“Mak.... Wasis dan Mbak Mirah berangkaaat...” teriak Wasis sambil mengikat tali sepatunya. Sementara aku membantu membawakan tas sekolahnya.
“Apa yang kau dalam tasmu, Sis? Bukankah sebagian dari bukumu ad di laci meja sekolah?” tanyaku kesal. Tas hijau ini sepertinya menangkat banyak beban.
“Iya, mbak. Sudahlah, ayo berangkat. Nanti kita bisa terlambat dan dimarahi Pak Salam.” Jawabnya.
Kami lalu berlari kencan setelah mendengar balasan salam dari emak. Emak sedang sibuk memasak bekal untuk Mbak Sumini dan Mas Idrun di dapur. Setiap pagi setelah oukul delapan, Mbak Sumini dan Mas Idrun akan datang kerumah kami dan mengambil makanan yang emak masak. Terkadang emak hanya memasak apa yang diminta oleh Mbak Sumini. Kini mereka tinggal di rumah kecil yang ada di pinggir desa.
“Kami kini sudah menikah, Mirah. Kami mengatasi semua masalah berdua, makan berdua, minum berdua, hingga membersihkan rumah pun berdua.” kata Mbak Sumini suatu sore. Waktu itu ia sedang menunggu Mas Idrun pulang dari pesantren. Aku dipaksa mengubah panggilan Ustad Idrun menjadi Mas Idrun karena kata bapak ia adalah kakak laki-lakiku sekarang, jadi aku harus memanggilnya dengan sopan. Padahal menurutku panggilan ‘ustadz’ adalah yang paling sopan larena Ustadz Idrun adalah guru mengaji kami sejak kecil.
“Bukankah seharusnya memang demikian, Mbak?” kataku. Aku tak ingin bersikap ketus padanya tapi apa yang dilakukan emak dan bapak sebelum ia menikah sudah berat, sekarang harus ditambahi mengurus saraan paginya. Aku tak sanggup melihat emak memijat tangannya sendiri tiap sore hari. Aku tahu emak sedang kelelahan. Itu adalah karena emak harus memasak empat makanan di pagi hari. Sayur dan lauk untuk aku, Wasis, emak dan bapak lalu harus kembali memasak masakan permintaan dari Mbak Sumini.
“Tidak begitu, Mirah. Mbak hanya ingin kamu tahu apa yang mbak lakukan dirumah.”
“Mbak, apa mbak Sumini tidak mempunyai kompor dan minyak tanah dirumah?” tanyaku.
“Punya, Mirah. Mas Idrun, suami Mbak, juga sudah membeli beberapa pisau, piring dan gelas.”
“Baguslah. Kalau begitu, tolong besok pagi kau masak sendiri saja sarapan untukmu dan untuk Mas Idrun.”kataku. Ia terperanjat mendengar ucapanku. Ia tahu aku tak suka melihat emak bekerja terlalu keras setelah sakit tempo hari. Mbak Sumini mengangguk pelan tanda bahwa ia mengerti makasud dan tujuanku.
“Baik, Mirah.”
Aku yakin ia tahu aku sedikit kesal karena masa lalu Mas Idrun dan tingkah bodohnya dengan menikahi Mas Idrun. Keluarga kami tak lepas dari cacian dan makian. Entah itu datang dari tetangga samping rumah atau bahkan dari jamaah Mas Idrun. Hal itu tak mudah bagiku untuk tidak perduli pada ucapan orang lain. Aku hanya tak bisa membayangkan apa yang emak dan bapak rasakan.
Setelah akad nikah Mbak Sumini, Wasis mengatakan pada Mbak Sumini dengan berbisik dan berkata bahwa ia berjanji akan selalu ada di pihak emak dan bapak, keputusan apapun yang mereka buat. Wasis juga berjanji akan menyayangi dan memperlakukan emak dan bapak dengan baik. Kurasa ia sengaja menyakiti Mbak Sumini dengan mengatakan hal itu. Ketika kutanya kenapa ia bicara seperti itu, ia hanya menoleh dan berkata, “Ia pandai meminta maaf pada emak dan bapak. Namun sayang, Mbak Sumini lupa mengatakan maaf pada kita, Mbak Mirah”
Kata-kata yang keluar dari mulut Wasis mewakili semua perasaan yang campur aduk di hatiku. Ia benar. Mbak Sumini berhutang permintaan maaf pada kami. Rasa kecewa dan rasa sayang yang kami miliki untuk Mbak Sumini memang sama-sama besar.
Mas Idrun adalah seorang ustadz yang disegani di Pesantren An-Nur di kota kami. Ketika kabar perceraiannya tersebar, ia terpukul dan mendapatkan olokan dari beberapa warga desa. Pihak pesantren juga mulai mempertanyakan dampak yang nantinya akan merebak di kalangan pesantren. Tak bisa dipungkiri bahwa apa yang diputuskan oleh Mbak Sumini dan Mas Idrun mempengaruhi kehidupan di desa kami. Kemudian, ketika ia menikahi Mbak Sumini secara agama, olokan itu semakin menjadi-jadi. Bapak hanya berpesan kepada kami agar tetap sabar dan tidak perlu mempedulikan ucapan orang lain.
“Emak dan bapak hanya ingin kalian bahagia. Sudah tak ingin apa-apa lagi.”ucap Emak ketika kutanya tentang berita jahat yang merebak di desa. Emak merasa dunianya hanya kami, anak-anaknya, bapak, dan tempe.
Di sekolah pun sama, aku tak bisa melakukan apa yang biasa kulakukan. Untuk menghindari tatapan aneh siswa-siswi lain, Nurul akan membantu membelikan beberapa gorengan dan es setrup kesukaanku di kantin lalu membawanya ke kelas. Ia melakukannya hampir setiap hari selama berminggu –minggu sampai aku benar-benar siap kelkuar dari kelas dan bertemu dengan banyak orang.
Pernah ketika terpaksa harus membeli buku kosong di koperasi siwa, aku haru sberpapasan dnegan Slamet dan teman-temannya. Aku tersenyum untuk menyapanya. Namun tak ada balasan senyum dari Slamet untukku. Ia bahkan berkata hal yang menyakitkan padaku.
“Met, itu kan adik dari orang yang kau sukai, met.” tanya salah satu temannya.
“Bukan, aku tak lagi mengenalnya.” jawab Slamet singkat lalu berjalan menghindariku. Ia mengabaikan sapaanku kemudian mengatakan bahwa ia tak lagi mau jadi temanku. Walaupun aku merasa sedikit kesal, namun mungkin saja ia tak tahu apa yang keluargaku alami hingga akhirnya pernikahan itu terjadi. Ia tak mengerti, itu sebabnya ia berkata demikian.
Hari-hari setelahnya adalah yang terberat. Emak jatuh sakit karena kelelahan. Karena merasa tidak enak menolak permintaan salah satu tetangga, yang juga anggota pasukan elit, untuk membuat seratus dua puluh kue pukis untuk tasyukuran. Hal yang paling berat adalah melihat emak sakit. Lebih baik aku yang merasakah sakit yang dirasa emak. Mbak Sumini dan Mas Idrun datang bergantian kerumah untuk membantu kami menjaga emak dan bapak.
Ketika mantri datang kerumah, kami menceritakan semua aktifitas emak dari pagi hingga malam dan betapa seibuknya emak beberapa bulan ini. Pak mantri memeriksa badan emak dan memberi banyak penjelasan pada emak tentang pentingnya menjaga kesehatan. Kesehatan orang tua bukan hanya untuk mereka sendiri tapi juga untuk anak-anak. Emak hanya terdiam emndengar semua penjelasan itu.
“Mirah, maafkan emak ya nak. Emak jadi merepotkan kamu dan Wasis.”
“Tidak, Mak. Itu adalah kewajiban kami sebagai anak.” kataku.
“Emak sekaraang harus lebih banyak istirahat agar lekas pulih ya, Mak.” kata bapak. Bapak tak kalah khwatir dibandingkan dengan kami. Tiap tengah malam bapak akan menengok emak dan memastikan bahwa emak sedang tak memerlukan apa-apa kemudian baru bapak beranjak tidur. Ini terjadio berhari-hari setelahnya.
Pak mantri berkata bahwa ada beberapa makanan yang dilarang untuk dimakan emak. Salah satunya adalah terong dan jengkol. Bayangkan saja raut wajah marah dan kesal emak saat Pak Mantri bicara itu, aku dan Wasis tak kuat menahan tawa.
“Emak harus nurut sama Mirah, ya Mak.” kataku.
“Tiap pagi nanti biar Mbak Sumini yang memasak makanan. Emak gak boleh turun dari tempat tidur ya mak.”
“Iya, mak. Sekarang gantian Sumini yang masak ya.” ucap Mbak Sumini.
“Wasis ingin emak selalu sehat, mak. Jangan sakit lagi, Mak.” ucap Wasis sambil menangis. Ia memilih untuk tidur di sisi kanan emak dan memeluk emak rapat sekali sementara aku dan Mbak Sumini sibuk bagaimana cara mengatur rumah kami dengan baik. Wasis walaupun merupakan anak laki-laki satu-satunya, tapi hatinya memang lembut. Ia sebenarnya yang paling mudah menangis daripada aku dan Mbak Sumini.
“Iya.. Emak akan sembuh kok. “
Kami berpelukan di atas tempat tidur. Aku tahu aku tidak begitu pintar, namun aku tahu betul bahwa keluarga diatas segalanya. Aku menyayangi keluargaku. Walaupun kami bertiga sering sekali bertengkar dan saling mengejek, tapi kami saling membela jika memnag diperlukan. Kadang ketika bertengkar dengan tingkah nakal Wasis dan keras kepala Mbak Sumini, keinginan untuk pergi dari kota ini sangat besar. Sejak aku dengar cerita bapak tentang teman-temannya yang kini berubah hidupnya setelah pergi merantau ke kota, keinginan untuk mencari sesuatu di kota besar sudah menghantuiku bertahun-tahun yang lalu. Pernah kuutarakan keinginanku pada emak. Emak memberi restu semua keinginan yang ingin aku raih asalkan itu baik, tidak merepotkan diri sendiri, serta tidak mengambil hak milik orag lain.
“Tiga hal itu harus kau jadikan pedoman nak.” ujar Emak padaku. Sore itu kondisi emak kesehatan sangat baik. Kami banyak bergurau dan berbicara tentang banyak hal. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya tentang keinginan kamaku.
“Pikiran itu masih lama untuk dijadikan kenyataan, Mak.” ujarku. Entah kenapa, tapi aku takut keinginanku ini bisa menyakiti hati emak.
“Tidak, nak.. tidak begitu cara Tuhan bertindak. Biarkan saja Tuhan yang atur.”
“Baik, Mak..”
“Mirah, tolong bilang mbakmu di dapur untuk membuatkanku teh hangat dan juga dengan roti goreng yang tadi ia beli di pasar.”
“Baik, Mak.” ucapku cepat. Aku berjalan ke dapur dan meletakkan beberapa roti goreng ke atas piring. Aku melihat Mbak Sumini sedang sibuk mengupas bawang putih dan bawah merah untuk besok.
“Mbak, emak meminta segelas teh hangat.”
“Kamu saja yang buatkan, Mirah. Tangan mbak bau bawang putih nih.”
Aku bergegas memask air dan duduk di sampingnya. Aku memperhatikan caranya mengupas bawang-bawang itu, lalu pandanganku kuarahkan ke tangannya. Ada memar kemerahan di tangan kanan Mbak Sumini. Ketika kau bertanya tentang memar itu, ia berkata kalau memar itu berasal dari gagang panci panas yang tak sengaja ia sentuh.
“Mbak, panci mana yang baru kau pegang? Biar aku meletakkannya di pinggir.”
“Tidak, Mirah. Panci itu sudah mbak letakkan di tempat air tadi malam.”
Tapi itu luka memar yang masih baru. Memar yang masih kemerahan.
Bagaimana mungkin memar tadi malamterlihat kemerahan seperti itu. Awalnya baru siang ini memar itu terlihat. Tapi ketika Mbak Sumini mengatakan bahwa itu terjadi tadi malam, aku sedikit meragukannya.
Mbak Sumini sednag berbohong. Dan aku tak suka itu.
Air yang mendidih menyadarkanku akan perintah Emak. Teh hangat dan roti goreng yang kusiapkan tersaji di meja, Emak sangat menikmatinya, terlihat dari wajah senangnya. Aku tidak menceritakan apapun tentang memar di tangan Mbak Sumini pada Emak. Itu mungkin menjadi berita yang tak menyenangkan bagi Emak. Namun tiba-tiba emak memegang tanganku dan bertanya apakah Mbak Sumini terlihat bahagia setelah menikah dengan Mas Idrun. Aku hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.
“Mak, Mirah tak tahu apapun tentang pernikahan mak. Bagaiamana cara Mirah mengetahui Mbak Sumini sednag benar-benar bahagia atau tidak.” kataku.
“Lihatlah bagaimana ia tersenyum, Mirah.”
“Baik, Mak. Nanti akan Mirah lihat gigi Mbak Sumini ketika tersenyum ya.” kataku sambil menggoda Emak. Emak pun ikut tertawa.
“Emak..” ucap Mas Idrun tiba-tiba dari arah luar rumah. Ia mengenakan baju bermotif garis-garis biru dengan warna celana yang senada.
“Iya, Idrun. Bagaimana di pesantren?” tanya Emak.
“Pe—pesantren? Di pesantren baik-baik saja, Mak. Idrun masuk dulu ya mak.”
Pesantren? Sepertinya tadi aku melihat Mas Idrun berkata pada Mbak Sumini kalau ia tidak pergi ke pesantren hari ini. Apa mungkin ia sedang berbohong? Untuk apa?
“Prang... Prang..”
Terdengar suara piring pecah dari arah dapur diikuti oleh suara Mbak Sumini berteriak.
“Apa kau tak dengar apa perintahku?! Aku minta kopi manis! Bukan kopi pahit seperti ini!” teriak Mas Idrun, Suaranya terdengar jelas hingga ruang tengah. Aku berharap semiga emak tidak sampai mendengarkannya.
Aku berlari ke arah dapur dan melihat Mas Idrun menghujani Mbak Sumini dengan kopi panas. Asap dari kopi itu bahkan masih terlihat. Mbak Sumini meringis kepanasan sedangkan Mas Idrun memandangnya dengan wajah yang memerah karena marah.
“Kau selalu berusaha membuatku marah padamu!”
Mas Idrun sedikit terperanjat melihatku berdiri di ujung pintu dapur. Ia tidak menyangka aku akan menyaksikan peritiwa itu tadi. Ini adalah pertama kalinya kulihat Mbak Sumini diam ketika disakiti. Aku berkari dan memegang tubuhnya, memapahnya agar duduk di kursi.
“Kenapa kau membohongi adikmu ini, Mbak? Kenapa, Mbak?” tanyaku. Mbak Sumini tidak begerak dan tak pula menjwab pertanyaanku.
“Mir, jangan bilang apapun pada emak.”
Air matanya menetes ke pipi.