“Mirah, hey, Mirah.. tunggu!” teriak Nurul suatu hari.
“Aku tak ingin terlambat, Rul.”
Aku terus berjalan cepat. Tasku yang berisi banyak buku ini sudah menjadi beban, sekarang justru Nurul yang menjadi beban berjalanku. Aku tak ingin merasakan pukulan maut Pak Guru lagi hari ini. Namun Nurul terus saja bicara. Ia sepertinya ingin aku dipukul oleh penggaris Pak Guru.
“Rul...” kataku ditengah-tengah bicaranya. Ia sedang berbicara tentang proses melahirkan salah satu kucing betinanya di rumah.
“Ya, Mirah?” tanyanya santai.
“Berhentilah bicara. Itu bu Maesaroh sudah hampir menutup pintu.
“Wah, iya! Ayo, Mirah! Kita harus terus berlari! Kau sih daritadi tidak selesai bicara! Kita jadi terlambat deh.”
“Hah? Apa?”
Ia memang lebih pintar, tapi dua kali lebih kurang ajar dari pada aku. Tidak banyak oran yang tahu kenyataan itu. Mungkin hanya aku yang tahu.
Memang Nurul teman yang tiada duanya. Dasar!
Nurul sudah berlari di depanku, ia berlari kencang sekali. Untunglah aku bisa mengejarnya dan tak jadi terkena hukuman pukulan penggaris Pak Guru. Pernah dulu sekali, aku terlambat masuk sekolah karena harus menunggu Wasis. Ia buang air besar lama sekali dan tak tahu waktu. Aku dan Mbak Sumini menunggu hampir satu jam di luar kamar mandi.
Malam sebelumnya, ia iseng makan masakan Emak. Campuran jengkol dan terong pedas. Untuk anak dengan riwayat pencernaan yang tidak sehat, tentu saja usus dua belas jari miliknya meronta-ronta.
Walaupun Bapak dan Emak sudah meminta kami untuk mandi rumah sebelah, tapi aku tak mau. Aku malu kalau harus mandi di rumah orang lain. aku menunggu di depan kamar mandi hingga ketiduran. Sedangkan Mbak Sumini sudah pergi ke sekolah, tanpa mandi.
Iya, tanpa mandi. Ia hanya mengganti pakaiannya saja.
Sudah kubilang kalau Mbak Sumini memang tidak bisa diprediksi, kan?
Aku yakin ia pasti lupa menggosok gigi pagi itu, karena mana mungkin ia ingat kalau sikat gigi biru miliknya sedang dijajah oleh bau tidak sedap milik Wasis. Wasis baru keluar setelah satu setengah jam di kamar mandi. Ia bahkan sempat cengar-cengir saat melihatku. Saat itu lah amarahku kulampiaskan dengan baik.
Aku melemparnya dengan tumpukan baju kotor yang ada di tergantung. Kemudian aku bergegas masuk ke kamar mandi. Semua orang juga tahu kalau masuk kamar mandi setelah orang sebelumnya buang air besar ibaratnya sedang memasuki ladang ranjau. Menoleh ke kanan sedikit, bau menyengat. Menoleh ke kiri juga menyengat. Kau harus menutup hidungmu rapat-rapat karena kalau tidak, bau busuk itu akan masuk melalui hidung dan melukai lambungmu.
Baunya sungguh diluar dugaan. Aku dengan lantang bisa mengatakan kalau bau kamar mandi setelah Wasis buang air besar adalah pemenang dari semua bau busuk di dunia ini. Bahkan kentut Mbak Sumini dan Bapak yang selama ini tak terkalahkan, harus dengan tulus mengakui kekalahan mereka.
Setelah itu, sepeerti yang sudah bisa kuduga, Aku terlambat masuk sekolah dan mendapatkan lima belas pukulan penggaris di kedua tanganku. Rasanya menyakitkan.
Ah tidak, tidak. Itu bukan apa-apa. Mencium aroma busuk seperti tadi lah yang paling menyakitkan.
“Apa sudah ada kabar dari Wasis, Mir?
“Belum.” jawabku sedih mengingat Wasis.
“Oiya Mir, katanya bapakku Ning Putri sudah pergi ke pengadilan agama lho.”
“ Pengadilan? Untuk apa?” tanyaku.
“Pengadilan Agama, Mir.”
“Untuk apa, Rul? Bukannya pengadilan adalah untuk yang membuat kesalahan dan dimasukkan penjara?”
“Bukan, Mirah. Pengadilan Agama itu untuk yang selesai menikah.”
“Maksudmu bagaimana?”
“Aduh, bagaimana ya menjelaskannya? Aku juga hanya mendengar begitu dari bapakku, Mir.”
“Kau pasti menguping pembicaan orang yang lebih tua lagi kan? Itu tidak boleh, Rul!”
“Iya, iya.. Aku tahu. Tapi bukannya kamu juga melakukannya kemaren pada waktu Ning Putri datang kerumahmu?”
“Itu lain lagi ceritanya. Aku kan mewakili Mbak Sumini.”
“Mewakili apanya? Kau menguping!” kata Nurul.
“Iya juga ya..” Kami lalu tertawa bersama di depan kelas.
Aku tak pernah mendengar tentang pengadilan agama sebelumnya dan penjelasan Nurul tak pernah membuatku paham. Ketika aku memutuskan bertanya pada Emak, jawaban yang kudapat juga tidak membuatku puas.
“Itu adalah tempat yang menyenangkan buat orang yang akan menikah, dan tempat yang buruk untuk orang yang sudah menikah, Nak.”
“Mirah tak mengerti, Mak.”
“Tidak apa-apa. Tidak semua hal harus dipahami.” kata Emak.
Setelah itu Emak memintaku untuk membawakan satu gelas teh hangat yang Emak siapkan di meja dapur untuk dibawa ke teras. Emak tak biasanya meminum teh.
“Ini untuk Mbak Sumini. Pasti ia lelah seharian belajar.”
“Iya, Mak.”
Sebenarnya aku juga haus, tapi teh bukan ide yang bagus untuk siang ini. Aku ingin minum es setrup saja dengan Hamid nanti ketika seleesai sembahyang Ashar di masjid. Tak lama, Mbak Sumini datang. Ia berlari dari pekarangan rumah Pak Saeful sambil memanggil-manggil nama Emak.
“Bagaimana, Sumini? Bagaimana hasilnya?”
“Mak, syukurlah Mak.. Wasis ditemukan, Mak.”
“Syukurlah. Dimana ia sekarang?”
“Wasis sedang ada di rumah sakit, Mak. Luka-lukanya memang tidak parah. Tapi dokter meminta Wasis untuk tetap diawasi di rumah sakit. Bapak dan Pak Kardi ada disana untuk menjaga Wasis, Mak.” jelas Mbak Sumini.
Emak tersungkur di lantai dan menangis.
Ini sudah hari kesepuluh sejak Wasis berangkat ke Jakarta dan sejak itulah kami sekeluarga bingung tak karuan. Makan terasa hambar dan tidur tak nyenyak. Setiap hari Bapak dan Pak Kardi menanyakan kabar Wasis pada Pak RT. Hingga akhirnya, dua hari yang lalu Bapak dan Pak Kardi berangkat ke Jakarta.
Emak berpesan agar kami khusyuk ketika sembahyang dan mendoakan Wasis agar lekas ketemu dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Emak bercerita bahwa ketika sampia di Jakarta, Bapak langsung mencari Wasis di beberapa rumah sakit yang menampung korban kerusuhan saat itu. Belum sampai disitu , Bapak juga memberitahu bahwa santer terdengar beberapa ustadz daerah menjadi korban. Menurut korban yang selamat, kemungkinan Ustad Saleh berpulang menjadi lebih besar karena pada waktu pihak berwajib membubarkan massa, terjadi kerusuhan dan korban meninggal serta luka-luka berjumlah sangat banyak, dan Ustad Saleh ada di kerumunan itu.
Ketika menemukan nama Wasis pada daftar korban di Rumah Sakit Jakarta, Bapak langsung mencari keberadaan anak laki-lakinya itu. Bapak dan Pak Kardi sempat kewalahan mencari Wasis, namun akhirnya mereka mendapati Wasis dengan kepala dan kaki yang diperban. Betis kanan dan lengan kirinya terkena senjata tajam yang ia sendiri tak tahu siapa yang telah melakukannya. Tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing dan badannya lemas. Itu tentu saja karena kepala dan beberapa bagian tubuhnya mengeluarkan banyak darah.
Menurut cerita Bapak, Wasis tertendang ketika kerusuhan terjadi. Ia berlari namun massa yanga ada terlalu banyak. Akhirnya, kepalanya sepertinya karena dipukul oleh senjata tajam milik seseorang dan kakinya terluka disebabkan karena terinjak orang yang berlarian. Sedangkan betis kanan dan lengannya kemungkinan besar karena sabetan senjata tajam. Polisi menemukannya di pinggir selokan dalam keadaan setengah sadar.
Setelah dibawa ke rumah sakit, ia sempat tidak sadarkan diri selama dua hari. Luka yang ada di tubuhnya juga sudah diobati namun kepala dan kakinya membutuhkan beberapa hari lagi untuk sembuh. Begitu kata dokter yang merawat, kata Bapak.
“Emak menyesal, Pak. Harusnya Emak tidak mengijinkannya berangkat waktu itu. Emak menyesal sekali, Pak..”
“Sudah, Mak. Memang ini yang harus terjadi, toh kita juga tidak tahu kejadian seperti ini akna terjadi pada Wasis kita.”
“Bagaimana kabar teman-teman Wasis yang lain, Pak?”
“Kata kepolisian, tiga rumah sakit sudah menampung semua korban. Akan didata dan dikembalikan ke orang tua mereka masing-masing kalau mereka sudah sembuh. Polisi tadi berpesan supaya kita tidak terlalu percaya dulu pada orang lain terkait berita tentang pengajian akbar ini. ”
“Apa Emak boleh pergi ke Jakarta juga, Pak? Emak ingin menemani Wasis.”
“Jangan, Mak. Kasihan Sumini dan Sumirah kalau kita tinggal. Mereka masih membutuhkanmu. Biar disini Bapak dan Pak Kardi yang menjaga Wasis.”
“Baik, Pak.”
“Mak, jangan merepotkan Pak RT. Bapak akan telepon dua hari sekali untuk memberi kabar. “
“Baik, Pak.”
Lalu kami bertiga menangis sesenggukan karena kabar yang baru saja kami terima. Bagaimana tidak, Wasis yang berniat menimba ilmu agama dan berjuang bersama teman-temannya. Anak-anak kecil itu bahkan hanya berfikir tentang semua hal menyenangkan yang bisa mereka lakukan di Jakarta.
Ketika Bapak telepon keesokan harinya, Bapak mengatakan kalau Wasis sudah bisa bercerita dengan lancar dan diputuskan boleh pulang ke Tulungagung tiga hari lagi. Emak dan Wasis menangis bersama di telepon. Aku dan Mbak Sumini juga sempat berbicara pada Wasis. Ketika ditanya Emak tentang kejadian waktu di Monas, Wasis kembali menangis.
“Wasis mau pulang, Mak.. Wasis takut sekali, Mak.” ucap Wasis sambil menangis.
“Iya, nak.. Nanti pulang ya sama Bapak dan Pak Kardi ya..” jawab Emak.
“Iya, Mak.”kata Wasis. Aku dan Mbak Sumini berebut bicara dengan Wasis.
“Sis, ayammu sudah bertelur.” Kataku.
“Sis, Hamid kangen ke kamu.” kata Mbak Sumini.
Lalu hening.
“Mbak Mirah, ayam Wasis kan jantan. Kok bisa bertelur?”ucap Wasis.
“Mbak Mini, Wasis nggak mau dikangenin Hamid, Mbak. Kenapa Hamid kangen Wasis, Mbak.”
Aku dan Mbak Sumini saling pandang dan kami bertiga tertawa berbarengan.
“Wasis, kami kangen tingkah laku anehmu di rumah. Lekaslah sembuh dan pulang.” kata Mbak Sumini tiba-tiba ketika Bapak hendak mengakhiri telepon.
“Tunggu, Mak. Tolong minta Sumini dna Sumirah pergi ke kamarnya. Bapak ingin bicara pada Emak.”
Emak segera meminta kami pergi ke kamar lalu Emak juga beranjak pergi ke kamarnya. Aku merasa ada yang disembunyikan Emak dan Bapak.
Keesokan paginya, Emak bertanya tentang Ustadz Idrun kepada Mbak Sumini ketika kami sarapan. Aku ingat ekspresi Mbak Sumini yang berubah seketika.
“Tidak tahu, Mak. Sumini sudah tidak pernah bertemu dengan Ustadz Idrun lagi, Mak.”
“Apa kau sedang berkata jujur pada Emak, Sumini?”
Emak melihat ke arah Mabak Sumini. Yang dilihat justru sedang menunduk.
“I—iya, Mak.”
Aku mengernyitkan dahi. Mengapa Mbak Sumini gugup.
“Sumini... Bicaralah jujur pada Emak.”
“I—iya, Mak.. Maafkan Sumini, Mak.”
“Berhentilah minta maaf!” kata Emak dengan suara yang sangat berbeda dari biasanya. Emak kemudian duduk di samping Mbak Sumini dan memegang tangannya.
“Kita akan bicara ini lagi setelah Bapak dan Wasis pulang. Tapi saat hari itu tiba, Emak ingin kamu bicara juur pada kami dan pada dirimu sendiri, Sumini.”
“Baik, Mak.”
“Emak tahu semuanya, Sumini. Jangan mengecewakan Emak lagi dan lagi.”
“Iya, Mak...”
Pagi ini, sekali lagi, kulihat Mbak Sumini menangis. Aku tak tahu apakah ia sedang menangis karena sedang terluka atau karena sedang melukai orang lain.