “Mir, apa kau tahu, Apa kau tahu bahwa sebenarnya aku benar-benar ingin mencarimu saat itu?” Matanya berkilat terkena kilau kendaraan lain yang berada di belakang kami. “Waktu itu-- ketika aku melihatmu pergi dari pelabuhan, sungguh aku ingin membawamu kembali ke rumah. Waktu itu tak pernah terbayangkan aku tidak bisa melihat wajahmu lagi.” Hamid membetulkan posisi duduknya, namun matanya tetap mengarah ke bola mataku. “Aku tak bisa membiarkanmu pergi. Pilihannya hanya ada dua. Aku yang membawamu pulang atau aku pergi bersamamu, kemanapun itu....Namun kurasa keduanya bukan pilihan yang baik untukku.” Aku memilih untuk diam mendengarkan semua penjelasannya. Aku juga tak ingin memotong kalimat apapun yang keluar dari mulutnya. Kulihat Hamid seperti sedang bercerita untuk dirinya sendiri. Ia mendongak dan semakin terhanyut pada ceritanya. “Andai saja aku tidak mengikutimu saat itu, aku mungkin akan terbebas dari kewajiban membayar hutang.Setelah menjadi anggota selama bertahun-tahun, kini kau harus membayar hutang. ” “Hutang, katamu?” “Iya, hutang karena telah megikutimu. Dari situlah aku ikut menjadi anggota.” “Hutang kepada siapa?” “Pada tuanku.. Pada bosku, Ia mengatakan jika aku ingin pulang ke Indonesia, harus ada seseorang yang kukorbankan.” “Apakah itu aku?” “Dan sayangnya, itu kau, Sumirah.” Teriakanku tak ada artinya. Hamid terus berbicara. “Aku diwajibkan membawa seseorang yang ku sayangi ketika aku menginginkan kebebasanku, Mirah. Setidaknya hany akau yang bisa kucari selama ini.” “Kalau kau mencariku selama ini, bagaimana bisa aku lolos selama lebih dari sepuluh tahun, Hamid?”tanyaku sambil “Aku selalu ada disekitarmu. Ketika kau di pasar untuk berbelanja, ketika kau bertengkar dengan Cece di jalanan t*i Po, bahkan ketika kau berlari meraih tubuh temanmu yang jatuh dari gedung.” “A-ku tidak tahu.” “Aku tahu itu.” “Andai aku bisa bertemu denganmu sejak awal, Hamid..”kataku. “Tidak, Mirah.. Kalau kau bertemu denganku sebelum ini, percayalah, hal yang ingin kulakukan adalah membunuhku. Alasan mengapa aku begitu tersiksa disini adalah karenamu. Aku tak akan bisa menahan amarahku.” “Aku memaki diriku sendiri karena tak berdaya melwan ketakutan yang kuhadapi, Mirah. Selama ini aku seperti terpenjara dalam gudang kayu tertutup.” lanjutnya. Ada ingatan tentang gudang kayu yang datang. Gudang kayu yang ada di desa kami. Gudang kecil dengan cat krem pucat yang terus tergerus waktu. Petani sering meletakkan jerami mereka di depan gudang itu. Gudang itu adalah satu-satunya taman bermain Wasis, Hamid, Mbak Sumini dan aku. Kami berlari mengelilingi tumpukan jerami dan dengan santai terjun bebas ke tumpukan itu. Kenangan tentang masa-masa itu rasanya cukup lama hilang. Beruntung Hamid berhasil membawaku pada tumpukan jerami itu lagi sekarang. “Tumpukan jerami itu, Mid.. A- apa itu masih disana?” Ia tersemyum dan berkata, “Kau mengingatnya, Sumirah. Itu bagus!” “Suatu sore setelah pulang dari mengaji, kau mendatangiku seraya bolang kau ingin bermain dengan tumpukan jerami. Kau bersikeras kesana walaupun aku sedang tak ingin berlarian kesana. Kita menikamti masa-masa kita mengumpulkan jerami disana, Mirah. Hanya kita berdua.” “Hentikan. Jangan diteruskan.” Entah kenapa bagian lain dari cerita itu membingungkan dan aku merasa tak sanggup mendengarnya lagi. Aku menunduk dan berusaha untuk tidak mendengarnya lebih lanjut. “Kenapa? Apa kau malu, Sumirah?” “Kubilang hentikan.” “Baiklah.” ucap Hamid singkat. Aku mendongak untuk memastikan ia benar-benar serius dengan ucapannya. Yang kulihat justru mata Hamid yang berkedip-kedip. “Kita bahagia saat itu, Mirah.. Kita sangat menikmati waktu-waktu kita. Tapi aku tahu, waktu itu Mbak Sumini menyita hampir semua perhatiaanmu.” “Mbak Sumini, apa kabarnya kini? Apa ia baik-baik saja?” Ia menangkap sorotan mataku. “Aku merasa sedang diinterogasi polisi..” kataku datar. “Tidak, kau sedang tidak diinterogasi. Kau-lah bukti aku pernah bahagia. Ba—bahagia karena pernah bergandengan tangan denganmu adalah hal yang tak bisa kugantikan dengan kenangan apapun.” “Aku melihat tato di tangan kirimu dan bekas sayatan di punggung tanganmu, Hamid.” Ia sedikit terkejut aku menyadari tato dan lukanya. Ia pikir jaket akan berhasil menutupinya. Sejujurnya, aku hanya ingin mengalihkan perhatiannya. “Apa kau telah disiksa, Hamid? Mengapa kau tak melarikan diri? Tak bisakah kau pulang ke Indonesia tanpa membayar mereka?”desakku. “Aku akan kehilangan orangtuaku setelah itu. Aku tak akan bisa hidup, bertahun-tahun aku menjaga mereka dari kejauhan, Mirah. Tak ada yang bisa menyelamatkanku selain aku membayar semua hutangku.” “Aku mungkin tak akan selamat sampai pelabuhan jika kau melakukannya. Dan mereka mengancam akna menjadikan orangtuaku sebagai pengganti.” “Pengganti?” “Iya, yang mereka ambil ginjalnya.” “A—Apa? Ginjal, katamu? Ja—jadi kau akan membuatku kehilangan ginjal setelah ini, Mid? Begitu?” “Aku tak ingin melakukannya, Mirah.” “Tapi kau akan melakukannya.” Ia kembali menengok ke jendela dan bergegas melihat kondisi jalanan dari dalam jendela. Kemudian, Ia mengangguk pelan sambil berbisik, “Inilah waktunya.” “Sumirah, aku menyayangimu.. Aku ingin kau selamat dan bahagia. ” Apa yang baru saja Hamid katakan? Kami berada di dalam kendaaraan yang sedang berjalan kencang saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN