Chapter 33

1250 Kata
Memintaku menyembunyikan rahasia sebesar ini tak bisa dibilang bijaksana. Ada perasaan bersalah karena menyembunyikan hal ini dari emak. Setiap kali emak, aku dan Mbak Sumini berada di tempat yang bersamaan, hatiku tak tenang. Gelisah tak karuan. Aku sudah berjanji pada Mbak Sumini agar menutup mulutku, namun tak baik merahasiakan satu hal pun pada emak. Hari ini sudah dua kalu aku harus berbohong ketika emak bertanya kenapa aku tidak seperti biasanya. Mbak Sumini memang menyebalkan! Bisa-bisanya ia memberiku beban sebesar ini. Aku berpikir untuk memberitahu Wasis tentang ini, tapi kemampuan Wasis  menyimpan rahasia sangat diragukan. Sebenarnya dengan melihatnya saja aku sudah sangat kesal. Aku pernah mendengar Hamid memarahinya di depan rumah. Hamid marah karena Wasis tak sengaja mengatakan pada teman-teman sekolahnya kalau Hamid sedang jatuh cinta pada teman bermainnya. Wasis memang tidak bisa dipercaya. “Sis, wasis... Mau tidak kau berjanji padaku?” “Berjanji apa, Mbak?” “Berjanjilah untuk tidak memberitahu siapapun tentang rahasia yang akan aku ceritakan.” ucapku. Aku ingin ia berjanji dengan sungguh-sungguh kali ini. “Apa itu rahasia yang aku tak tahu?” tanyanya. “Tentu saja! Tentu saja, Wasis oh Wasis adikku yang paling ganteng se-kota Tulungagung!” Aku heran dengan pikirannya. Bagaimana ia mengerjakan tugas di sekolah? Bukankah ia tak seharusnya berjanji jika ia sudah tahu apa rahasia yang akan kuceritakan? “Untuk apa kau berjanji untuk sesuatu yang kau sudah tahu? Untuk apa, Wasis?” Aku mulai kesal. Ia memperlihatkan wajah bodoh dan polosnya. Aku tak tahan dan langsung mengacak-acak rambutnya itu. “Enggak deh, mbak.” ujarnya singkat. “Baiklah, Wasis.. baiklah..” balasku. Aku yakin Mbak Sumini juga akan marah kalau aku memberitahu Wasis tentang kekerasan itu. Atau, bagaimana kalau aku memberitahu Nurul? Mungkin ia bisa meringankan bebanku. Aku akan pergi ke kamarnya dan memberitahunya tentang hal yang mengusik pikiranku ini. Tunggu, tidak. Tentu saja Nurul tidak boleh mengetahuinya. Selama ini Nurul tahu semua hal yang terjadi di desa kami dan menceritakannya kepada siapapun. Bahaya akan mengintai jika Nurul tahu tentang ini, maka semua orang di desa ini akan memandang rendah kami. Lebih baik kubatalkan saja rencanaku memberitahu Wasis dan Nurul. Ini tidak akan berhasil. Siang itu, Wasis masuk ke kamarku dengan tergesa-gesa seperti sedang dikejar raksasa. Nafasnya memburu dan keringat jatuh dari alisnya. Ia benar-benar tampak sedang dikerjar raksasa yang siap menerkamnya dari belakang. “Ada apa, Sis? Kenapa kau?” Aku berdiri untuk mengambil handuk dan melemparkanya pada Wasis. “Usap keringatmu atau akan ku cuci wajahmu di kamar madi sekarang juga, Wasis.” kataku. “Mbak Mirah, emak memintaku membeli dua kilo beras dan satu kilo gula di pasar induk.Tolong temani aku ya, Mbak.” ajaknya. Ini aneh. Biasanya ia akan bersemangat kalau emak menyuruhnya ke pasar untuk belanja, beda denganku dan Mbak Sumini. Kami lebih suka berada di rumah dan menunggu bahan masakan itu tersedia. “Tidak.. aku tak ingin ikut.” “Ayolah, mbak.. Akan kutraktir es setrup ya. Atau gulali? Bagaimana?” Tawaran yang menggiurkan. “Ok, Wasis. Ini karena kau yang memaksa ya..” jawabku.  Ia langsung menarik tanganku dan mengajak berlari. “Untuk apa berlari? Toh pasar induk tidak akan pindah, Sis” Ia tak menghiraukan kalimatku dan terus mengajakku berlari. Aku mengikuti kemauannya karena bayangan tentang gulali yang melambia-lambai di pikiranku. Kami terus berlari dan hampir menabrak beberapa orang di jalanan. Kami masuk melalui pintu utama pasar dan langsung duduk di depan penjual gulali. “Apa tidak beli barang yang diminta emak dulu, Sis?”tanyaku. Ia hanya diam saja. Ada banyak pembeli gulali yang antri sehingga kami harus duduk dan menunggu di kursi. “Mbak, aku tahu rahasiamu apa.” Deg. Wasis membuatku gugup “Rahasia apa? Aku tidak mempunyai rahasia yang harus kuceritakan padamu kok.”terangku. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan ini ke arah penjual gulali. “Pak, gulalinya dua ya. Yang merah dan kuning saja.” Ia terus memegang tanganku.   “Aku tahu semuanya, Mbak. Aku melihatnya.” “Apa yang kau lihat, Sis?”tanyaku. aku tak percaya jika ia juga harus melihat apa yang kulhat tempo hari. “Mbak, Mbak Sumini.... Kenapa Mas Idrun seperti ini?” “Wasis, kumohon. Jelaskan padaku apa yangterjadi, jelaskan apa yang kau lihat, Sis.” Wasis mulai menangis. Aku tahu yang ia lihat adalah hal yang memang pantas untuk ditangisi, tapi bisakah kita melipir dan menangis di tempat lain? Sedang ada banyak orang yang melihatku dengan wajah geram setelah melihat Wasis menangis. Pasti mereka menduga kalau aku yang membuat adikku sendiri menangis. Padahal... “Sis, ayo. Kita pergi dari sini, Sis..” kataku sambil menarik paksa lengannya. Kalau aku berada disana sedikit lebih lama, aku yakin aku akan diinterogasi macam-macam. Aku mengajak Wasis berjalan hingga pertigaan jalan besr dan memutuskan untuk berhenti di penjual es setrup langganan. Disana, aku meminta Wasis untuk berhenti menangis dan mulai menceritakan tentang apa yang ia lihat tadi. Kami duduk berhadapan ketika gelas es setrup kami datang. “Mbak, aku tadi lihat Mas Idrun menampar pipi Mbak Sumini. Dan menendang.. dan Mbak Sumini,...” “Ceritakan pelan-pelan saja, Sis. Kita akan disini sampai kamu benar-benar bisa menceritakannya.” “Mbak, tadi aku diminta emak menyapu teras, tapi aku lupa dimana sapu itu kuletakkan. Akhirnya aku mencari ke seluruh daerah di rumah. Dari pintu depan hingga pekarangan rumah.” Ya Tuhan.. Wasis harus menyaksikan semua itu seorang diri. “Lalu?” “Di tempat biasanya emak meletakkan tong-tong itu, Mbak. Aku lihat Mas Idrun membentak Mbak Sumini dan berteriak padanya. Ia menampar tepat di pipi kanan Mbak Sumini. Mbak Sumini sampai terjatuh dan... “ Wasis kembali menangis. Ia teringat bagaimana Mbak Sumini terjatuh sambil tetap memegang pipi kanannya yang kesakitan. Pipi kanannya kemerahan karena tamparan itu. “Mas Idrun mengatakan banyak hal, Mbak. Tapi yang terdengar di telingaku hanya ‘bodoh’, ‘tidak berguna’,  dan ‘cerai’, Mbak..” Masih dua bulan dan semua yang dikatakan emak benar. Mas Idrun memang bukan laki-laki yang baik. Sebenarnya secara keuangan, ia tidak kaya. Pendapatan satu-satunya hanya dari hasilnya mengajar di pesantren dan itu juga tidak banyak. Sedangkan Mbak Sumini mendapatkan sedikit uang dari menjual krupuk di warung yang ada di dalam pesantren itu. Biaya sehari-hari dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya oleh Mbak Sumini. Itulah mengapa tiap pagi mereka datang ke rumah emak dan bapak untuk meminta masakan emak. Saat awal menikah keduanya tampak sangat harmonis dan saling mencintai. Kedok sementara yang Mas Idrun tampilkan di depan kami sangat sempurna. “Mbak Mirah, tadi Mas Idrun juga menendang Mbak Sumini keras sekali seperti ketika Slamet menendang bola dan gol, Mbak. Kenapa Mas Idrun bisa seperti itu,Mbak?” “Mbak Mirah, kasihan sekali Mbak Sumini. Apa yang bisa kita bantu, Mbak?” “Mbak Sumini sering sekali menangis, Mbak. Sering sekali di pagi hari aku melihat matanya bengkak seperti habis menangis semalaman suntuk.” ucap Wasis. “Iya, Sis. Mbak tahu.” Aku menceritakan semua yang kulihat pada Wasis dan tidak ketinggalan perintah Mbak Sumini agar tidak menceritakan hal itu pada siapapun. “Mbak, kita harus memberitahu emak dan bapak sehingga Mbak Sumini tidak diperlakukan seperti itu lagi, Mbak.” “Tapi, Sis. Ada yang aku pikirkan tentang ini...Bagaimana kalau..” “Bagaimana kalau apa?” “Bagaimana kalau Mbak Sumini marah ke kita dan tidak mau diselamatkan?” “Mbak, tapi....” “Sis, Mbak Sumini bahkan memint akita tidak bercerita pada siapapun. Itu berarti Mbak Sumini tahu apa yang sedang ia lakukan. Mbak takut ini justru akan membahayakan Mbak Sumini.” Wasis terdiam mendengar perkataanku. Ia mengangguk pelan seraya berkata.” Kita harus memberi Idrun itu pelajaran yang berarti nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN