Chapter 43

1290 Kata
Aku selalu bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang baik. Orangtua yang baik hati serta lingkungan yang baik membuatk mempunyai empati dalam hidup. Oya, dengan dua saudara kandung yang juga baik hati, Mbak Sumini dan Wasis, walaupun tingkah mereka sangat menyebalkan. Kami bertiga tumbuh dalam hangatnya kebersamaan dan manisnya kasih sayang. Ketika kecil, kami hanya menyaksikan Bapak dan Emak bertengkar dua kali dan tak pernah lagi sampai kasus Mbak Sumini mencuat. Emak dan Bapak selalu menjadi acuan perilaku kami. Saat aku berusia sembilan tahun, aku ingat Bapak pernah mengajakku bersepeda keliling desa di suatu sore. Kami bersepeda melewati sawah-sawah milik temna-teman Bapak, toko-toko kecil yang sepi pengunjung, lalu berakhir dengan melihat warung kopi tempat Bapak menghabiskan bergelas-gelas kopi setiap sore. Saat melewati orang-orang tua yang sedang duduk di kursi di pinggir jalan, Bapak akan memintaku turun dan mulai mendorong sepeda. Bapak akan memberi salam pada orang-orang tua itu dengan hangat lalu nanti setelah agak jauh, kami akan kembali menaiki sepeda dan melanjutkan perjalanan. Begitu terus hingga halaman depan rumah kami terlihat. Pernah juga di siang yang terik, Bapak memintaku untuk mengantar sayur asem buatan Emak pada Mak Min, salah satu tetua di desa kami. Mak Min adalah seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya. Kata orang, suaminya meninggal dalam perang melawan sekutu. Tentu saja aku mengantarkannya dengan gembira karena tahu Bapak sedang menyiapkan hadiah jika aku bisa menuruti perkataan Bapak hari itu. “Kamu tahu mengapa Bapak sering memintamu mengantar sayur pada Mak Min, Mirah?” “Karena di rumah Mak Min tidak ada memasak lah, Pak” “Selain itu?” “Beramal?” “Oke, selain itu?” Aku mengangkat bahu tanda tak tahu. Bapak hanya tersenyum seraya berkata, “Bapak ingin nanti Mirah melakukan kebaikan-kebaikan semacam itu untuk orang lain. Bapak ingin Mirah memperlakukan orang lain, terlebih lagi orang tua Mirah dengan baik.” Bapak sedang mengajarkanku untuk bersikap baik kepada orang lain. Bapak juga mengajarkanku untu selalu mendoakan sesuatu yang baik pada orang-orang yang ada di sekitar kita. Siapapun tak terkecuali. “Jadikan doa sebagai bentengmu, Mirah.” Sampai saat ini, perintah Bapak selalu kuturuti dan harapan agar keluarga kami selalu baik-baik saja selalu menjadi doa utama setelah sembahyang. Namun aku yakin kita semua tahu bahwa hidup tak pernah semudah itu. Kembali pada kehamilan Mbak Sumini. Mbak Sumini, gadis muda yang sedang kesakitan karena kepalanya memar harus pula menahan sakitnya hamil tanpa suami. Ia hanya sembilan belas tahun dan masih belum punya pengalaman membesarkan bayi. Reaksi Emak dan Bapak tak bisa kulukiskan . Bisa dibayangkan saja betapa shocknya mereka mendapati anak perempuannya yang babak belur ternyata sedang hamil dan laki-laki yang menikahinya justru hilang entah kemana. Emak langsung tersenyum bahagia mendengar berita baik itu, namun Bapak hanya melipat tangannya tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Entah apa yang sedang Bapak pikirkan saat itu, tapi setelah Wasis datang dan mengatkan bahwa Mas Idrun tidak bisa ditemukan, wajah Bapak menjadi merah karena marah. Wasis kemudia mengajak Bapak pergi ke suatu tempat. Setelah sadar dari tidurnya, Mbak Sumini sering sekali mengelus perutnya. Ia juga menjadi sering tersenyum manis ketika mendengar beberapa tetangga yang berkunjung menceritakan masa kehamilan masing-masing. Ada satu diantara mereka yang memberi saran MbAK Sumini agar nantinya melahirkan dirumah supaya tidak perlu membayar bidan atau puskesmas, lalu ada seorang ibu-ibu lagi yang harus memceritakan kontraksi yang ia rasakan ketika hendak melahirkan dan banyak lagi cerita dari ibu-ibu lainnya. Sebenarnya, aku sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Namun entah kenapa perasaan bahagia ini tak sebesar rasa khwatirku pada hidup Mbak Sumini. Firasatku ini tak akan berjalan lama. Wasis pun merasakan hal yang sama. “Mbak, kenapa Mbak Sumini ada disana dalam keadaan babak belur?” tanyaku untuk yang kedua kalinya. Aku memelankan suaraku agar Emak dan Bapak tidak terbangun dari tidurnya. Aku tak ingin membuat Mbak Sumini menangis kencang lagi seperti tempo hari. “Mirah, Mas Idrun benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Aku tak bisa bersamanya lagi.” “Apa yang terjadi, Mbak? Ceritakan semuanya.” “Aku sedang membersihkan jendela kamar ketika dia pulang. Entah dari mana ia datang, namun tiba-tiba saja ia sudah mendorongku, aku jatuh dan tersungkur. Aku berusaha lari, Mirah.. Aku bersumpah bahwa aku sudah berusaha lari dan menyelamatkan diri.” “Mbak...” tanpa sadar aku meneteskan airmataku membayangkan kejadian itu berlangsung. Aku membayangkan Mbak Sumini berlari karena ketakutan. “Aku terus berusaha lari, tapi sungguh Mas Indru adalah laki-laki kasar. Ia menarik bajuku dan memegang badanku,” jelasnya. “I—ia melemparku ke samping tempat tidur, Mirah. Keras sekali hingga aku yakin aku mendengar bunyi beberapa tulang rusukku patah.” “Kenapa dia menjadi seperti itu, Mbak? Apa kalian bertengkar sebelumnya? Apa kau melakukan sesuatu yang salah? Atau ia melakukannya dengan sengaja?” “Kami memang bertengkar beberapa hari sebelumnya karena aku dengar dari beberapa orang ia masih menemui Ning Putri di pesantren. Setelah kudesak, ia memang berkata ia menemui murid-muridnya disana. Ketika kutanya tentang Ning Putri, ia hanya menjawab pertanyaanku seperlunya. Aku berusaha mencari tahu tentang apa tujuan Ning Putri, namun rasanya semua orang di pesantren itu menghalangiku. Mungkin itu yang membuat Mas Idrun marah, Mirah.” “Itu sebabnya kau tak boleh menyukai suami orang.” kataku lirih. Aku tahu perkatanku akan melukainya. Tapi aku tak tahan. “Paham, kau?! Kau harusnya tidak menyukai suami orang dan menyebabkan kekacauan sebesar ini, Mbak!” bentakku. Rasanya beban di pundak sudah kukeluarkan semuanya. “Kau benar, Mirah. Kau selalu benar.” Kami terdiam beberapa saat setelah ia membalas kalimatku. Ketika ia hendak berdiir mengambil air putih, tanganku tergerak untuk membantunya untuk mengambil gelas berisi air itu. Mbak Sumini meminumnya sampai habis. “Mbak, apa itu penyebab kau tak datang kerumah beberapa hari ini?” “I—iya, Mirah. Tolong jangan beritahu Emak dan Bapak tentang hal itu.” suaranya mengecil. “Kau masih bisa berkata demikian padahal Bapak dan Emak sedang khawatir tentang hidupmu yang hampir diujung maut?” “Aku tahu, Mirah...” ucapnya lirih. “Tidak! Kau tak tahu! Kau egois, Mbak! Sudah pernah kubilang, jauhi laki-laki itu!” Ia menatap lekat mataku dan mengatakan jika ia sudah tak bisa membela dirinya sendiri saat itu. Ia sangat bersyukur Pak Mantri datang secepat itu, karena kalau tidak, ia tentu saja tidak akan bisa selamat. “Sekarang kau sedang mengandung dan badanmu juga sedang babak belur seperti itu. Apa kau punya rencana lain agar bisa bertahan hidup, Mbak?” “Tidak.” “Setidaknya berpikirlah! Selama ini kau hanya menerima semua perlakuan Mas Idrun tanpa melawan! Apa kau tahu aku sangat membencimu saat ini?!” Aku membentaknya untuk kedua kalinya. Kumohon Mbak Sumini, gunakanlah kepalamu dengan benar. “Tentu saja, Mirah. Tentu kau sangat membenciku.” ujarnya dengan tatapan kosong. “Jangan khawatir, Mirah. Aku juga membenci diriku sendiri.” “Sudah kuduga.” Aku menutup pintu kamar dengan kasar. Aku kesal dengan tingkahnya yang tak kunjung mengerti bahwa ia baru saja membuat Emak dan Bapak kecewa dan sedih sekali lagi. Ia tak perli memikirkan kami, Aku dan Wasis. Ia tak usah memperdulikan kami. Tapi setidaknya, tolong pikirkan bagaimana Emak dan Bapak melewati hari-hari mereka. Aku berlari ke kamar Wasis dan menangis sejadi-jadinya. Rasanya sesak sekali melihat orang-orang yang kusayangi menjadi seperti ini. “Mirah.. Sumirah..”suara Emak tiba-tiba memanggil namaku dari dalam kamar. Aku segera mengusap air mata di pipiku hingga kering dan bergegas pergi ke kamar Emak. Mungkin Emak sedang membutuhkan sesuatu, pikirku. “Sini, Nak.” “Iya, Mak.” Ia rupanya mendengar isi percakapanku dengan Mbak Sumini tadi. “Boleh Emak peluk anak emak? Boleh Emak memeluk Sumirah, anak kesayangan emak?” Tanpa perlu dikomando lagi, aku berlari dan jatuh ke pelukan Emak. Aku menghabiskan semua energi dan tangisku di pundak Emak. “Anak gadis Emak yang satu ini juga sudah dewasa ya..” ucap Emak lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN