Chapter 35

1207 Kata
Aku yakin aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari dimana Wasis dengan seenaknya membuat hidupku jauh lebih dari rumit dari sebelumnya. Aku pikir masalah Mbak Sumini dan Mas Idrun sudah cukup membuatku sulit bernafas. Sekarang Wasis yang membuat ulah. Tadi malam ketika datang ke kamarku, ia hanya tersenyum genit lalu pergi begitu saja, tanpa mengatakan apa-apa. Pasti sedang ada sesuatu di otaknya. Sebuah rencana jahil. Sebenarnya setiap Wasis mempunyai rencananya, aku dan Mbak Sumini akan tahu dengan sendirinya. Gerak-gerik yang mencurigakan dan senyuman genit yang entah apa maksudnya, hanya Wasis yang bisa melakukaknya. “Kamu sedang apa, Sis?” tanyaku ketika menemukan Wasis di meja belajarku siang itu. Ia tampak sedang mencari sesuatu. “Ada apa? Apa yang sedang kau cair di kamarku?” Ia tak menjawab pertanyaanku. Ia tersenyum dan berlalu begitu saja. Aku mengikutinya berjalan ke arah pekarangan rumah dan menghentikan langkahnya. “Mbak Mirah, jangan bilang siapa-siapa ya...” “Apa? Kenapa?” “Tunggu dulu, kita harus berpura-pura melakukan sesuatu. Ini, pegang buku gambar dan pensil ini.” katanya seraya menyerahkan sebuah buku dan mendorongku ke dekat kursi kesukaan bapak. Ia terus meberikan isyarat untuk diam dan memintaku berpura-pura menggambar kursi kesukaan bapak itu. Apa yang sebenarnya direncanakannya? “Apa yang kalian lakukan disini?”tanya Mas Idrun mengagetkan kami. Ia datang dari arah kanan pekarangan. Anehnya, ia melompat dari atap tetangga kami. Apa lagi ini? “Tentu saja kami sedang menggambar. Apa lagi?” jawab Wasis tanpa melihat ke arah Mas Idrun. “Apa yang Mas Idrun lakukan disana? Melompat dari atap rumah?” “Ti—tidak,aku tidak melompat. A—aku tadi hanya, sudahlah. Teruskan saja kegiatan kalian!” ucapnya. Ia bahkan membentak kami tadi. Ini pertama kalinya, dan aku janji ini yang terkahir kalinya ia membentak aku dan adikku. Ia lalu pergi ke dalam rumah tanpa melihat kami. “Mbak, tadi itu hampir saja Mbak Sumini dipukul. Pak Paidi dan teman-teman bapak yang lain juga tahu itu. ” “Bagaimana bisa? Kau tahu dari mana?” Wasis kemudian bercerita tentang bagaimana tanpa sengaja ia mendengar Mas Idrun mengancam Mbak Sumini di depan pos simkamling. Sayangnya, ada Pak Paidi dan orang-orang yang hendak bekerja bakti juga mendengar itu. Mas Idrun berniat mencuri radio dari rumah sebelah dan meminta Mbak Sumini menjaga di pekarangan rumah agar tidak ketahuan siapapun. Kalau tidak, ia akan menceraikannya. Kejadian itu te “Menceraikan? Apa dia benar-benar tahu apa yang ia pikirkan?” Aku mengajak Wasis duduk di kursi dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Seperti biasa ketika rencana jahilnya berhasil, ia akan lebih sering tersenyum seperti orang aneh. “Itu sebabnya sebelum ke kamar Mbak tadi, aku meminta tolong Mbak Sumini untuk membuatkanku tumis singkong. Ia setuju-setuju saja. Ia sedang berada di kebun bapak sekarang ini. Untunglah ia belum pulang. Kalau tidak, tamat riwayat kita.” “Jadi ini rencana kalian?” Suara yang sangat kami kenali. Itu susra Mbak Sumini sedang marah. Kami menoleh ke belakang dan mendapati Mbak Sumini menghadap kami. Daun singkong ada di tangan kanan dan kirinya. “Mbak....” ucap Wasis. “Mbak ingin bicara sama kalian di kamar.” Kami terdiam tanpa berani membalas. “Ayo! Cepat!”bentak Mbak Sumini karena melihat kami tidak lekas bergerak. Mbak Sumini dengan kasar melempar daun singkong yang ia dapatkan dari kebun. Wasislah yang pertama berdiri. Kemudian aku menyusulnya memasuki kamar, lalu duduk di atas tempat tidur dengan tertib. Mbak Sumini berdiri di depan kami dengan sorot mata tajam. Ia marah sekali. Wajahnya memerah dan tangannya mengepal sedari tadi. Aku merasa sedih sekaligus takut melihat reaksi Mbak Sumini “Apa yang sebenarnya kalian lakukan? Apa! Apa kalian tidak tahu apa yang aku rasakan? Biarkan aku hidup tenang!” Aku hampir saja terjatuh dari tempat tidur karena kaget. Wasis yang dari tadi menunduk akhirnya mengangkat tubuhnya di depan Mbak Sumini sambil mengajukan pertanyaan. “Mbak, Wasis ingin bertanya sesuatu.. Apa boleh?” “Ya. Tanya saja.” Nada suaranya melemah. “Apa Mbak Sumini bahagia? Apa ini yang selama ini Mbak Sumini harapkan?” Hening, Tak ada balasan. Tak ada yang bicara. Suara jendela yang bergeser karena angin pun terdengar dengan jelas. Kami bertiga tahu luka ini sedang kami rasakan sama-sama. Mbak Sumini merasakan kepedihan karena pernikahannya. Sedangkan kami, merasakan kesedihan yang sama yang dirasakannya. “Maafkan aku, tolong maafkan..” ucap Mbak Sumini memecah keheningan. Mbak sangat menyayangi Mas Idrun.. Mbak tahu ini salah, sangat salah.” “Mbak, apa yang bisa aku bantu, mbak?” tanya Wasis. Ia memegang tangan Mbak Sumini yang kini dibasahi oleh air mata. Wajah merah karena marah yang tadi kulihat kini berganti menjadi wajah Mbak Sumini yang sedih. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan pada saat seperti ini. Cara yang Wasis lakukan memang oke. Ia berhasil memaksa Mbak Sumini tergugah untuk menceritakan apa yang terjadi. Ini yang kami inginkan. Selama ini Mbak Sumini sangat tertutup dan terkesan tak ingin orang lain tahu tentag kehidupannya, bahkan kami, adik-adiknya. Setelah emak sembuh, ia dan suaminya hanya berada di rumah kami dari siang hingga sore hari saja. Ia mengatakan pada emak bahwa ia sibuk berbelanja, memasak dan membersihkan rumah setiap pagi hari. “Menyalahkan diri sendiri tak akan membantu kita saat ini, Mbak.” kataku. “Mirah, Mas Idrun tak lagi bekerja di pesantren. Ia kini pengangguran.” “Kok bisa, mbak?” “Ning Putri yang meminta tim yayasan untuk menghentikan kontrak Mas Idrun. Ia sudah menerima hukuman sosialnya, Mir..” “Karena menikahimu, Mbak?” “Iya.. dan juga karena telah melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan, yaitu bercerai.” “Mbak, ceritakan dari awal. Awal sekali.” pinta Wasis. “Awal? Ketika kami bertemu? Untuk apa? Tak ada yang tertarik, bukan?” “Tidakkah Mbak Sumini sadar bahwa kami juga butuh penjelasan?” “Tidak! Aku tidak akan bercerita apapun pada kalian.” Wasis memegang lengan kiri namun disambut dengan perkataan sedih dari Mbak Sumini. “Sis, pahamilah posisi mbak..” “Tidak! Mbak Sumini yang harus memahami kami, mbak! Tak ada satu kata penjelasan pun yang kami dapatkan dari Mbak Sumini. Kami yang kini harus dihukum melihatmu tersiksa seperti ini.” “Kenapa Mas Idrun? Kenapa, mbak!” tanyaku. “Karena mbak merasa tidak ada yang menyayangi mbak. Karena mbak selalu merasa disisihkan dirumah ini. Aku mengenyitkan dahi. Saking banyaknya keringat yang ada di wajahku, aku bisa merasakan keringat itu turun dari dahiku dan masuk ke dalam mulut. Yah, memang asin. Mau bagaimana lagi.. “Emak, bapak, aku dan Wasis ada disini. Kami menyayangimu sepenuh hati dan kau masih mencari alasan itu, mbak? Kenapa, mbak?” bentakku. “Kalian tak pernah ada untukku. Mbak merasa selalu ada untuk kalian, tapi tidak sebaliknya. Mas Idrunlah orang yang pertama kali membuat mbak merasa dicintai. “ Kini ia terisak. “Mbak, kami selalu ada disini. Ketika kau membutuhkan kami.” “Tidak, dengarkan mbak berbicara terlebih dahulu, Wasis!” Wasis yang sedari tadi memegang tangannya pun kini harus menarik tangannya itu dan diam. “Kalian tak tahu apa yang mbak rasakan. Apa kalian tahu rasanya melakukan sesuatu yang sama terjadi setiap hari? Disaat kau dan Wasis mendapatkan semua perhatian emak dan bapak, apa ini yang mbak dapatkan dari kalian?” Aku dan Wasis berusaha memahami yang terjadi. Kami tak lagi berusaha menhentikan Mbak Sumini berbicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN