Chapter 42

1201 Kata
“Sedang apa kau disini?” tanyaku pada Ci Lien. Entah apa yang membuatnya berjalan mengendap-endap seperti itu. Aku hampir memukulnya kalau saja ia tak segera membalikkan badannya padaku. Hari ini adalah hari liburku setelah seminggu ini bekerja sangat keras. Aku membersihkan gudang di hari Senin, membersihkan semua lemari dan kaca di hari Selasa dan Rabu, ikut menata dan membersihkan rumah orang tua dhai-dhai di hari Kamis dan Jumat, lalu menyetrika banyak baju di hari Sabtu.  Aku sudah mengajukan libur di hari Minggu dan dhai-dhai menyetujuinya. Sejak malam sebelumnya aku berpikir keras mencatat resep kue kopi yang rumit dari sebuah majalah. Bahan-bahan dan alat yang diperlukan sudah tersedia di kulkas dan lemari persediaan. Aku hanya harus meminta ijin pada Dhai-dhai untuk menggunakannya. Segelas kopi panas dan kue kopi adalah kombinasi yang tepat untuk menghabiskan sore. Beruntungnya lagi, dhai-dhai dan keluarganya pergi ke rumah orangtuanya sejak pagi. Jadi Aku bisa mengggunakan dapur dan semua peralatannya tanpa harus khawatir mengganggu orang lain. Lalu sekitar dua jam yang lalu, pekerja imigran yang bekerja bersamaku di rumah ini juga sudah meminta ijin untuk pergi bersama pacarnya. Aku akan sangat menikmati hari libur, batinku. Ketika aku mengatakan bahwa hidup tak pernah berhenti memberiku kejutan, aku memang benar meyakininya. Seperti sekarang, ketika hari libur adalah seseuatu yang sangat berharga untuk semua pekerja imigran, aku bisa mendapatkannya tanpa harus mengemis atau mengiba pada majikan. Kemudian tiba-tiba saja telepon rumah berdering. Sepertinya akan ada kejutan yang lainnya. Aku berjalan ke ruang tengah dengan bersemangat seperti anak kucing kecil yang diajak bermain oleh majikannya.. Aku mengangkat gagang telepon dan mendapati Singsang yang berbicara. Ia memintaku mencari satu berkas dokumen yang ada di mejanya. “Ada meja kecil  di kamarku. Kau harus cari berkas itu di laci kedua di meja itu.” “Baik, Singsang.” “Dan Mirah, jangan buka laci yang lain. Jangan mengambil apapun selain berkas itu. Paham?!” Tentu saja aku tahu aku tidak boleh membukanya. Emak dan Bapakku mendidikku dengan sangat baik. Melakukan hal seperti itu kana merendahkan harga diriku. Lalu Singsang memintaku untuk mengantarkan berkas itu ke kantornya. “Haha, Aku sudah bilang aku tak benar-benar bisa melepaskanmu ‘kan, Mirah?” “Itu ucapan Pat padaku, Ci.” Aku sedikit menggerutu karena t “Ya, tentu saja Pat yang mengatakannya.” “Apa yang sedang kau lakukan disini, Ci? Apa kau sedang mengawasi sesuatu?” “Tadi ketika aku melihat kau berlari ke arah gedung tua itu, hatiku merasa tidak enak, jadi aku mengikutimu. Lagipula, kau berlari begitu cepat dari halte seperti sedan dikejar seseorang” “Tidak, kupikir Singsang sedang menunggu berkas ini, itu sebabnya aku berlari ke gedung itu. Tapi entahlah, gedungini tampak tua, untuk apa Singsang kesini.” “Gedung ini adalah sebuah kantor? Apa kau yakin?” “Tentu saja, gedung itu adalah gedung milik majikan baruku, Ci.” Aku mengambil ancang-ancang untuk berlari ke pintu depan gedung itu. “Aku akan menemuimu nanti, Ci.” kataku. “Jangan, jangan kau masuk kesana, Mirah!” ucap Ci Lien sambil mendekap erat tangan kananku. “Kau tak boleh pergi kesana dulu, Mirah.” Baru kali ini aku melihat perempuan tangguh ini ketakutan. Karena merasa aneh, aku berusaha melepaskan tangannya, namun dengan cepat ia mendekapku lagi. Kulihat wajahnya lekat-lekat. Keringatnya bercucuran dan tangannya gemetaran. Ia terus memintaku bersembunyi di balik badannya. Walaupun sebenarnya hal itu sia-sia dilakukan karena badanku kini jauh lebih tinggi daripada badannya, tentu saja harusnya aku yang melindunginya. Gedung di depan kami ini memiliki tiga lantai dengan cahaya lampu yang tidak terlalu terang mengelilingi gedung itu. Dan aku tahu ia sedang melihat dua orang satpam yang berjalan mengelilingi gedung. Tak ada yang perlu ditakutkan, ya, setidaknya itu menurutku. “Ci, aku harus segera menyerahkan dokumen ini pada majikanku.” Aku menyodorkan satu berkas dokumen yang tadi diminta oleh majikanku. Sekarang ini, ia pasti sedang menungguku dengan gelisah. “Ci, kumohon. Aku harus segera menyerahkan dokumen ini lalu bergegas pulang.” Andai Ci Lien tahu aku sangat ingin segera pulang karena kue kopi di piring sedang menungguku. Belum lagi kopi panas yang sangat ingin kuminum. Membayangkannya saja membuatku ingin segera berlari ke rumah. “Kenapa kau harus cepat-cepat, Sumirah? Apa kau tak ingin mengobrol denganku?” Ia memutar badannya lalu tersenyum manis. Ia memintaku untuk menemaninya makan malam di sebuah kedai di pinggir jalan. Aku harus memaksanya berulang kali hingga ia akhirnya setuju aku harus berlari ke gedung itu. seingatku, hanya dua orang satpam di depan gedung. Namun kini, gedung itu dipenuhi oleh beberapa orang yang memakai warna baju yang hampir sama. Mereka berbaris layaknya tentara yang melakukan upacara di pagi hari. Ketika aku berlari kesana, aku tahu aku harus meneronos kerumunan ini dengan cepat hingga aku bisa menemukan Singsang. “Hey, sedang apa kamu disini?”tanya seorang laki-laki. “Aku harus mengirimkan satu dokumen ini pada majikanku.” “Majikan?” Ia dan seorang laki-laki di sebelahnya saling berpadangan. Aku menyebutkan nama lengkap majikanku dan mengatakan bahwa dokumen ini harus diserahkan sesegera mungkin. Mereka mengangguk dan berkata bahwa mereka mengenal majikanku dengan baik. Mereka juga akan membantuku untuk menyerahkan berkas itu pada Singsang. Mereka baik sekali. Tapi ada satu hal yang aku tak suka dari mereka. Bau rokok yang menyerang hidungku. Jenis bau rokok yang menempel pada pakaian kita meski sudah dicuci berulang kali. Walaupun aku berusaha mencari perbandingan yang lebih baik, tapi akhirnya aku menemukan bau yang hampir sama dengan yang kucium dari tubuh mereka. Bau rokok mereka hampir sama dengan bau rokok Hamid. “Terima kasih, aku akan menyerahkan dokumen ini pada majikanmu sekarang.” ujar seorang laki-laki bersepatu merah mengkilat. Aku membalasnya dengan ucapan terima kasih dan cepat-cepat pergi dari sana. Beberapa mata sedang mengawasiku. Dalam perjalanan menuju kedai pinggiran yang aku dan Ci Lien sepakati, aku mulai berpikir tentang apa yan dilakukan oleh orang-orang tadi. Semua laki-laki disana hanya berbaris dan diam. Kenangan tentang upacara bendera tiap hari senin di sekolahku dulu tiba-tiba saja terlintas. Ketika anak-anak dari kelas satu hingga tiga mematuhi semua yang diperintahkan guru dan kepala sekolah dengan berdiri tegap seperti kumpulan laki-laki di gedung tadi, anak-anak kelas empat, lima dan enam justru yang akan mengacaukannya dengan memilih jongkok atau bermain dengan santai. Persis seperti ketika kau berjalan memasuki gedung. “Sini, Mirah.. Duduklah sini, ini cumi-cumi bakar yang tadi kau pesan.” Ia melambaikan tangannya. “Ceritaka semuanya padaku, Ci.” Kalimat pertama yang kuucapkan pada Ci Lien. “Apa yang ingin kamu ketahui, Mirah?” “Jelaskan saja padaku, Apa hubungan semua orang disana dengan Hamid.” “Nah, kan. Aku tahu kau juga akan merasakannya, Mirah. Pat sedang menyelidiki mereka dan pergerakannya sekarang, Mirah. Kita kana segera mengetahuinya. ” “Bagaimana bisa? Kita sama-sama tahu Hamid sedang ada di Indonesia sekarang ini. " "Aku pun tak tahu pasti. "jawabnya. "Dan, Ci.. aku tak ingin berhadapan dengan ini lagi. Aku ingin bekerja dengan baik, mengumpulan uang dan kembali ke Indonesia untuk bertemu bapak emakku. “Mirah, in ibukan tentang kita.” “Ini selalu berkaitan denganku! dan aku muak.” Aku berdiri dan hendak beranjak pergi dari kedai itu. Aku bahkan tak menunggunya membalas perkataanku. Aku berlari menuju halte bis dengan perasaan yang kalut. Kenapa merek asulit mengerti bahwa aku hanya tak ingin berhubungan dengan hal-hal macam itu lagi!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN