Chapter 38

1350 Kata
  “Ketika bersamaku, ia sering memanggil namamu...” Di depan kaca kemari, mataku terpaku pada diriku sendiri. Kalimat yang terngiang-ngiang ini sungguh menggangu. Tidak. Tidak boleh! Aku sudah tidak peduli lagi. Aku sudah tidak peduli pada Hamid. Aku menguatkan batinku sendiri agar tidak berpikir terlalu jeras tentang apa yang terjadi pada Hamid dan Patricia atau (dengan bodohnya) berpikir tentang aku dan Hamid. Aku berharap aku bisa segera kelur dari rumah ini secepatnya. Ci Lien juga tahu tentang hal itu, namun keberlangsungan hidupku brgantung pada Pat, pemilik rumah ini. Ci Lien takut kalau-kalau Pat menghalangi aku. Mungkin saja begitu, namun mungkin saja tidak. “Apa benar kau akan pergi dari sini?” tanya Ci Lien. “Benar, Ci. Aku bisa saja tidur dan makan di rumah ini selamanya. Tapi tanpa bekerja? Tanpa menghasilkan uang? Tidak, Ci.” ujarku. “Tapi, Mirah….” “Tidak, Ci.. Aku harus bekerja untuk bapak makku di rumah. Wasis dan Mbak Sumini memang bekerja, namun tanggung jawabku juga sebesar mereka.“ Mataku tak lepas menatap Ci Lien, menunggu reaksinya. “Disini kau juga akan mendapatkan apa yang kau inginkan, Mirah.” ujar Ci Lien seraya mengernyitkan kening, membuat kerutan di sekitar dahi dan matanya terlihat. “Tidak. Aku harus bertemu Pat. Ia tidak bisa menghalangiku, aku harus pergi.” “Bagaimana kalau Pat berusaha menghalangimu? Pat hanya butuh mengangkat teleponnya, Mirah.” “Aku tahu, tapi...” “Atau kalau misal Patricia tidak memberi lampu hijau, aku akan mengantarmu pergi kerumah temanku di pusat kota. Bagaiamana?” “Tidak, Ci. Kau tidak boleh menghadapi masalah baru lagi karena aku lagi. Aku akan memcari cara afgar aku bisa keluar dari seini dengan aman.” “Tapi, Mirah...” “Sudahlah Ci. Aku tak ingin merepotkanmu lebih banyak dari ini.” tegasku. Aku tak ingin siapapun lagi membuatku bergantung. Lagipula ku sangat rindu bekerja. Pengalaman pertama dengan majikan pertama adalah yang paling menyenangkna. Mereks sangat baik. Mereka mmperlakukanku layakya seorang keluarga. Semua fasilitas dan perlakuan baik mereka kepadaku sangat baik. Ketika anak dan cucu dari majikan pertamaku mengikuti les bahasa, aku tak lupa mereka daftarkan. Dari mereka lah aku belajar bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Sayangnya, aku harus segera memperbarui kontrak karena keluarga itu akan segera bertransmigrasi ke Kanada. Perasaan sedih tentu saja hinggap dalam hatiku, namun hidup harus terus berjalan. Aku harus memperbarui kontrak dengan majikanku yang kedua. Cece dan Grandma adalah majikanku yang keempat. Sudah empat hari aku dirumah ini dan sejujurnya tak ada gerak-gerik Pat yang sekiranya akan menghalangiku. Namun mungkin ketakutan Ci Lien ada benarnya. Bagaimanapun juga, Pat adalah cucu kakek Hong, sang ketua mafia yang sangat disegani di Hongkong. Ia tentu saja bisa dengan mudah melenyapkanku hanya dengan membalik telapak tangan. Empat orang penjaga di depan rumah ini saja memiliki badan yang sangat berotot. Mereka pasti berpikir aku target yang mudah. Sungguh, aku bahkan pernah berpikir semua otot yang mereka punya itu bisa di bongkar pasang. Beberapa saat setelahnya, ketika aku melihat mereka berempat mengangkat mobil dari satu sisi ke sisi lainnya, aku tahu aku sudah berpikir bodoh. Itu adalah mobil yang sama yang dipakai Ci Lien membawaku ke rumah ini. Mereka berempat mengangkat mobil itu dengan baik lalu memindahkannya ke dalam garasi besar di samping bangunan rumah ini. Ada guratan otot yang terlihat sangat nyata di setiap lengan mereka. Aku sampai membuka mulutku lebar-lebar saat itu. Itu bukan bongkar pasang yang aku kira sebelumnya. Itu adalah otot sungguhan, bukan bongkar pasang.   “Pat, aku akan pergi dari rumah ini besok pagi” ucapku ketika kami sedang menikmati makan malam buatan Ci Lien yaitu tumis ayam kecap. Pat terperanjak. Ia tak menbyangka aku akan pergi secepat itu. “Baiklah.”kata Pat. Ia juga mengangguk pelasn seolah paham maksud dan tujuanku. Kesempatan ini harus aku manfaatkan dengan baik. Aku harus bisa keluar dari rumah ini dengan aman. “Tapi kau harus tahu kalau semua hal ada konsekuensinya, Mirah.” “Apa maksudmu?” Inikah yang dimaksud Ci Lien tadi? Pat berusaha mengahalangiku? “Begitu kau melangkah dari sini, aku tak lagi bisa melindungimu. Kau harus melindungi dirimu sendiri. “ Pat tersenyum tipis. Ia mengatakan itu seolah-olah aku akan mati sedetik kau berjalan keluar rumah ini. “Ya, baik.” “Cepat sekali respon yang kau beri, Mirah.. Ci Lien, apa dia tahu apa yang akan terjadi di hidupnya begitu ia melangkah keluar rumahku ini?” “Ia tahu apa yang akan ia lakukan. Kurasa lebih baik memang membiarkannya keluar dari rumah ini, Pat.” “Hahahaha....” Kali ini tawanya nyaring sekali. Aku dan Ci Lien saling pandang. Ci Lien tampak kesulitan mengartikan tawa Pat. Sedetik kemudian, perempuan itu berdiri, membersihkan sisa-sisa makanan di mulutnya, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkah kembali menuju ke kamarnya. “Kurasa kita harus menghubungi Thomas, Pat. Ia yang akan membantu mempersiapkan dokumen milik Sumirah. “ “Ya, terserah kau saja, Ci. Lakukan apa yang paling baik untuk membantu teman masa kecil kekasihku itu.” Nah, kan... Hidup benar-benar mempermainkanku. Dari beberapa jam yang lalu, aku dan Ci Lien mengkhawatirkan reaksi yang mungkin kami dapat dari Patricia. Yang aku dapat?  Kalimat Kami, aku dan Ci Lien, dibuat melongo. Aku sih senang kalau memang ia mengijinkanku pergi tanpa syarat, tapi.. “Ci, apa perempuan itu baik-baik saja, Ci?” “Kurasa tidak, Mirah. Tapi lebih kau cepat mengemasi barangmu dan segera tinggalkan rumahini sebelum ia berubah pikiran.”ucap Ci Lien. Menengar ucapan Ci Lien, aku langsung tersadar akan sesuatu. Aku sama sekali belum menjamah barang-barangku di kamar. Aku harus cepat. Karena kamarku ada di lantai dua, maka tentu saja kau harus sedikit berlari agar lekas sampai. Ketika kubuka kamar, tentu saja. Tentu saja seperti ini pemandangan yang kudapat. Baju berantakan dan rambut rontok dimana-mana. Santai saja mirah, batinku. Toh semua berjalan sesuai inginmu, kau mendapatkan ijin untuk keluar dan Thomas akan membereskan semuanya. Ia pasti akan mendapatkan majikan baru untukku. “Santailah sedikit, Mirah. Santai saja.” ucapku pada diri sendiri. Sebenarnya ketika bertemu dengan Ci Lien di stasiun, aku tak membawa sehelai pun baju kecuali yang kupakai ketika tiba di rumah ini. Ini semua adalah baju-baju milik Ci Lien. Ia memberiku semua baju yang sekiranya pas untuk ukuran tubuhku ini. Ci Lien mngkin kesal dengan keputusanku tapi ia juga tahu aku tak punya banyak pilihan. Aku cukup kagum pada bagaimana Patricia menyembunyikan perasaan gelisahnya. Ia belum bisa kupandang sebagai perempuan dewasa yang akan mengatur dan memimpin salah satu geng mafia di Hongkong ini, namun ia belajar dengan cepat. Ia bisa menangis karena sesuatu namun dengan cepat bisa menguasai keadaan. Membayangkan perasaan gelaisahnya saja aku tak ingin. Kehilangan dua orang yang dicintai tentu saja bukan perasaan yang layak diremehkan. Kakek Hong, yang pergi karena dengan sengaja dilenyapkan serta Hamid, yang pergi karena membawaku lari. Aku terganggu dengan perasaan bersalah yang kurasakan saat ini. Saat mengemasi pakaian-pakaian tadi, aku juga berlatih bicara. Aku berlatih mengatakan kata-kata perpisahan yang nanti akan kuucapkan pada Patricia atau Ci Lien. “Pat, aku pamit dulu ya..”, terkesan kami sudah menjadi teman akrab sejak umur balita atau, “Pat, maafkan aku dan terima kasih atas jasa-jasamu selama ini.” Hah? Jasa-jasa? Apakah ia pahlawan dengan banyak jasa? “Pat, sampai jumpa lagi.”, terkesan kami, bisa saja atau mungkin saja, tanpa sengaja bertemu lagi. Ah tidak, aku tidak bertemu siapapun lagi dari masa lalu. Dengan cepat aku mengemasi semua barang-barang dan memasukkannya ke dalam koper kecil dan berniat menyerahkannya kembali pada Ci Lien nanti. Aku berualng kali memastikan kamar ini tertata seperti saat aku melihatnya pertama kali. Bantal, guling serta spreinya sudah kutata rapi dan aku tak meninggalkan sebuah sampah pun disini. “Apa kau benar-benar harus pergi secepat ini, Sumirah?” Suara perempuan yang sepertinya sudah berada di pintu kamar ini beberapa menit sebelumnya. Aku melihat Patricia sedang bersandar pada pintu kamar ini. Aku mengangguk pasti. “Baiklah kalau memang itu maumu. Thomas akan mengantarkanmu ke pusat kota. Orang-orangku sudah mempersiapkan semuanya.” Aku tak membalas perkataannya. Ia kemudian membantuku membawa koper dan membersamaiku turun ke lantai satu. Disanalah aku melihat Ci Lien membawa beberapa kantong makanan yang diberikan padaku. “Sumirah, sepertinya aku tidak bisa benar-benar melepaskanmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN