Chapter 45

1434 Kata
“Ingatanku bertaut pada momen aku berjalan dengan kesakitan menuju ruang tengah rumahku, Mirah. Aku takut aku akan meninggal saat itu juga, Mirah..” Mbak Sumini “Apa yang kamu rasakan saat itu, Mbak?” “Rasanya penglihatanku berputar, Mirah. Kaki dan tanganku sulit kugerakkan. Tiba-tiba aku sudah ada di ruang tengah.” jelasnya. Matanya berkaca-kaca. “Kalau saja Wasis tak datang waktu itu, aku tak akan bisa melihat wajahmu sekarang. Tapi apakah kau tahu, apa yang Wasis katakan setelah menemukanku, Mirah?” “Apa?” tanyaku. Rasa penasaranku tumbuh. Apa yang Wasis katakan pada Mbak Sumini saat itu? “Ia berkata bahwa aku harusnya memikirkan resiko yang akan aku dapatkan ketika kau memutuskan menikah dulu.” Air matanya kembali menetes. Aku ingat kala pernikahan Mbak Sumini berlangsung, aku duduk tepat di sebelahnya dan memegang tangannya. Aku memegangnya kuat seolah akulah yang butuh dikuatkan.  Aku menanyakan keyakinananya bahkan di detik-detik semua orang berkata ‘sah’. “Mbak, ini adalah detik-detik terakhir kau bisa berkata ‘tidak’. Ini masih mungkin terjadi, percayalahl” “Mirah...” “Kau yakin, Mbak?” tanyaku berulang kali. Ia hanya mengangguk cepat tanpa menoleh padaku. Setelah aku lihat Mbak Sumini dengan memar di wajah dan tubuhnya serta dengan seorang bayi di perutnya, aku tak akan lagi meragukan apa yang kuyakini sejak awal. Saat menghabiskan seluruh tangis dan keluh kesah yang selalu kusimpan pada bahu Emak, aku tahu Emak pun sedang melakukan hal yang sama. Emak pun menumpahkan semuanya padaku. Kami menangis bersamaan dan dalam waktu yang lama. “Sejak kapak kau menjadi dewasa seperti ini, Mirah?”ucap Emak seraya melepas pelukannya. Kemudian Emak menyentuh lembut kepalaku, menghapus air mata yang tersisa di pipiku kemudian tersenyum. Senyuman yang dulu sering sekali kulihat ketika Aku atau Wasis membuat lelucon. “Apakah ini Mirah yang sama yang dulu suka membuatku membersihkan tempat tidur karena ngompol?” Kini aku yang tersenyum lebar. Aku ingat Mbak Sumini sering mengejekku karena hal itu. Emak juga sering marah hampir setiap pagi karena kelakuanku. “Nduk, Nak kesayangan Emak, ada apa tadi? Kenapa kau berteriak?” “Mbak Sumini, Mak... “ “Kenapa mbakmu, Mirah?” “Tiap kali Mirah lihat ia menangis, hati Mirah ikut sakit, Mak. Hati Mirah sakit melihat ia dipukuli, Mak.” ucapku gugup. Aku takut Emak marah padaku karena aku memarahi Mbak Sumini. “Kau memang anak yang baik, Mirah. Emak tak menyadari bahwa sekarang kau sudah besar. Kau sudah tahu mana yanng baik dan mana yang salah. Itu bagus, Mirah.” kata Emak Syukurlah Emak tidak memarahiku. “Mirah, apa kau ingat apa kata Bapak tentang saudara kandung?’ tanya Emak. “Kami tak akan terpisah, jarak dan hati, kosong dan penuh, lapar dan kenyang, sakit dan sehat, kaya dan miskin” Bagaimana aku tidak mengingatnya dengan baik, jika Bapak selalu mengulang kalimat yang sama tiap kami bertiga selesai mengaji dan sembahyang. Aku berusaha tenang ketika Emak mengingatkanku kembali semua kata dalam kalimat itu, walaupun dalam hati, lukaku masih menganga lebar. “Bagus, Anak pintar! Kembalilah ke kamar Mbak Suminimu itu dan peluklah ia erat seperti kau memeluk Emak tadi.” “Iya, Mak.” Aku berjalan kembali ke kamar dan mengetuk pintu dengan pelan. Mbak Sumini membuka pintunya. Aku melihat mata besarnya sembab, ia pasti menangis hebat setelah aku menutup pintu tadi. Aku melompat dan memeluknya erat. Tangis kami pecah. Aku merasa bersalah dan berdosa padanya. Aku tahu makna dari setiap kata dalam kalimat yang kuulangi di depan Emak tadi. Perasaan marah yang memenuhi hati dan pikiranku tak sebanyak apa yang Mbak Sumini punya. Sakit hati yang kurasakan tak sebesar rasa sakitnya. Kebingungan yang ia punya pasti semakin besar saat tahu bahwa ada bayi di perutnya. Sepertinya Wasis belum menyadarinya. Ia membuat kesalahan seperti ketika aku dan Wasis membuat kesalahan. Ia memilih orang yang salah, sama seperti aku yang memilih baju pramuka ketika harusnya putih biru untuk upacara bendera atau ketika Wasis yang salah mengambil garpu saat makan soto ayam. Inilah yang ingin Emak coba katakan padaku. Bahwa kami, tidak akan baik kalau terus menyalahkan Mbak Sumini seperti sekarang. Emak dan Bapak tahu semuanya, namun memilih untuk diam. Mereka memahami ada gejolak yang tidak terlihat diantara Wasis, aku dan Mbak Sumini. Wasis, tanpa aku tahu, ternyata juga pernah mengatakan hal yang hampir sama denganku. Ia juga menyalahkan Mbak Sumini atas keadaan seperti in. Ia kini sering bolos sekolah karena mengurusi masalah Mbak Sumini. Ia pun merasakan kebingungan dan kemarahan yang sama besarnya denganku. Hanya saja ia tak mempunyai teman bercerita, teman menangis. “Aku akan pergi dari sini, Mirah.” kata Mbak Sumini memecah lamunanku. “Kemana kau akan pergi, Mbak?” tanyaku. Ia memilih diam tanpa kata, pun tidak membalas pertanyaanku. Belum juga Mbak Sumini membalas pertanyaanku, kami mendengar pintu digedor keras sekali. Ketukan bertubi-tubi dan kencang sekali. Aku dan Mbak Sumini saling berpandangan. Kami melihat keluar jendela untuk memastikan apa yang kami dengar. Pantas saja ketukan itu keras dan bertubu-tubi, yang sedang mengetuk pintu  adalah beberapa orang laki-laki. Sekitar sembilan atau sepuluh orang berdiri di depan pintu kami. Setelahnya, kami juga mendengar langkah kaki Emak ke arah pintu. Akhirnya aku dan Mbak Sumini pergi keluar kamar dan menghampiri Emak. “Kami menemukan dimana suami Mbak Sumini, Mak.” kata salah satu laki-laki yang berdiri. “Dimana? Dimana Mas Idrun?” tanya Mbak Sumini cepat. Aku dan Emak hanya bisa memandang Mbak Sumini. “Tunggu! Dimana dia?” kata Emak sambil menahan langkah Mbak Sumini yang ingin pergi keluar rumah. Emak sepertinya tahu langkah yang akan Mbak Sumini ambil. “Idrun ada di desa sebelah. Ia tertabrak sepeda motor yang melintas. Kami menemukannya dalam keadaan kelaparan dan lemas.” “Ya Tuhan, Mas Idrun...” tangis Mbak Sumini pecah mendengar kabar suaminya. “Itu pasti karena ia kebingungan mencari tempat berlindung, Mirah.” kata Mbak Sumini sambil meraih tanganku. Ia menangisi kondisi suaminya. Selain tangisan Mbak Sumini, hal lain yang menarik perhatianku adalah dua laki-laki kecil yang berdiri paling belakang di barisan. Mereka adalah Wasis dan Slamet. Tampaknya mereka berdua juga ikut mencari dimana Mas Idrun, batinku. “Wasis, masuk, Nak,” kata Emak. “Iya, Mak.” jawab Wasis cepat. “Kau juga, Slamet.” “Nggih, Mak. Iya, mak.” jawab Slamet singkat. Rupanya Emak menyadari keberadaan dua makhluk kecil itu diantara mereka. Wasis dan Slamet kemudian pamit untuk mandi dan berganti baju. Mereka berlari kecil ke arah kamar Wasis. Emak memerintahkan barisan itu untuk membawa Mas Idrun kembali ke rumah ini. Emak berkata bahwa ia akan meminjam mobil pickup untuk memudahkan mereka. “Mirah, jaga adikmu dan Mbak Sumini, Emak akan pergi sebentar.” Begitu kata Emak sebelum pergi bersama barisan itu. Aku segera memapah Mbak Sumini masuk ke kamar. Keadaan sudah semkain memburuk dan aku tak ingin membuatnya smekin buruk. Aku melihat Wasis dan Slamer bersiap untuk menyusul Emak. “Apa Mbak tahu dimana Bapak?” Aku menggelengkan kepala tanda tak tahu menahu. “Bapak sedang menungui Mas Idrun disana, dipinggir jalan.” “Benarkah itu, Sis? Segeralah bergegas dan membantu Bapak, Sis. “ Wasis menganguk cepat dan segera berlari keluar rumah diikuti oleh Slamet yang terlihat menatap Mbak Sumini walau sekilas. Mas Idrun dan Mbak Sumini memiliki permasalahan yang belum selesai dan rasanya Tuhan meminta mereka menyelesaikannya dengan segera. Selang beberapa jam kemudian, sebuah mobil pickup tua berheni di depan rumah kami. Bapak adalah orang yang pertama kali keluar dari mobil. Aku berlari dan mendekapnya. Bapak tersenyum simpul. “Bapak dari mana saja, Pak?? Sepertinya Mirah tadi pagi melihat Bapak di dapur. Sudah sore dan Bapak belum meminum obat dari Pak Mantri.” kataku kesal. Bapak tak menjawab pertanyaanku dan pergi begit usaja ke ruang tengah. Ternyata Bapak sedang menata kursi dan meletakkan selimut diatasnya sebagai alas tidur. Orang kedua dan ketiga yang keluar adalah Wasis dan Slamet. Mereka memapah seseorang yang sempoyongan. Wasis dan Slamet membaringkan Mas Idrun di ruang tengah kami. Percikan air yang kami lempar, teriakan Emak dan Bapak, udara panas yang tak pernah berkurang di Tulungagung, tak juga membangunkannya. Ia tak memberi respon apapun setelah itu, bahkan ketika Mbak Sumini menampar pipi kanannya pelan. Mbak Sumini kemudian meminta Slamet untuk memanggil Pak Mantri. Ketika Pak Mantri datang, kami semua berdiri mematung dan berdiri mengelilingi Mas Idrun. Ruang tengah kami penuh dengan orang-orang. “Ia hampir saja tidak selamat, Sumini. Tuhan sangat menyayanginya.” “Bagaimana, Pak Mantri?” Pak Manri kemudian memberi satu lembar kertas yang berisikan hal-hal yang harus dibeli. Ada kayu manis dan Jahe, lalu ada gula aren. Lalu kedua bahan itu diparut. Air yang dihasilkan dri parutan tadi dicampur dengan jeruk nipis. Setelah itu, Pak Mantri meminta kami untuk memaksa ia meminumnya tiga kali dalam sehari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN