Aku tak ingin kembali pada Ci Lien sendirian. Hamid harus bersamaku. Konsekwensi dari perbuatannya menyelamatkan kami sungguhlah berat. Ia bisa mendapatkan masalah baru yang tak kalah rumit. Ia bercerita jika organisasi ini adalah organisasi terbesar di Hongkong dan bisnis yg dijalankan adalah penjualan manusia. Hamid dan teman-teman satu organisasinya diharuskan menemukan orang asing miskin yang ada di Hongkong dan merayunya menjual ginjal.
Kudengar dari beberapa teman imigran kalau bisnis penjualan manusia sedang marak terjadi dan mengincar tenaga kerja perempuan di Hongkong. Target mereka memang orang-orang yang tak mempunyai cukup uang untuk bertahan hidup sehingga ketika diberi iming-iming uang, luluhlah hati mereka. Ginjal, kedua bola mata, paru-paru hingga hati. Dan organisasi kejahatan ini juga menggunakan teknik tertentu. Mulai merayu, menculik hingga membunuh korbannya.
Setelah mendapatkan bagian yang diinginkan, setelah itu bagian tubuh itu akan diserahkan kepada yang membutuhkan. Ini tidak saja terjadi di dalam satu negara saja, bisa jadi dilakukan antar negara. Para korban juga tidak bisa menuntut apapun karena uang yang dijanjikan sudha benar-benar mereka terima. Ini memang hal yang menyedihkan. Aku tak ingin berhubungan dengan hal ini lagi selamanya.
Hamid berkata ia akan kembali ke Indonesia begitu semua urusannya di Hongkong selesai. Ia juga berkata hal itu pun tak akan mudah untuk Ia lakukan. Banyak rintangan kalau memang ia bersikukuh kembali ke tanah air.
Hatiku terkoyak mendengar perkataanya. Aku melihat diriku sendir dan juga keadaanku saat ini. setelah ini entah aku akan mendapatkan agen baru atau tidak, akan bertemu Ci Lien Hua atau tidak. Emak.. Bapak.. Siapa yang tak ingin duduk santai dan bercengkrama dengan hangat bersama keluarga? Tentu tak akan ada orang yang menolaknya. Hasratku untuk bertamu Emak dan Bapak tentu saja tak terbendung. Namun rasanya sekarang bukan waktu yang tepat. Aku harus menyelamatkan diri sendiri dulu saat ini. Bersama Hamid, setidaknya hingga Hamid berangkat ke Indonesia.
Sepertinya perjalanan kami dengan truk akan memakan waktu yang lama. Jurang yang curam di kanan kiri dan kondisi jalanan yang tidak rata membuat Hamid harus ekstra hati-hati.
“Apakah ini jalan yang sama yang kita lalui tadi?”
“Tidak, ini adalah jalan yang dilalui para tawanan untuk melarikan diri.”
Melarikan diri dari sekumpulan orang yang akan menjual ginjalmu adalah hal yang luar biasa! Sumirah kecil tak akan pernah mengira ia akan mengalami hal ini ketika dewasa.
“Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk memberitahu Ci Lien Hua agar menjemputmu. Semoga mereka berhasil sebelum...”
“Sebelum apa?”
“Sebelum kami ketahuan.”
“Lalu kau?”
“Entahlah..”
“Pak Kardi dan Bu Kardi pasti sudah menunggumu.”
“Aku tak pernah sekalipun memberi kabar pada mereka tentang aku ada di Hongkong, Mirah. Aku tak pernah sanggup menelepon mereka. Aku tak punya nyali.”
“Dasar durhaka!” bentakku.
“Aku tahu. Tapi memberi tahu mereka tentang dimana lokasiku dan apa yang kukerjakan disini bukanlah hal yang baik untuk dilakukan, Mirah.”
Aku tak membalas perkataannya. Sekali lagi, ia berkata benar.
Semua ini diluar bayanganku. Sampai beberapa hari yang lalu, Aku adalah imigran yang sedang bekerja pada sebuah keluarga. Walaupun Cece sangat menyebalkan, tapi Granma sangat kusayangi dan hidupku baik-baik saja hingga akhirnya seorang Hamid mencariku dan membuatku berada di truk ini.
“Hamid, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
Ia sedang memegang kendali atas truk ini. Ia mengangguk namun tetap memandang ke arah depan.
“Kalau kau memang selalu mengikuti dimanapun aku berada, mengapa kau menelepon rumah kami? Mengapa kau menelepon agenku? Mengapa mencariku?”
“ Saat itu aku sempat kehilanganmu, Mirah. Aku sempat khawatir kau akan ditemukan oleh salah satu agen dari tempat kami. Saat itu kalau kuhitungdenganbenar, ada delapan imigran gelap sepertiu yang sudah ada dalam kamar operasi kami. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk membuatmu sedikit ketakutan. “
“Ta—tapi..”
“Aku juga tahu Ci Lien Hua adalah orang yang akan membantumu. Maka aku pergunakan ketakutannya untuk menangkapmu.”
“Aku sedikit bingung dengan apa yang kau lakukan. Bagaimana bisa kau lakukan keduanya?”
“Keduanya?”
“Ingin membunuhku namun juga ingin melindungiku.” kataku pelan. Suara truk yang berisik mungkin menggangu pendengaran kami. Namun aku tahu Hamid mendengarnya dengan jelas.
“Seperti sekarang ini.. Iya ‘kan, Hamid?”
Hamid tak menjawab pertanyaanku. Tapi aku tahu ia sempat melirik padaku.
“Iya ‘kan, Hamid?” tanyaku masih berusaha memperoleh jawaban.
“Diam, Sumirah. Ada mobil yang sedari tadi mengikuti kita.”
Hamid benar. Ada mobil jeep warna merah yang sedang melaju kencang mengikuti kami. Truk kami sudah sangat kencang tapi sepertinya kalah kencang kalau dibandingkan dengan mobil jeep di belakang. Ku tengarai ada dua orang yang mengenakan pakaian hitam duduk di bagian depan jeep.
“Dari mana jeep itu mengikuti kita?”
“Dari perempatan yang ada di sebelah kanan rumah tua.”
Suara decit mobil dan truk saling beradu. Hamid tak mau kalah, ia menambah kecepatan. Sebenarnya dalam hati, aku takut truk kami ini akan oleng dan menabrak sesuatu dijalan. Bukan hal baik, bukan?
Walaupun jalanan cukup sepi, namun tentu saja kami tak boleh meremehkannya. Aku memilih untuk melihat kaca spion sesering mungkin untuk mengetahui jarak yang terpisah antara kami. Jantungku berdegup tak beraturan saat Hamid tiba-tiba berkata,
“Mirah, bagaimana kalau kita menabrakkan diri dan jatuh ke sungai yang ada di seberang?”
Aku mengutuk diriku sendiri karena telah berpikiran seperti tadi. Sekarang itu menjadi satu-satunya pilihan kami.
“Terakhir kali aku berenang adalah dengan Mbak Sumini dan Wasis di Sungai Brantas, Mid. Kalau tak salah itu juga denganmu.”
“Bagus kalau kau ingat. Rasanya sejak dulu kau tak pernah jauh dariku ya, Mirah.” ucapnya sambil tetap memegang kendali truk ini.
“Bagaimana, Mirah? Apa kau siap? Sanggup berenang dalam waktu yang agak lama,kan?”
Siap tidak siap harus siap. Sanggup tidak sanggup harus sanggup.
Bebarengan dengan anggukan kepalaku, Hamid membanting setir ke arah kanan untuk menabrak salah satu pohon besar di pinggir jalan. Tangan kanannya memegang tubuhku dari samping , sedangkan tangan kirinya tetap memegang setir. Laju truk yang kencang membuat tabrakan kami tak kalah kencang.
Sebelumnya ketika melihat kaca spion, kuperkirakan jarak kami adalah sekitar lima ratus meter. Masih ada waktu untuk kami melompat menghindari mereka. Tabrakan yang cukup keras ini membuatku sedikit pusing dan hampri pingsan. Beruntung Hamid memegang badaku cukup erat. Hamid memapahku keluar mobil. Kami berharap punya cukup waktu untuk terjun.
“Apa kakimu benar-benar cukup kuat untuk berenang, Mirah?
“Tentu saja, Aku putri Emakku.”
“Tentu saja.” katanya sambil melemparkan senyum. Kemudian bunyi decit mobil terdengar makin dekat sehingga kami harus bergerak cepat. Kalau rencana ini gagal, mungkin sekitar seratus meter lagi dan kami akan mendapati mereka menyeret tubuh kami, menghajar dan memilah bagian mana dari tubuh kami yang layak mereka gunakan.
“Ayo, Mirah! Sedikit lagi.”
“Apa kita kan bertemu lagi nanti?”
“Sungai ini tak begitu dalam. Aku pernah menyelaminya. Mereka mungkin tak tahu itu. Kita harus menyelam agak lama sambil mengawasi mereka dari dalam sungai. “
“Iya.”
“Mirah, nanti tunggu aba-aba dariku baru kau boleh keluar dari sungai. Kau paham?”
Aku masih menatap wajahnya. Apa aku akan melihat wajahnya lagi nanti?
“Sumirah, apa kau paham? Kau harus selamat!”
“I—iya.” Sedikit gugup namun ini pilihan terakhir kami.
Suara decit mobil benar-benar tinggal beberapa langkah kaki lagi.
“Kalian! Berhenti disitu!” teriak seseorang dari dalam jeep.
“Ayo, Mirah. Aku akan melemparmu terlebih dahulu.” bisik Hamid. Lalu sejurus kemudian,
Byur..
Aku merasakan tubuhku berada di dalam air yang dingin. Untunglah aku sempat menarik nafas dalam sebelum Hamid melemparku. Aku menyelam dan terus menyelam. Aku ingin menuruti perkataan Hamid kali ini. Ia berkata aku harus terus menyelam sambil menunggu aba-aba darinya. Kendati demikian, rasa penasaran yang memuncak tak bisa selamanya ku tahan.
Apa lebih baik aku keluar dari sungai saja?
Mengapa Hamid tidak ada dalam penglihatanku di air?
Apa aku terlalu terbawa arus hingga Hamid sulit menemukanku?
Aku tidak mendengar suara lain selain suara jatuhku, Apa Hamid baik-baik saja?
Mengapa aku tak bisa mendengar dengan baik dari dalam sini?
Apa aku boleh keluar dari air sekarang?
Kenapa tak ada aba-aba dari Hamid?
Ini sudah hampir lima menit dan nafasku tak tersisa banyak. Kemana Hamid?
Kalau aba-aba dari Hamid tak kunjung muncul maka aku akan segera menarik kepalaku keluar dari air. Apapun yang terjadi setelahnya, terjadilah..
Aku menghitung mundur untuk diriku sendiri. Aku berharap aba-aba dari Hamid segera muncul.
Lima....
Empat....
Tiga....
Dua...
Aku keluar dari air dingin itu dan mengambil nafas sebanyak yang aku bisa. Sungai ini tak begitu dalam, aku bahkan bisa berdiri meski kakiku tak menginjak dasarnya dengan benar.
“Hai, Mirah..”
Aku menengok ke belakang. Kulihat Hamid sedang mencengkeram kerah baju lawannya. Ia kemudian memukulnya bertubi-tubi dan melemparkan tubuhnya ke atas tanah dengan kasar. Ia kembali memukulinya. Hidung, sudut bibir dan kepala laki-laki itu sudha penuh darah dan Hamid masih juga tak mau berhenti. Kulihat sebelah kiri, ada seorang laki-laki lain yang juga babak belur. Rupanya ini penyebab Hamid tak juga mengirimkan aba-aba tadi. Tunggu, ia bisa saja meneriaki namaku dan menganggapnya sebagai aba-aba, bukan?
Dia pasti sengaja melakukannya. Hamid pasti ingin melihatku tersiksa tadi.
“Hentikan, Hamid. Ia sudah cukup menderita dengan semua pukulanmu.”
“Tidak, Ia akan segera memberitahu bos tentang keberadaan kit akalau aku tidak membunuhnya kali ini.”
“ Hentikan, Hamid. Hentikan!”
Aku menarik tangannya dan membiarkannya jatuh. Sementara laki-laki tadi terkapoar tak berdaya karena pukulan Hamid.
“Kau bilang kita harus melarikan diri, bukan? Ayo kita lakukan!”
Entah keberanian dan kekuatan dari mana yang kudapatkan, tapi aku berhasil mengangkat tubuh Hamid dan memapahnya berjalan ke arah jeep.
“Maaf karena kau terlalu lama menungguku, Mirah.”
“Aku tahu kau sengaja melakukannya.”
“Tidak. Aku tidak sengaja.” ucapnya cepat.
“Sudahlah. Aku tahu kau memang ingin membuatku tersiksa di dalam air.”
“Apa kau tahu aku memukul mereka tanpa henti tadi?”
“Tentu saja aku tidak melihatnya. Aku berada di dalam air, apa kau ingat?”
“Aku sibuk menghajar mererka, Mirah.”
“Diam dan teruslah berjalan.”
“Aku tak ingat tentang aba-aba tadi. Sungguh!”
Aku diam saja dan menunggu kalimat selanjutnya dari mulutnya.
“Mungkin harusnya tadi aku ikut menyelam saja agar mereka bisa menembaki kita.” ucapnya lirih. Ia tahu aku sedang kesal dna ia sedang berusaha menggodaku.
“Diam dan teruslah berjalan.”
“Baik.” kata Hamid singkat.
Kami berhasil melarikan diri sekali lagi dari orang suruhan organisasi itu. Jeep ini akan membawa kami menemui Ci Lien di pinggir kota Wan Chai.
“Apa kau benar-benar meninggalkanku sendirian dengan Ci Lien, Hamid?”
Entah kenapa kalimat itu tiba-tiba saja terucap dari bibirku. Hamid sempat melirik sebelum menjawab pertanyaanku.
“Bukankah sudah jelas?”
“Apa?”
“Kau akan selalu memilih untuk tinggal disini? Benar, kan?”
Cara Hamid menjawab seolah tahu bahwa ini tak akan ada ujungnya. Baginya itu seperti pertanyaan tanpa jawaban. Jeep ini membawa kami jauh melewati semua pemandangan Hongkong saat malam hari. Rerumputan tang terdampar luas membuatku merasa seperti sedang dihantui rasa bersalah akan sesuatu yang selama ini kusembunyikan begitu dalam di lubuk hati.
“Ci Lien akan menemuimu di stasiun. Ia berjanji akan membantumu bertahan hidup.”
“Oke.”
“Kau akan bertemu majikan baru, atau akan kembali pada Cece dan Grandma kesayanganmu itu. Biarkan Ci Lien yang mengaturnya.”
“Iya.”
“Visamu dan visaku sudah diperbarui oleh kawan lamaku di kedutaan. Kau akan bisa mengambilnya nanti. Aku akan mengabari Ci Lien begitu semuanya selesai.”
“Oke.”
“Jika nanti kau bertemu dengan orang-orang suruhan organisasi ini lagi, segeralah berlari. Mereka sangat hafal dengan wajahku, namun tidak dengan wajahmu. Kau bisa melarikan diri sejauh mungkin.”
“Iya.”
“Apa kau bisa berhenti berkata oke dan iya, Mirah?
“Tidak.”
“Baiklah. Terserah padamu saja.” Ia lalu menyetir jeep ini dengan serampangan berharap aku mengubah kata-kataku dan memulai pembicaraan. Tapi tidak, aku tak ingin bicara sepatah kata pun. Aku ingin menikmati hembusan angin ini.
Selanjutnya, tak ada yang bicara sampai kami memasuki area stasiun. Ia membiarkanku turun terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mengikutiku berjalan. Aku sibuk mencari perempuan berjaket kuning yang memakai tas pinggang warna merah. Kontras, namun begitulah adanya Ci Lien.
Ia memelukku sangat erat dan mulai melepaskannya ketika aku memberi tanda mulai sesak nafas karena pelukannya. Ci Lien sempat menyalami Hamid sebelum mereka mulai mengobrol. Aku seperti seorang santri yang sedang diantar kembali ke pondok setelah sekian lama pulang kampung. Ibu Pondok dan orang tuaku sedang membicarakan aku.
Perasaan was-was tetap menghantui Hamid. Ia seringkali menengok kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang mengikuti kami. Tanpa sadar, aku juga melakukan hal yang sama. Peristiwa di sungai tadi sungguh membuat perasaanku selalu tak tenang.
“Ci, bisakah kita segera pergi?” kataku pada Ci Lien.
“Kau memang orang yang tergesa-gesa, Mirah.” kata Hamid sambil melihat mataku.
“Tidak, aku tidak ingin melihatmu lebih lama.” ucapku ketus.
“Sungguh?” tanya Hamid sambil melangkah medekatiku. Aku tak bergerak dan menunggunya mendekat hingga jarak kami hanya beberapa senti.
“Pulanglah ke Indonesia dengan selamat. Hiduplah dengan bahagia.” bisikku.
“Beberapa jam lagi Aku akan pergi dari Hongkong lewat pelabuhan.” bisiknya.
“Tolong sampaikan salamku pada Emak dan Bapak. Tolong katakan bahwa aku baik-baik saja disini.”
“Baiklah. Pasti akan kusampaikan pesanmu pada Emak dan Bapak.”
Aku memegang tangan Hamid sebagai tanda perpisahan kami. Baru aku tahu tangan yang kasar itu terasa lebih hangat di malam hari. Empat puluh delapan jam yang akan sangat kurindukan. Kami sudah berteman cukup lama, namun perpisahan kali ini terasa berat di hatiku.
Aku dan Ci Lien berjalan menuju bagian dalam stasiun. Hamid masih berdiri disana. Ia masih mematung. Bukankah harusnya ia segera berkemas dan pergi ke pelabuhan. Pergilah dari sana, Hamid!
“Aku akan menunggumu di Indonesia, Sumirah anak cantik dari Tulungagung!” teriaknya. Lantang dan jelas. Aku dibuat tersenyum dengan tingkah kekanak-kanakannya.
“Iya. Tunggu aku!” teriakku. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku melihatnya di pintu masuk stasiun. Kini, aku menertawai diriku sendiri
Rupanya kalimat itu yang dari tadi kutunggu.