Bapak selalu mengatakan bahwa semua hal yang tak akan berlangsung lama. Semua datang tepat pada waktunya. Tentu saja bukan waktu kita, melainkan waktu terbaik menurut Tuhan. Apapun bentuknya, termasuk kebahagiaan dan kesedihan yang kita alami. Ketika kita sedang bahagia, kita harus sadar bahwa selalu ada kesedihan yang mengikuti. Tepat di belakang kita. Begitupun juga sebaliknya. Ketika kita dirundung kesedihan, percayalah bahwa kebahagiaan juga selalu mengikuti. Ia pun juga menunggu untuk datang di hidup kita.
Setelah peristiwa pengakuan dosa Mbak Sumini kepada emak, Mas Idrun dan Mbak Sumini hampir tidak pernah datang ke rumah kami lagi. Firasatku, ini hanya sementara hingga bapak dan emak merasa lebih tenang. Kami kembali ke atifitas kami masing-masing. Aku dan Wasis bersekolah sementara emak berjualan tempe. Sedangkan Bapak harus beristirahat dirumah untuk beberapa hari. Dua hari yang lalu ketika Pak Mantri datang untuk memeriksa Bapak, satu-satunya yang ia resepkan adalah obat tidur. Pak Mantri menduga penyebab tingginya tekanan darah Bapak yang tinggi adalah karena Bapak tak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari dan paginya sudah harus berjualan tempe bersama emak di pasar. Itu yang membuat tekanan darah Bapak menjadi 190/110.
Obat tidur yang diberikan oleh Pak Mantri memang manjur. Malam-malam setelahnya, Bapak sudah bisa tertidur dengan pulas dan pusing kepalanya pun sudah berkurang. Ini tentu saja berita menggembirakan. Aku meminta Wasis pergi kerumah Mbak Sumini untuk mengabarkan berita baik itu. Aku yakin Mbak Sumini akan merasa lega.
“Mbak Mirah, kata Mbak Sumini kita harus berdoa lebih sering agar Bapak dan Emak selalu sehat.”
“Apa dia senang mendengar berita bahwa Bapak berangsur membaik, Sis?”
“Senyumnya selebar rumah ini, Mbak..”
Aku dan Wasis kemudian bergegas ke pekarangan rumah untuk membantu Bapak memilah kedelai yang akan digunakan untuk membuat tempe. Kegiatan yang akan selalu kami senangi sepanjang masa. Bapak dan Emak tak punya daya lagi untuk menghentikan kami yang selalu ingin bekerja sambil bermain. Kami secara bergantian akan bernyanyi untuk menghibur Emak dan Bapak di pekarangan rumah. Kalau hari ini Wasis yang bernyayi, maka besoknya adalah giliranku. Begitu seterusnya.
Suatu hari, ketika aku dan Wasis sedang memilah kedelai, kami mendengar suara teriakan Emak dari dalam kamar. Beberapa menit yang lalu, Emak memang pergi ke kamar untuk mengganti baju yang kotor karena memasang kayu bakar. Bapak yang ada di ruang tengah juga ikut masuk ke dalam kamar.
Awalnya kupikir ada seekor tikus atau kecoa yang terbang di kamar Emak. Aku bergegas mengambil sapu sedangkan Wasis mengambil segayung air untuk menyiram. Kami berhenti di depan pintu kamar Emak dan mendengar teriakan kedua. Wasis-lah yang mendorong pintu itu.
Namun yang selanjutnya kami lihat bukanlah tikus atau kecoa terbang, melainkan Bapak dan Emak yang sedang menangis di atas tempat tidur. Rasanya duniaku runtuh perlahan melihat kedua orang tua yang kusayangi menangis seperti ini. Keduanya duduk di sisi yang berseberangan seperti sedang bermusuhan satu sama lain.
“Pak, Mak.. mana kecoanya? Mana tikusnya, biar Wasis yang bunuh,,”teriak Wasis pada Bapak dan Emak.
“Pak? Mak? Kenapa menangis?”
“Mirah, mirah... Anakku..” Bapak melambaikan tangannya seakan ingin aku mendekatinya. Aku berjalan beberapa langkah kemudian memegang tangannya yang hangat.
“Iya, Pak? Kenapa Bapak menangis?”
“Mirah, Kenapa mbakmu menjadi korban laki-laki kurang ajar seperti itu, Mirah?” tanya Bapak seraya memelukku. Air mata Bapak jatuh membasahi pundakku. Ini adalah untuk kedua kalinya aku melihat Bapak menangis karena ulah kami. Aku menyentuh rambut Bapak dan melihat banyak sekali rambut putih disana. Sementara Wasis yang sempat mematung beberapa detik segera mendekati Emak dan memeluknya erat.
Tak ada seorang pun yang suka melihat orangtuanya menangis, kan?
Begitupun denganku dan Wasis saat ini. Dibanding denganku, emosi Wasis terlihat tidak bisa dibendung lagi. Ia mengepal tangannya dan matanya berkaca-kaca. Isyarat tenang yang kuberi tak juga memberi ketenangan untuknya. Ia terus mengepalkan tangannya.
“Pak, tidakkah Bapak ingin mengatakan pada Mirah apa yang membuat Bapak dan Emak bertengkar seperti ini?” tanyaku gelisah. “Apakah itu karena Mirah atau Wasis membuat kesalahan yang begitu besar, Pak?”
“Tidak, Mirah. Tidak.. Kalian adalah anak-anak penurut. Tidak, bukan karena kalian. Ini semua terjadi karena kesalaha Bapak. Bapak yang tidak mengajari kalian maman hal yang baik, mana hal yang buruk. ” Bapak melihat kami dan menggelengkan kepalanya. Emak yang tadi duduk menjauh dari Bapak memutuskan untuk mendekati Bapak dan memeluknya. Aku mundur beberapa langkah agar Emak dan Bapak mempunyai banyak ruang untuk mereka. Satu hal yang kini kusadari betul adalah orangtuaku sudah semakin tua. Masalah-masalah yang datang silih berganti pasti membuat mereka sangat kelelahan.
“Sudahlah, Pak.. Jangan dibahas di depan anak-anak seperti ini. Kasihan mereka, sudah cukup lelah membantu kita di dapur.”
Aku tak cukup mampu menahan kesakitan mereka pun juga tak cukup mampu kuat mengusap air mata yang menetes dari pipi mereka. Perasaan bersalah ini sangat menghantuiku hingga beberapa hari. Aku tak ingin melibatkan Wasis lagi. Pada saat itulah aku mendengar pintu rumah diketuk dari luar.
Tok, tok, tok...
Tok, tok, tok...
Wasis yang membuka pintu terkejut melihat siapa yang datang kerumah saat itu. Ia tak menyangka akan melihat mbaknya dengan wajah seperti itu. Ia adalah Mbak Sumini dengan wajah yang wajahnya bengkak akibat memar.
“Mbak? Ini pasti ulah Idrun jahat itu! Aku akan mencarinya sekarang juga!”
Wasis berlari menuju jalanan dan kemudian perlahan hilang, meninggalkan Mbak Sumini yang terkulai lemas di kursi ruang tengah. Aku yang melihat wajah bengkan Mbak Sumini segera memapahnya ke kamar dan mengobati semua luka yang ada di wajahnya.
Kuperhatikan dengan baik wajah Mbak Sumini. Alis dan dahinya mengeluarkan darah yang cukup banyak kemudian sudut bibirnya juga terluka, lalu ada luka terbuka yang masih berdarah di kedua tangannya. Luka-luka ini pasti akibat penyiksaan yang Mas Idrun berikan. Ia begitu lemah hingga tak kuat menahan tubuhnya sendiri.
“Mbak, apa mbak Sumini bisa dengar suara Mirah, mbak?”
“Nak, Sumini.. apa dengar suara Bapak, Nak?”
Mbak Sumini tak membalas, tak bergerak dan tak bersuara. Emak memintaku untuk pergi ke rumah Pak Mantri dan mengajaknya ke rumah kami. Aku berlari sekencang mungkin untuk memanggil Pak Mantri itu. Kemudian Pak Mantri memeriksa nadi dan keadaaan tubuh Mbak Sumini. Pemeriksaan yang dilakukan Pak Mantri tidak membuahkan hasil. Mbak Sumini terus tertidur pulas.
“Ia sangat kehausan dan kelaparan. Sediakan air hangat dan makanan untuknya ketika nanti ia bangun,”kata Pak Mantri.” Dan selamat, Emak dan Bapak akan segera menimang cucu pertama kalian.”
“Cucu, Pak?”
“Iya, sekali lagi selamat!” ucap Pak Mantri sambil mendaratkan tangannya pada telapak tangan Bapak. Bapak hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Bayangan tentang bagaimana ia nanti akan dipanggil 'mbahkung' oleh cucu cucunya. Tak ada yang menduga hal baik ini justru datang ketika kedua orang tuanya seperti ini. Aku merasa sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Akan kuberitahu semua orang agar mereka lebih berhati-hati memperlakukan Mbak Sumini. Mbak Sumini dan calon bayinya harus elamat dan bahagia nantinya.
“Mbak Miraahh.. Mbak Mirah....” suara Wasis berteriak di depan rumah kami.
“Apaa!?” tanyaku dengan suara yang tak kalah kencang.
“Mas Idrun lari ke kampung sebelah, Mbak.. Aku akan berangkat bersama teman-temanku agar Mas Idrun segera ketemu, Mbak..Aku akan mnghabisinya!” teriak Wasis dengan nada marah. Ia sedang memegang golok di tangan kanan dan batu bata di tangan kiri.
“Sudah! Jangan berteriak! Mbak Sumini harus tidur dan menjaga calon bayinya?”
“Ha? Bayi?”
“Iya, akan ada seorang bayi disini.”