BAB 27
Siang itu aku ingat, kami sekeluarga sedang menunggu Wasis dan Bapak pulang. Bu Kardi dan Bu Saeful juga berada di rumah kami. Mereka membawa camilan berupa singkong dan kentang rebus kesukaan Wasis. Aku dan Hamid ada di teras. Kami bermain ular tangga. Sedangkan Mbak Sumini sedang entah dimana. Tadi setelah sarapan aku melihatnya sedang sibuk memotong terong dan kubis. Ia hendak memasak masakan kesukaan Bapak. Terong pedas dan tumis kubis.
“Emak, jam berapa mereka akan datang, Mak?”
“Tak tahu, Bu. Bapak bilang kalau minggu siang sudah ada dirumah. Tapi kok ya jam segini belum pulang ya..”
“Sekarang masih pukul 12.10, Mak. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan.” kata Bu Saeful menenangkan. Emak hanya mengangguk pelan. Ia memegang saputangan kesayangannya.
“Mirah, apa air hangat untuk mandi Wasis dan Bapak sudah disiapkan?”
“Sudah, Mak.”
“Apa kamar Wasis sudah dibersihkan?”
“Sudah, Mak.”
“Teh hangatnya sudah, Mirah? Biarkan saja panas, Mir.”
“Baik, Mak.”
“Apa masakan untuk Bapak sudah selesai dimasak oleh Sumini?”
“Sudah, Mak. Ada lagi?” Emak menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku mulai kewalahan menjawab semua pertanyaan Emak. Sudah sepantasnya Emak khawatir, tapi aku sudah melakukan semua yang Emak perintahkan sedari tadi pagi.
“Mirah, tolong panggilkan Mbak Sumini kemari, nak.” perintah Emak.
“Baik, Mak.”
Belum sempat aku berdiri untuk memenggil Mbak Sumini, Mbak Sumini sendri yang datang menghampiri kami di teras. Ia masih mengenakan baju yang ia pakai tidur kemaren malam. Sepertinya ia masih sibuk di dapur.
“Belum kelihatan juga, Mak?”
“Belum. Emak khawatir. Kenapa lama sekali.”
“Tenang saja, Mak. Tenang saja.” ujar Mbak Sumini sambil memeluk Emak dari belakang.
Sudah lebih dari pukul tiga sore dan kabar baik belum juga datang dari Wasis dan Bapak. Bu Saeful dan Bu Kardi juga sudah menengok ke rumah Pak RT dan bertanya apakah ada telepon dari Bapak. Pak RT berkata tak ada telepon lagi dari Bapak setelah dua hari yang lalu.
“Emak, apa yang dikatakan Bapak di telepon?”
“Bapak berkata bahwa mereka akan menaiki bis pertama pagi ini dan akan langsung pulang ke Tulungagung. Mereka minta kita untuk menyiapkn air hangat untuk mandi. Hanya itu saja, Sumini.” balas Emak.
“Apa mungkin Bapak dan Wasis pergi kemana dulu sebelum pulang ya, Mak?” tanya Bu Saeful. Emak menggeleng pelan seraya berkata, “Tidak. Bapak tidak mengatakan seperti itu, Bu Saeful.”
Wajah sedih Emak membuat semua orang yang memandang wajahnya juga ikut merasa sedih. Emak sudah sumringah sejak dua hari yang lalu karena kabar baik tentang Bapak dan Wasis akan segera pulang. Dari pagi Emak sudah sibuk membersihkan kamar tidurnya agar nanti Bapak bisa tidur dengan nyaman. Emak juga memintaku untuk segera membersihkan kamar Wasis.
Camilan sudah disiapkan di atas meja. Teh hangat dan air hangat untuk mandi juga sudah mulai dingin lagi. Bapak dan Wasis belum juga pulang. Beberapa teman sekolah kami yang datang untuk melihat Wasis juga sudah menawarkan diri untuk pergi ke terminal dan menjemput. Namun ide itu terang-terangan ditolak Emak.
“Tidak perlu. Sebentar lagi mereka akan pulang. Kita tunggu saja.” Emak sedang meyakinkan diri sendiri dan orang-orang yang sedang berkerumun di rumahnya. Emak terus berdoa agar dua laki-laki kesayangannya itu segera datang dan memeluknya erat. Hati ibu mana yang sanggup menahan rindu pada anak laki-lakinya...
Emak hampir saja beranjak dari tempat duduknya di teras saat tiba-tiba suara yang khas terdengar dengan jelas memanggil namanya..
“Emaaakkkkkkk.......” teriaknya.
Emak dengan cepat menggerakkan badannya dan berlari ke arah sumber suara itu. Emak meneteskan airmata itu. Air mata bahagianya kembali menetes setelah sekian lama. Emak memeluk Wasis erat sekali.
“Rasanya Emak sudah lama sekali tidak memelukm seperti ini, Sis. Maafkan Emak ya nak. Maakan Emak.” ucap Emak tersedu-sedu. Wasis hanya tersenyum dan menyentuh kaki Emak. Ia seakan meminta restu Emak. Ia tahu sesuatu yang lebih buruk bisa saja terjadi pada dirinya jika Emak tidak mendoakannya.
“Terima kasih, Mak. Terima kasih sudah mendoakan Wasis.”
Emak dan Wasis kembali berpelukan hangat.
“Untung saja ada doa Emak, Wasis selamat deh.”
Lalu Aku dan Mbak Sumini yang berpelukan. Kami merasa bersyukur Wasis, adik kami tercinta, pulang dengan selamat tanpa celah, tanpa kehilangan sesuatu apapun. Justru semakin menambah rasa sayang kami padanya. Ia hebat karena sudah berhasil menaklukan rasa takutnya sendiri.
“Mbak Sumini dan Mbak Sumirah apa tidak kangen sama Wasis, Mbak?”tanya Wasis menggoda. Ia menatap kami sambil mengedipkan mata dnegan centil.
“Enggak.”
Singkat, jahat dan lugas. Bibir Wasis tentu saja langsung manyun mendengar kata itu dari Mbak Sumini. Selanjutnya, Wasis memeluk kami erat. Kami merindukan Wasis kami.
“Apa tidak ada dari kalian yang ingin membantu Bapak membawa koper-koper ini?”
“Ah iya, koper. Maafkan kami, Pak.” ucapku seraya mengambil dua koper kecil milik Bapak dan meletakkannya di kamar. Wasis dan Mbak Sumini tertawa.
Pada malam harinya, setelah sembahyang, Bapak memanggil kami untuk berkumpul di runag tengah untuk membicarakan sesuatu. Tak ada satupun dari kami yang bisa menduga masalah apa yang sedang ingin Emak dan Bapak diskusikan. Aku dan Mbak Sumini keluar dari kamar kami berbarengan dengan Wasis.
Bapak mempersilahkan kami duduk di sebelah kanan dan kiri Emak. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Bapak memegang sebuah kertas yang dilipat menjadi dua. Lipatan rapi seperti itu pasti menyembunyikan kabar yang baik ‘kan?
“Sumini, Sumirah, Wasis... Dengarkan Bapak baik-baik.”
“Ada apa, Pak? Apa Wasis membuat masalah lagi?” kataku menggoda Wasis yang sedari tadi diam.
“Bukan aku, Mbak.. sungguh bukan aku, Mbak!” ucap Wasis marah. Aku tertawa puas.
“Sudah, Sis..” kata Emak.
“Mbak Sumirah, Mak.. bukan Wasis, Mak..”
Bapak berdehem keras untuk menghentikan gurauanku pada Wasis. Kami berangsur tak bergerak dan memperhatikan Bapak dan Emak yang kini sedang menatap kami bergantian.
“Ada berita yang harus Bapak sampaikan. Dan ini adalah berita penting.”
“Baik, Pak.”ucap Mbak Sumini.
Tok tok tok...
Kami saling berpandangan.
Tok tok tok..
Emak berinisiatif membuka pintu sementara kami sedang menebak-nebak siapa yang datang berkunjung di waktu seperti ini. Suara pintu yang berdecit membuat kami semakin penasaran. Emak mempersilahkan tamu itu masuk. Dan yang membuat Mbak Sumini sampai berdiri adalah kenyataan bahwa tamu kami malam itu adalah Ustadz Idrun.
Mengenakan kemeja cokelat muda dan sarung berwarna serupa, Ustadz Idrun masuk dan dipersilahkan untuk duduk. Bapak tak mengatakan satu kata pun sampai Ustad Idrun mengucapkan salam dan salim padanya dan Emak.
Aku melihat ekspresi Mbak Sumini dan menebak perasaanya. Perasaan senang, takut dan kaget tercampur jadi satu. Ketika aku berbalik dan memandang Wasis, ia bertanya apa yang sedang terjadi dengan adanya Ustadz Idrun di rumah kami. Aku mengangkat pundakku tanda tak tahu.
“Sumini, Ustadz Idrun hendak meminangmu, Nak.”
Satu kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar rumah kami. Tidak, itu lebih seperti petir yang menyambar hati Mbak Sumini. Emak berdiri mematung di belakang kursi kami. Aku dan Wasis tentu saja hanya menganga tak percaya.
“ Lalu Ning Putri?” Pertanyaan pertama yang keluar dari Emak.
“ Kami sudah bercerai secara agama dan secara hukum, Mak.” jawab Ustadz Idrun.
“ Sumini?”
Mbak Sumini hanya membisu. Tak berkata apa-apa. Ia hanya memandang Emak dan Ustad Idrun secara bergantian. Aku tahu ia sedang berpikir tentang perkataan Emak tempo hari. Namun bukankah ini yang selalu ia inginkan?
Mendapat bogem mentah dari Ning Putri sudah, mendapat cibiran dari tetangga dan teman-teman sekolahnya sudah, dan terakhir harus melihat Emak dan Bapak terluka hatinya. Dalam hati aku berdoa agar Mbak Sumini mendapatkan kebahagiaan yang pantas ia dapatkan. Kalaupun itu didapat dari Ustadz Idrun, maka memang itu jalannya.
“Mak....” ucap Mbak Sumini ketika kami semua memandangnya.
“Maaf Ustadz, Sumini tidak bisa menerima pinangannya.” imbuhnya.
Tatapan heran Bapak pada Mbak Sumini seperti sedang mencari tahu apa yang sedan anak perempuannya itu. Mbak Sumini yang menyadari segera berlari ke dalam kamar dan menutup pintu. Aku dan Wasis menyusulnya pergi ke dalam kamar. Pintu kamar kubiarkan sedikit terbuka dengan harapan aku bisa lebih jelas mengetahui apa yang sedang Bapak, Emak dan Ustadz Idrun bicarakan.
“Ustadz Idrun mengirimu surat sebelum aku berangkat menjemput Wasis, Mak. Dan anehnya memang surat itu terselip diantara beberapa kertas di dompet Bapak. Surat itu baru Bapak baca pada waktu di perjalanan bis tadi pagi.”
Emak mengangguk.
“Bapak meminta Pak Saeful untuk mengundang Ustadz Idrun datang kemari setelah mengetahui segala hal yang terjadi. “
Emak mengangguk pelan.
“Mak, kita tidak bisa menyakiti hati anak perempuan kita. Biarkan Sumini memilih jalannya sendiri. Bapak sudah menyelidiki status Ustad Idrun saat ini. Ning putri dan Ustad Idrun sudah resmi bercerai, Mak.”
“Sudah, Bapak? Apa Bapak sudah mengatakan semuanya?”
Emak membalas perkataan Bapak dengan sebuah anggukan.
“Mak, saya akan membahagiakan Sumini, mak.. Tolong ijinkan kami, Mak.”
Emak hanya menatap Ustadz Idrun. Bapak kembali berkata bahwa mungkin ini yang diinginkan Sumini selama ini.
“Sumini harus menyelesaikan sekolahnya. Kalaupun ia harus menikah denganmu, ia-lah yang harus memutuskan semuanya, bukan kami. ”
“Baik, Mak.” kata Ustadz Idrun lirih. Ia tak berani memandang wajah Emak.
“Cacian dan makian yang anakku dapatkan karenamu harus kau pertanggungjawabkan, Idrun! Kau yang menyebabkan anak perempuanku dipukuli! Kau, Idrun! Dan Ning Putri itu harus meminta maaf pada anakku!”
“Mak!” bentak Bapak. Bapak merasa Emak sudah berkata keterlaluan.
“Tidak, Pak! Ini adalah perasaan seorang ibu. Bapak tidak mengerti bagaimana pakaiannya saat Sumini berangkat ke sekolah. Sumini harus memakai kerudung dan syal panjang agar orang lain tak mengenalinya. Ia ketakutan!”
Kini Bapak yang membisu.
“Apa Bapak tahu apa yang Emak lihat tengah malam ketika semua tertidur? Sumini menangis dalam mimpinya, Pak! Ia dipukul, ia dimaki, dan laki-laki ini ingin menikahinya begitu saja? Tidak!”
Baru kali ini aku mendengar suara Emak yang semarah ini. Emak tak pernah mengeluarkan suara yang sedemikian keras. Mungkin selama ini Emak menahan aamarah dan tangisannya di tempat tersembunyi hingga hanha Emak sendirilah yang tahu rasanya.
“Mak..” ucap Bapak.
“Tidak! Tak akan kuijinkan!” Emak mengangkat tangan kanannya hendak memukul meja ruang tengah, namun dihentikan oleh Bapak.
“Mak, jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan ini pelan-pelan?”
“Semua orang yang mencaci dan memaki anak perempuanku tidak melakuakannya pelan-pelan, Pak! Tidak!”
Bapak menghentikan usahanya meredakan amarah Emak. Bapak tahu ini percuma. Emak hanya sedang mengungkaokan bahwa ia sangat terluka. Walaupun hati Bapak juga terluka, namun perasaan seorang ibu tak boleh diremehkan.
Kami yang mendengar percakapan itu dari dalam kamar ikut memangis dan takut melihat Emak terluka seperti ini.
“Aku harus menenangkan Emak, Mirah.”
“Tidak. Kau harus menenangkan dirimu sendiri.”kataku seraya memegang tangannya. t
Mbak Sumini menepis tanganku dan berjakan keluar kamar seraya berkata, “Sumini ingin menikah denga Ustadz Idrun.”
“Jangan, Nak. “