“Tidak, jangan!”
Hamid menepis tanganku dengan keras.
“Tidak, Hamid! Jangan kau paksa!
Ia tetap menyakiti tanganku.
“Kubilang hentikan!”
Ia terhenyak karena bentakanku, namun tetap menyakiti tanganku.
Kuputuskan untuk sedikit melakukan aksi nyata. Aku menggigit tangan kirinya hinggga ia kesakitan lalu tanganku memegang tangannya erat dan menggeretnya ke bagian dalam truk. Ia memaksaku berbuat kasar.
Badannya memang lebih besar daripada aku, namun tak akan kubiarkan ia melakukan hal yang tidak punya akal seperti itu. Ada yang harus kudengarkan. Aku masih harus mendengar banyak cerita dari mulutnya.
Yang benar saja!
Ia hampir saja mlemparku keluar. Tangannya menirk lengan bajuku dan ketika pintu itu trbuka, ia dengan santai mngangkat tubuhku dan hampir saja melakukannya.
Hampir terjadi.
Tapi tidak.
Aku menarik lengan bajunya, berakibat kami berdua hampir terlempar bersama.
“Tidak, kau tidak boleh berada di truk ini, Mirah.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku tidak ingin kau tercabik oleh pisau. Kau akan dibedah secara serampangan. Beberapa anggota tubuhmu akan diambil paksa.”
“Tanpa dokter?”
“Tanpa dokter.”
“ Sebenci itukah kau padaku, Mid?”
“Hah?
“Apa kau benar-benar benci padaku?”
“Iya. Dan ketika melihatmu lagi untuk kesekian kali, aku tidak pantas mengatakannya. Tapi aku masih menyayangimu, tulus.”
“Tidak, kalau begitu.. Ayo melompat bersama.”
“Tidak.”
“Kalau begitu akan kubiarkan kau melihatku tercabik pisau mereka.”
“Jangan keras kepala, Mirah!!”
“Jangan keras kepala!”
Kalimat kami mungkin terdengar mengharukan, tapi dengan bergelantungan seperti ini, rasanya sama saja dengan naik wahana arum jeram.
Sedikit saja tangan terpeleset, habislah kami. Jalanan yang terjal ini akan melukai kami seketika.
Belum lagi kini Hamid memegang kerah bajuku. Entah apa maksudnya. Antara ia memang ingin menahanku dari terjatuh atau justru ingin melemparku. Truk yang melaju kencang seperti ini biasanya tak punya rencana cadangan untuk berhenti mendadak. Dan kalau itu terjadi maka kami, sudahlah.. tak usah di ceritakan.
“Sumirah, aku ingin kau hidup.”
“Enak saja kau bicara. Tidak!”
Ia menarik lenganku dan aku menarik lengannya secara bersamaan. Pijakan kaki Hamid sudah melakukan tugasnya. Namun kakikulah yang tak melakukan tugasnya dengan benar. Terpeleset dan aku bergelantungan pada lengan Hamid sekarang. Ia meringis kesakitan. Pada waktu itu aku tahu kalau Hamid harus keluar dari geng ini.
“ Kau hutang penjelasan dariku.”
“ Tentang apa?”
“ Tentang bagaimana bisa kau berada di geng jahat ini.”
“ Aku terdampar di Hongkong berbekal baju yang kukenakan saja, Sumirah, dan aku yakin kau tahu aku tak bisa bahasa Mandarin atau bahasa lokal, bahasa kanton.”
“ Ini sudah bertahun-tahun yang lalu, Hamid...”
“Dan selama itu lah aku berusaha hidup.”
“Dengan bergabung bersama mereka?
“Dengan bergabung bersama mereka.”
“Geng ini memberiku makan dan hidup, asalkan aku bisa mencari apa yang mereka cari. Dan itu adalah semua yang ada dalam tubuh. Geng ini juga sangat mementingkan persahabatan.. dan juga, hutang dari para korbannya.”
“Kau membunuh mereka!”
“Tidak, Sumirah. Aku tidak membunuh mereka.”
“Lalu? Apa? apa itu kau jual dengan harga mahal di Tiongkok dan Taiwan.”
Kurasakan, kaki kananku kram dan terasa sakit sekali. Hampir tidak bisa kugerakkan. Kalau kata Cece, ketika kita mengalami kram, kita harus segera memukul-mukul kaki satunya agar kramnya cepat hilang.
Benar saja. Kramku perlahan hilang. Aku bisa fokus mendengrkan apa yang Hamid katakan.
“Aku hanya mengantarkan mereka pada hukuman yang mereka harus dapatkan.”
“Kau tidak waras, Hamid.”
“Yang menjadi korban mereka adalah orang-orang yan telat membayar hutang dan sering mengacau bisnis mereka saja. Bukan warga lokal yang tidak bersalah. “
Melihatku menghela nafas panjang, ia berkata bahwa awalnya ia tak sanggup melakukan oerbuatan seperti itu. Di pagi hari mereka akan menculik seorang laki-laki dan di malam hari mereka akan melihat jenasah laki-laki itu tidak memiliki mata, atau dengan usus yang hampir terputus dan semburat keluar.
Meski sempat mual dan muntah, namun pada akhirnya ia harus menuruti semua yang diperintahkan. Lokasinya, caranya, sdan siapa yang akan menjadi korban selalu ia daoatkan secara rahasia. Seolah ini memang bukan hal yang sembarangan.
“Aku tak bisa memejamkan mataku di dua-tiga hari awal, Mirah.. Aku melihat semua bayangan orang yang kuculik sedang berdiri di depanku. Bisa kau bayangkan itu?’
Aku begidik membayangkan semua yang Hamid alami. Kami saling berbalas pandang. Dsitulah kemudian ia melihat pintu keluar sedikit lepas. Mungkin ini karena jalanan yang kami lalui terasa terjal dan berliku-liku.
“Apa kau tahu kalau aku memang mencarimu?”
“ Aku tidak pernha menyangkan kalau kau akan mengikuti hari itu.”
“Itu adalah hari paling naas di hidupku.”
“Karena harus tersiksa karena aku?”
“Karena aku tidak menemukanmu.”
“Pada akhirnya kau menemukanku. Tapi betapa jahatnya kau, Mid. Kamu bahkan ingin menjual ginjal dan semua hal lain dalam tubuhku.” Rasanya jantungku berdegup kencang sekali melihat masa depanku nanti.
Ia terus menatap mataku seolah kalau ia berkedip,aku mungkin akan berubah menjadi butiran debu. Padahal, kalau dipikir ulang, ia bisa saja menemuiku ketika aku sedang ada di pasar atau di perjalanan. Ia bisa menyergapku ketika kau melewati jalanan sepi di sampirng rumah.
“Kenapa baru sekarang?” aku tahu ia terintimidasi. Tapi bagaimanapun ia harus menawab semua pertanyaanku dnegan baik.
“Aku juga sedang mencari alasan yang tepat kenapa harus sekarang aku mencarimu.”
“Pada saat keluarga majikanmu itu pergi, entah setan apa yang masuk tubuhku hingga aku bisa menemui saat itu. Apa aku membuatmu kaget?
“Aku hampir mati karenanya.”
“Lalu kenapa mencariku di agen?”
“Karena jujur, aku ingin kau was-was dengan sekitarmu. Ci Lien Hu yuang sangat kausayangi itu juga adalah bagian yang direncanakan dengan matang. Oiya tentang Mbak Ekamu itu, ia memang benar terjatuh karena kelalaiannya sendiri. Bukan karena majikannya seperti yang kau duga.”
“Darimana kau tahu?”
“Ka—karena...” Ia tak melajutkan kalimatnya dan melihat langit-langit truk abu-abu ini. Sebenarnya truk ini juga bukan truk besar yang sering kulihat di TV, hanya truk kecil, rasanya bagian belakang ini hanya bisa ditempati oleh tiga orang sekaligus.
Ia memalingkan wajahnya hingag sinar lampu jalanan menyentuhnya. Hmadi kecil mungkin baik hati, namun Hamid yang sekarang sedang kupandangi ini mungkin Hamid yang lebih baik.
“Aku ingin berceirta tentang yang sempat kaulupakan,Mirah.”
“Tentang tingkah lakumu ketika kita ada di lapangan bola sore itu.”
“Tidak, bukan itu.”
Aku tertawa melihat ekspresinya.
“Hey, bagaimana kau ingat kejadian sore itu namun tidak ingat yang lainnya?”ia kaget dan melihatku.
“Entahlah, itu hanya tiba-tiba terlintas di otakku.”
“Kau datang mengenakan baju pink dan celana hitam, ketika itu kau tak melihatku sedang melihatmu. Kau membuang bungkus rokok yang sudah kau hisap. Ketika aku bertanya benda apa itu, kau hanya menjawab kalau itu adalah nyawamu.
“Aku tahu kau seang merokok, dan aku tak ingin membahasnya waktu itu. “
“Lalu?” tanyaku.
“kala itu aku mnegurmu dan kau marah oadaku sambil berkata kalau akutidak boleh memberitahu siapapun. Aku hanya tersenyum, tentu saja Wasis mengetahui itu. “
Kamu sedikit terjungkal karena truk melewati polisi tidur beberapa kali. kemudian, beberapa menit seteahnya, truk kami berhenti di sebuah tempat yang hening sekali.
Kami mendengar suara orang yang sedang bertelepon di samping truk.
Siapa itu?