“Sudah kubilang ikut saja denganku.” Pat menggandengku masuk ke dalam kamarnya. Aku memang sengaja menolak ajakannya karena aku tak ingin mendengar apa yang tidak ingin kudengar. Ia tetap memaksaku dan mendorong lenganku. Kami tak pernah bertemu sebelumnya dan sikap pertama yang ia tunjukkan padaku sangat berbeda dengan apa yang kulihat sekarang ini.
Kamar Pat terletak di sisi sebelah kiri rumah ini. Kami harus melewati dapur dan lorong untuk kesana.
“Katakan sekarang saja, disini.” Kataku. Aku mnghentikan langkah dan melepas tangannya dari lenganku.
“Kau terlalu banyak tingkah, Mirah.” ucap Pat dengan galak. Ia kembali memegang dan terus mendorong lenganku menuju kamarnya. Aku melihat Ci Lien memberi isyarat padaku untuk menuruti keinginan Pat. Harusnya tadi aku langsung saja masuk ke dalam kamarku.
“Kau bilang kau adalah teman masa kecil Hamid, bukan? Apa dia memang sangat lucu dari ia masih kecil?”
Oh. Ini semua tentang Hamid.
“Apakah kalian hanya teman masa kecil?”
Kamar Pat sangat besar. Mungkin sekitar dua atau tiga kali kamar yang sekarang aku tempati. Ia menghias kamarnya dengan baik. Cat tembok dan beberapa lukisan terlihat ditata dengan penuh pertimbangan. Tidak ada lukisan miring atau baju yang letaknya berantakan. Dan yang pasti tak ada poster band-band yang ditempel di dinding. Rapi adalah kesan pertama yang kudapat begitu sampai di kamar ini.
Ada tiga lemari kecil berisi barang-barang yang tertata rapi di pojok kanan. Buku dan beberapa alat tulis diletakkan di rak bagian atas. Lalu ada beberapa buku di rak kedua dan hiasan-hiasan kecil di rak tengah.
Di dekat jendela ada sebuah vas bunga besar berisi tanaman berbunga merah, lalu yang tepat berada di tengah adalah tempat tidur besar yang juga ditata rapi. Kamar ini seperti tak prnah ditempati. Aku membayangkan kalau saja kamarku dan Mbak Sumini dulu serapi ini, maka aku yakin bapak dan emak tidak akan memarahi kami setiap kali.
Hey tunggu, seingatku aku tak melihat orang lain selain kami bertiga dan empat laki-laki yang kini sedang berkeliling menjaga rumah ini. Apa mungkin ia yang menata semuanya sendirian?
Harus kuakui aku suka caranya menata kamar.
“Kenapa kau hanya berdiri disitu? Pilihlah dimana kau ingin duduk.” kata Pat melihatku berdiri sembari mengamati isi kamarnya. Ia memandangku dengan raut muka keheranan.
“Apa kau hanya ingin mengetahui masa kelam Hamid dariku?”
Aku duduk tepat di sebelahnya. Terlihat biasa saja, namun aku yakin ada tujuan lain yang ia rencanakan. Apapun itu, aku harus tahu.
“Haha, kau lucu sekali Sumirah! Aku tak ingat Hamid pernah bercerita tentang cara bicaramu yang lucu.”
“Masa kecil Hamid adalah miliknya. Aku tak berhak bercerita apapun tentangnya.”
“Oh, begitu.. Jangan buat aku memaksamu, Mirah.”
Perempuan itu berdiri, merapikan kembali tempat duduknya yang sedikit berantakan, mengibaskan kotoran diatasya, lalu berjalan mendekatiku. Aku mendadak merasakan sesuatu yang panas mengalir di pembuluh darahku.
“Dengar, Mirah. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu tentang Hamid.”
“Aku tak ingin mendengar apapun tentangnya. Ia sudah di Indonesia sekarang dan aku sudah tak mau tahu. Ia kembali memegang tanganku dan menatapku lekat. Andai Pat tahu.. Semakin aku mengingat Hamid, semakin aku mengingat masa lalu, maka semakin aku lupa tujuanku dan keinginan untuk pulang ke Indonesia juga semakin besar. Aku tak ingin itu terjadi, lagi.
“Tentang kakinya...”
“Kaki? Kaki Hamid katamu?”
“Iya, kaki Hamid.”
“Ada apa dengan kakinya?”
“Apa kau tak tahu kecelakaan yang menimpanya saat kecil? Apa kau sungguh-sungguh teman masa kecilnya?” desak perempuan itu. Berpura-pura tidak tahu bukan keputusan bijak yang bisa aku lakukan saat ini.
“Aku yakin kau tahu.”
“Aku memang tahu, tapi untuk apa bertanya itu padaku? Bukankah kau adalah kekasihnya dulu?”
“Haha.. Hamid benar. Kau sungguh lucu, Mirah...”
“Aku tak berniat memberitahukan apapu padamu kecuali syaratku bisa kau kabulkan.”
“Syarat? Apa yang tak bisa kulakukan? Apa kau sedang menghinaku sekarang ini?” kata perempuan itu.
“Baiklah..Kau bisa bertanya apapun.”
“Ceritakan padaku apa yang terjadi saat Hamid kecelakaan, mirah. Ia sering mengeluh kesakitan sebelum peristiwa itu..”
“Peristiwa itu? Peristiwa apa?”
“Apa kau tak tahu alasan ia bisa berjalan dengan sempurna sekarang?”
“Apa maksudmu?”
“Lantas Ia mengambil salah satu bagian tubuh yang ia bunuh, Mirah. Itu adalah kaki milik orang lain.”
“Apa!?”
“Hamid adalah orang yan berbahaya, Mirah. Itu sebabnya geng kami sangat berhati-hati jika harus berhadapan dengannya. Walaupun kami dekat, tapi tak ada yang berani menyentuhnya. Terlebih ketika ia sudah bisa berjalan seperti sekarang. Beberapa temannya yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan kalau Hamid menikmati proses pengambilan bagian itu.”
Belum sempat aku mengucapkan kata perempuan itu juga mengatakan kalau beberapa hari sebelum proses itu dilakukan, Hamid menculik dua puluh tiga dokter bedah di Hongkong untuk mengoperasi kaki seseorang. Hamid mengancam dan memaksa dokter-dokter itu agar setuju menuruti keinginannya.
“Ia menjadi diirnya sendiri setelah keinginannya itu terwujud. Ia membantai, menculik dan membunuh banyak orang.”
Ya Tuhan, karena akulah hidup Hamid jadi seperti itu. Kalau saja ia tak mengikutiku, kalau saja...
“Sudah berapa lama hal itu terjadi, Pat?”
“Sejak empat tahun yang lalu. Aku ingat betul kejadian di pagi sebelumnya. Ia masih menggunakan tongkatnya saat itu. Lalu tiba-tiba di siang harinya, ia mengatakannya. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya agar ketua geng mafia itu lembali percaya padanya. Ia juga berkata bahwa ia baru saja menculik tiga dokter untuk membantu rencananya. “
Mataku terasa berat dan kakiku lemas. Apakah ini nyata?
“Hamid sangat tertutup tentang rencananya itu.. Ia tidak pulang ke rumah ini hingga beberapa hari setelahnya. Aku sudah mengerahkan semua orang yang ada disini untuk mencarinya. Kami mencarinya kemanapun dan kapanpun. Tak ada berita baik Ia seperti menghilang begitu saja, seperti tak hidup lagi, kalau kau tahu maksudku.” Ucap Pat. Wajahnya mengungkapkan kesedihan.
“Hampir saja aku menyerah. Hampir saja.. Mungkin kalau kakek Hong tidak berada disini dan Hamid tidak membuka pintu malam itu, kegelisahan yang kurasakan bisa saja menjadi alasanku tiada.”imbuhnya.
“Apa kau masih menyayanginya?”
Rasanya aku masih harus berusaha untuk tahu lebih banyak tentang ini. “Tidak ada alasan untuk meninggalkannya, Mirah. Ia adalah orang pertama yang membuka hatiku. ”
“Semakin aku mengetahui lebih banyak tentang hidup Hamid di Hongkong, rasa bersalahku juga semakin besar, Pat. ”
“Kenapa demikian?”
“Akulah alasan satu-satunya ia bisa berada di Hongkong selama ini.”
“Apa maksudmu?”
“Ia mengikutiku. Sejak dalam perjalanan menuju pelabuhan. Entah apa yang dulu ia pikirkan, Tapi disitulah pertama kali ia bertemu kakek Hong dan melihatnya memberi suntikan itu padaku.”
“Astaga... Itulah alasan ia mencarimu. Ia tahu kakekku akan mencarimu. Itu sebabnya ia selalu bergumam, itu lah alasannya ia menyamar selama ini.”
“Jangan membuatku masih pusing, Pat!”
“Tidak, Sumirah. Aku tahu sekarang. Aku tahu alasan sebenarnya ia melakukan ini. Kakekku mencari inang dari zat yang ia ciptakan itu. Sayangnya ia lupa memberitahu Hamid tentang itu, yah walaupun Hamid memang lebih awal mengetahuinya..”
“Lalu apa? Bagaimana kakekmu terbunuh?”
“Kakekku berencana untuk menemuimu. Sayangnya, Hamid tak suka dengan rencananya. Itu yang terjadi satu menit sebelum kakekku terbunuh. Hamidlah yang memegang pisau saat itu. ”
“Haha, kaulah yang lucu disini, Pat! Aku baru saja tahu kalau aku telah disuntik zat yang bahkan aku tak tahu apa namanya, oleh kakekmu, lalu ketika ingin mendapatkan suntikan itu lagi, kakekmu harus terbunuh oleh kawan masa kecilku yang baru kutemui setelah sebelas tahun lamanya. Bisa kau bayangkan betapa lucunya hidupku, Pat? Haha...”
Patricia tidak membalas kata-kataku. Ia hanya diam sambil menunduk.
“Dan kini kekasih dari kawan masa kecilku itu memberitahu semua hal tentangku.. Bagus! Hidupku sangat hebat! Rasanya kepalaku pusing sekali!”
“Cukup, Mirah..Aku tahu ini sulit bagimu, aku tahu itu. Tapi tolong dengarkan aku..”
“Aku tak ingin mendengar apapun darimu lagi, Pat. Tidak lagi.”
Aku berjalan menuju pintu kamarnya. Namun sayang, ia berhasil meraih tanganku tepat ketika kau hendak memegang gagang pintunya. Pat memutar pergelangan tanganku agar aku kesakitan dan tidak melawan. Tapi tidak, aku kembali memutar tanganya dan membiarkannya kesakitan. Cukup adil.
Ia berusaha mengatakan sesuatu, tapi aku tak ingin mendengar apapun. Aku terus berjalan menuju kamarku. Aku tahu Pat mengikutiku hingga depan pintu, namun aku bisa mencegahnya masuk dengan sedikit mendorongnya. Aku segera masuk dan mengunci pintu kamarku.
Berkali-kali aku mengerjapkan mata, tapi air yang ada di pelupuk mata tak bisa berhenti.