Chapter 23

1131 Kata
Dalam bayangan seorang gadis kecil berumur tiga belas tahun, hidup bisa jadi tidak serumit ini. Ketika aku bertemu dengan teman-temanku, yang ada hanyalah diskusi tentang tips dan trik menentukan lokasi stratgis bermain petak umpet. Tak banyak permainan yang bisa kami mainkan. Petak umpet, layangan, hingga kasti-kastian menjadi permainan favorit kami di lapangan dekat sekolah. Kami bahkan membagi daerah kekuasaan. Kekuasaan ini tentu saja ditentukan secara sepihak, tidak seperti yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Karena anggota tetapnya hanyalah aku, Nurul dan Slamet sedangkan anggota cadangannya adalah Wasis dan Hamid, maka tentu saja pihak yang lebih tua memenangkan pemilihan. Nurul selalu menginginkan sebelah utara lapangan, sedangkan Slamet memilih sebelah selatannya. Mereka berdua akan memilihkan lahan untukku, dan meminta Wasis serta Hamid untuk memilih sisanya. Tak ada yang bisa menghindar dari siksaan batin Slamet dan Nurul ketika bermain kasti-kastian. “Ayo, ayo..Semangat semuanya! ” ucap Slamet di tengah panasnya matahari suatu hari. Tidak sopan! Harusnya ia melihat situasi kami saat memberi semangat. Setidaknya tengoklah kanan kirimu, batinku. Asal tahu saja, di sebelah kananku, wajah Wasis sedang merana karena terjatuh di atas lumpur. Bajunya penuh lumpur. Beberapa menit sebelumnya Ia tidak sengaja tersenggol Nurul ketika hendak berlari. Aku sempat melihat tingkah usilnya. Ia menarik lengan baju Nurul karena tak ingjn jatuh sendirian ke dalam lumpur. Nurul yang tak siap segera memastikan kakinya menginjak tanah yang tepat, bukan lumpur. Ia berlari dan tertawa sangat puas. Kemudian dengan lihai Nurul berlari menuju Slamet. Bermain bersama Slamet sungguh melelahkan. Ia tidak memperdulikan kami yang kepanasan, kelaparan dan kehabisan nafas. Slamet memang dielu-elukan kalau tentang olahraga lari. Bahkan di sekolah, Slamet mendapat julukan yang sering membuat iri teman laki-laki sekelas. Slamet, sang pelari handal. Mengerikan. Pada jam istirahat, Pak guru dan bu guru kami sering diminta menjadi penonton gratisan. Slamet sering unjuk gigi di lapangan sekolah. Dan dengan polosnya, kami menjadi penonton yang mengagumi Slamet dari kejauhan. Biasanya ia akan menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit untuk berputar mengelilingi lapangan sekolah sebanyak dua puluh kali. Dan ya, kamilah penonton yg bersorak dan cenderung ricuh tiap kali Slamet menambah putaran. Pernah suatu sore kami terheran-heran melihat tingkahnya. Ia berlari tak mau berhenti dan tak mau dihentikan. Peluh yang mengalir membasahi dahi hingga dagunya. Hampir dua jam penuh berlari. " Met, slamet... Sudah dong met! Kami capek berteriak terus." Ia terus berlari tanpa mendengarkan kami. Nurul dengan santai berkata, " Met, apa kau sedang patah hati met? Kami sudah lelah untuk bersorak met!" Kami terus meneriaki namanya dan berharap ia akan luluh dan berhenti berlari. Tapi tidak. Ia tak berhenti menggerakkan kakinya. Kami menghentikan teriakan dan sorak riuh karena Slamet tidak mendengarkan suara hati kami yang tertekan. Aku harusnya bertanya pada Slamet tentang cara ampuh berlari sekencang itu. Pernah kudapati ia hampir terlihat seperti terbang karena kecepatan tinggi.. Ia memang pelari handal. Aku, Wasis dan Mbak Sumini adalah penggemar Slamet. Aku adalah penonton yg datang pertama, kemudian disusul oleh Mbak Sumini, kemudian Wasis. Berbekal payung dan jajan yang dibeli di warung pojok sekolah, aku akan dengan Slamet diberi tepuk tangan yang meriah oleh penonton. Dari yang kutahu, beredar kabar bahwa Slamet melakukan banyak atraksi berlari karena sedang terkesima dengan seorang gadis cantik. Gadis cantik yang membuat ia berlari seperti orang aneh siang ini. Mengelap keringatnya pun tak juga ia lakukan. " Met, ada seorang gadis mencarimu met!" " Met, gadis manis itu mengirimkan salamnya padamu! Ia menunggumu di depan gerbang depan pasar, met!" " Ia sudah suka sama orang lain, Met. Sudah lupakan saja!" " Met, cari saja perempuan lain, Met!" Teriakan-terikan pesimis dari kami tidak lantas menggoyahkam niat Slamet untuk berlari. Sebentar lagi pasti ia berhenti dan menyerah. Yang benar sajalah! Sudah lebih dari lima puluh putaran ia terjang. Tiba-tiba saja, seseorang dari dekat pagar lapangan datang berlari menuju kami. " Eh ada Mbak Sumini." Dan Slamet pun berhenti berlari. Tak ada yang menyadari hal ini sampai Nurul, kawan ajaib kami, mengatakan bahwa Slamet sedang berjalan menuju tempat kami berkumpul. Dengan mudah kami menyimpulkan bahwa Slamet memang sedang jatuh cinta. Dan ya, Mbak Sumini adalah gadis cantik yang disukai oleh sang pelari handal. Ia memandang wajah Mbak Sumini lekat-lekat seperti hendak memakan Mbak Sumini hidup-hidup. Kami yang tertegun dengan tingkah laku kedua Slamet rasanya juga ingin memakannya hidup-hidup. Berjam-jam kami berteriak seperti terompet drumband tak ia pedulikan barang sedetik pun. Namun begitu Mbak Sumini datang, tak sedetik pun ia mengalihkan pandangannya. Selain itu, kabar tentang Mbak Sumini dan Ustadz Idrun juga sudah tersebar di siswa-siswi sekolah. Walaupun sering dicemooh orang banyak, Mbak Sumini tetaplah Mbak Sumini. Menurutku, sikap yang Mbak Sumini tunjukkan pada cacian orang lain sangat elegan. Ia tak menyanggah, ia tak mengiyakan, dan ia tak juga membalas. Sikap Mbak Sumini yang seperti ini juga disyukuri oleh Bapak dan Emak. Mereka berpikir setidaknya peristiwa ini tak berubah menjadi lebih keruh. " Emak, Sumini berjanji akan mengikuti apa saja perintah dari Emak dan Bapak. " " Kita tidak boleh berjanji Sumini. Apalagi kalai kita belum tentu bisa mewujudkannya." " Tapi Mak, Sumini akan berusaha menjauh dari Ustadz Idrun. "Sum, jangan berjanji pada Emak. Berjanjilah pada dirimu sendiri, Nak. Emak dan Bapak sudah pasrah apapun yang Tuhan mau di hidupmu." "Maafkan Sumini, Mak. Sumini tidak akan seperti ini lg. Sumini sudah tahu batas, Mak. " " Nak, kemaren ketika Ning Putri datang kerumah kita, ia berkata banyak hal yang menyakiti hati Emak. " "Maaf, Mak.. " " Nak, Sumini memang melakukan kesalahan,telah mengambil sesuatu yang bukan hak mu. Tapi Emak yakin Tuhan membimbing Emak untuk membesarkanmu dengan baik." Mbak Sumini menangis terisak mendengar kata-kata Emak. Ia tidak kuat menahan amarah dan tangis yang Emak tuangkan dalam setiap kalimat. Lalu begitu saja percakapan yang ada diantara mereka. Tentang berjanji dan menepati. Tentang menepati dan batas. Bapak lain cerita. Bapak lebih suka diam dan berpikir sendiri, lalu membahasnya dengan Emak di kamar. Dari nada bicara Emak berbicara, rasanya memang ada masalah serius yg sedang kami hadapi. Selain Mbak Sumini yang belum menenangkan hati, Wasis juga sedang membuat masalah baru. Ia tak bisa dihubungi. Ustads Saleh juga tidak bs dihubungi. Walaupun khawatir, Bapak meminta kita untuk tenang dan tidak tergesa gesa. Ini sudah hampir dua hari tak ada kabar. " Apa Bapak pergi ke rumah Pak RT lagi saja ya, Mak?" " Iya, Pak. Begitu saja ya." Bapak langsung pergi ke rumah Pak RT untuk kesekian kali. Tujuan Bapak hanya ingin meminjam telepon agar busa menghubungi anak laki-laki satu-satunya di keluarga kami itu. Pak RT pun memahami kegelisahan Bapak karena siaran TV menyiarkan sesuatu yang sedang buruk sedang terjadi di Jakarta. Monumen nasional sedang genting. "Halo? Ustads Saleh?" Suara di seberang. " Siapa ini? Saleh siapa?" " Siapa ini? Ini kepolisiam Jakarta Pusat. Dengan siapa kami bicara saat ini? Ya Allah, kepolisian. Bapak yang kebingungan segera bertanya tentang nasib Wasis. Polisi di seberang mengatakan ia pun tak tahu siapa Wasis dan dimana ia sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN