Syukurlah, tempat tidur ini nyaman buat tubuhku yang sudah tua renta ini. Perjalanan menggunakan bis dalam waktu singkat saja bisa membuatku kelelahan seperti ini. Semoga setelah tidur nanti, energiku bisa kembali. Setelah hampir dua minggu yang lalu mendapatkan majikan baru, ini baru pertama kalinya aku dibiarkan berbelanja sendirian. Yah, memang tak terlalu banyak barang yang harus dibeli. Hanya beberapa jenis sayur dan beberapa lauk. Tentu saja babi, jamur dan ayam tak boleh ketinggalan, sesuai dengan catatan tertulis dari majikan baru.
Majikan baruku adalah sepasang dokter yang hidup bahagia dengan dua anak. Anak pertama berusia enam belas tahun, sedangkan anak kedua berusia tiga tahun. Karena gaji yang mereka berikan juga mencakup biaya kesehatanku, memilih mereka sebagai majikan tentu pilihan yang sangat mudah.
“Ini dokumenmu, Myiirah.” kata Thomas suatu sore. Kami sedang berada di teras rumah kecil saat itu. Rumah kecil ini adalah tempat dimana beberapa pekerja imigran menunggu dokumen kontrak mereka dengan agen. Ini adalah kali kedua aku tinggal di rumah kecil. Dan rumah kecil kali ini memang lebih bagus daripada yang pertama kutempati. Disebut rumah kecil karena rumah ini meman kecil. Dengan hanya empat kamar kecil saja, sebuah dapur dan ruang tamu. Tidak ada televisi atau pun hiburan. Para pekerja imigran terbiasa menghabiskan waktu untuk saling menceritakan kehidupan masing-masing dan bercanda hingga kami menjadi dekat dan menjadi teman baik. Menurut pengamatanku kali pertama aku pergi ke salah satu agen di Hongkong, seorang pekerja imigran bisa saja baru menerima dokumen kontrak setelah empat tahun tinggal di rumah kecil ini. Sangat aneh, bukan?
Dan ini bukan hal yang baru di kalangan pekerja imigran dari Indonesia. Proses yang tidak transparan juga semakin membuayt kami muak. Dan hey, tentu saja biaya hidup disini tak ditanggung oleh agen karena setidaknya ada delapan orang perempuan di rumah ini. kami harus membayar beberapa dollar Hongkong untuk bisa bertahan hidup. Kurasa aku bisa merangkum bagaimana beratnya hidup disini.
Dulu ketika pertama kali datang ke tempat seperti ini, seorang pekerja imigran yang lebih senior mengatakan bahwa kami akan mendapatkan dokumen kontrak kerja sebanyak dua kali. Dokumen kontrak pertama yang akan kami terima berisi berkas kontrak dengan agen yang menaungi kami. Agen ini yang akan melidungi kami dari hal-hal buruk seperti penculikan atau pembunuhan. Hal ini mungkin saja terjadi jika kami tanpa sengaja membuat atau terlibat dalam suatu masalah. Banyak yang menganggap agen-agen ini tidak terlalu berguna jika kau sudah mempunyai hubungan dengan geng mafia yang akan mempermudah hidup kami disini. Anggap kasusku adalah salah satu contohnya. Mungkin tidak ada yang tahu kalau musuh dari pekerja imigran kami, selain deportasi, adalah penculikan oleh beberapa golongan yang menganggap kaum mereka lebih baik daripada kami. Kami disiksa, diperjualbelikan, dipekerjakan tanpa dibayar, dihina, atau bahkan dijadikan b***k untuk hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan terhadap perempuan.
Kasus Mbak Eka tempo hari adalah yang benar-benar kulihat secara nyata. Mbak Eka semasa hidupnya bercerita tentang kejamnya majikannya, harus berakhir dengan cara seperti itu. Aku juga tak tahu apakah Hamid ikut serta dalam kejadian itu atau memang itu adalah kesalahan majikan Mbak Eka. Sudah banyak kasus lain sebelumnya dan memang tak ada yang tahu apakah kasus itu ditindaklanjuti oleh pihak Kedutaaan Besar ataukah hanya dibiarkan menguap begitu saja.
Beberapa orang di Hongkong dalam koran langganan yang k****a disini juga sering memberitakan tentang berita kehilangan pekerja imigran. Dan bagi kami, itu semacam alarm untuk lebih berhati-hati lagi.
“Tolong panggil aku Mirah saja, Thomas. Tolong.”
“Sepertinya begitulah semua orang memanggilmu.” Thomas mengangkat kedua bahunya.
“Tidak, bukan seperti itu. Mirah tanpa tambahan “y” atau ‘ii” yang panjang, Thomas.”
“Well, terserah kau saja. Ini bisa kau ambil dokumenmu disini. Visa yang sudah kuurus juga ada di dalamnya, kalau saja kau ingin memeriksanya.” ujar Thomas sambil meletakkan berkas dokuman itu di meja. Aku sempat melirik berkas itu untuk memastikan apakah namaku tertulis dengan benar disitu.
Ketika Thomas menyodorkan dokumen kontrak beberapa minggu sebelumnya, aku sempat berpikir buruk tentang majikan yang akan kuterima nanti. Ada sedikit kekhawatiran yang tidak bisa dijelaskan. Bukan, bukan khwatir apakah nanti aku akan diterima dengan baik. Lebih kepada bagaimana nantinya masa lalu akan selalu menghantuiku. Syukurlah majikan baru ini tak seperti yang kubayangkan. Aku juga selalu bekerja keras, bukan untuk orang lain. Namun untuk diriku sendiri, agar aku selalu seperti yang emak dan bapakku pikirkan selama ini. Aku tak ingin merubah apapun dari diriku.
Majikan baruku ini mempunyai dua orang pekerja di rumah. Tugas yang diberikan juga berbeda. Salah satu dari kami harus ada yang betugas sebagai koki, dan yang lainnnya akan bertugas menjadi orang yang mengawasi kedua buah hatinya. Tugas kami tidaklah berat, namun benar-benar membutuhkan kecepatan dan ketepatan ekstra. Sang tuan muda sangat mementingkan kerapian bajunya dan ia juga tak ingin lemari dan kamar tidurnya berantakan. Ia juga tak ingin makanan yang mengandung telur dan terlalu banyak gula pada saat sarapan. Dan masih banyak lagi yang lainnya... Sedangkan anak kedua sangat mudah diatasi. Penurut dan suka sekali membuat lelucon. Aku sering sekali tertawa karena tingkah lucunya.
“Kau harus bekerja dengan baik disini ya, Sumirah. Kalau kau kerja dengan baik, maka kami juga akan memperlakukan kau dengan baik. Gaji yang kami tawarkan padamu juga tidak kecil. Kuharap kau memahaminya.” kata dhai-dhai, yang artinya majikan perempuan.
Aku mengangguk pelan. Siapa yang akan membuat onar jika suasana tempat kerja sangat menyenangkan seperti ini. Aku tidak akan membuat ulah apapun disini. Aku akan bekerja sebaik mungkin hingga mereka akan merasa bersalah jika tidak menaikkan gaji dalam satu tahun.
“Apa kau terbiasa melakukan sesuatu dengan cepat dan bersih?”
“Apakah kau mempunyai hubungan yang baik dengan orangtuamu di Indonesia?”
“Apa kau menjaga kesehatanmu dengan baik?”
“Apa kau bisa memasak semua menu yang kami tulis di kertas yang sekarang kau pegang itu?"
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Singsang dan Dhai-dhai sangat beragam, terlebih terkait dengan kesehatan dan caraku memasak makanan. Orang-orang di Hongkong umumnya lebih menyukai makanan yang direbus lama, sedangkan keluarga majikan baruku ini tidak suka makanan yang terlalu matang karena akan merusak gizi, begitu kata mereka. Mereka berbelanja bahan makanan di tempat yang bersih agar kualitasnya terjaga.
“Sumirah, sepertinya aku tidak bisa benar-benar melepaskanmu.”
Kenapa harus mengingat kalimat Patricia sih sore-sore begini. Saat ini aku tak ingin berada di masa-masa itu lagi. Aku menguburnya jauh di dalam hatiku. Aku berharap semua orang yang kutemui pada saat di rumah besar sehat dan bahagia, namun sungguh aku tak ingin mengingat semuanya.
Mungkin Pat tak ingin terjadi sesuatu pada harta satu-satunya peninggalan kakeknya ini. Bagaimanapun juga ada jerih payah kakeknya yang mengalir dalam tubuhku. Ci Lien juga berpesan agar aku selalu menjaga diriku sendiri dimanapun karena beberapa mafia yang berselisih dengan kakek Hong sudah mengetahui tentang zat yang mengalir bebas dalam tubuhku. Mengalir bebas dan tanpa beban, zat itu tak tahu inangnya ini sedang berpikir keras agar bisa bekerja dengan tenang dan bahagia.
“Ci, apa kau tak akan merindukanku?“ tanyaku pada Ci Lien saat ia membantuku mengangkat koper.
“Tentu tidak.” kata Ci Lien singkat dan jelas. Ia bahkan tak menoleh ke arahku. Sungguh elegan!
“Baiklah.. Aku juga tidak akan merindukanmu.”
“Akan sulit bagi kita untuk saling merindukan, Mirah. Hahaha.... “ Ci Lien tertawa dengan nyaring seperti merasa sedang berhasil mengelabuiku.
“Ada apa dengan tawamu?” tanyaku heran.
”Tak apa, aku hanya ingin tertawa. Kau tak boleh melakukan donor darah atau bahkan menerima transfusi, Mirah. Kau tak boleh terluka.”
“Haha.. lucu sekali, Ci. Aku bekerja di dapur dan kau melarangku terluka.” Aku tertawa tebahak-bahak mendengar ucapan polos dari Ci Lien.
“Seidaknya jangan terlalu lebar kau membuka mulutmu itu, ha!” kata Ci Lien sambil meletakkan tanan kanannya di mulutku. Kami lalu tertawa bersama.
Walaupun aku penasaran apa yang terkandung dalam zat itu, namun sekarang itu menjadi masalah yang tak penting. Aku melanjutkan hidupku dengan baik. Aku juga tahu Pat dan Ci Lien sedang memantauku sekarang. Aku tak keberatan dengan hal itu.
Hanya saja, aku tak ingin dilibatkan dengan urusan apapun yang berhubungan dengan geng mafianya itu. Hamid sudah memberiku pesan agar aku hidup dengan baik dan tidak bergantung pada siapapun. Dan itu yang sekarang sedang kuusahakan.
Aku berencana menelepon Wasis hari ini. Aku ingin mengabarkan bahwa setelah beberapa bulan aku tak memberi kabar, aku ingin memastikan bahwa ia bekerja dnegan baik dan melakukan segaloa sesuatu disana dengan baik juga. Ia telah menjaga Emak dan Bapak lebih baik daripada mbak-mbaknya. Aku tentu akan memberinya uang saku lebih banyak.
Ketika aku minta ijin menelepon, Dhai-dhai hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia bahkan juga menunjukkan padaku kode telepon padaku.
“Kau tidak perlu meminta ijin untuk menelepon keluargamu, Mirah. Aku tahu betul betapa berharganya sebuah keluarga.”
Aku tersenyum lebar suntuk menunjukkan kebahagiaanku.
Pertama-tama, aku akan menelepon Nurul untuk memintanya membawa Wasis ke telepon umum di dekat rumahnya. Setelah itu aku akan menunggu sekitar lima belas menit untuk bisa berbicara dengan adik laki-lakiku yang paling ganteng se kelurahan.
“Iya, Mirah... Iya, akan kupanggilkan Wasis untukmu. Tunggulah sebentar.Aku akan berlari. “
“Tidak usah berlari, Rul. Aku sedang tidak terburu-buru.”
Kututup teleponnya sambil berharap semoga Nurul tidak benar-benar berlari. Ia tidak pandai berlari. Kakinya yang pendek membuatnya mudah lelah jika harus berlari. Dulu ketika Pak Bandi mengajarkan tentang lari estafet, Pak Bandi selalu meletakkan Nurul pada posisi terakhir dalam tim.
“Kenapa aku selalu di posisi terakhir tho, Pak?” tanya sambil merengek. Dari enam kali berlatih lari estafet di lapangan sekolah, Nurul tidak pernah berada di posisi tengah dan posisi pertama. Ia kesal dengan keputusan Pak Bandi. Ini tak adil, batinnya.
“Kalau kau kutempatkan di posisi depan atau tengah,kau hanya akan membuat timmu itu kalah, Rul. Apa kau tak tahu kekuatan lari estafet adalah kecepatan dan ketepatan kaki? Lagipula bukankah lebih mudah melakukannya dari posisi belakang, sehingga kau bisa merasakan keberhasilanmu?”
“Tapi aku ingin di posisi depan, Pak..”
Nurul terus merengek hingga suatu saa Pak Bandi mengabulkan keinginannya itu. Nuurl ditempatkan paling depan yang nantinya akan menyerahkan bola itu ke teman di depannya.
Ketika peluit ditiupkan, ia berlari dan terus berlari. Nurul yakin kalau kakinya sudah berlari secepat mungkin. Ia menggerakkan kakinya sampai akhirnya ia melihat Mae, teman satu tim kami, di depannya. Ia menyerahkan bola ut dan Mae segera berlari kencang. Nurul dengan bangga memamerkan senyuman lebarnya ke semua orang.
Yang menyebalkan dari semua itu adalah, bahwa ketika Mae, pemain kedua kami, menerima bola dari Nurul, empat tim yang lain sudah hampir berada di garis finish dengan pemain kelima mereka.
Ketika Nurul menyadari itu, ia hanya membalas tatapan marah kami dengan senyuman yang lebih lebar. Ketika waktu istirahat tiba, Nurul berulang-ulang meminta maaf pada kami dan memberitahu kami bahwa ia merasa sudah berlari sangat cepat. Ia bahkan merasa kakinya seperti melayang ketika berlari.
Kami, termasuk Pak Bandi, tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya. Ia sangat percaya diri dan tak tahu diri pada saat yang bersamaan. Ia membuat tim kami kalah dengan telak, namun ia menghibur kami sempurna.
“Halo, Mbak Mirah?”
“Halo, Sis Wasis..”
“Syukurlah, kami kira Mbak Mirah sakit..”
“Aku sehat.. Sis, Bagaimana kabar emak dan bapak?”
“Bapak dan emak sehat, Mbak. Bapak sudah bisa berjalan dengan tegap walaupun masih harus pelan-pelan. Emak sehat, Mbak.. Kemaren kami baru saja menjenguk Mbak Sumini.”
“Bagaimana kabar Mbak Sumini?”
“Mbak Sumini sehat dan sekarang lagi fokus belajar menjahit dan menyulam, Mbak..”
“Hahaha, Mbakku itu memang luar biasa.”
“Hahaha, Mbak Sumini banyak sekali kemajuannya, Mbak.. Aku bersyukur sekali ia tak merepotkan perawatnya.”
“Mbak disini juga tenang.. Oiya, Sis..”
“Ya, Mbak?”
“Mbak Mirah tadi siang mengirimkan uang ke Mbak Nurul untuk kamu dan bapak emak dirumah. Tapi tadi Mbak Mirah tambah sedikit buat keperluanmu ya, le.”
“Lho, kenapa Mbak?”
“Biar adik mbak ini bisa senang-senang sama teman-temannya di warung Mbak Nurul.”
“Wah, mbak Nurul ini pasti yang cerita. Wasis jadi malu.”
Aku tahu ia sedang cekikikan di sana.
“Tak apa,. Kalau butuh uang tambahan buat dirimu sendiri, jangan sungkan bilang ke Mbak Mirah ya, Sis. Mbak Mirah kerja disini juga buat keluarga.”
“Inggih, Mbak.. Tenang, nanti aku bilangkalau sedang membutuhkan sesuatu. Mbak..”
“Kenapa?”
“Aku kemaren bertemu Mas Hamid. Mbak Mirah tahu, sekarang Mas Hamid mempunyai kaki sendiri mbak.”
“Bicara apa kamu? Dari dulu kan dia punya kaki...” Aku tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.
“Apa Hamid baik-baik saja?” tanyaku. Walaupun aku sedikit ragu menanyakannya, tapi tetap saja rasa penasaranku memuncak.
“Kaki beneran lho, Mbak... Iya iyaa, oiya, Mas Hamid beberapa hari yang lalau juga bertemu bapak dan emak di rumah. Mas Hamid tambah ganteng yo, Mbak... Sampeyan pasti suka kalau ketemu sama Mas Hamid yang sekarang.”
Wasis bicara ngawur lagi.
“Bicara apa kamu itu, Sis? Pak Kardi dan Bu Kardi pasti bahagia begitu tahu Hamid sudah dirumah. Apa mereka berdua sehat, Sis?”
“Pak Kardi sempat sakit, Mbak. Tapi begitu tahu Mas Hamid datang, Pak Kardi jadi sehat walafiat.”
“Syukurlah. Mbak ikut senang..” kataku lirih.
“Mbak, Mbak Mirah kapan pulang?” tanya Wasis tiba-tiba.
“Mungkin empat tahun lagi, Sis. Memang kenapa?”
“Tidak apa-apa.” Ujarku. Aku tak ingin Wasis sedih mendengar hal ini. Aku tahu ia ingin aku pulang secepatnya.
“Oiya, sejak kapan kamu memanggil Hamid dengan panggilan Mas Hamid? Sepertinya dulu kau tidak memanggil ia dengan sebutan sopan begitu”
“Itu kan dulu, Mbak.. Hahaa.. Lagipula ia sudah dewasa sekarang, sudah layak dipanggil Mas Hamid, Mbak. Sudah brewokan juga.”
Aku dan Wasis memang tidak dekat ketika kecil, namun ketika kejadian Mbak Sumini dan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya, aku dan Wasis sering bercerita satu sama lain dan kami juga suka berdebat mengenai banyak hal. Apalagi semenjak aku berangkat ke Hongkong, Wasis menjadi orang pertama yang sering kumintai tolong untuk fokus merawat bapak dan emak. Tentu saja ia tidak sendirian, aku juga meminta Wasis mempekerjakan satu orang untuk membersihkan rumah agar tidak mengganggu Wasis ketika merawat bapak dan emak.
“Mbak, Apa Wasis boleh bekerja di warung Mbak Nurul?”
“Apa ia sedang membutuhkan bantuanmu?”
“Iya, Mbak. Kemaren Mbak Nurul bilang kalau ia kelelahan mengurusi warung sendirian, jadi butuh asisten. Apa boleh, Mbak?”
“Tentu saja, Sis. Tak apa-apa. Minta saja Mbok Sum untuk tetap tinggal dirumah selagi kamu bekerja di warung Nurul. Nanti Mbak Mirah yang akan mengatakan ini ke Mbak Nurul ya.”
“Mbak Sumini juga akan setuju kan, Mbak?”tanya Wasis.
“Tentu saja ia akan setuju, Sis..Lagipula, bakat terpendammu itu harus dimanfaatkan.”
“Hah? Bakat terpendam, bagaimana?”
“Kau ‘kan rajin, sepertinya pas untuk membantu Nurul.”
“Aku juga suka menyanyi lho Mbak.” jelas Wasis.
“Sudahlah, Sis.. tak usah lagi kau bernyanyi. Suaramu itu bahkan bisa mengirimkan petir sampai ke Hongkong.” Aku berusaha supaya ia tak jadi bernyanyi. A
“Aaakkkk Mbak Mirah tidak percaya?!”
“Bukan tidak percaya, tapi tidak mau mendengarkan. Kasihan sekali gendang telinga Mbak ini, Sis.”
Kami tertawa bersama.