Chapter 39

1466 Kata
“Jelaskan pada emak,anak-anak. Tolong! Kenapa kalian diam saja?” Emak menatap kami bergantian. Sepertinya jantungku sudah hampir lepas dari tubuhku. Tak ada satupun dari kami yang membalas tatapan emak itu. “Mak, ka—kami tidak menyembunyikan apapun dari emak.”kataku pelan. MbaK Sumini dan Wasis terdiam. “Apa kalian sungguh-sungguh?” “Sungguh, mak..”kayaku Aku merasa emak bisa mendengar bunyi degup jantungku memenuhi kamar ini. Saking gugupnya, ingin rasanya aku berubah menjadi debu dan menyelinap di kedela kamar ini. dengan diamnya Mbak Sumini, aku yakin emak sedang mencurigai sesuatu. aku dan Mbak Sumini berdiri di sebelah tempat tidur sedangkan Wasis duduk di bawah sambil memegang tangan emak erat. Emak duduk di pinggiran tempat tidur kami dan menerawang jauh. Terlihat ada beberapa helai rambut putih yang jatuh di pelupuk matanya. Emak menyobakkan rambur-rambut putih itu kemudian bercerita pada kami bertiga tentang apa yang dulu bapak dan emak alami saat kami masih kecil. “Kalian dulu sangat kecil, dan menggemaskan.” adalah kalimat emak yang selanjutnya. Suara emak terdengar tulus dan jujur. “Wasis sampai sekarang juga lucu dan menggemaskan, Mak. Iya kan, Mak?” tanyaku. Setidaknya aku berusaha mencairkan suasana tegang disini. “Tentu saja. Tentu saja sampai sekarang kalian masih lucu dan menggemaskan.” “Tapi?” ucap Mbak Sumini seraya menebak apa yang disembunyikan emak dalam kalimatnya. Mendengar ucapan Mbak Sumini, emak menoleh ke arahnya sambil melemparkan senyum. “Tak ada kata tapi, Sumini. Emak senang kalian tumbuh menjadi gadis dan anak laki-kali yang bukan hanya pintar di sekolah, tapi juga mempunyai akhlak yang baik.” ucap Emak. “Itu karena emak selalu ada untuk kami, Mak. Emak yang mengajari kami banyak hal.” “Tidak, hidup kalian adalha milik kalian. Tak peduli apapun yang terjadi, kalian harus bahagia dan bertangguang jawab atas segala pilihan dalam hidup, nak.” Kalimat demi kalimat yang emak ucapkan adalah hukuman bagi kami. Kami yang sampai saat ini belum mampu membahagiakan emak dan bapak seperti seharusmya. Aku melihat Wasis memeluk emak dengan erat. “Kalian anak-anak yang baik, kan?”tanya emak tiba-tiba. “Iya, Mak..” kata Mbak Sumini. “Kalian tak akan membiarkan emak menangis, kan?” tanya Emak. “Tentu saja tidak akan, Mak.” ucap Mbak Sumini. Apa ia tak salah bicara? Bukankah selama ini hanya Mbak Sumini lah yang kerap membaut emak dan menangis kelu. “Kalian anak –anak emak dan bapak, kan?” tanya emak lagi. Apa emak tak yakin? Apa ini kenyataan pahit lainnya? “Tetntu saja, Mak. Memang kami anak-anak emak dan bapak. Anak siapa lagi?” “Tentu kalian anak-anak emak dan bapak.” ucap emak sambil tertawa. “Haha, emak ada-ada saja.” ujarku. “Nah sekarang, ceritakan apa yang terjadi.” kata Emak kembali memandang kami satu persatu. Sorot mata yang menantikan jawaban pasti atas kecurigaan yang selama ini emak simpan. Meskipun kami sudah berdebat secara diam-diam, tetap saja emak dan bapak mengetahui segala hal. Ya, ya...Rupanya inilah trik yang emak pakai untuk memaksa kami bercerita. Emak kami memang luar biasa. Pantas saja. “Sumini, anakku.. Emak ingin kamu menceritakan semua pada Emak sebelum Emak sendiri yang bertanya pada Idrun tentang apa yang terjadi pada kalian.” Raut wajah kebingungan Mbak Sumini malah makin meyakinkan Emak bahwa dugaan Emak memang benar adanya. Dasar Mbak Sumini, ia harusnya lebih bisa mengatur raut wajahnya. “Dan kau, Sumirah.. Berhentilah menyembunyikan sesuatu pada Emak dan berhentilah membantu Mbak Suminimu ini.” “Baik, Mak. ” jawabku. Dan dengan bodohnya kujawab instruksi emak dengan jawaban seperti itu. Ah Sumirah! Tepat saat aku membalas perkataan Emak itulah, Wasis datang sambil membawa tas penuh buku. Bahkan beberapa buku masih ada di tangan kanannya. Ekspresi Wasis ketika melihat kami berbicara pada enegan wajah yang serius, benar-benar lucu. Tak bisa dijelaskan denga nkata-kata. Antara kaget, seius, dan takut dicampur menjadi satu. Sangat tak cocok dengan wajahnya. Sungguh. “Emak tahu Idrun bukan laki-laki yang baik. Emak tahu Idrun sudah diberhentikan dari pesantren. Emak juga tahu apa yang ia curi dari kampung sebelah.” “Emak tahu semua itu? Bagaimana mungkin?” tanya Wasis kaget. “Ibu-ibu teman Emak lah yang memberi tahu emak segalanya.” Ah, tentu saja. Aku harusnya paham bahwa Pasukan Elit itu ada di penjuru manapun di desa kami, batinku. Itulah keistimewaan Pasukan Elit milik emak kami. Diam-diam bergerilya mendengar dan melihat apa yang disembunyikan. Menakutkan memang, tapi terkadang ada hal baik yang bisa kami peroleh. Dari emak kami tahu bahwa Pasukan Elit ini seringkali menyembunyikan aksi sosial yang mereka lakukan. Pernah suatu hari, Emak pergi seharian dari rumah. Emak pergi sejak pagi setelah sembahyang shubuh. Pada saat bangun tidur, kami kebingungan mencari keberadaan Emak dan setelah sore harinya, setelah beberapa jam kami hanya bisa makan telor dan tahu goreng pakai kecap. Emak datang dengan wajah kelelahan dan beberapa bungkus terigu di kedua tangan. Ketika didesak dengan pertanyaan kenapa dan bagaimana, Emak hanya mejawab dengan helaan nafas panjang. “Emak, tadi kemana?” tanyaku. “Emak, Wasis tadi mencari emak kemana-mana.” jelas Mbak Sumini. “Emak, tahu tidak tadi Wasis jatuh karena didorong Mbak Sumirah.” jelas Wasis. “Mak, tadi Pak Saeful bilang kalau nanti malam ada jadwal pos ronda. Tolong siapkan kopinya ya, Mak.” kata Bapak. Tak ada pertanyaan yang dijawab oleh Emak. Kami hanya mendapat anggukan pelan atau bahkan tak ada jawaban. Malam harinya, ketika didesak Bapak, akhirnya Emak menceritakan semuanya. “Emak tadi membantu beberapa anggota Pasukan Elit membuat kue, Pak.” “Kue? Untuk arisan, Mak?” “Untuk membantu para lansia di panti jompo, Pak. Itu Bu Kardi dan Bu Kas yang mengusulkan.kami. Semua orang setuju dan tadi pagi emak bergerilya bersama mereka, Pak.” Ketika ornag lain melihat Pasukan Elit membawa masalah bagi mereka, emak justru dengan bangga mangayomi keberadaan mereka. “Sumirah, ceritakan bagaimana Idrun menyakiti Mbak Sumini.” “Ta—tapi nanti Mbak Sumini akan disakiti lagi, Mak.” “Tidak, emak tidak akan membiarkan itu terjadi. Emak akan mengawasi Idrun,” “Sejak kapan emak tahu semua ini?” tanya Mbak Sumini yang sedari tadi hanya diam tanpa kata. Ia berdiri di pojokan dan melihat aku, emak dan Wasis berbicara secara bergantian. “Sejak pertama kali kalian menikah.”kata Emak. Ternyata setelah pernikahan itu berlangsung, pada malam harinya, Emak mendapati Idrun sedang berbicara dengan teman-temannya di depan teras. Mereka sedang membicarakan Mbak Sumini. “Aku akan menamparnya jika ia tak menuruti apa yang ku inginkan. Ia adalah perempuan yang sangat mencintaiku, yah, walaupun ia tak berdaya. Haha..” Itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh Mas Idrun sesaat setelah semuanya tidur. Dari situlah emak kemudian mengumpulkan semua anggota Pasukan Elit untuk membantu. “Dan terkuaklah semua yang disembunyikan. Termasuk dengan apa yang sedang kalian sembunyikan. Emak tak tahan dengan semua ini. Belum juga tentang Ning Putri yang sedang merencanakan sesuatu terhadap keluarga kita.” Emak meminta kami untuk menyembunyikan semua cerita ini dari bapak agar tak ada yang lebih membebaninya. Kami mengangguk pasti. Sedih rasanya melihat bapak yang biasanya lincah tanpa mengenal sakit tiba-tiba sering meraasa kesakitan atau pusing. Setelah berkata dmeikian, Emak memeluk Mbak Sumini erat sekali. Emak meminta maaf karena Mbak Sumini harus merasakan penderitaan itu. “Tidak, Mak. Mungkn sekarang ini Tuhan sedang menghukum Sumi karena tidak patuh pada Emak.”kata Mbak Sumini masih dalam pelukan Emak. Air mata keduanya menalr begitu saja tanpa dikomando. “Tidak, Nak. Ini semua salah emak kau harus merasakan ini semua.” “Maafkan Sumini, Mak. Maafkan.” “kekecewaan Emak padamu sudah selesai, Sumini. Sekarang emak harus membantumu. Tapi sebelum itu, Emak ingin bertanya satu hal. “ “Pertanyaan apa, Mak?” “Apa kau, Sumini, masih mencintai Idrun?”tanya Emak sambil memegang kedua lengan Mbak Sumini. “Iya, Mak. Sumini sangat mencintai Mas Idrun...” jelas Mbak Sumini cepat. “Emak tahu bagaimana keras kepalanya dirimu, nak.. Sejak hari pertama kau dilahirkan, sejak mantri itu menyebutkan bahwa garis wajahmu sangat kuat dan juga rapuh secara bersamaan, sejak kau memutuskan untuk meyayangi adik-adikmu, lalu ditambah ketika kau memutuskan menikah seakan-akan semua akan baik-baik saja pada akhirnya.” kata Emak lirih. “Kau tahu betul bapak tak akan membiarkan Idurn menyakitimu kan, Sumini?” “Semoga bapak tidak tahu ya, Mak.” Kataku. Mbak Sumini hanya bisa menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja terlintas di otakku perkataan Bapak bahwa tak ada yang boleh menyakiti anak-anaknya. Pernah suatu kali Bapak meminta kami memukul balik orang yang menampar kami. Bapak mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saja Bapak tahu semua yang Mbak Sumini. Perasan bersalah kami pada Emak semkain besar ketika melihat Emak meneteskan air matanya. Emak menangis tanpa suara. Yang kutahu, Emak dan Bapak mungkin tidak pandai bermain kata dan mengungkapkan betapa mereka menyayangi kami. Tangisan yang aku lihat sekarang ini mungkin adalah tangisan paling sedih yang pernah kudengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN