Benar kata orang, hujan memang selalu membawa berkah. Selain menyejukkan udara dan membuat tanah subur, hujan kali ini juga membantu mengurangi kecemasan dan kalut yang kurasakan saat ini. Kalau kata Bu Titin dulu, mendung berwarna gelap yang tampak sebelum turunnya hujan adalah karena ia membawa air sebagai beban. Setelahnya beban itu akan dilepaskan ke bumi sebagai air hujan. Begitu terus... Ketika mendengar hal itu, aku dan teman-teman merasa sedih. Kami mengasihani awan yang harus membawa beban seberat itu. Beban yang berisi kebahagiaan untuk setiap orang. Bu Titin meminta kami supaya tidak khawatir karena setelah beban itu akan turun menjadi hujan, lalu awan mendung tadi berubah menjadi putih kembali. Pada akhirnya, beban yang berat itu bisa diluapkan ke bumi lalu membawa manfaat bagi manusia.
Kurasa sekarang, malam ini, setelah meninggalkan Ci Lien di kedai tadi, lalu berada di halte bis ini, baru aku benar-benar menikmati waktu liburku. Bersandar pada tembok halte di pinggir jalan seperti ini, walaupun tidak ada kue kopi ataupun segelas minuman hangat, aku tetap menikmatinya. Mungkin Tuhan sedang ingin mendengarku mengadu. Aduan lyang selalu menambah sebanding dengan protes dan ajuan penawaran yang tidak seimbang.
Mbak Sumini adalah orang yang yang memberitahuku tentang bau wangi setelah hujan. Bau wangi setelah hujan adalah favoritnya setelah dua wangi lainnya. Bayangkan ekspresiku ketika aku mendengar ada dua bau wangi lainnya yang ia sukai.
“Dua wangi lainnya kau bilang, Mbak? Hahaha.. aku tahu!”
“Apa? Coba katakan padaku.” tanyanya penasaran. Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang kebingungan.
“Bau kentutmu dan bau kentutku kan! Halah, bilang saja Mbak!”
Bau kentutku Mbak Sumini adalah yang paling bau, sedangkan bau kentutku adalah yang paling nyaring bunyinya. Aku tak bisa menceritakan bagaimanan ekspresi Wasis ketika ia berada di ruangan yang sama ketika kami kentut.
Bukannya tertawa mendengar leluconku, ia malah cemberut dan matanya menyipit.
“Jangan berbohong, Mbak. Jujur saja!” aku mencubit pipinya karena ingin menggoda, sayang gerakan tanganku tak secepat tangannya. Ia berhasil menepis tanganku dengan baik.
“Mirah, dengarkan aku. Setelah hujan turun selalu ada bau wangi yang bisa kau nikmati. Coba nanti kau hirup pelan-pelan. ” jelas Mbak Sumini. Kami sedang berada di kamar saat itu. Hujan deras yang mengguyur desa kami tak jua berhenti mulai dari pagi hari.
“Bau hujan maksudmu, Mbak?” tanyaku.
“Bau tanah yang terkena hujan, Mirah. Wangi sekali.”
“Sepertinya bau pisang goreng panas lebih wangi dan bisa dimakan, Mbak… atau bau segelas kopi panas juga lebih enak, Mbak.” kataku mengejek. Mbak Sumini tertawa lebar. Sengaja ia menampilkan giginya yang besar-besar itu. Kami lalu bersama-sama mengamati hujan yang jatuh dari atas genteng dan membasahi bumi.
Kini setelah bertahun-tahun lamanya, aku sadar perkataan Mbak Sumini benar. Aku setuju bahwa wangi hujan memang layak untuk dinikmati. Layak untuk dimasukkan ke dalam momen-momen renungan. Sekarang aku tahu kenapa Mbak Sumini sangat menyukai hujan. Ia bahkan rela dimarahi habis-habisan oleh Bapak karena bermain hujan.
Mbak Sumini, ternyata bertahan hidup itu tidak gampang ya mbak, batinku. Andai aku bisa memelukmu saat ini, Mbak.. Andai aku bisa dengan mudah bercerita tentang majikan-majikanku disini, Mbak. Seandainya aku berada di sisimu waktu itu, Wasis tentu tak akan selelah ini. Ia pasti sedang belajar di sekolah yang lebih tinggi seperti cita-citamu ya, Mbak. Andai aku bisa mendengarmu memanggil namaku lagi, Mbak....
Kenyataan memang pahit. Mungkin itu lah sebabnya kita, manusia penuh dosa, tahu bagaimana cara agar tidak salah masuk antara mana yang kenyataan dan mana yang imajinasi. Ilmu ini memang penting untuk dipelajari, agar hidup manusia tidak terlalu sering pergi ke dunia imajinasi dan mulai melakukan kewajiban mereka di dunia nyata. Bertahan hidup adalah salah satu kewajiban manusia. Manusia bisa melakukan hal apapun agar bertahan hidup. Dalam cerita ini, aku, yang penuh dosa ini, berkelana di Hongkong.
Begitupun juga dengan keluarga yang kutinggal jauh di Tulungagung. Perasaan bersalah yang kurasakan karena pergi meninggalkan mereka, tak pernah sekalipun meninggalkan pikiranku. Dan rasa bersalah itu terus membuatku tak ingin pulang, tak ingin melihat wajah Emak dan Bapak yang kecewa pada anaknya, tak ingin melihat Wasis yang marah karena mbaknya tak ada disampingnya. Aku menjadi semakin penakut setiap harinya.
Selama ini, aku tak punya satupun doa untuk hidupku sendiri dan aku pun tak tahu apa yang nanti terjadi di masa depan, tapi hujan ini menyadarkanku. Hujan ini membuatku menemukan tujuanku. Aku tahu doa apa yang akan kupanjatkan untuk diriku sendiri. Aku ingin pulang. Pulang pada Emak dan Bapakku.
Aku ingin menceritakan semua hal yang terjadi padaku pada Emak dan Bapak. Aku inin mereka ikut marah ketika aku tidak diberi makanan oleh majikanku pada musim dingin, atau aku ingin mereka ikut bersorak ketika aku bercerita tentang gaji pertamaku yang kuhabiskan untuk membeli makanan cepat saji. Benar, makanan cepat saji. Aku lemah menghadapinya. Aku juga akan menceritakan tentang kisahku bersama teman-teman atau komunitas-komunitas yang ada disini. Maryamah, Ci Lien, Patricia, Grandma, Cece atau majikan baruku ini. Aku yakin mereka akan senang mendengar ceritaku.
Aku bisa membayangkan semua hal yang pasti akan kulakukan begitu aku kembali. Aku akan dengan lahap memakan semua masakan Emak yang enak-enak itu.. Aku akan bertengkar dengan Wasis sesering mungkin, sampai kami berdua bosan. Aku akan merasakan kembali suasana pekarangan yang sejuk dengan drum-drum tempe yang biasa aku penuhi dengan air kalau sore. Yang pasti, Aku akan dengan rela mencium bau kentut Mbak Sumini yang baunya bisa dicium hingga radius lima ratus meter itu. Aku juga akan mendengarkan suara Bapak dan Emak yang menenangkan..
Sebagai anak kedua, aku tak bisa menjadi anak yang rewel dan terlalu menyusahkan. Apakah itu merasa menuntut atau bahkan dituntut, aku tak bisa berhenti bersikap mandiri. Lalu ketika Mbak Sumini menikah dan tersiksa, aku menyaksikan runtuhnya harapan Emak dan Bapak pada Mbak Sumini. Aku diminta untuk memahami semuanya tanpa ada penjelasan dari yang lebih tua. Semua hal yang Mbak Sumini ceritakan padaku tentang Mas Idrun tidak bisa kucerna dengan baik. Apalagi ketika ia tersiksa dan hamil, Sejak saat itu, tak ada satupun hal yang kulakukan selain mendapatkan restu atau ijin dari Bapak dan Emak.
Aku memang jauh disini, tapi ketika kau mempunyai kesempatan untuk menelepon ataupun mengirimkan surat, aku akan melakukannya. Aku tahu surat akan sampai setelah satu hingga dua minggu pengiriman. Tak apa, kataku pada Wasis. Walaupun aku sekarang berada di negara lain yang jauh, aku tahu Wasis akan dengan senang hati menceritakan padaku tentang semua yang terjadi di lingkungan rumah kami. Kadang lewat telepon, ia akan menceritakan padaku bagaimana ia baru saja membeli kelinci yang ia pelihara sebagai ganti mbak-mbaknya. Dalam hati, aku tahu adikku itu kesepian namun tak berani mengungkapkannya. Aku pun merasa hal yang sama.
Matahari tenggelam sudah tak lagi memperlihatkan wajahnya.. kini langit tampak hitam dan mendung-mendung sedang berlari kesana-kemari. Anak-anak kecil juga sudah diajak untuk masuk ke dalam rumah. Seharusnya aku sudah tidur di kasur yang empuk di rumah. Tetapi sekarang aku disini, menanti bis yang tak kunjung datang. ini sudah pukul 6, kurasa bis akan datang sektar tiga puluh menit lagi. Hujan memang masih turun, namun tak sederas yang sebelumnya.