Chapter 29

1386 Kata
“Tidak! Kau tak boleh menikahi laki-laki ini.” ucap Emak dengan lantang. Tadi ketika Mbak Sumini keluar dari kamar, hal yang pertama aku lihat adalah ekspresi Emak. Sorot mata Emak terlihat sangat menyala. Menahan amarah sekaligus rasa kecewa yang begitu lama akhirnya Emak bisa mengungkapkan semuanya. “Mak, ” ucap Bapak sambil memegang tangan Emak. “Jangan, Mak.” tambahnya lirih. Emak menepis tangan Bapak dan menatap Ustad Idrun dan Mbak Sumini secara bergantian. Kegelisahan Emak sungguh bisa dimaklumi. Aku sebagai adik Mbak Sumini juga tak rela jika akhirnya pilihan terakhir Mbak Sumini adalah Ustadz Idrun. Bagaimana bisa laki-laki yang menikah bisa menyukai orang lain lagi? Aku melihat Bapak sudah berusaha menenangkan Emak. Namun Emak seperti menolak untuk ditenangkan. Mbak Sumini dan Ustad Idrun hanya menunduk tak berani melihat wajah Emak. Dalam hati kecilku, aku menyalahkannya atas segala yang terjadi hari ini dan hari-hari sebelumnya. Mungkin Mbak Sumini sangat mencintainya, tapi aku tak lupa hari dimana Mbak Sumini terluka pelipis dan wajahnya karena dipukul oleh Ning Putri. Aku juga tak akan lupa hari-hari dimana kai dibuat kecewa. Seorang ustadz memang seorang manusia, bisa melakukan kesalahan. Namun apa yang ia lakukan pada Mbak Sumini serta rasa kecewa yang Bapak dan Emakku rasakan tak akan kulupa. “Mak, tak bisakah kita bicara sebentar, Mak?” tanya Mbak Sumini. Emak tak menjawab pertanyaan yang dutujukan kepadanya dan tanpa aba-aba langusng pergi ke kamarnya. Mbak Sumini pun berjalan mengikutinya. Melihat Mbak Sumini masuk ke kamar Emak, aku mengajak Wasis untuk keluar melihat kondisi Bapak. “Jangan keluar dari kamar, Mirah. Nanti adikmu biar tidur sekalian di kamarmu saja, ya.” ucap Bapak sambil menyeka air mata. Kami menuruti perkataan Bapak dan kembali ke dalam kamar. Wasis sempat berbisik dan mengatakan akan mengintip ke dalam kamar Emak. Aku sempat melarang Wasis melakukannya. Karena kalau Bapak sampai tahu ulah nakalnya, bukan hanya ia yang akan kena marah Bapak. Ia tetap bersikeras. Ia sungguh ingin tahu apa yang terjadi di kamar Emak. Sekejap kemudian ia sudah beranjak dari kamar dan mengatakan pada Bapak kalau ia ingin buang air kecil. Aku berharap Wasis segera kembali dan menceritakan padaku apa yang ia dengar. Aku tahu ia sedang mencuri dengar dari luar pintu kamar Emak. Sejenak aku berpikir tentang takdir yang kini sedang terjadi di keluarga kami. Mbak Sumini akan menikahi laki-laki yang ia kagumi selama ini bersamaan dengan masa lalu Ustad Idrun yang mengikuti setiap langkahnya. Di satu sisi hatiku, cara Mbak Sumini bercerita tentang Ustadz Idrun selama ini mengatakan kalau mereka memang sedang jatuh cinta dan aku bahagia melihat Mbakku sering tersenyum. Namun di sisi hatiku yang lain, rasa kecewa Emak dan Bapak juga tidak terbantahkan. Orang tua mana yang sanggup melihat anak perempuan yang disayangi menjadi penyebab perpisahan orang lain. Hati adik mana yang tak ikut terluka melihat semua ini terjadi pada kakaknya. Kalaupun Bapak menerima keadaan ini sekarang, entah apa yang akan Emak katakan pada Mbak Sumini dan Ustadz Idrun. “Anak-anak, tak ada yang bisa menandingi doa ibu kalian. Selalu ingat dalam hati kalian ya.. Ibu, Ibu, Ibu lalu Bapak. “ ucap Ustadz Idrun suatu sore di mushola selesai kami mengaji. Mengapa orang dewasa sulit dimengerti? Apa yang sedang dipikirkan Mbak Sumini? Bagaimana ia akan meyakinkan Emak? Bagaimana Emak akan merelakannya menikah dengan Ustadz Idrun? Tok..tok.. Pintu kamar terbuka dan Wasis ada di depan pintu. Ia menunduk. Aku tahu ia sedang sangat sedih. Kutarik lengan kanannya dan memintanya duduk di sampingku. “Ada apa?” “Mbak...” ucap Wasis. Aku memperhatikan mata dan mulutnya. “Ya? Kenapa?” “Mbak, Emak menangis... dan tak berhenti....” ujar Wasis. “Apa kau bisa melihat apa yang dilakukan Mbak Sumini?” tanyaku. Ia menggeleng. “Mbak rasa kita harus keluar kamar untuk melihat keadaan Emak, Sis.” “Kita mungkin tak diijinkan Bapak, Mbak.” “Ikuti Mbak, Sis..” Aku memegang tangan Wasis dan mengajaknya keluar kamar. Aku tahu Bapak mungkin akan marah. Aku tak bisa menahan keinginan untuk melihat keadaan Emak. “Maafkan Mirah, Bapak. Mirah dan Wasis ingin meliat keadaan Emak.” kataku. Bapak melihat kami dengan pandangan yang tak kalah menyedihkan. Mata yang sembab dan wajah yang tampak berantakan. Bapak mengangguk tanda setuju dan membiarkan kami berjalan menuju kamar Emak. Pintu itu tertutup. Tangisan serak dan luka batin Emak, aku tidak tahan mendengarnya. Aku tahu tidaklah sopan memasuki kamar orang lain tanpa mengetuk terlebih dahulu, tapi kali ini aku tidak peduli. Aku hanya ingin memeluk Emakku. Kreel.. Begitu kubuka pintu itu, kulihat Emakku yang menangis sedang meringkuk di samping tempat tidur dan Mbak Sumini berada di sisi yang lainnya. Aku berlari memeluk Emak diikuti oleh Wasis. Mbak Sumini yang sedari tadi melihat kami membuka pintu juga mengikuti laku kami. Tubuh Emak yang hangat memeluk kami bergantian. Lalu kami saling berpelukan erat. Sesekali Emak menciumi pipi kami. “Mak....”ujar Mbak Sumini pelan. Ia masih menangis. “Sudah, Sumini. Sudah, jangan bicara... “ balas Emak. Aku mengusap mata Emak yang tak kunjung kering. Air matanya terus saja mengalir. “Mak, Sumini akan nurut sama Emak. Apapun yang Emak mau, Sumini nurut..maafkan Sumini, Mak.” “Tidak, Sumi. Dengarkan Emak, nak.. Emak yang salah, nak.. Maafkan orangtuamu ini nak. Maafkan nak,” ucap Emak dengan suara serak. “Kita harus beritahu Bapak. Supaya tidak terjadi ifitnah macam-macam padamu, Sumi. Ustadz Idrun harus menikahimu secara agama dulu.” “Tapi, Mak... “ “Tidak ada tapi-tapian. Sudah.” Emak berdiri dan meninggalkan kami yang masih menangis di kamar. Entah apa yang Emak katakan pada Bapak dan Ustad Idrun katakan di ruang tengah, tapi setelah itu Emak meminta kami untuk membersihkan rumah sebersih mungkin. “Jangan sampai ada yang berdebu. Wasis, Emak ingin semua kedelai yang kapan hari sudah disiapkan segera dipindah ke pekaranagn belakang rumah dekat dengan kompor agar tak menghalangi gerakan kita.” “Baik, Mak.” jawab Wasis singkat. Emak segera berpindah ruangan dan memperhatikan halhal yang kami butuhkan untukk acara pernikahan Mbak Sumini. Setiap kalimat yang Bapak dan Emak katakan akan selalu kami turutu. Kalau sebelumnya mereka selalu berkata dengan nada sedih dan sendu, sekarang hanya doa baik yang mereka ucapkan. Bukan mengutuk apalagi menghina, tapi dengan lembut menyentuh hati seperti yang biasa mereka lakukan sebelum ini. Aku merasa senang Emak dan Bapak sudah tidak bersedih hati lagi. Namun keraguan apakah ini jalan yang mereka inginkan. Rencana Bapak adalah meminta Ustad Idrun menikahi Mbak Sumini secara agama terlebih dahulu untuk menghindari fitnah yang semakin menjadi-jadi selama proses perceraian Ning Putri dan Ustadz Idrun. Bapak segera memanggil Pak Saeful dan Pak Kardi untuk membantu kami. Keduanya akan mengurus adminitrasi dan temoat berlangungnya pernikahan ini. Bu Saeful telah menemukan penghulu, sementara Bu Kardi membantu kami mempersiapkan makanan dan seserahan. Tak ada yang mewah dalam acara pernikahan kami. Setelah akad nanti kami akan kembali pada rutinitas sehari-hari. Pernikahan secara agama ini berjalan dengan hikmat dan tanpa rintangan apapun. Semua berjalan sesuai rencana dan Mbak Sumini terlihat sumringah dengan pernikahannya. Ketika aku memergoki Emak sedang melihat Mbak Sumini mengenakan gaun putih untuk akad nikah, aku tahu Emakku memang tak terkalahkan. “Selamat, Mbak Sumini. Selamat menikah ya..” ucap Slamet, teman sekolahku. Aku dan Wasis yang mengetahui rahasia Slamet tak bisa menahan tawa kami. Tampaknya Mbak Sumini juga mengtahuinya namun tidak bereaksi apa-apa. “Terima kasih, Slamet. Kamu harus rajin mengerjakan PR dan jadi dokter seperti yang kamu impikan selama ini ya, Met. Mbak yakin kamu bisa.” ucap Mbak Sumini. Slamet tak membalas perkataan Mbak Sumini dan langsung pergi dari tempat acara. Perasaannya pada Mbak Sumini mungkin saja sebesar rasa malunya saat itu. Aku melihatmya berjalan menjauhirumah kami sambil menunduk. Tak ada rasa sakit melebihi sakitnya orang patah hati. Aku, Wasis dan Hamid tak bisa menahan tawa. Wajah malu Slamet tidak bisa disembunyikan. Bagaimana kabar Ning Putri setelah semua yang terjadi? Ia pasti sedang sedih sekarang ini. Yang kutahu, Ustad Idrun dan Ning Putri selalu terlihat romatis dimanapun mereka terlihat. Siapa yang menyangka kalau Mbakku, Mbak Suminiku, menjadi orang yang datang di tengah mereka. Besok pagi akan kutanyakan perihal Ning Putri pada Nurul, sang tukang gosip andalan sekolah kami. Nurul layaknya Pasukan Elit, selalu tahu berita apa yang sedang terjadi di dalam sekolah ataupun di luar sekolah. Nurul didukung oleh Ibunya yang teman sekolah Emak. Kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun aku yakin sesuatu yang besar sedang menanti kita di depan. Aku harus siap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN