“Apa yang kalian lihat selama ini memang begitu adanya. Aku pun tak tahu mengapa Mas Idrun melakukan hal semacam itu padaku.”
“Mungkin karena kau terlalu buru-buru mengatakan iya padanya..” ucap Wasis sambil menatap Mbak Sumini. Tatapannya sedih namun kalimatnya yang ia keluarkan justru berkata sebaliknya. Mbak Sumini hanya melirik Wasis.
“Iya, itu benar… Itu memang benar. Andai waktu itu aku menuruti perkataan emak, maka mungkin aku..”
“Penyesalan memang datang belakangan, Mbak. Ini hanya beberapa bulan setelah pernikahan, hati mak dan bapak pasti sedih dan kecewa kalau sampai mereka tahu. Sebenarnya ada yang sedikit menggangguku tentang Mas Idrun.”
“Apa itu?”
“Bagaimana kau bisa setuju untuk menikah dengannya walaupun kau tahu betul Ning Putri tak akan begitu saja melepaskannya. Kau tahu betul tentang itu, Mbak. Pukulan dan tamparannya sudah lebih dahulu kau rasakan, bukan?” kataku.
“Mbak Sumini, Mas Idrun tidak menyayangimu lagi, mbak.. Kumohon sadarlah!” ucap Wasis. Wasis memegang kedua lengan Mbak Sumini dengan erat. Ia mengguncangnya dan
“Aku ingin memikirkan hal yang sama dengan kalian, ingin mengerti sebaik kalian. Aku juga tak ingin membuat emak dan bapak kecewa. Tapi aku sangat menyayanginya Mas Idrun dan tak ingin kehilangannya. Aku tak bisa membiarkannya sendirian.”
“Sendirian bagaimana, Mbak? Kenapa kau harus peduli dengannya seperti itu? Rasa sayangnya padamu tak sebesar itu, Mbak. Kau tak perlu berkorban sebesar ini!” pekik Wasis pada Mbak Sumini.
“Tidak., ia mencintaiku.” kata Mbak Sumini lirih. Suaranya bergetar
“Tidak!” bentak Wasis pada Mbak Sumini.
“Tidak., ia sangat mencintaiku..”
“Kumohon berhentilah.. berhentilah menyakiti dirimu sendiri, Mbak” ucapku sambil menangis. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku sungguh ingin ia melepaskan Mas Idrun. Melepas laki-laki yang tega memukulinya seperti itu tentu bukan hal yang sulit, yah bagi Aku dan Wasis. Aku ingin kenyataan pahit ini segera bisa ia telan dengan baik. Sebagai adik, melihatnya dipukuli seperti itu adalah mimpi paling buruk.
Ternyata kata Wasis, Mbak Sumini pernah dipukul menggunakan tongkat kasti karena terlambat membukakan pintu ketika Mas Idrun pulang dari pesantren. Ia terus mengetuk pintu namun Mbak Sumini tidak mendengarnya. Mas Idrun mendorong pintu dengan keras an mendapati istrinya sedang mencuci di kamar mandi. Saat itulah Wasis masuk ke rumah Mbak Sumini. Wasis melihat Mas Idrun dengan wajah merah karena marah mengambil tongkat kasti yang ada di balik pintu lalu mengayunkannya tepat di dahi Mbak Sumini. Wasis yang kaget berlari menuju kamar mandi. Ia terlambat.
Mbak Sumini yang sedang jongkok, jatuh terjungkal di lantai kamar mandi. Mas Idrun terus memukulinya hingga Wasis mendorong tubuh Mas Idrun menjauh dari Mbak Sumini. Wasis menjelaskan bahwa waktu berjalan sangat cepat dan ketika ia melihat dahi Mbak Sumini berdarah, ia berlari menuju kotak obat yang diletakkan di sebelah kanan dapur. Wasis membasuh luka di dahi Mbak Sumini dan mengobatinya. Mas Idrun sudah pergi dari rumah entah kemana.
Mbak Sumini hanya diam saja. Ia tak megatakan sesuatu, tak pula menangis. Justru Wasis yang meneteskan air mata. Ia sakit hati melihat keadaan Mbak Sumini seperti ini. Sayangnya, Mbak Sumini dengan tegas meminta Wasis untuk tidak mengatakan kepada siapapun tentang semua yang terjadi. Aku menahan semua umpatanku padanya ketika ia memaksa Wasis seperti itu. Mbak Sumini benar-benar tak sadar apa yang sudah ia lakukan.
“Aku tahu Ning Putri tak akan melepas Mas Idrun begitu saja. Aku juga tahu bahwa Ning Putri terus menemuinya di pesantren. Ning Putri juga memerintahkan salah satu santrinya untuk membuntuti kemanapun aku pergi. Ketika emak sakit tempo hari, santri itu terlihat mondar-mandir di depan rumah kita.” jelas Mbak Sumini dengan suara parau.
“Ketika aku memberitahu Mas Idrun tentang ini, ia meminta maaf dan menagtakan kalau semua akan baik-baik saja.” imbuhnya.
“Apa benar ia meminta maaf padamu, Mbak?”
“Mbak bersumpah itulah yang terjadi, Sis. Terkadang sikapnya padaku lembut seperti aku adalah satu-satunya perempuan yang ada di hidupnya. Namun di lain waktu, aku melihatnya sebagai seseorang yang tak punya hati nurani, yang tak punya perasaan apapun padaku. Berkali-kali aku menjelaskan bahwa aku adalah istrinya sekarang, namun ia seperti tak mendengar apapun yang kukatakan.”
“Bagaimana dengan ibu Mas Idrun, Mbak?”
“Ia sudah tak punya ibu sejak kecil. Ibunya meninggalkannya ketika ayahnya sedang berselingkuh dengan wanita lain. Mas Idrun pernah bercerita bahwa ia stres berat waktu itu padahal usianya hanya tujuh tahun. Setelah itu ia menjalani hidup tanpa ibunya.” jelasnya. Mbak Sumini juga meminta kami untuk, sekali lagi, tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang ini.
Aku merasa terjebak. Terjebak diantara janji dengan Mbak Sumini dan keinginan untuk menyelamatkanya. Aku sering iseng dan sengaja bertanya apakah hidupnya akan selalu seperti ini, tersakiti dan menderita.
“Kau akan tahu ketika nanti kau menikah, Mirah.”
“Maka aku tak akan menikah dan merasakan penderitaan macam itu, Mbak.”
“Tidak ada satupun dari kita yang tahu bagaimana Tuhan mengatur hidup kita. Kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin agar kaki dan tangan kita terus bergerak.....” ucapnya. Belum selesai kalimat yang ia keluarkan namun aku tak tahan mendengarnya mati kutu dan pasrah seperti itu.
“Dan menderita? Tidak ! aku tak akan pernah ingin merasakannya.”
“Jangan berdoa seperti itu, Mirah.”
“Aku akan bekerja di luar kota, jauh dari sini. Aku akan medapatkan uang yang banyak sekali hingga aku tak akan berpikir tentang cinta dan segala urusannya. Aku tak ingin seperti itu.”
“Jangan mendahului takdirmu, Mirah.”
“Lalu bagaimana dengan takdirmu?”
Mbak Sumini hanya tersenyum penuh arti. Ia adalah mbakku yang cantik. Sebelum memutuskan menikah dengan Mas Idrun, Ia adalah orang yang selalu membuatku bangga dengan tingkah laku dan perkataannya. Jangan ditanya bagaimana perasaanku ketika ia sudah menikah dan pasrah saja dipukuli Mas Idrun seperti ini.
“Dengar, Mbak. Takdirmu adalah bahagia. Menjadi bahagia adalah kewajiban kita! Aku ingin kau bahagia.”
Walau perasaan bersalahku padanya besar, tapi amarah dan kesalku pada Mbak Sumini jauh lebih besar. Bagaimana mungkin ia mengijinkan Mas Idrun memukulinya seperti itu. Ia adalah perempuan pintar. Bisa saja ia melawan dan membuat Mas Idrun jera hanya dnegan kata-kata, seperti yang ia lakukan ketika emak atau bapak sedang di hina. Bukankah membiarkan dirinya sendiri dipukuli seperti itu sama seperti menhina emak dan bapak kami?
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku melihat Mas Idrun bertingkah lagi. aku berencana untuk balik memukulnya dengan batu bata yang baru saja bapak beli dari toko bangunan di desa kami. Dalam bayanganku, aku akan bersembunyi di balik pintu dapur ketika nanti ia turun dari genteng lagi seperti tempo hari. Aku memegang batu bata itu dan akan mengantamkannya pada laki-laki jahat itu. Tepat di kepalanya.
Darah akan mengucur dari kepalanya dan ia akan kesakitan. Ia akan merasakan sakit yang Mbak Sumini rasakan. Aku juga akan memukulinya berulang-ulang kali agar ia mengingat penderitaan itu dengan sangat baik. Aku akan meminta Wasis memukulinya setelah itu. Laki-laki kejam itu akan menangisi hidupnya seperti Mbak Sumini menangisi hidupnya karena bertemu dengannya. Lalu akan kupaksa Mas Idrun menunduk dan memohon ampun pada Mbak Sumini atas segala hinaan dan penderitaan yang ia beri.
Jujur, membayangkannya saja membuatku mual dan pusing.
“Sumini, Mirah.... Bapak mau minta tolong.” teriak bapak suatu sore.
“Baik, Pak.” balas kami serempak tanpa sengaja. Padahal saat itu, aku sedang menata baju di kamar sedangkan Mbak Sumini sedang berada di ruang tengah untuk menjahit. Kami berdua dengan terburu-buru pergi ke arah pekarangan tempat Bapak berdiri.
“Ada apa, Pak?”
“Tolong papah Bapak ke kamar ya. Bapak merasa agak pusing.”
Tanpa komando tambahan aku dan Mbak Sumini segera memegang tangan Bapak dan memapahya masuk ke dalam rumah. Wajah pucat membuat kami berpiir untuk memanggil mantri desa untuk memeriksa Bapak di rumah. Namun Bapak menolak dengan alasan beliau hanya merasa sedikit pusing saja.
“Kalian tak usah merasa khwatir berlebihan. Bapak baik-baik saja. Tolong panggil emak kalian ya.”
“Baik, Pak.” ucap Mbak Sumini.
“Oiya, Sumini. Tolong buatkan teh buat Bapak juga ya.”
Mbak Sumini mengangguk cepat. Ia segera pergi ke dapur untuk memasak air lalu beegegas ke rumah Bu Kasiyani, tetangga kami, untuk memanggil emak. Sejak pagi emak sudah memasak di rumah Bu Kasiyani untuk acara akd nikah putri Bu Kasiyani.
Di kamar, aku memijat kaki Bapak hingga hampir tertidur. Mungkin Bapak sedang kelelahan. Bapak suka sekali lupa kalau sekarang beliau gampang kelelahan. Beberapa malam sebelumnya aku melihat Bapak sedang terdiam merenung di ruang tengah. Ada sesuatu yang sedang Bapak pikirkan. Ketika aku bertanya alasan kenapa belum tidur, jawaban Bapak hanya tersenyum dan memintaku jangan khwatir.
“Bapak sedang berpikir apa, Pak?” kataku ketika melihat Bapak diam saja sedari tadi. Aku memijat kaki kirinya denagn sedikit tenaga agar
“Tidak, nak. Bapak sedang tidak berpikir tentang apapun.”
“Bapak jangan membohongi Mirah, Pak.” ucapku sedih. Aku tahu ada yang sedang Bapak pikirkan dan pasti ada alasan kenapa Bapak tak ingin aku tahu.
“Tidak apa-apa, nak. Jangan khawatir. Bapak tidak apa-apa kok.” kata Bapak seraya memberi kaki kanannya untuk aku pijat.
“Aku pergi ke dapur dulu ya, Pak. Mbak Sumini mungkin sedang dalam perjalanan menjemput emk. Aku yang akan membuatkan teh hangat untuk Bapak.”
Kulihat Bapak mengangguk pelan. Aku segera pergi ke dapur. Benar saja, air yang dimasak Mbak Sumini sudah mendidih. Kumatikan kompor dan segera membuat teh untuk Bapak. Ketika aku sedang mengaudk teh itu, Emak dan Mbak Sumini baru saja datang. mereka langsung membuka pintu kamar Bapak dan mendapati Bapak sedang tertidur pulas.
“Apa Bapak memberitahumu sesuatu, Mirah?”
“Tidak, Mak.”
“Apa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Bapak, Mak?”
“Ada. Sesuatu yang selalu Bapak pikirkan beberapa bulan belakangan.” Emak menatap kami secara bergantian. Aku dan Mbak Sumini saling pandang.
“Apa Wasis sedang berada di rumah Hamid lagi?”
“Iya, Mak. Tadi Wasis pergi membawa tas berisi beberapa buku dan bilang ia akan mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya disana setelah bermain.” kata Mbak Sumini.
“Baguslah. Ia harus rajin belajar supaya bisa pintar seperti mbak-mbaknya.” kata Emak sambil mengajak kami duduk di ruang tengah agar todak menggangu Bapak yang sedang beristirahat.
“Dimana Idrun, Sumi? Apa ia sedang mengajar di pesantren?”
Emak tak tahu kalau Mas Idrun sudah tidak mengajar di pesantren lagi. Baguslah, batinku.
“I—iya, Mak.” jawab Mbak Sumini gugup. Ah, harusnya Mbak Sumini tidak usah memperlihatkan gugupnya itu di hadapan Emak. Kalau tidak, akan bahaya jika Emak sampai menebak atau bahkan tahu apa yang sedang terjadi.
“Apa beras di rumahmu cukup, Sumi? Apa gula dan minyak goreng dirumahmu masih ada, nak?” tanya Emak.
“Masih, Mak.” jawab Mbak Sumi pelan.
“Apa yang kau masak hari ini untuk suamimu, Sumi?”
Mbak Sumini tidak langsung menjawab pertanyaan Emak. Ia terlihat menelan ludah dan mengusap keringat dari alisnya. Ia harusnya belajar bersandiwara padaku.
“Sumi masak tongkol pedas dan sayur sawi, Mak.”
“Apa itu kesukaan Idrun, Sumi?”
“Iya, Mak.”
“Baiklah. Kalau begitu, nanti-nanti akan emak masakkan sayur sawi dan tongkol pedas untuk Idrun. Kasihan kalau ia sampai kelelahan.”
“I—iya, Mak.”
Sekali lagi, Emak menatap kami bergantian. Cara Emak menatap kami sungguh mencurigakan. Emak bahkan melipat tangannya, pertanda bahaya.
“Nah, sekarang. Emak ingin bertanya sesuatu pada kalian.”
Deg deg. Deg deg....
Aku yakin jantung kami bertiga sama-sama berdegup kencang.
Apa Emak sudah tahu? Apa Emak sudah mengetahui semuanya?
“Apa ada yang kalian sembunyikan dari Emak?”
Tidak ada yang menjawab. Aku dan Mbak Sumini menutup mulut kami rapat-rapat. Bisa gawat kalau Emak benar-benar tahu apa yang sedang kami sembunyikan. Apalagi gelagat Mbak Sumini sudah mencurigakan sedari tadi.
“Apa Emak harus memaksa kalian? Sumini? Sumirah?”
Aku tetap menutup mulut rapat- rapat. Dari yang kulihat, Emak memang tahu sesuatu yang kami sembunyikan selama ini.
“Sumirah! Sumini! Jelaskan mengapa kalian beberapa hari ini bertengkar di kamar!”