Chapter 46

1467 Kata

“Aku ingin pulang..” kataku lirih. “Kau yakin?” tanyanya. “Aku merasa ingin pulang...” “Kau merasa ingin pulang? Hanya merasa?” “Rul...” kataku. “Ini pertama kalinya ‘kan, Mirah?” “Iya.” “Baiklah..” ucap Nurul singkat. Percakapan kami berakhir begitu saja. Sesak di dadaku tak juga berkurang bahkan setelah menelepon Nurul. Perempuan yang selalu kupaksa meminum kopi hitam pahit itu tak pernah dengan baik mendengar ceritku. Ia  memang tak bisa diharapkan. Ia terus saja mengatakan hal yang sama sebagai jawaban atas pertanyaanku. Namun, aku tak bisa meminta Nurul memahami isi otakku jika aku, si pemilik kepala, juga tak memahaminya. Aku meletakkan gagang telepon itu ke tempatnya dan kembali memandang lukisan hutan bambu di depanku. Ini sudah berbulan-bulan lamanya aku melewatkan din

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN