Rupanya kami berhenti di depan gedung tua lainnya. Suara orang yang sedang berbicara di telepon adalah suara laki-laki yang menjadi supir truk ini. Seorang laki-laki yang berperawakan jangkung dan berkulit gelap memegang lenganku dan menarikku paksa. Hamid yang sedari tadi diam juga berdiri dan beranjak keluar truk. Ia berdiri di sampingku.
“Kenapa kau membuka pintu?” tanya laki-laki itu pada Hamid dengan bahasa kanton yang terbata-bata. Mungkin laki-laki ini bukan orang Hongkong asli, batinku.
“Wanita ini membuatku sedikit kesal dan aku hendak melemparnya keluar.”
“Lalu? Apa kau tak tahu kalau nyawanya mahal?” tanyanya ketus.
“Ya, aku tiba-tiba ingat itu dan kurasa ginjalnya juga mahal.”
Hey, ada aku disini!
Tak bisakah mereka membicarakanku di belakangku? Setidaknya hargai aku yang ginjalnya sedang kalian tertawakan itu. Mereka berdua tertawa mengejek sambil melihatku. Tak ada yang bisa dipercaya disini. Hamid juga tak bisa dipercaya.
Suara pintu berderit. Kulihat pintu tengah gedung tua ini terbuka dan seorang laki-laki keluar. Kalau dilihat dari wajah dan logat bahasa kantonnya, aku yakin ia adalah orang Hongkong asli. Ketika ia bicara dengan Hamid, matanya sempat menatapku beberapa kali. Aku curiga malamku akan semankin buruk setelah ini.
Sepanjang ingatanku tentang kosakata bahasa kanton, aku mendengar mereka mengatakan ‘bunuh’, ‘tubuh’ dan ‘berkeping-keping’. Sungguh kata-kata yang tak ingin kudengar saat ini.
Laki-laki yang tadi menegur Hamid mendorongku masuk ke dalam gedung. Bau tembok yang kusam dan lembab segera menyengat. Hal ini juga mengingatkanku pada gudang tua tempat Maryamah kutinggalkan.
“Kau harus menuruti apa yang mereka inginkan kalau ingin selamar keluar dari sini. Aku akan berusaha membuatmu bisa keluar.” bisik Hamid tiba-tiba. Ternyata ia ada di belakangku sedari tadi. Aku mengangguk pelan.
Gedung ini tua dan tak terawat. Lantai pertama gedung ini tak mempunyai banyak ruangan. Sepenglihatanku, ada dua kamar yang berhadapan dan ada tangga ke atas yang ditempatkan di sisi tengah. Rumah ini mengingatkanku pada rumah pangeran ganteng yang ada dalam cerita Bawang Putih dan Bawang Merah yang dulu pernah k****a di perpustakaan sekolah. Dulu sekali.
Ketika menemukan dua lampu utama yang menyala, baru kusadari bahwa aku tidak bisa melihat ujung dari lantai satu ini. Lantai dua juga remang-remang tanda tak ada cukup lampu yang menyinari.
Aku dipaksa duduk di kursi ruang tamu yang berdebu. Sebenarnya dari tadi aku berusaha melepas ikatan tanganku, namun tatapan Hamid seperti sedang memintaku diam dan tak melakukan hal yang membahayakan. Apa boleh buat.
“Biarkan ia disini sebelum para eksekutor datang.” perintah laki-laki Hongkong itu pada Hamid. Ia kemudian meninggalkan kami berdua di lantai satu. Ia pergi ke lantai dua setelah mengambil lilin dan menyalakannya.
“Baiklah.”
Aku terdiam melihat Hamid berdiri di dekat pintu. Tak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi ada banyak sekali hal yang mengusik pikiranku.
Kalaupun aku bisa kabur dari gedung ini, apakah aku benar-benar bisa kabur dari kejaran mereka? Tadi diluar, kulihat hanya hutan yang mengelilingi gedung ini. Apa ini mungkin?
Aku harus menelepon Ci Lien untuk memastikan keadaan Maryamah. Bagaimana aku bisa meneleponnya?
Apakah Hamid benar-benar bisa dipercaya? Apakah ia benar-benar sudah berubah?
Dan juga, aku haus sekali. Terakhir kali tenggorokanku basah adalah bersama Ci Lien ketika kami berhenti di pinggiran toko.
“Permisi, bisakah kau ambilkan aku segelas air putih yang segar?”
“Bagaimana kau bisa berfikir tentang haus di saat-saat seperti ini?” Wajahnya yang menegang memang menunjukkan situasi sekarang ini.
“Apa boleh buat? Kalaupun aku mati sebentar lagi, permohonan terakhirku hanyalah minum air yang segar. Se—segelas.... ”
Belum juga kuselesaikan kalimatku, Hamid sudah pergi dari tempatnya berdiri tadi. Ia pergi keluar rumah ini. Sepertinya kau harus menelan lidahku sendiri lagi kali ini untuk mengurangi haus.
Hamid kembali dengan sebotol air mineral di tangannya. Untunglah ia tak membiarkanku mati kehausan. Ia tak mengatakan apa-apa ketika membuka ikatan tanganku. Botol iar mineral yang tadi ia bawa juga dengan kasar ia letakkan di meja di depanku.
Tak ambil pusing dengan tingkahnya, aku mengambil dan langsung membuka tutup botol. Aku segera membasahi tenggorokanku dengan minuman segar ini. Tidak terasa dingin namun terasa segar sekali, seperti aku tidak minum selama sepuluh tahun.
“Terima kasih.” kataku lirih.
Tidak ada balasan. Ok, baiklah..
Kulihat sekelilingku dengan seksama dengan harapan aku bisa menemukan sesuatu, namun sekali lagi usahaku sia-sia. Tak ada apapun. Bahkan
Klek.
Bunyi gagang pintu dibuka. Laki-laki jangkung tadi menyerahkan sebuah telepon genggam pada Hamid. Hamid dan laki-laki jangjung tadi segera keluar dari rumah ini dan meninggalkan aku sendirian. Bagus!
Aku punya waktu untuk berjalan-jalan sebentar. Aku menaiki tangga keatas perlahan. Aku yakin tak ada yang mendengar langkah kakiku. Ada banyak anak lantai dan ketika kau sampai di anak tangga paling atas, ada sesuatu yang membuatku terkejut.
Lantai dua lebih terang namun entah kenapa tidak terlihat seperti itu dari lantai satu. Lantai ini mempunyai empat kamar yang berjarak cukup jauh. Rumah ini memang besar sekali. Ada suara orang yang sedang berbicara dengan Bahasa Inggris di ruangan yang paling dekat dengan tempatku berdiri. Hiasan dinding yang tergantung sedikit menyeramkan. Sebenarnya hanya berupa gambar pepohonan dan tidak ada gambar seorang pun selain itu, tapi bukankah itu yang agak aneh? Rumah sebesar ini tanpa ada foto seorang pun.
Ada suara langkah kaki mendekat. Aku harus bersembunyi, batinku.
Aku berjalan agak ke dalam. Syukurlah, aku menemukan sudut paling gelap dari lantai ini dan memutuskan untuk bersembunyi disana. Perihal bersembunyi, tampaknya kemampuanku bersembunyi ketika bermain petak umpet sangat membantuku. Yang sulit adalah menahan nafas atau mengaturnya supaya teratur dan tenang.
Tenang, Sumirah. Tenang..
“Sumirah, sumirah.. Jangan melakukan sesuatu yang merugikanmu!” bentak Hamid. Ia sadar aku tidak ada di lantai satu. Lantai dua rumah ini adalah satu-satunya tempatku bersembunyi.
Suara Hamid menakutkan. Aku mulai takut dan menenggelamkan diri pada kegelapan di sudut lantai ini.
“Sudah kubilang, jangan pergi.”
Seseorang mencengkeram tanganku. Hamid berhasil menangkapku. Ia menyeretku dari tempat persembunyian dan membawaku turun.
“Tanganku sakit!” teriakku.
“Jangan berteriak atau aku akan membiarkanmu dibedah!”
“Mau dibawa kemana lagi aku?”
“Laki-laki tadi akan membuka perutmu jika seseorang di telepon tadi tidak mengatakan kalau darah dan ginjalmu bisa sangat berbahaya karena zat yang terkandung di dalamnya.”
Setelah menertawakan ginjalku tadi, sekarang ia berkata darahku dan ginjalku berbahaya. Dimana masuk akalnya semua itu?
“Berbahaya bagaimana?”
“Jangan banyak bicara! Sebelum akhirnya ia menemukan fakta, kita harus segera pergi dari sini.” Aku menuruti perkataanya dan berlari lebih cepat.
Kami memasuki truk yang tadi membawa kami kemari. Hamid melaju dengan cepat tanpa menoleh ke belakang. Dari spion kiri aku bis melihat seseorang sedang terkapar di tanah.
“Hamid, apa itu laki-laki jangkung yang tadi?”
Tak ada balasan. Hanya bunyi angin yang berhembus kencang.
“Hamid, laki-laki jangkung itu..”
“Biarlah.”
“Apa kau membunuhnya?”
“Tidak, Mirah. Tidak!”
“Lalu apa! Jawab pertanyaanku!”desakku.
“Ia hanya kubuat tidur sebentar dengan obat tidur. Ia akan menangkap kalau ia bangun nanti. “
Aku terdiam.
Hamid menyadari diamku dan berkata bahwa kita akan meninggalkan daerah ini untuk kembali ke t*i Po.
“Kenapa t*i Po?”
“Karena kau akan kembali ke Ci Lien-mu itu.”