Chapter 34

1656 Kata
Nurul adalah teman pertamaku di sekolah. Entah ini keberuntungan atau justru sebaliknya, tapi ia selalu menjadi teman sebangkuku. Sering pula kami tanpa sengaja terpilih menjadi anggota satu tim, walaupun sudah diacak. Lucu, kan? Dari belajar tugas sekolah, bermain layangan dan petak umpet hingga menjahili teman pun kami lakukan bersama-sama. Pernah suatu kali kami haru dihukum oleh Bu Titin karena menjahili Doni, salah satu teman sekelas kami. Kami bermain sepak bola di dalam kelas ketika jam istirahat. Aku yang menendnag, ia yang menangkap. Begitu juga sebaliknya. Namun naas, Aku dan Nuril tidak menyadari kalau Bu Titin sedang mengawasi kami lewat jendela samping kelas. Saat itu, giliran Nurul yang menendang bola. Ia menendangnya lumayan keras dan wajah Doni tepat berada di jangkauan bola itu. Lalu terjadilah.. “Aaaakkkkk....” teriak Doni kesakitan. Doni langsung terjungkal ke belakang kursi. Nurul dan aku berlari ke arah Doni dan menemukan Doni sedang memegang hidung dan wajahnya secara bergantian. Perasaanku deg-degan tak karuan. Hidungnya mimisan dan wajahnya memerah. Masalah baru, nih. “Uhuk, uhuk..” Itu adalah suara yang sangat kami kenali. Benar saja, aku mendapati Bu Titin, guru matematika sekaligus wali kelas kami, sedang memegang buku dan memandang kami dengan wajah merah padam karena marah. Aku tahu ia pasti punya beberapa pilihan hukuman yang akan diberikan ke Nurul dan aku. Entah itu mengepel lantai, membersihkan lantai kamar mandi atau menyapu halaman sekolah. Hari akan sangat lama. Tiap langkah bu guru mendekati kami rasanya menyesakkan hati. “Apa yang terjadi, Nurul? Sumirah? ”tanya Bu Titin. “Bu, tadi.. Ka—kami, tadi...” “Nurul, Sumirah.. pergi ke ruang guru sekarang! Ibu tunggu.” Tatapan maut Bu Titin waktu itu membuat aku dan Nurul diam mematung. Jujur, aku ketakutan. Kalau Bu Titin sampai memberitahukan kenakalan kami pada emak dan bapak, habis sudah semua. Tidak hanya uang saku yang berkurang, namun juga jatah waktu bermain layangan dan kelereng yang akan turut terkorbankan. “Siapa yang memulai?” Tak ada dari kami yang menjawab. “Bu Titin bertanya sekali lagi ya. Siapa yang memulai permainan bola di kelas?” “Nurul, Bu Titin.” kataku. “Bukan, Bu. Bukan saya. Mirah yang menendang bola pertama kali, bu.” “Tapi kau yang menendang bola ke Doni, kan?” “Tapi kau yang memulai duluan.” “Enggak. Kau duluan! Kau yang memuat Doni terjatuh. Tendanganmu tadi mengenai Doni.” jawabku. Bu Guru hanya menyaksikan kami berdebat tidak berhenti. Bu Titin bahkan tidak melerai kami. Semenit saja kami dibiarkan seperti itu, pasti sudah kutarik rambut panjang Nurul itu. Kan memang dia yang menendang bola hingga terkena Doni. “Tidak, Bu..” jawab kami serempak. Kami saling berpandangan dan tertawa bersama. Tentu saja, Bu Titin melihat kami keheranan. Mungkin Bu Titin merasa kami kurang ajar karena tidak menjawab dengan benar. Yah, walaupun memang seperti itu. Namun saat itu hal yang paling lucu adalah momen dimana kami sibuk bertengkar dan saling tunjuk harus berakhir dengan menjawab pertanyaan dengan serempak. Aku gugup. Nurul adalah orang pertama yang kuhubungi kali ini. Aku gugup sekali. Ini kedua kalinya kami bicara lewat telepon. Aku mengingta dengan baik bagaiamana telepon pertama kami berlangsung hampir dua jam penuh hingga membuat Wasis, sang pemegang kabel telepon umum, sedikit marah dan meminta imbalan atas kebaikannya itu. Kami membersihkan kamar mandi bersama ketika dihukum Pak Bandi, kami membaca buku dengan serius di perpustakaan sekolah ketika istirahat tiba, kami mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah kami bersama-sama. Terkadang kami berangkat bersama, kadang akku harus menunggu Pangeran Kodok bernama Wasis terlebih dahulu. Nurul sangat suka mengepang rambutnya menjadi dua lalu dengan bangga memamerkan hasil kerjanya itu di depan kelas. Ia adalah perempuan yang sangat rapi, sangat terlihat dari caranya menata pensil yang diraut dengan rapi lalu ditata berdasarkan tingginya. Jajanan favorit kami adalah gorengan. Ketika kami terlalu lapar, teman-teman kami akna menemukan wajah kami sedang sibuk mengunyah gorengan di warung sekolah tanpa peduli apapun. “Rul, apa gorengan warung sudah memanggil nama kita?” ucapku beberapa menit sebelum kentongan berbunyi tanda jam istirahat dimulai. “Tentu saja, Mirah.. Mereka memanggil kita dengan lantang, ” jawab Nurul dengan santai. ”Jarak tidak akan memisahkan kita dengan gorengan-gorengan lezat itu, Mirah..” “Sumirah, Nurul! Berhentilah bicara dengan suara keras seperti itu! Kami semua mendengarnya! Gorengan itu akan menunggu kalian!” bentak Bu Titin keras di depan kelas matematika. Aku dan Nurul hanya bisa tertawa. “Rul?” “Iya, Mirah?” “Apa semua baik-baik saja disana?” “Tentu saja kami baik-baik saja. Bukankah harusnya justru aku yang harusnya bertanya padamu bagaimana kondisimu disana?” “A—aku baik, aku baik-baik saja, Rul.” “Oh, kata-katamu itu sangat kukenali.” “Hah?” “Kau tidak baik-baik saja, Mir. Aku tahu kau sedang berbohong.” “Tidak, aku tidak berbohong.” “Kau ingin membahas tentang kebohongan-kebohonganmu yang lain?” “Hah? Apa?” “Wasis bilang kau sedang bersenang-senang di Hongkong. Tapi aku yakin kau tidak bersenang-senang sama sekali. Aku benar, kan?” “Rul, a—aku..” “Iya. Iya, Mirah..hidup sebagai pembantu pasti sulit. Kau pasti sangat kelelahan saat malam.” “Rul....” “Ya, Mirah? Apa aku terlalu banyak bicara?” “Iya.” “Oke, aku akan diam selagi kau bercerita.” “Bagaiamana mungkin aku bisa meneleponmu? Apa telepon umum juga dipasang di rumahmu?” “Ya, ini dipasang tepat di depan rumahku.” ujar Nurul. Ia, seperti biasa, bicara sangat cepat. “Mir, apa ada telepon umum di Hongkong? Mir, kau tahu tidak kalau telepon umum ini bagus banget. Gagangnya mempunyai kabel yang sangat panjang hingga bisa biasanya aku bisa bersantai dengan kursi santai ibuku di sebelahnya. “Baguslah. Apa aku bisa lebih sering meneleponmu?” “Tentu saja, Mirah... Tunggu, bagaimana kau bisa melakukannya?” “Melakukan apa?” “Mengirimkan surat padaku tentang telepon ini.” Surat? “Aku tidak melakukannya, Rul.” kataku. “Tunggu, tunggu.. Beberapa hari yang lalu seseorang mengantar sebuah surat ke rumahku. Ada namamu di pojok kanan atas jadi aku mengira kaulah yang mengirimkannya. Setelah kubuka, tebakanku benar, didalamnya tertulis kalau kau akan meneleponku hari ini.” “Hah?” “Kenapa kau terheran-heran dari tadi? Apa memang benar bukan kau, Mirah?” “Bukan aku, Nurul.” Orang-orang ini sepertinya mengetahui banyak hal tentang diriku, batinku. Ini berbahaya. Mereka tidak boleh tahu rahasiaku. Rahasia paling penting dalam hidupku. “Sudahlah, ini namanya takdir, Mirah...” kata Nurul menenangkan. “Haha, sejak kapan kau begitu percaya diri berkata tentang takdir, Rul?” “Sejak aku tahu alasan kenapa kau pergi ke Hongkong, Mirah..” ucap Nurul. Aku terdiam. Tak ada teman yang bisa mengerti aku selain Nurul. “Tak apa, Mirah. Aku tahu aku akan mendengar alasannya dari mulutmu sendiri suatu saat nanti. Tenanglah...” “Aku aka menceritakannya padamu suatu saat nanti.” “Aku tahu. Bagaimana Hongkong, Mirah? Apa majikanmu menyenangkan?” “Beberapa orang terlahir menyenangkan, yang lainnya kau tahu sendiri..” “Hahaha, baiklah.. Kalau begitu, ceritakan saja apa yang kau alami beberapa hari ini, Mirah..Aku merindukanmu, Mirah..” “Beberapa hari ini? Kenapa beberapa hari ini?” Apa Nurul tahu apa saja yang kualami? Apa ia tahu tentang Hamid yang menyusulku ke Hongkong? “Entahlah, suaramu mengatakan kau sedang kesulitan beberapa hari ini? Aku harus memancingmu bicara kebih banyak, Mirah. ” “Tidak, hidupku biasa saja disini. Ceritakan tentang hari-harimu, Rul.. Apa kau sering bertemu Wasis dan teman-temannya?” “Apa Wasis tidak cerita padamu kalau aku sekarang membuka warung, Mirah?” “Benarkah? Sungguh?” “Ya.. Andai kau disini untuk membantuku. Kau akan melihat pemandangan indah di depan warungku, Mirah.” “Aku harus kesana kalau pulang ke Indonesia nanti.” “Kau harus menginap disini, Mirah! Apa kau ingin tahu apa yang selalu jadi kesukaan orang-orang diisni, Mirah?” “Gorengan!” Tanpa aba-aba, kami menjawabnya serempak. Kemudian kami tertawa bersama-sama. “Aku sering melihat Wasis dan teman-temannya, Mirah. Mereka sering bermain hingga sore di warungku ini.” “Dia tak pernah bercerita banyak tentang hal lainnya selain tanteng bapak dan emak.” “Dia laki-laki yang baik, Mirah.” “Dia juga adik yang baik, Nurul.” “Satu hal yang pasti adalah ia sering mengajak bapak naik sepeda keliling desa, Mirah. Bukankah itu manis? Hahaha..” “Tentu saja..” “Mirah, apa kau bahagia berada di Hongkong sekarang ini?” “Tentu saja, Rul. Aku bisa mengirimkan banyak uang ke Wasis. Aku bisa melihat bapak dan emakku sehat dan Wasis sangat membantuku.” “Bukan itu, maksudku apakah dirimu sendiri bahagia berada di Hongkong?” “Aku akan pura-pura bahagia untuk itu, Rul.” “Apa rencanamu selanjutnya?” “Aku belum bisa berpikir rencana apapun. Aku akan mengikuti apapun yang ada di depanku.” “Tidah, Mirah. Kau pergi sejauh ini bukan untuk mengikuti arus, Mirah. Aku memang tak tahu apa tujuanmu, tapi kau bukan ikan mati. Kau harus tetap pada tujuanmu.“ Nurul benar. Kenapa hal itu bisa terpikirkan olehku? Percakapan kami ditutup dengan janji agar saling menemukan ketika aku kembali ke Indonesia. Inilah mengapa aku suka berbicara pada Nurul tentang apapun. Energinya yang besar sangat mudah mempengaruhiku. Tidak lebih dari enam puluh menit dan kini aku tahu apa yang harus kulakukan. “Ci, aku ingin bicara penting padamu.” Aku mengungkapkan niatku pada Ci Lien ketika hari menjelang malam. Pada awalnya ia hanya membalasku dengan gumaman. Namun ketika aku menghentikan langkahnya menuju dapur, ia sedikit kaget dan memintaku untuk duduk dan bicara. “Aku ingin menemukan agen dan bekerja lagi. Aku tak ingin kembali pada Grandma dan Cece, aku ingin menemukan majikan yang baru.” “Kita akan bicara pada Patricia dulu, ok?” “Apa itu ide yang baik, Ci?” “Itu memang ide yang paling baik saat ini, Mirah. Pat akan menujuk satu agen untukmu.” “Aku mendengar namaku disebut. Ada yang inginkan dariku?” “Aku ingin bicara padamu” “Aku juga ingin bicara padamu. Tentang banyak hal, Sumirah. ”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN