Chapter 32

2059 Kata
Terkadang aku merindukan diriku yang dulu. Merindukan bagaimana aku bisa menertawakan hal-hal sederhana. Melihat kucing yang sedang mengantuk atau menemukan foto-foto lucu di buku adalah contohnya. Aku bisa merasa puas mengerjakan sesuatu yang aku sukai dengan baik. Menata alas tempat tidur yang rapi, mencium bau bunga yang menyenangkan, meminum teh hijau hangat juga sangat menenangkanku. Pagi ini, seperti tahu apa yang aku inginkan, Ci Lien meletakkan segelas teh hijau hangat dan beberapa kue kering di meja kamar. Aroma teh hijau yang khas dan sinar matahari seperti bekerjasama menolak melihatku tertidur lebih lama lagi. Harusnya aku bangun lebih pagi, kataku. Syukurlah kebisingan di dalam kaepala tidak terlalu menggangu lelapnya tidur. Terbangun dengan badan yang sehat sungguh sulit didapat akhir-akhir ini. ketika kulihat segelas teh hijau itu, tiba-tiba aku teringat perkataan Ci Lien kemaren malam sebelum menutup pintu, “Mulai malam ini kau harus bersiap-siap. Besok pagi akan menguras emosimu.” Aku tak mengerti apa yang ia berusaha katakan. Hari ini setelah aku bersiap, Ci Lien kembali mendatangiku dan berkata ia ingin sarapan pagi bersamaku. Aku mengganguk dan mengikuti langkahnya menuju ruang makan. Ruang makan rumah ini tergolong unik. Terletak persis sebelah dapur, tanpa sekat, tanpa batasan. Meja makannya dipasang menghadap ke arah dapur. Aku pernah melihat dapur seperti ini di tayangan Amerika di televisi milik Cece, namun baru pertama kali ini kurasakan sendiri sensasi makan di dapur dan ruang makan sebagus ini. “Silahkan duduk, Mirah.” ucap Ci Lien. Ia berjalan untuk mengambil piring yang terletak di atas meja dapur lalu meletakkannya di dekatku. Ada beberapa lembar roti tawar daisana. Ia mengoleskan selai coklat pada rotiku. “Aku tahu kau suka selai coklat, Mirah.” “Kau ingat, Ci?” aku tersenyum simpul. “Tentu saja. Tentu saja aku ingat tentang selai coklat mahal kita yang hampir saja merusak hariku.” Kami lalu tertawa bersama mengingat masa itu. Masa dimana yang mampu kita beli adalah beberapa lembar roti dan selai coklat. Dulu pada saat pertama kali wawancara pada agen, kami diminta untuk menggunakan rok berwarna gelap dan baju berwana cerah. Karena aku dan Ci Lien mempunyai jadwal wawancara yang berbeda, kami memakai rok dan celana itu secara bergantian. Ci Lien mendapatkan jadwal belakangan, sedangkan aku berada di urutan awal agen itu. Pagi itu seperti biasa tak ada apapun di kamar kos kami kecuali roti dan selai coklat. Ci Lien mengatakan bahwa ia akan membungkus bekal roti untuk nanti dimakan setelah wawancara, aku hanya mengganguk saja. Tibalah saat Ci Lien berangkat dari kamar kos kami. Ia dengan sigap menyiapkan segala keperluan untuk dirinya sendiri. “Apa sudah kau siapkan semua, Ci?” “Sudah, Mirah.” Ia mengambil sebuah botol dan dua lembar roti. Karena waktu itu kereta tak secepat sekarang, maka kami harus berjalan terlebih dahulu selama dua puluh lima menit agar tak ketinggalan kereta. Aku kemudian melanjutkan pekerjaan rumahku setelah melihatnya memakai sepatunya dengan tergesa-gesa. Kamar kos kami tidak terlalu kecil dan tak juga terlalu besar, kami rasa ini adalah kamar kos yang paling cocok untuk kami yang tidak mempunyai banyak barang. Dengan harganya yang tak mahal, kami masih sempat merenovasi saluran air dan pancuran mandi. “Miraah...” katanya. Kami sedang makan buah melon di ruang tamu saat ia mulai bercerita tentang hari wawancaranya. “Iya, Ci?” tanyaku. “Apa kau tahu apa yang terjadi tadi pagi di kereta?” kata Ci Lien malam setelah wawancara. “Apa kau ingat botol yang ku ambil dari meja? Aku salah mengira itu adalah botol selai. Padahal itu adalah...” “Adalah?” “Tinta yang ku pinjam darimu beberapa hari sebelumnya.” “Lalu?” “Aku tidak melihatnya, Mirah. Aku tidak sengaja menuangkannya pada roti dan ingin memakannya. Syukurlah aku tak sampai mengusapnya dengan baju, ya, aku hampir melakukannya. Kalau aku melakukannya, bajuku akan terkena tinta dan aku tak akan mendapatkan kontrak ini.” Aku bersorak bahagia ketika melihat kertas kontrak itu ada di tangan kanannya. Berita yang baik di awal minggu ini. “Syukurlah kau mendapatkannya. Syukurlah Ci..” Kami berpelukan erat merayakan berita baik itu , tanpa tahu kejutan besar apa yang hidup ini sembunyikan di belakangnya. Kembali pada kenyataan yang sedang aku lihat saat ini, seorang gadis berumur sekitar dua puluhan tahun sedang duduk di depanku sambil mengunyah roti berselai coklat. Ia adalah Patricia, anak perempuan dari kakek Hong. Kakeknya sudah meninggal, di tangan Hamid. Ia memakai baju hitam berlengan pendek dan celana pendek berwarna merah muda. Patricia menikmati roti dan memandangku. Apa ia tahu bahwa Hamid melakukan perbuatan jahatnya karena sedang membelaku? Apa ia tahu baha kakeknya adalah orang yang dengan sengaja menyuntikkan obat terlarang dan zat yang bahkan aku tak tahu namanya itu ke dalam tubuhku? Apakah ia sednag merencanakan sesuatu untuk membalas dendam padaku? Ci Lien memandang kami berdua dengan tatapan aneh. Tampaknya ia sedang berpikir kalimat apa yang harus ia keluarkan. Pat tak bicara sepatah kata pun hingga Ci Lien menawarkan kopi padanya. “Aku lebih suka kopi yang kau buat, Lien. Yah, daripada buatan orang asing dirumah ini.”ucap Pat sambil menatapku. “Apa aku perlu mengenalkan diriku?”tanya pada Ci Lien. “Tidak perlu.Aku tahu kau kelinci percobaan kakekku. Awalnya aku ingin melihatmu karena penasaran tentang pilihan kakekku, namun setelah ku lihat sekarang ini aku makin tak paham dengan pilihan kakekku. Apa yang ia dapatkan darimu?” katanya dengan nada ketus. “Pat...” Ci Lien berusaha menghentikannya bicara. Namun ia tetap bicara. Ia tahu semuanya. “Apa yang kakekku suntikkan padamu adalah hal yang luar biasa yang ia pernah ia ciptakan. Kenapa yang ia pilih adalah kau? Imigran, seperti Lien Hua.” “Apa kau sudah selesai bicara?” “Belum, dan aku tak akan berhenti bicara seperti ini pada orang yang telah membuat kakekku tak ada lagi di dunia ini. Paham?!” ucapnya. “Aku tak pernah tahu kalau aku telah disuntik dengan apapun itu. Aku bahkan tak pernah mengenal kakekmu” Ia tetap menatapku dengan sorot mata yang mengintimidasi. Perempuan cantik di depanku ini awalnya terkesan sebagai peempuan baik-baik, namun sekarang ini semua kalimatnya jahat dan tidak ingin mendengar apa yang orang lain katakan. “Dan apa kau tahu siapa Hamidmu itu?” ia berteriak padaku. “Ia adalah kekasihku. Hamid adalah kekasihku! Ia adalah orang yang selama ini kupercaya!” tambahnya. Kekasih? “Dan ia membuatku kehilangan seorang kakek! Itu karena kau!!!” Apa Pat mengatakan yang sebenarnya? Hamid tak pernah mengatakan apapun tentang ini. Tidak, ia tak pernah menyingungnya. Terang aja, kami baru bertemu setelah sekian lama. Semua obrolan tak penting kami ucapkan hanya berkaitan dengan geng mafia. “Apa yang kau tahu tentang Hamid, Sum? Namamu benar Sumirah?” Ia menggigit bibirnya dan pandangannya mengisyaratkan luka. “Benar. Namaku Sumirah!” kataku singkat. Ci Lien yang melihat aku berdiri segera mendekatiku dam memberi tanda supaya membiarkan Pat mengatakan apa yang ingin ia katakan. Pat yang sedari tadi melihat kami berdua berangsur tenang dan mengatakan sesuatu yang harusnya aku tahu sejak beberapa tahun yang lalu. “Kau tak akan tenang setelah mendengar apa yang akan kuucapkan.” Aku menyeka keringat dari dahiku. Entah kenapa hatiku bergetar. Tiba-tiba rasa ketakutan yang besar menyelimuti pikiranku. “Hamid adalah orang pertama yang kutemui di pelabuhan saat itu. Ia manawarkan bantuan untuk membawakan barang-barangku. Tak pernah kutahu bahwa itu adalah akhir hidupku” “Akhir hidupmu? Apa yang kau bicarakan, Pat?” tanya Ci Lien. Pat memberi isyarat padanya agar tutup mulut dan duduk. Ci Lien menurutinya. Ia kini duduk di sebelah kiriku. “Hari dimana kami menghabiskan waktu bersama adalah hari dimulainya penderitaanku. Ia mengancam, memerasku, menghina bahkan menyiksaku habis-habisan. Aku memang bodoh, aku memang tak bisa berpikir. Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya.” Pat mengerutkan keningnya dan kini aku benar-benar bisa melihat wajahnya secara jelas. Ia pasti sudah mengalami banyak hal menyiksa dari Hamid selama ini. Aku melihat luka memar dimana-mana. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih percaya bahwa ia membicarakan Hamid yang lain, bukan Hamid yang selama ini kukenal. “Apa kau tahu, walaupun ia masuk ke dalam geng mafia yang sudah kutentang, ia tetap berada disana. Ia adalah orang yang mengirim semua bagian-bagian tubuh banyak sekali orang dan menjualnya.” “Apa itu mungkin? Tidak!” “Berhentilah percaya yang kau lihat, Sumirah!” bentaknya. Aku tak ingin mendengar ini lagi. “Mirah, mungkin kau harus mendengar Pat terlebih dahulu sebelum pergi ke kamarmu. Tolong.” ucap Ci Lien ketika melihatku beranjak dari kursi. Ia memegang lenganku dan memintaku untuk kembali duduk. “Dengarkan aku, Sumirah. Hamid adalah orang yang ada di balik topeng pada setiap eksekusi. Ia adalah tangan kanannya. Pernahkah kau dengar tentang pemulangan jenazah dari Hongkong ke Indonesia? Mereka tidak utuh! Mereka tidak pulang dalam keadaan utuh, Sumirah! Bisa kau bayangkan itu?!” “ya Tuhan, Mbak Eka.... Ya Tuhan.” “Temanmu bernama Maryamahlah yang tanpa sengaja mengundangnya untuk mengambil bagian tubuh temanmu yang meninggal itu. Jauh sebelum kita menyadari, Hamid sudah tahu apa yang akan kalian rencanakan.” “Ya Tuhan, itu sebabnya Maryamah ada disana hari itu. Itu sebabnya ia disana.” “Itu benar, Mirah. Ketika aku melihat Maryamah berjalan di dekat apartemen majikannya, aku melihat dua orang laki-laki menyergap dan menyeretnya ke dalam truk.” ucap Ci Lien. Truk yang sama yang kami tumpangi waktu itu. Ya Tuhan... “Hamid berkata bahwa ia merasa tidak nyaman dengan perkerjaannya. Ia akan keluar dari geng itu.” kataku. ‘Dan apakah kau percaya begitu saja setelah sekian tahun? “Itu mungkin saja, Pat.” kata Ci Lien cepat. “Tidak. Aku melihatnya berjalan dengan santai di trotoar. Ke Indonesia? Ia tidak melakukannya. Ia tak akan meninggalkan pekerjaannya.” Pat kini menangis. Is seperti tak bisa menahan semua air matanya. Ci Lien beranjak dan menenangkannya. Ci Lien memapah tangan Pat untuk kembali ke kamarnya. “Kau boleh pergi ke kamarku untuk tahu foto-foto kami kalau kau ingin.” kata Pat. Tak ada gunannya aku kesana. Itu menyakitkan. Terlepas dari semua yang aku dan Hamid rasakan, aku tidak melihat ada kebohongan pada kalimat Pat. Maryamah, Mbak Eka dan kakek Hong adalah hal yang tak pernah kubayangkan dilakukan oleh Hamid. Semua penjelasan dari Pat masuk akal. Aku bertanya tentang kondisi Maryamah pada Ci Lien. Ia memintaku untuk tenang karena Maryamah berada di rumah majikannya dengan aman. Orang suruhan Ci Lien mendapatinya lemas di pinggir jalan. Mereka membawanya ke kota dan melakukan pengobatan di rumah sakit. “Kami menduga ia sedang dalam pengaruh obat terlarang ketika dibuang di jalan.” ucap Ci Lien. Karena aku, Maryamah harus mendapatkan pukulan dan siksaan. Karena aku pula Mbak Eka pulang ke Indonesia dalam keadaan seperti itu. Ini membuatku sangat sedih. Aku meminjam telepon genggam dari Ci Lien dan segera menekan angka yang kuingat. “Ia tidak bisa mengangkat teleponmu, Mirah. Ia masih dalam pengawasan dokter karena obat yang disuntikkan oleh Hamid.” “Obat apa yang Hamid suntikkan pada Maryamah, Ci?” “Aku tak tahu. Tapi sepertinya bukan obat yang sama yang kakek Hong suntikkan padamu.” “Karena hanya kakek Hong yang tahu bagaimana cara membuat obat yang disuntikkan padaku?” “Benar. Kau benar,” katanya. “Sumirah, sudahlah. Obat itu tak bereaksi apapun padamu kini. Dan kakek Hong juga sudah tidak bisa membuatya lagi. Hamid juga sudah tidak ada disini, kan?” Aku merasa Ci Lien mendesakku untuk melupakan semua yang sudah kualami. Yang ia tidak tahu adalah aku tidak bisa menghentikan pikiranku untuk berpikir tentang semua hal. Entah itu tentang obat terlarang itu maupun tentang Hamid. “Ci, aku butuh waktu memahami semua ini. Sungguh, tak bisakah kau memberiku sedikit waktu?” tanyaku pada Ci Lien. “Baiklah kalau kau menginginkannya. Aku akan memahamimu.” ucap Ci Lien. Setelah mendengar kata-katanya, aku beranjak pergi ke kamar dan mengatakan bahwa aku ingin beristirahat. “Ada nomor tetanggamu di Tulungagung yang bisa kau hubungi di telepon genggam ini. Kau bisa berbicara dengan siapapun disana.” ucap Ci Lien sambil menyodorkan telepon genggamnya padaku di kamar. “Terima kasih banyak.” Aku memegang telepon genggam dan mulai mencari nama salah satu tetanggaku di Tulungagung. Benar saja, nomor Nurul ada di telepon genggam ini. Kendati demikian aku tak ingin tahu bagaimana cara Ci Lien mendapatkan nomor itu. Biarkan saja. Aku berusaha memahami apa yang terjadi di hidupku akhir-akhir ini. Aku tak ingin orang lain tahu kalau aku kemah, tapi aku tak punya apapun selain airmataku. Aku ingin menangis dan itulah yang terjadi. Aku menangis terisak. Dadaku terasa sesak sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN